Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Merindukan Suasana Rumah


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Aku iri dengan kalian, selalu bertemu 24 jam". Ucap Dennis tiba-tiba.


"Heh, untuk apa kau iri? Kau akan bosan jika melihat wajah pasangan mu setiap hari". Ujarnya dengan nada yang menyindir menatap ke arahku.


"Cih, aku juga bosan melihat wajah bapak setiap hari". Gerutuku dalam hati menatap jengah padanya.


"Den, gue tinggal dulu. Nanti Ayah sama Ibu akan pulang siang ini, jadi lo ngga akan kesepian nanti". Kata pak Juan sambil berdiri dari kursinya.


"Ok kak. Tapi lo mau berangkat sendiri? Ngga bareng kakak ipar?".


"Dia bisa naik ojek sendiri. Yasudah gue tinggal dulu". Sahutnya tanpa melirik padaku lalu berlalu meninggalkan ku dan Dennis di meja makan.


"Dia bisa naik ojek sendiri". Ujarku yang mengulangi ucapannya dengan nada mengejek.


"Cih, Riri juga ngga mau bareng tuh". Sambung ku lagi.


"Hahaha, apa kalian selalu seperti ini?". Tanya Dennis.


"Sudahlah Den, aku malas membahasnya. Berangkat dulu ya?!". Ujarku kemudian berdiri.


"Eh, tunggu tunggu".


"Kenapa?".


"Biar gue anter?!". Ujarnya yang ikut berdiri.


"Eh, ngga usah. Aku bisa sendiri kok". Tolak ku, aku takut akan merepotkannya.


"Udah ngga papa, ayok". Ujarnya lagi yang kini sudah memimpin jalan di depan.


"Yaudah deh kalau dipaksa, ehehhe". Sahutku yang kemudian mengekorinya di belakang. Lumayan ngurangin ongkos ojek.


______________


"Jadi lo sama kak Juan ngerahasiain hubungan kalian di sekolah?". Tanyanya yang sambil sibuk menyetir.


"Iya, mau gimana lagi. Aku kan masih sekolah, dan pak Juan adalah kepsek ku. Kalau mereka tau bisa-bisa aku tidak akan bisa menyelesaikan pendidikan ku". Ujarku menjelaskan.


"Hm, begitu?".


"Awalnya gue kaget banget pas denger kak Juan bakal nikah sama lo Ri. Karna yang gue tau dia cintanya sama Reina?!".


Deg


"Reina? Siapa Reina?". Batinku, nama itu benar-benar sangat asing di telingaku. Pak Juan maupun kedua mertuaku tidak pernah membahas nama itu.


"Ah, sorry sorry. Lo ngga tau ya?". Ujarnya yang tak enak karna sudah mengatakan yang mungkin seharusnya tidak di ketahui olehku.


"Ah, eng.. ngga papa". Sahutku yang baru tersadar dari lamunan sesaat ku.


"Mungkin aku tidak harus mengetahuinya Den". Ujarku mencoba tersenyum ke arahnya.


Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu? Alasan pak Juan selalu berusaha mendorongku pergi? Seketika aku merasakan nyeri di ulu hatiku, rasanya air mataku akan tumpah, tapi aku berusaha sekuat tenaga menahannya.


______________


"Ri, woi Ri". Ujar Kania yang mengangetkan ku.


"Eh, iya kenapa Kan?". Sahutku.


"Kenapa lagi si? Dari tadi ngelamun aja, itu bakso cuman di ubek-ubek aja ngga dimakan?!". Kata Kania sambil menunjuk semangkok bakso yang ada di depanku.

__ADS_1


"Kenyang gue". Jawabku asal.


"Halah, gue ini sahabat lo Ri. Kalau ada apa-apa atau ada yang lagi ganggu pikiran lo, gue tau!".


"Ngga tau deh Kan, pusing gue". Ujarku lalu merebahkan kepala ke atas meja.


"Kan, lo bawa motor sendiri kan hari ini?".


"Kenapa emang?". Ujarnya menatap heran padaku.


"Gue ikut ya? Mau kerumah Ibu sama Ayah. Gue kangen". Ujar ku menatapnya intens.


"Ok Ok, tapi lo habisin dulu dong itu baksonya. Capek-capek ngantri tapi ngga dimakan". Sungutnya.


"Hehhe, iya iya sahabatku".


______________


Drt drt


Pesan masuk, dari : Si Ubin


"Sepulang sekolah tunggu di parkiran, kita pulang sama-sama".


"Cih, giliran Ayah sama Ibu mau pulang aja, baru deh nawarin pulang bareng". Gerutuku, sambil menatapnya yang ada di depan karna saat ini dia sedang mengajar di kelasku.


Ku lihat dia menatap ke arahku tajam, mungkin dia sedang bertanya dengan tatapannya itu, kenapa aku tidak membalasnya?! Tapi aku langsung membuang muka, ntah kenapa aku sangat malas melihat wajahnya hari ini.


Teng teng teng


"Jadi ikut?". Tanya Kania.


"Jadi". Sahutku singkat.


"Yaudah yuk". Aku menarik tangan Kania keluar.


"Ngga ada kok". Jawabku singkat.


Drt drt


Ku lihat di layar hpku nama si pemanggil yang sedang berusaha menghubungiku sekarang.


"Kenapa ngga di angkat?". Ujar Kania yang melihat dari kaca spion motornya, melihat ku memandangi layar hp ku.


Aku tidak menjawabnya, Kania yang mengerti sekarang aku sedang tidak mood untuk bicara, dia tidak lagi mengajak ku bicara, hingga kami sampai di depan rumah orangtua ku.


"Masuk dulu yuk?". Ajakku.


"Nanti aja deh kayaknya Ri, gue udah janji pulang cepet sama ibu hari ini. Titip salam aja ya buat ibu sama ayah". Ujarnya.


"Yaudah, lo hati-hati".


"Iya, Assalamualaikum". Teriaknya.


"Waalaikumsalam".


_______________


"Assalamualaikum". Ujarku mengucapkan salam ketika sudah di ambang pintu.


"Waalaikumsalam". Sahut ibuku.


"Loh, kok datang ngga bilang-bilang?". Tanya ibuku yang terkejut melihatku tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Hehhe, Riri kangen". Ujarku yang langsung menghambur peluk dan menggelayut manja di lengannya.


"Dasar kamu ini, sudah menikah masih saja bersikap seperti ini". Ucap ibuku.


"Biarin". Sahutku yang makin mempererat pelukanku.


"Kamu sendirian?". Tanya ibuku sambil melirik ke arah pintu. "Ngga bareng nak Juan?". Tambahnya lagi.


"Pak Juan sedang ada urusan bu, makanya Riri datang sendiri kesini". Jawabku berbohong.


"Kamu ini sudah menikah dengannya, tapi masih saja memanggilnya dengan sebutan Bapak?!". Ujar ibuku memukul tanganku pelan.


"Hehhe, udah kebiasaan bu". Jawabku. cengengesan.


"Bagaimana sayang? Apa kamu betah disana?". Tanya ibu menatap intens pada netra pekatku.


"Tentu saja, mereka semua sangat menyayangi Riri bu. Tapi tetap saja tidak ada yang senyaman tinggal di rumah Ibu dan Ayah". Sahutku tersenyum cerah menatap ibuku.


"Syukurlah, ibu senang nak". Ujarnya yang juga tersenyum padaku.


"Awalnya ibu khawatir, apa kamu bisa menyesuaikan hidup bersama mereka disana, karna ibu tau suasana di rumah kita dengan rumah mereka pasti berbeda". Sambungnya.


"Ibu ngga usah khawatir, Riri baik-baik aja kok bu". Ujarku yang kembali menghambur peluk padanya.


Aku benar-benar merindukan suasana rumahku, tidur di kamarku yang nyaman tanpa ada yang menggangguku. Bercengkrama dan makan dengan kehangatan bersama ibu dan ayahku, meskipun ayah Adi dan ibu Nala sangat menyayangi ku dan menganggap ku sebagai anak mereka, tetapi rasanya tetap berbeda ketika bersama dengan kedua orangtuaku.


Aku merebahkan tubuhku ke atas ranjang kesayanganku, sudah sebulan aku tidak berbaring di atasnya, rasanya hangat dan juga menenangkan. Hingga akhirnya aku tertidur pulas.


"Ri, Riri.. bangun nak?". Ku dengar sepertinya ibuku sedang memanggil ku.


"Ibu?". Ujarku yang melihatnya sekarang di hadapanku.


Aku langsung bangun dari baringanku.


"Kenapa bu?". Tanyaku sambil mengucek-ngucek kedua mataku.


"Nak Juan ada di depan sayang, dia ingin menjemputmu?!".


"Pak Juan?!". Pekik ku kaget mendengar namanya, terlebih sekarang dia ada dirumah ku.


"Iya, ayo bangun". Ujar ibuku yang menarik lenganku agar aku bangun.


"Bangun juga akhirnya kamu nak, nak Juan sudah menunggu mu dari tadi". Ujar ayahku yang sekarang sedang duduk berhadapan dengan pak Juan.


"Eh, iya yah. Riri ketiduran". Sahutku, lalu duduk di samping pak Juan.


"Kalau begitu, kalian makan dulu baru pulang". Ucap ayahku.


"Iya, ayok makan dulu. Ibu sudah siapkan". Sambung ibuku.


"Aduh, maaf jadi ngerepotin". Ujar pak Juan yang terlihat sungkan.


"Nak Juan, seperti dengan siapa saja". Sahut ayahku, lalu mereka tertawa ringan bersama.


____________


Setelah selesai makan, akhirnya aku dan pak Juan pulang. Karna hari juga sudah mulai gelap. Jalanan tampak sepi kendaraan.


Ku lihat beberapa kali pak Juan seakan melirik ke arahku, tapi aku tidak memperdulikannya. Mungkin dia heran kenapa aku tidak banyak bicara dan cerewet seperti biasanya. Aku hanya bersandar pada kursi mobil dan menatap kedepan tanpa bicara sejak kami pulang dari rumah orangtuaku.


❤️❤️❤️


Happy reading 🤗

__ADS_1


Jgn lupa tinggalkan like, komen, vote dan jadikan novel receh ini sebagai favorit di rak buku kalian 😘


Dan terimakasih untuk yang selalu menunggu update an dari utur setiap harinya 😚


__ADS_2