
❤️❤️❤️
Aku yang baru saja menyelesaikan segala aktivitas ku dan sekarang sudah rapi dengan seragam sekolah ku segera keluar menuju dapur.
"Pagi yah, bu". Sapaku, ayah dan ibuku sudah menunggu di meja makan.
"Pagi sayang". Sahut ibuku yang sibuk menata makanan di atas meja.
"Ri, kamu hari ini ikut ayah ya. Soalnya tadi malam ayah bertemu dengan pak Udin di warung, katanya ngga bisa antar kamu hari ini". Jelas ayahku.
"Tappfee fpulangnya fpak Udvin vbisa jemvput Rviri kanv yavh?". Tanyaku dengan mulut yang penuh dengan nasi goreng.
"Mbok ya kalau mau ngomong itu di telan dulu makanan nya to nak. Keselek baru tau rasa kamu". Ujar ibuku geleng-geleng melihat tingkah ku.
Glek
Aku menenggak minumanku sampai akhirnya nasi goreng itu lolos dengan sempurna kedalam perutku.
"Hehhe". Aku terkekeh sendiri.
Ayahku hanya tersenyum simpul melihat kelakuanku. Sebelum beliau menjawab pertanyaan ku.
"Iya, pak Udin nanti yang jemput kamu. Cuma berangkatnya saja kamu ikut dengan ayah". Jawab ayahku, lalu menyeruput kembali kopi luwak kesukaannya.
"Ok". Sahutku menggunakan jariku.
~
"Bu, Riri berangkat dulu yah". Pamitku lalu menciumi punggung tangannya. Karna ayah ku sudah menunggu ku di depan rumah
"Iya hati-hati. Yang rajin belajarnya. Ujar ibuku mengingatkan.
"Siap boss, hehhe". Sahutku sambil memberikan hormat.
~
Karna masih pagi jalanan juga masih lengang, hanya terlihat beberapa anak yang juga sepertinya akan berangkat ke sekolah seperti ku. 30 menit berselang aku dan ayahku sudah tiba di depan gerbang sekolah.
"Belajar yang rajin". Ucap ayahku.
"Siap pak". Jawabku sambil memberi hormat.
"Yaudah masuk sana".
"Iya, ayah hati-hati ya". Ujarku mengingatkan.
"Assalamualaikum yah". Pamitku menciumi punggung tangannya.
"Iya, waalaikumsalam". Sahut ayahku tersenyum.
~
"Hm hm hm hm hm hm hm..". Ujarku bersenandung dengan gembira sepanjang jalan sampai ke dalam kelas.
__ADS_1
"Kaniiiiiii". Teriakku kala sudah sampai di ambang pintu kelas ku.
Ku lihat dia menatapku bingung dengan mengerutkan kedua alisnya. Begitupun dengan beberapa anak yang ada di dalam kelasku.
"Kesambet pagi-pagi lo Ri?". Celetuk Gandi yang heran melihat tingkahku.
Aku hanya tersenyum kearahnya sambil mengibas-ngibaskan rambut kuncir kudaku ketika melewatinya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuanku.
"Tau lo, kesambet setan mana lagi?". Tanya Kani yang ikut-ikutan.
"Kesambet setan CINTA". Ujarku dengan penuh penekanan di depan wajahnya.
"Buset, muncrat". Protes Kani sambil menyeka wajahnya.
"Hahha, sorry sorry". Sahutku, lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Apa? Kesambet cintanya siapa lo Ri?". Tanya Jaka yang kini duduk di atas meja ku.
Baru saja aku akan membuka mulutku ingin menjawab pertanyaan Jaka, Kani malah mendahului ku.
"Yang jelas bukan kesambet cinta dari LO.. hahaha?!". Ujar Kani penuh penekanan di iringi dengan gelak tawanya.
Dasar sahabatku ini. Tapi baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk menjawab pertanyaannya 😆.
"Udah yuk ah ke lapangan, bentar lagi upacara mulai". Kani menarik tanganku agar mengikutinya. Aku yang ditariknya menurut begitu saja.
"Jahat banget lo, bukannya dukung temen". Teriak Jaka ketika aku dan Kani sudah berada di ambang pintu.
"Bleee :p.. hahaha". Ujar Kani mengejeknya.
~
Para murid berbaris dengan rapi di lapangan. Cuaca hari ini sedikit mendung jadi kami semua tidak merasa kepanasan. Sehingga upacara hari ini berjalan dengan khidmat dan tidak terasa upacara sudah hampir selesai.
Kini tiba pak Juan berdiri diatas podium untuk menyampaikan amanatnya pada kami semua.
Pak Juan menyampaikan beberapa pesannya, dan yang paling ku ingat dia menekankan tentang kedisiplinan. Dia berpesan bahwa siapa saja yang datang terlambat termasuk guru sekalipun dia tidak akan mentolerir nya jika terjadi keterlambatan dengan alasan kemacetan atau sejenisnya. Kami disuruh untuk introspeksi diri dan mengantisipasi jikalau terjadi kemacetan, dia bilang jika sudah tau keadaan jalanan akan macet, kita harus berangkat lebih awal dari biasanya untuk menghindari kemacetan. Kami semua diberi 3 kesempatan dan jika itu masih dilanggar kami harus menerima hukuman membersihkan toilet selama 3 hari berturut-turut.
"Rasanya sungguh melelahkan". Pekik ku dalam hati, aku mengingat kesialan yang menimpaku Senin lalu ketika aku terlambat. Dan sejak saat itu aku menekankan pada diriku sendiri bahwa aku tidak ingin terlambat lagi.
Kudengar ada yang berbisik-bisik di barisan para murid, tapi tidak ada yang berani memprotesnya.
Banyak anak yang ingin bersekolah di sekolah xxx ini, karna sekolah ini salah satu sekolah terfavorit yang di tunjang dengan sarana dan prasarana yang berkualitas. Guru-guru nya pun kebanyakan lulusan dari universitas unggul seperti UI, UGM dll bahkan ada yang dari luar negeri. Sangat sulit masuk kesekolah ini. Ayahku bekerja keras untuk menyekolahkan ku disini, sehingga aku belajar segiat mungkin agar tidak mengecewakan kedua orangtuaku. Makanya semua murid dan guru tidak ada yang berani melanggar aturan sekolah ini, kalau tidak kami bisa dikeluarkan dari sini dan tentu saja dari kami tidak ada yang menginginkan hal itu.
~
Memasuki jam pelajaran pertama setelah upacara bendera usai.
"Jangan lupa, lo harus cerita ke gue". Ujar Kani menyenggol lenganku.
"Cerita apa?!". Aku mengerutkan kedua alisku.
"Itu yang tadi pagi, gue tebak pasti ada yang mau lo ceritain kan ke gue". Tebak Kani, dia berbisik di telingaku.
__ADS_1
"Ih, sejak kapan lo jadi cenayang. Kok bisa tau isi hati gue?!". Ujarku menunjukkan ekspresi kaget.
"Biasalah". Jawab Kani menaikkan sebelah alisnya.
"Hahaha, OK. Nanti di kantin gue ceritain". 👌
~
Krek
Pak Juan masuk kedalam kelas kami untuk mengajar di jam pertama. Yang tadinya berisik sekarang suasana kelas tiba-tiba hening.
Dia mengabsen dan memanggil nama kami satu-satu. Hingga tiba giliran ku yang dipanggil.
"Arianti Permata?!". Panggilnya.
"Hadir pak". Jawabku mengangkat tangan sambil tersenyum manis kearahnya.
"Silahkan buka bukunya, halaman xx". Ujarnya langsung mengalihkan pandangan tanpa membalas senyumku.
Aku yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mengerucutkan bibirku.
"Cold mode on". Gumamku pelan sambil membuka kasar buku pelajaranku. Dan sialnya ternyata pak Juan mendengar itu.
"Apa ada masalah?!". Tanya pak Juan menatap dingin kearahku.
Kani menyenggol tanganku.
"Kenapa Kan?". Ujarku datar.
"Itu pak Juan nanya sesuatu ke elo?!". Bisik Kania.
Deg
"Aduh, Ri.. suka kebablasan deh ni mulut". Rutukku.
"Ii.. iya pak. Ada apa?". Ujarku gelagapan.
"Saya tanya, apa kamu ada masalah?".
"Ti.. tidak pak". Sahutku.
"Ini peringatan pertama dan terakhir dari saya. Ketika saya mengajar tolong konsentrasi, jangan asik melamun dengan dunia kalian sendiri". Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Baik pak". Sahut kami serempak.
Aku yang menyebabkan semua ini hanya bisa beringsut menunduk malu.
"Kenapa aku selalu melakukan hal yang memalukan di hadapannya?!" 😥
❤️❤️❤️
Halo genks, terimakasih banyak atas like komen vote dan dukungan kalian semua dan masih setia menunggu update an karya receh author ini 🤗 Aku akan berusaha sesering mungkin untuk update setiap harinya 😘 sayang kalian banyak-banyak 😘
__ADS_1
Happy reading 🤗