Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Ada Yang Ingin Mereka Bicarakan?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Kamu tuh kemana aja, udah ditungguin loh?!". Ujar ibuku ketika melihat ku yang baru saja datang.


"Hehhe, maaf ya semuanya. Riri tadi habis dari depan".


"Sudah ngga papa, sekarang makan dulu". Kata bu Nala.


"Hehhe iya bu". Sahutku, lalu duduk di kursi kosong yang ada di samping pak Juan.


~


Karna sudah malam, dan dinginnya semakin menyengat. Para orang tua memutuskan untuk istirahat saja malam ini.


"Bosen banget". Ujarku menatap nanar ke atas langit-langit kamar.


Hari sudah menunjukkan jam 11 malam, ku dengar tak ada suara aktivitas diluar, mungkin semua orang sudah tertidur, pikirku. Cuaca dingin seperti ini, enaknya emang tidur sih. Tapi ntah kenapa, mataku malah tidak ngantuk sama sekali, aku mencoba menghubungi Kania tapi tidak di angkat, sungguh membosankan.


Karna tidak tahan terlalu bosan di tambah mata yang belum mengantuk. Aku memutuskan untuk keluar, tidak lupa ku kenakan jaket yang cukup tebal sekiranya bisa membantuku menghalau dinginnya udara malam ini.


Kulihat pak Juan yang sedang menikmati secangkir kopi hangat di dekat api unggun yang ada di ruang tengah.


"Belum tidur pak?". Ujarku memulai pembicaraan.


"Bukan kah matamu bisa melihat?". Jawabnya tanpa menoleh ke arahku.


"Cih, ditanyain baik-baik juga. Ngga ada manis-manisnya banget sih". Gerutuku dalam hati.


"Pak?". Ujarku lagi mencoba untuk mengajaknya bicara.


Triiriiingg triiriinggg


"Halo". Ujar pak Juan yang langsung mengangkat telponnya yang berdering dan langsung keluar meninggalkan ku sendirian.


"Kenapa harus jauh-jauh sih angkat telponnya? Emang siapa yang nelpon malam-malam begini?". Ucapku pelan yang kepo dengan orang yang menelpon pak Juan barusan.


~


"Jam 12?". Pekik ku, kala melihat jam dinding yang ada di depanku.


"Ngobrolin apa sih sampai selama itu?". Pikirku penasaran.


Karna ke kepoan ku sudah sampai ubun-ubun, aku berniat hendak menyusulnya dan menguping pembicaraannya. Tapi baru saja aku hendak bangkit dari tempat duduk ku, pak Juan sudah berada di ambang pintu. Gagal deh :(


Kan siapa tau pak Juan sedang membicarakan ku dengan temannya seperti waktu itu.


Ku lihat dia melirik ku sebentar sambil berlalu melewati ku.


"Dasar ubin dingin". Sungutku.


~


"Ri, Riri..". Ku dengar ibuku memanggil-manggil ku.


Dengan nyawa yang masih berserakan ntah kemana, dan mataku yang masih terasa sangat berat karna tadi malam aku baru bisa tertidur jam 2 pagi.


"Ayo bangun". Ujarnya lagi sambil mengguncang tubuhku, hingga akhirnya aku terbangun dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.


"Ada apa Bu?". Sahutku dengan suara yang parau.


"Ayo bangun, kita harus kerumah sakit". Ku dengar suara ibuku yang begitu panik. Dan sekarang kesadaran ku sudah berangsur-angsur kembali.


"Hah, rumah sakit? Siapa yang sakit?". Tanyaku yang juga ikut panik.


"Calon ayah mertua mu di larikan kerumah sakit, ayo cepat". Ujarnya menarik-narik tanganku.


"Apa? Ayah Adi?". Ujarku membelalak kaget.

__ADS_1


Bukankah kemarin beliau masih baik-baik saja, tapi kenapa sekarang tiba-tiba? Dan kenapa aku sama sekali tidak mendengar adanya bunyi sirine?


"Iya, ayo cepat". Ibuku menarik kembali tanganku. Aku jadi semakin panik.


Saking paniknya, sekarang aku hanya mengenakan sebuah kaos berlengan panjang dan celana trening serta sandal jepit. Aku bahkan lupa untuk membasuh wajahku sebelum pergi.


Ayah Adi di larikan kerumah sakit terdekat menggunakan ambulance yang ditemani oleh bu Nala dan juga pak Juan.


Sedangkan aku dan orangtuaku diantarkan oleh mang Juki menggunakan mobil pak Juan.


Sesampainya di rumah sakit aku dan orangtuaku beserta mang Juki langsung berlari menuju UGD yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh pak Juan.


"Bagaimana nak?". Tanya ayahku pada pak Juan yang sedang menunggu ayah Adi di periksa bersama bu Nala.


Saat pak Juan hendak menjawab pertanyaan ayahku, tiba-tiba dokter memanggilnya.


"Keluarga Adiyatmo?". Panggil dokter yang menangani ayah Adi.


"Iya saya dok". Sahut pak Juan cepat sambil terus merangkul bu Nala.


"Kondisi ayah Anda saat ini sedang kritis, sebaiknya ayah Anda secepatnya di larikan kerumah sakit besar yang ada di kota".


Kulihat bu Nala terkulai lemas dan hampir terjatuh jika tidak di tahan oleh pak Juan, dengan cepat aku dan ibuku membantunya, dan mendudukkannya di kursi di samping ranjang ayah Adi yang tengah terbaring.


"Sebaiknya kamu cepat urus semuanya nak, biar kami disini yang menjaga ibu dan ayahmu". Ujar ayahku mencoba menenangkan pak Juan yang terlihat sedikit panik dan bingung.


"Terimakasih pak". Sahutnya, lalu segera berjalan menuju meja resepsionis untuk mengurus semuanya.


~


Sudah seminggu sejak ayah Adi di larikan kerumah sakit besar yang ada di kota J, dan masih belum ada perkembangan. Beliau masih terbaring koma dengan berbagai alat bantu yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.


Aku menyandarkan kepala ku pada Kania. Aku sedih mengingat ayah Adi yang tak kunjung siuman hingga hari ini, dan pak Juan sudah 5 hari ini tidak datang ke sekolah karna menjaga ayahnya. Terkadang aku dan orangtuaku juga bergantian membantunya menjaga ayah Adi.


"Gimana kondisi beliau?". Tanya Kania


"Masih belum siuman". Jawabku dengan suara yang tidak bersemangat.


Aku hanya mengangguk mendengar ucapannya.


"Yaudah, lo makan dulu dong. Masa udah di pesen ngga dimakan". Ujar Kania sambil menyodorkan semangkok mie ayam ke hadapan ku karna sekarang kami sedang berada di kantin sekolah.


Dengan malas aku menegakkan badanku dan mencoba melahap makanan yang ada di depanku, meskipun ujung-ujungnya aku tidak bisa menghabiskannya.


Drt drt


"Telpon lo bunyi tuh". Ucap Kania menyadarkan ku.


"Ayah?". Ucapku pelan.


Tanpa menunggu lagi aku langsung mengangkat nya.


"Halo, assalamualaikum yah. Ada apa?".


"Ayah Adi siuman nak". Ujar ayahku tanpa basa-basi.


"Apa? Ayah Adi siuman?". Pekik ku terkejut sekaligus senang mendengar kabar ini. Tanpa menyadari orang-orang yang ada dikantin saat ini sedang menatap ke arahku dan aku tidak mempedulikannya sama sekali.


"Iya nak". Sahut ayahku yang juga terdengar senang.


"Riri akan segera kesana yah". Ujarku senang, lalu langsung mematikan telpon.


Tut tut


"Lo mau kemana?". Tanya Kania menatap ku heran.


"Gue mau kerumah sakit Kan, ayah Adi sudah siuman". Jawabku antusias.

__ADS_1


"Serius? Alhamdulillah, gue ikut seneng dengernya".


"Tapi, lo mau kerumah sakit sekarang?". Tanyanya lagi.


"Iya". Jawabku enteng sambil tersenyum.


"Eh tapi kan, masih ada pelajaran dari bu Tania". Ujarnya mengingatkan.


"Oh iya yah". Ucapku yang baru mengingatnya.


"Lebih baik setelah pulang sekolah aja, biar gue yang anter". Kata Kania lagi.


"Makasih ya Kaaann, lo emang sahabat terbaik gue". Ujarku yang langsung menghambur peluk padanya.


~


"Gimana kondisi ayah Adi yah?". Tanyaku yang sekarang sudah sampai dirumah sakit bersama Kania.


"Alhamdulillah sudah siuman nak, meskipun kondisinya sekarang masih lemah". Jelas ayahku.


"Syukur lah, setidak ayah Adi sudah sadar yah". Aku benar-benar sangat lega mendengarnya.


"Iya nak, dan kamu sekarang sudah di tunggu di dalam". Ujar ayahku lagi.


"Eh, ada apa yah?". Tanyaku bingung.


"Ada yang ingin kami bicarakan". Sambung ayahku.


"Ada yang ingin mereka bicarakan? Ada apa sebenarnya?". Batinku khawatir.


"Kania, terimakasih sudah mengantar Riri ya nak". Ucap ayahku pada Kania yang sekarang berdiri di sampingku.


"Iya om sama-sama". Sahut Kania sopan.


"Ayah tunggu di dalam". Ujar ayahku lagi sebelum masuk ke dalam ruangan ayah Adi di rawat meninggalkan ku dan Kania.


Aku hanya mengangguk pelan mendengar ucapannya.


"Mau ngomongin apa ya Kan? Kok gue tiba-tiba jadi gugup". Ujarku pada Kania.


"Yaudah lo masuk aja dulu".


"Trus lo gimana?". Tanyaku.


"Kayaknya gue pulang aja, kalo ada apa-apa kabarin gue".


"Maaf ya gue ngrepotin". Ujarku yang tak enak.


"Yaelah, kayak sama siapa aja".


"Hehhe, yaudah gue tinggal masuk dulu ya. Lo hati-hati di jalan".


"OK, tenang aja". Sahutnya sebelum aku benar-benar masuk kedalam ruangan ayah Adi.


~


"Assalamualaikum". Ucapku pelan dengan perasaan yang sedikit berdebar, bertanya-tanya dengan apa yang akan mereka katakan padaku.


"Waalaikumsalam". Sahut mereka serentak.


"Kesini nak". Ujar bu Nala.


Aku jadi cemas melihat ekspresi serius di wajah mereka.


"Juan, Riri. Kemarilah nak!". Ucap ayah Adi pelan sambil menyunggingkan seutas senyum di bibir pucatnya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


🤧


Happy reading guys, jgn lupa tinggalkan like, komen, vote plus tambahkan novel receh ini sebagai favorit kalian ya kalau suka. Semoga menghibur 🤗


__ADS_2