
❤️❤️❤️
Ciiiittttt...
Aku hafal betul dengan bunyi rem mendadak itu. Dan benar saja dugaan ku, kini suamiku sampai di ambang pintu, dengan sedikit berlari dia menghampiriku yang tengah asik menonton tv.
"Mana? Mana bedebah itu?" Ujarnya yang baru datang dengan wajah kesal.
"Bedebah? Bedebah siapa sih mas?" Tanyaku bingung.
"Itu, anak curut yang ngga tau diri."
"Bedebah? Anak curut? Maksudnya, Dennis?"
"Iya, siapa lagi. Mana dia? Berani-beraninya dia mau merebutmu dariku? Apa bogeman terakhir kali belum cukup untuknya." Dengan emosi yang kian memuncak sambil menyingsingkan kedua lengan bajunya.
"Ya ampun mas, Dennis itu adik sepupu kamu loh. Tega banget ngomong kayak gitu."
"Aku tidak perduli antara hubunganku dengannya, tapi kalau dia berani mau merebut milikku berarti dia adalah musuhku." Ujarnya lagi sebelum berjalan menuju tangga.
"Eh mas, mas. Mau kemana?" Pekik ku, sialnya dengan keadaan ku sekarang aku tidak bisa langsung berlari ke arahnya. Dengan sedikit dipaksakan aku berusaha berjalan secepat yang ku bisa untuk menyusulnya.
"Eh, kak? Kok jam segini udah pulang?" Tanya Dennis yang baru keluar dari kamarnya.
"Sini Lo?" Ucap kak Juan berjalan mendekat.
Grep
Dengan secepat kilat dia menarik kerah baju Dennis.
Ah, amarahnya itu terkadang membuatku pusing sendiri.
"Wait.. wait.. wait.. Kenapa lagi nih?" Tanya Dennis dengan segala kebingungannya.
"Mas, kamu apa-apaan sih? Lepasin ngga?" Ujarku yang berusaha membantu Dennis.
"Kamu mau membantunya?"
"Ya iyalah, mas itu ngga tau kebenarannya main tarik-tarik kerah baju orang aja." Ucapku sambil melepaskan tangan suamiku dari kerah baju Dennis.
"Ini ada apa sih? Salah apa lagi gue?"
"Lo masih ngga mau ngaku?" Ujar kak Juan yang kembali ingin meraih kerah baju Dennis, tapi untungnya aku bergerak cepat dan berdiri di tengah-tengah mereka.
"Mas, bisa ngga sih sebelum marah-marah itu cari tau dulu kebenarannya? Dan kamu Dennis, ini juga gara-gara kamu." Ujarku sambil menatap tajam pada keduanya secara bergantian.
"Loh kok gue? Emang gue salah apa?"
"Iya gara-gara kamu tadi ngomong kalo kamu mau tunggu jawaban dari aku, dia kira kamu lagi nunggu jawaban atas pengakuan cinta, makanya sekarang dia jadi salah paham begini."
"Oh, kayaknya mending kita ngaku aja deh Ri. Gue emang lagi nunggu jawaban Lo atas pengakuan cinta gue tadi." Ujarnya santai.
"Apa Lo bilang?" Pekik kak Juan.
"Kamu mau cari mati Den!" Pekik ku.
"Sini Lo, kayaknya Lo emang harus cobain tonjokan maut dari gue!" Ujar kak Juan yang sudah mengepalkan tangannya.
"Ri.. Ri.. Ri.. Tolongin gue!" Ujar Dennis yang kini bersembunyi dibelakang ku.
Yang satu sangat pemarah dan yang satu sangat jahil. Tingkah mereka ini benar-benar seperti anak kecil. Dan sekarang aku mulai lelah melihat mereka yang kejar-kejaran seperti anak kecil mengelilingi ku.
__ADS_1
"Sini ngga Lo!"
"Ngga mau, blee :p."
"Oh, jadi Lo nantangin gue? Ok."
"Heh.." Sesaat aku menghela napas jengah melihat kelakuan mereka.
"Stoooooooopppppp!" Teriak ku.
"Bisa ngga sih kalian itu bersikap selayaknya orang dewasa?" Ujarku kesal.
"Kok aku sih? Ini semua gara-gara Dennis!" Tunjuknya ke arah Dennis.
"Kok gue sih kak, ini juga gara-gara Lo. Main marah-marah aja."
"Apa Lo bilang?"
"Serah deh ya serah.. gelud dah gelud.. Riri capek, mau tidur!" Ujarku malas, lalu berjalan meninggalkan mereka.
"Sayang, kamu mau kemana?" Ucap kak Juan yang menyusul ku.
"Ke jonggol!" Jawabku asal sambil terus berjalan menuju kamar.
"Loh Ri, Lo mau kemana? Terus jawaban yang gue tunggu gimana?" Teriak Dennis.
"Lo bener-bener minta dihajar ya?" Ujar kak Juan lagi yang langsung berbalik setelah mendengar ucapan Dennis.
"Kalo mas mau lanjutin berantemnya silahkan! Malam ini, TIDUR DILUAR!"
"Loh, kok jadi kamu yang marah. Seharusnya kan ak..."
______________
Tok tok tok..
"Sayang, apa aku sudah boleh masuk?" Ujarnya dari balik pintu.
Dan aku tidak menjawab pertanyaan nya, aku membalikkan tubuhku agar membelakangi pintu, ku tarik selimut hingga menutupi setengah dari tubuhku lalu kemudian aku memejamkan mataku.
"Aku masuk ya?"
Krieeeetttt
Ku dengar pintu kamar itu terbuka dengan perlahan, meskipun aku tidak melihatnya, tapi aku masih bisa mendengarnya, bahkan langkah kakinya yang sangat pelan berjalan ke arahku dengan perlahan masih bisa ku dengar.
Ku tebak sekarang dia pasti sudah duduk di bibir ranjang.
"Kamu sudah tidur?" Tanya nya pelan. Tapi aku sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku tau kamu pasti belum tidur kan? Kamu masih marah?" Sambungnya.
"Aku minta maaf, aku ngga tau kalau yang Dennis maksud dengan menunggu jawaban itu, karna dia mau minta saran dari kamu untuk memberikan hadiah pada wanita yang disukainya."
Aku terus mendengarkan perkataannya tanpa memberikan respon.
"Kalau di pikir-pikir ini juga salahnya Dennis hingga membuatku salah paham. Dan juga seharusnya kamu bilang dari awal."
"Jadi mas juga mau nyalahin Riri?" Ujarku yang langsung bangun.
"Ngga, bukan gitu. Mak.."
__ADS_1
"Itu juga salahnya mas tau ngga sih, coba mas ngga main langsung matiin sambungan telponnya gitu aja, Riri pasti kasih tau."
"Ya kan, aku.."
"Makanya lain kali di tanya dulu dong mas jangan asal ngegas gitu aja, udah tau Dennis anaknya emang jahil, dan mas pasti tau itu kan? Karna kalian udah kenal lama, pasti mas tau sifat Dennis kayak gimana." Cerocosku.
"Mas bener-bener harus atur emosi mas itu tau ngga sih, lama-kelamaan orang juga bisa capek mas ngadepin amarah mas yang kayak gitu, dan bisa jadi karna amarah mas yang berlebihan itu suatu hari nanti malah jadi boomerang buat mas sendiri."
"Jadi kamu capek sama aku?"
"Hah?" Ujarku bingung.
"Kamu udah males sama aku?"
"Mas, bukan gitu!"
"Apanya yang bukan? Jelas-jelas kamu bilang sendiri tadi."
"Ya kan Riri tadi bilang masalah amarah mas yang berlebihan, Riri cuma pengen mas bisa lebih menahan emosi mas yang berlebihan itu. Bukannya capek atau males sama mas."
"Emosi dan amarah itu kan ada dalam diri aku, ya sama aja artinya itu adalah aku sendiri."
"Kok jadi gini sih?" Aku semakin bingung mendengar penuturannya, aku hanya ingin dia bisa lebih mengontrol emosinya agar tidak merugikan dirinya sendiri, tapi kenapa jadi malah seperti ini?.
"Aduh, rasanya kok ada yang aneh?" Batinku, sambil mengusap-usap perutku yang terasa mual.
"Ah, udahlah. Aku males berdebat!" Ujarnya yang serta merta turun dari tempat tidur.
"Mas mau kemana?" Tanyaku.
Dia terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Mas?"
Huekkkk
Perutku benar-benar mual. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya mas Juan panik.
Huekkkk
Aku memuntahkan seluruh makanan dari perutku.
"Kamu kenapa?" Tanya nya lagi yang terdengar semakin khawatir sambil terus membantuku dengan menepuk-nepuk pelan punggungku.
Hueeekkk
Seketika aku terduduk lemas di samping closet, bahkan sekarang aku mengeluarkan keringat dingin di dahiku.
"Ngga tau, rasanya Riri lemes banget sekarang!" Ujarku pelan, karna seluruh makanan yang ku muntahkan rasanya sekarang tubuhku jadi ikut tak berdaya.
"Apa jangan-jangan..." Ucapnya menggantung.
Aku menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
"Kamu hamil?"
"Hah?"
❤️❤️❤️
__ADS_1