Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Hanya Berlaku Sebentar Saja


__ADS_3

❤️❤️❤️


Geledaaaaaarrrrrrrr...


"Astaghfirullah hal adzim". Pekik ku ketika mendengar suara dentuman petir yang menyambar.


Pancaran cahayanya yang mengerikan terlihat olehku di balik tirai jendela kamar. Hujan semakin deras ku lihat di barengi dengan kilatan petir yang saling bersahutan.


"Ibu, Ayah!". Gumam ku pelan dalam ringkukan di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh ku.


Dari kecil aku memang takut akan suara petir dan kilatnya yang menyambar. Ayah dan ibuku selalu menemani ku setiap kali itu terjadi. Tapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya lagi, karna aku sudah menikah dengan pak Juan. Aku hanya bisa meringkuk seorang diri di dalam selimut. Ingin sekali rasanya aku tidur di sebelahnya.


Iya, aku dan pak Juan tidur di tempat yang terpisah, dia tidur dengan nyaman di atas ranjang besarnya sedangkan aku tidur di atas sova di dekat pintu. Karna aku terlalu malas untuk terus berdebat, jadi lebih baik aku tidur di atas sova daripada harus meributkan masalah tempat tidur dengannya.


Geledaaaaarrrrr


"Aaaa". Pekik ku yang reflek langsung menutup kedua telinga ku.


Kali ini suaranya terdengar lebih keras daripada sebelumnya.


Tanpa pikir panjang lagi dengan modal nekat, aku langsung berlari naik ke atas ranjang pak Juan sambil membawa bantalku, aku memepetkan tubuhku dengannya. Pak Juan yang menyadarinya langsung terbangun dari tidurnya.


"Apa-apaan kau?". Ujarnya yang terkejut melihatku meringkuk di depannya.


"Riri takut pak". Sahutku dengan memajukan diriku agar lebih mepet dengan tubuhnya.


"Heh, kau kira aku akan percaya?".


"Tapi Riri benar-benar takut pak". Ujarku dengan suara yang sedikit bergetar.


"Menjauhlah, kembali ke tempat mu!". Bentaknya.


Kali ini aku benar-benar takut dan tidak sedang bercanda, tanpa di perintah air mataku sudah mulai menggenang di pelupuk nya.


"Kejam!". Itulah penafsiran yang ku sematkan padanya saat ini.


Ku tatap matanya intens dengan bulir air bening yang sedikit lagi akan terjun dengan bebas sebelum aku turun dari ranjangnya. Ku lihat sekilas mimik wajahnya berubah setelah melihatku yang hampir menangis.


Saat aku hendak turun, kurasakan tarikan tangan seseorang yang mencegahku turun dari ranjang.


"Untuk malam ini saja!". Ujarnya dengan nada yang sedikit melunak dari sebelumnya.


"Bapak serius?". Ucapku dengan mata yang berbinar.


"Hm". Sahutnya singkat.


"Terimakasih Pak". Ujar ku dengan senyuman sumringah.

__ADS_1


"Jangan GR, aku hanya tidak ingin di sebut sebagai suami yang kejam". Katanya yang kembali dengan nada acuhnya.


"Apa bapak cenayang? Kenapa bapak tau isi hati Riri?". Tanyaku dengan ekspresi takjub.


Dia mengernyitkan kedua alisnya mendengar pertanyaan ku.


"Bapak tenang saja, Riri sudah membuang jauh-jauh pikiran itu sekarang". Ujarku menyunggingkan senyum memperlihatkan susunan gigiku.


"Apa kau akan bicara semalaman?". Ucapnya sebelum kembali berbaring.


"Hehhe, iya Riri akan tidur sekarang". Sahutku yang ikut berbaring di sampingnya. Bahkan pak Juan tidak memprotesku lagi kala aku tidur terlalu mepet dengannya tanpa adanya celah di antara kami.


"Nyaman sekali". Gumamku sambil kembali menyunggingkan senyum sebelum aku berlayar kembali ke alam mimpi.


Suara petir yang menyambar dan derasnya hujan tak lagi ku pedulikan, tidur ku rasanya nyaman sekali ketika berada di dekatnya.


________________


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, berusaha mengumpulkan semua nyawaku yang berhamburan akibat tidur yang lelap tadi malam. Karasakan ada benda berat yang menindih tubuhku sehingga aku sulit bergerak.


"Pak Juan?". Iya, dia lah sosok benda hidup yang menindih tubuhku dengan tangan dan kakinya saat ini.


"Tampan sekali suamiku". Gumamku pelan tersenyum melihat wajah polosnya dari dekat.


Dia terlihat sangat tampan dan manis jika sedang tidur seperti ini, ini adalah pertama kalinya bagiku bisa menikmati menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Alis tebal, hidung mancung dan bibir yang tipis, membuatku tak bosan memandanginya. Cukup lama aku memandanginya hingga tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Aku di kejutkan dengan suara alarm yang berdering tepat di sebelahku. Ku lihat pak Juan mulai menggeliat kan tubuhnya. Dengan bodohnya, bukannya bangun aku malah kembali memejamkan mataku.


"Ya elah Ri, kenapa merem lagi?". Ujarku menggerutu dalam hati menyesali perbuatanku sendiri.


"Aku tau kau sudah bangun?!".


Glek


"Hoaaaaammmmm". Aku menggeliat kan tubuhku.


"Bapak sudah bangun?". Tanyaku polos seolah tanpa dosa.


Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku sebelum beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


"Apa pak Juan mendengarnya?". Ujarku cemas.


"Memalukan sekaliiiiiiiii". Pekik ku, yang ditutupi dengan bantal agar suara ku tak terdengar oleh pak Juan.


______________


Saat sudah siap menggunakan seragam dan menenteng tas sekolahku, aku segera menuruni anak tangga menuju meja makan. Ku lihat Dennis yang di bantu beberapa pelayan menata sarapan di atas meja.

__ADS_1


"Aduh maaf, Riri bangunnya kesiangan". Ujarku yang tak enak merepotkan Dennis.


"Hahaha, santai saja kak. Aku juga sudah terbiasa melakukannya". Sahutnya tersenyum manis lalu menarikkan kursi kosong untukku.


"Silahkan". Ucapnya mempersilahkan ku duduk di kursi yang ditariknya dan tak lupa menyunggingkan senyumnya.


"Eh, tapi jangan panggil kakak dong. Kayaknya kamu lebih tua dari Riri deh". Ujarku.


"Iya juga sih, tapi kan kakak istri dari kak Juan. Untuk menghormatinya, jadi sudah sepantasnya aku memanggil mu dengan sebutan kakak". Sahutnya.


"Riri selalu merinding kalau di panggil kakak". Ujarku bergidik.


"Hahahahhaha". Kelakarnya mendengar ucapanku.


"Jadi panggil Riri aja ya? Biar lebih akrab kedengarannya dan santai". Ujarku lagi memohon.


"Haha Ok Ok, Riri?!". Ucapnya yang menyetujui usul ku.


"Nah gitu dong". Ujar ku tersenyum puas mendengarnya.


"Eh kak Juan sudah turun, sarapan bareng kak?! Biar gue ambilin". Tawar Dennis.


"Ngga usah, gue cuman mau minum kopi aja". Sahutnya.


"Oh yaudah, Riri buatin yah?". Ujarku langsung berdiri untuk membuatkannya kopi.


"Ngga perlu". Sahutnya dingin.


"Bi, bi Ningrum?". Teriaknya.


"Iya Tuan".


"Buatkan Saya kopi". Perintahnya lalu kembali asik mengotak-atik telpon genggamnya tanpa menoleh padaku sedikitpun.


"Baik Tuan". Sahut bi Ningrum lalu segera berjalan ke dapur menyeduhkan kopi untuknya.


"Balik lagi jadi ubin dingin". Batinku, aku kecewa melihat perubahannya, padahal ku kira dia akan bersikap lunak padaku setelah kejadian tadi malam. Nyatanya itu hanya berlaku sebentar saja :(.


❤️❤️❤️


 


Kretek lagi 💔 ku mas 😭


Hi hi, terimakasih sudah selalu setia menunggu update an novel receh dari autur ini 🤧


Semoga menghibur ya 😚 terkhusus untuk kaum jomblo jgn kenceng2 halunya nanti kebablasan 😖

__ADS_1


Happy reading and enjoy 😙 salam sayang dan cinta selalu untuk kalian para readers tercinta autur 👄❤️


__ADS_2