
❤️❤️❤️
"Dok, dokter.. tolong istri saya dok!"
"Silahkan baringkan istrinya di sini Pak." Ujar seorang dokter menunjuk pada ranjang di dekatnya.
Tanpa menunggu lagi Pak Juan langsung membaringkan ku di atas ranjang yang di tunjuk oleh seorang dokter tadi.
"Bisa di jelaskan Pak, apa yang terjadi dengan istri Anda?"
"Istri saya terserempet mobil Pak."
"Tapi ngga bener-bener ke seremp..." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Pak Juan langsung menyelaku.
"Saat adik saya menolongnya tadi, dia terjatuh dok. Tolong periksa tangan, kaki, kepala, perut, semuanya dok."
"Baik P...."
"Tolong di periksa secara menyeluruh dok, saya tidak ingin istri saya kenapa-kenapa."
"Haishh, kenapa Pak Juan jadi lebay banget gini sih. Aku kan jadi malu." Batinku, aku hanya bisa menunduk menyembunyikan rasa malu ku yang sudah menjalar ke seluruh tubuhku.
"Baik, baik Pak. Bapak tenang dulu. Biar saya periksa istri Bapak sebentar."
Ku lihat orang-orang sekitar berbisik sambil terkekeh melihat ke arah kami. Haishhh, rasanya benar-benar memalukan.
-
"Apa Riri bener-bener harus periksa seluruhnya Pak? Riri ngga kenapa-kenapa, beneran. Cuman sikut aja yang lecet sedikit. Dokter yang periksa Riri aja tadi bilangnya begitu, Riri baik-baik aja."
"Siapa tau gara-gara terjatuh tubuhmu ada yang terbentur sehingga menimbulkan luka dalam. Kau kan tidak tau, jadi apa salahnya memeriksanya."
"Ya tapi ... "
"Saudari Arianti Permata."
"Ayo, namamu sudah di panggil." Ujar Pak Juan bangun dari tempat duduknya lalu merangkul ku berjalan sampai masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
"Silahkan mengganti pakaiannya mbak, di sebelah sana." Kata seorang perawat menunjuk ke arah ruang ganti.
Setelah selesai mengganti pakaianku, aku langsung melakukan segala pemeriksaan mulai dari cek fisik, rontgen, hingga rekam jantung. Aku memang senang Pak Juan khawatir padaku, tapi kali ini ku rasa ini semua memang berlebihan. Hanya sikut ku yang lecet tapi kenapa harus di periksa seluruhnya, bahkan dokter sampai membahas lemak yang ada di perutku, haishhh.. memalukaaaannnnn 😭.
-
"Ku kira dengan tubuh sekecil itu tidak memiliki lemak, ternyata... "
"Pak Juaaaannn!" Pekik ku.
"Kau harus mulai rajin berolahraga, jik...
"Apa Bapak ngga bisa berhenti bicara? Ujarku mendelik, mengeluarkan tatapan tajam ke arahnya.
Pak Juan mengatupkan bibirnya setelah mendengar ucapanku, tapi masih menyisakan sebuah senyuman yang tertahan di ujung bibirnya yang bisa ku lihat dengan jelas.
"Ap..."
"Pak Juan!" Ujarku kembali melotot.
"Kenapa kau sensitif sekali, aku hanya ingin bertanya. Apa sikut mu masih sakit?"
"Ehm, udah ngga kok." Sahutku sambil bersidekap.
"Oiya Pak, yang lain pada kemana? Kok dari rumah sakit sampai sekarang mereka ngga kelihatan?" Tanyaku karna tak menemukan satu batang hidung pun dari teman-teman ku sejak pulang dari desa tadi.
"Mereka sudah pulang." Jawab Pak Juan santai.
"Kok ngga ngasih tau ke Riri ya?"
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Lebih baik kau tidur, sekarang sudah lewat tengah malam." Ujar Pak Juan yang tak menggubris pertanyaan ku.
"Cih sebentar-sebentar baik sebentar-sebentar sewot, labil banget. Yaudah lah, mending tidur." Batinku. Lalu sepersekian menit kemudian aku tertidur dengan lelapnya.
_____________
Tririiiing triiriinggg
Aku di kejutkan oleh suara alarm yang memekakkan tepat di sebelahku. Dengan otomatis langsung membuat ku langsung terbangun.
"Kamar?" Gumamku terkejut, karna tiba-tiba sudah berada di dalam kamar. Karna seingatku tadi malam, aku tertidur di dalam mobil.
"Cepat mandi, kita hampir terlambat." Ujar sebuah suara yang sangat akrab di telinga ku.
"Ah, i..iya" Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan aktivitasku seperti biasanya.
-
__ADS_1
"Riiiii.. gimana keadaan Lo?" Pekik Kania saat baru saja sampai di depan kelas.
"Heh, gimana? Masih sakit?" Tanya Kania dengan nada hebohnya seperti biasa.
"Lo kenapa Ri? Sakit?" Timpal Jaka.
"Hah, Lo sakit Ri?" Ujar Sherly kemudian.
"Iya, tadi malam di..." Cerocos Kania tapi langsung ku sumpal mulutnya dengan 1 buah beng-beng sehingga Kania seketika terdiam.
"Gue ngga papa kok guys, biasalah.. tamu wanita setiap bulan. Omongan Kania mah jangan di anggep, biasalah lebay dia mah. Hahaha" Ujarku, kemudian merangkul Kania, lalu kami tertawa bersama.
"Oh, kirain kenapa." Kata Sherly, lalu kembali ke tempat duduknya.
"Gue kirain beneran sakit." Ujar Jaka menimpali.
"Ngga, ngga kenapa-kenapa kok gue."
"Oh, syukur deh kalo gitu."
"Hehhe iya."
-
"Untung mulut gue di sumpelin pake beng-beng." Ujar Kania.
"Hehhe, sorry. Gue takut Lo ngomongnya kebablasan kaya biasanya."
"Hm, jadi? Lo beneran udah ngga papa?"
"Iya, gue baik-baik aja kok."
"Eh ngemeng-ngemeng, Pak Juan keren banget tadi malam loh." Ujar Kania menyenggol ku.
Aku mengernyitkan kedua alisku bingung menatap Kania.
"Iya, pas Lo lagi di periksa sama dokter. Dia bilang gini *Sebaiknya kalian pulang, biar saya yang jaga Riri*" Ujar Kania meniru nada bicaranya Pak Juan.
"Auohhhh, mleyot gueeee.." Ujarnya lagi sambil bersandar di pundak ku.
"Apaan si? Lebay deh."
"Fiks, ngga di ragukan lagi. Pak Juan sudah jatuh cinta sejatuh jatuhnya sama Lo."
"Apa sih Lo?" Ujar ku malu.
"Tapi, beneran? Menurut Lo, dia udaaahhhh..."
"Yakin gue, bener dah."
"Apa sih?" Ujar ku menyenggol Kania cukup keras.
"Aw, sakit Ri."
"Hahaha sorry sorry.."
"Acieeeee"
"Hahahahahhah" Lalu kami tergelak bersama.
____________
Teng teng teng
Jam pelajaran hari ini telah berakhir. Semua murid mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas tak terkecuali aku.
"Kan, temenin gue ngasih foto ini ke panitia ya?"
"Ok, sekarang?"
"Iyalah, masa besok."
"Guys, guys, guys... doain Riri semoga lulus seleksi yaaaa..." Teriak Kania.
"Eh Kan, ya ampun. Malu gueeee..." Bisik ku.
"Apasih santuy aja dong." Balas Kania.
"Pasti dong, good luck ya Ri."
"Oiya, gue lupa. Hari ini pengumpulan foto untuk seleksi pertama ya?" Tanya Sherly.
"Iya dodol, gitu aja lupa." Ujar Gandhi.
"Ya, namanya juga lupa."
__ADS_1
"Udah udah, jangan debat mulu. Sekarang yang penting kita kasih support untuk Riri, biar menang." Ujar Jaka.
"Pasti dong, semangat ya Ri.."
"Go, go, go... semangat Riiii..."
"Ehehehe, iya. Thanks ya guys.." Ujarku yang tidak tau harus berkata apa lagi. Yang jelas aku senang dan bersyukur, karna mereka semua mendukung ku.
"Riri.."
"Riri.."
"Riri.."
Sorak mereka semua serentak.
"Aduh, udah dong.. gue kan jadi malu." Ujarku dengan pipi yang sudah blushing.
Hahahahahhah...
-
Tok tok tok
"Masuk!"
"Permisi kak, mau ngumpulin berkas sama foto."
"Oh iya, silahkan silahkan." Ujar salah satu panitia.
"Berkasnya disini, kalo fotonya disana ya. Sama kak Aryo yang ganteng di sebelah sana." Ujar kakak panitia yang bernama Erika, ku lihat dari name tagnya.
"Ah hehhe, iya kak." Sahutku, lalu aku berjalan ke arah yang di tunjukkan oleh kakak panitia yang tadi.
"Yo, bolehlah sekalian di ajak kenalan." Ujar salah satu panitia yang ada di sana.
"Cieeee, uhhuy.." Timpal yang lainnya.
"Apaan sih Lo pada? Dek, jangan dengerin ya omongan mereka." Ujar laki-laki di depanku yang bernama Aryo ini padaku.
"Eh, hehhe.. iya ngga papa kak." Ujarku tersenyum kikuk.
"Ini fotonya kak." Ujarku lagi mengulurkan sebuah amplop coklat berisi beberapa fotoku padanya. Yang di sambut senyuman olehnya.
"Kalo boleh tau namanya siapa ya?"
"Eh.."
"Cie nanyain nama, cieeee..." Goda mereka lagi.
"Apaan si, berisik amat. Kalo ngga tau namanya gimana gue mau ngisi datanya."
"Modus tuh dek, modus."
"Udah dek, jangan dengerin mereka. Mereka emang usil anaknya."
"Eh, i..iya kak. Nama aku Arianti Permata."
"Ok, good luck ya dek." Ujarnya lagi mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah padaku.
"Iya, terimakasih kak." Sahutku, menerima uluran tangannya.
"Gaskeun Yo, gaskeun.. hahaha." Ujar mereka yang tak habis-habisnya menggoda. Aku jadi tambah malu di buatnya. Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung izin pamit untuk keluar.
"Makasih ya kak." Ujarku tersenyum ramah, sebelum keluar dari ruangan.
"Goodluck dek." Ujar mereka berbarengan, aku hanya bisa tersenyum cerah membalas ucapan mereka sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
-
"Gimana rasanya di kecengin? Ini ngga seberapa loh Ri, belum lagi kalo Lo tampil di hadapan orang banyak, beuhhh.. harus kuat mental Lo."
"Aduh, gini aja gue udah ngerasain malu plus gugup. Gimana nanti ya Kan?" Ujarku mulai cemas.
"Ngga papa, santuy aja. Itu berarti banyak yang suka dan dukung Lo. Lo harus percaya diri." Kata Kania memberiku semangat.
"Hehee iya, yaudah. Pulang yok.." Ajak ku.
Saat aku berbalik...
Jedug
"Aw" Pekik ku.
"Pak Juan? Ba..Bapak ngapain disini?"
__ADS_1
❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan favoritnya ya guys 🤗 terimakasih 🤗🙏