Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Kau Adalah Penyelamatku


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Kenapa kau mengikutinya?" Tanya Pak Juan tiba-tiba.


"Ikut? Ikut apa Pak? Tanyaku balik.


"Seleksi untuk gadis sampul." Ujarnya tanpa menoleh padaku, karna sekarang Pak Juan sedang sibuk menyetir.


"Ohh itu. Bukan Riri yang mau." Sahutku sambil sibuk memainkan telpon genggam ku.


"Kalau tidak mau, kenapa ikut?" Tanya Pak Juan lagi.


"Ya mau gimana lagi, semua temen Riri yang merekomendasikan." Ujarku santai.


"Besok, minta panitia untuk menghapus namamu dari daftar calon." Ujarnya yang tiba-tiba membuatku terkejut.


"Hah? Maksud Bapak?"


"Apa kau tidak mengerti? Hapus namamu dari daftar calon." Kata Pak Juan menegaskan.


"Kalau di hapus, berarti di kelas Riri ngga punya kandidat dong?" Ujarku yang kini memutar tubuhku agar menghadap sepenuhnya pada Pak Juan.


"Ganti saja dengan teman mu lainnya, kau bukan satu-satunya wanita di kelas itu." Ucap Pak Juan dengan entengnya.


"Iya, kalau ada yang mau. Kalau ngga?"


"Aku tidak peduli, yang jelas kau tidak boleh mengikutinya." Tegasnya.


"Kenapa sih Pak? Kenapa Riri ngga boleh ikut? Apa jangan-jangan..." Ucapku menggantung.


"Kenapa?" Tanya Pak Juan bingung.


"Pak Juan cemburu? Karna kalau Riri bisa menang, Riri terkenal trus banyak cowok yang ngejar-ngejar Riri?" Ujarku berangan-angan.


"Hahahahahhah.. jangan mimpi. Dan lagi seharusnya kau itu sadar diri, lihat penampilan mu? Siapa yang akan mau mengejar-ngejar mu?" Ejeknya.


"Lihat aja nanti, apa Bapak bisa mengejek Riri seperti sekarang?" Batinku.


"Riri ngga peduli alasan kenapa Bapak melarang, Riri akan mencobanya. Ngga, Riri harus ikut dan menenangkannya."


"Kau?" Ujarnya melotot. "Sudah ku bilang kau tidak boleh ikut."


"Ngga mau, Riri tetep ikut."


"Ku bilang tidak ya tidak." Ujarnya meninggikan suara.


"Kalau Riri bilang ikut ya ikut." Ujarku tak kalah ngototnya.


"Tidak."


"Ikut."


"TIDAK!"


"IKUT!"


"TIDAK!"


"Pak, Pak.. awaaaaassss..." Pekik ku sambil menunjuk cemas ke arah depan.


Namun karna jarak yang sangat dekat, Pak Juan menginjak rem pun sudah tidak ada gunanya lagi.


Brakkk

__ADS_1


"Auhhhh.." Pekik ku dan Pak Juan secara bersamaan sembari memegangi tengkuk kami yang terbentur cukup keras ke belakang.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Pak Juan yang langsung melepas seatbelt nya.


"Ngga, Riri ngga papa Pak. Pak Juan gimana?" Tanyaku khawatir.


"Hm, aku tidak apa-apa."


Tok tok tok


"Keluar!" Ujar seseorang yang mengetuk kaca mobil cukup keras dari luar, ku lihat dari ekspresinya, sepertinya dia marah besar.


"Gimana nih Pak?" Ujarku takut.


"Tidak apa-apa, kau tunggu disini. Aku akan bicara dengannya sebentar."


"Tap..." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Pak Juan langsung keluar dari mobil.


"Aduhhh, gimana nih?" Ujarku cemas.


"Kenapa mereka kesana?" Ujarku kemudian ketika melihat Pak Juan dan laki-laki itu berjalan ke tepi jalan.


"Apa mereka akan berkelahi?" Aku jadi semakin panik dan tidak tenang menunggu di dalam mobil sendirian.


"Kenapa ngobrolnya lama banget?"


Aku masih memperhatikan mereka dari dalam mobil, bahkan sekarang sudah 20 menit berlalu. Saat aku hendak keluar dari mobil, Pak Juan sudah terlebih dahulu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


"Gimana Pak?" Tanyaku tanpa membuang waktu lagi.


"Tidak apa-apa, dia hanya meminta ganti rugi."


"Berapa?"


"Du..dua puluh juta?" Ujarku membelalak kaget.


"Kenapa mahal banget? Riri lihat kerusakannya ngga separah itu."


"Kau tidak lihat mobilnya mobil apa? Sudah untung dia mau berdamai dengan ganti rugi." Ujar Pak Juan lalu kembali melajukan mobilnya.


"Apa Bapak perlu bantuan?" Tanyaku dengan polosnya.


Pak Juan langsung menatap heran ke arahku.


"Kau? Mau membantuku? Mengganti rugi?"


"Iya" Angguk ku pelan.


"Hahahhahahha, yang benar saja." Ujarnya tergelak.


"Kenapa? Apa Bapak pikir, Riri tidak bisa membantu Bapak untuk membayarnya?"


"Tentu saja, kau itu hanya gadis SMA yang masih meminta uang jajan. Bagaimana bisa membantuku mengganti rugi."


"Cih, Bapak jangan remehin seorang Arianti Permata ya. Apa yang Riri mau harus Riri dapatkan."Ujarku meyakinkan.


"Heh, bagaimana caranya? Apa kau akan meminjam uang pada rentenir?"


"No.. no.. no.. Riri akan mengikuti kontes gadis sampul dan memenangkan hadiah uang tuaninya." Ujarku bersemangat.


"Tidak, sudah ku bilang kau tidak boleh mengikutinya." Tegasnya.


"Ngga, Riri harus ikut." Ujar ku ngotot.

__ADS_1


"Kau itu, apa kau tidak mengerti bahasa manusia? Ku bilang tidak ya tidak."


"Ngga mau tau, pokoknya Riri tetep ikut."


"Kau itu..."


Begitu lah perdebatan kami sepanjang jalan, bahkan ketika sampai di rumah pun, aku dan Pak Juan masih saja memperdebatkan masalah kontes gadis sampul. Sejak itu, dia terus membujuk ku untuk tidak mengikuti kontesnya, setiap pagi, siang, malam, dia terus meyakinkan ku untuk tidak mengikutinya. Berbagai alasan di katakannya, mulai dari aku tidak akan bisa berkonsentrasi lah dalam pelajaranku, karna waktuku akan terbagi dalam mempersiapkan diriku untuk mengikuti kontes, akan sangat merepotkan lah dan lain sebagainya. Tapi bukan Riri namanya jika menyerah begitu saja dari apa yang sudah ku tekadkan. Aku malah menjadi semakin bersemangat ketika dia terus melarang ku.


___________


Hari ini hari Sabtu, karna pulang sekolah lebih awal, aku mengajak Kania dan pacarnya serta Dennis untuk jalan-jalan ke mall, sekaligus untuk menghilangkan penat ku setelah beberapa hari ini terus menerus berdebat dengan Pak Juan mengenai kontes itu. Saat ini, kami sedang berada di salah satu cafe yang ada di mall.


"So, Lo beneran jadi ikut kontes itu?" Tanya Dennis.


"Hm" Sahutku sambil menyeruput minuman ku.


"Trus gimana sama Pak Juan?" Timpal Kania.


"Ngga tau deh. Rasanya semakin Pak Juan ngelarang gue, gue malah jadi lebih bersemangat untuk ngelakuin apa yang di larangnya."


"Wah, gila Lo. Lo bener-bener gila, bener deh. Lo ngga takut kalo laki Lo bakalan marah besar?" Tanya Dennis, pacarnya Kania. Oiya panggilan mereka memang sama, tapi sebenarnya nama mereka berbeda. Kekasih Kania bernama Ardenis Setia di panggil Dennis, kalau adik sepupu dari Pak Juan bernama Dennis Artadyatmo yang juga memiliki marga yang sama dengan Pak Juan.


"Takut sih sebenarnya gue, tapi yaaa.. gimana? Gue juga pengen coba, siapa tau ini adalah awal yang bagus buat karir gue kedepannya."


"Iya juga sih." Ujar Kania.


"Apapun itu, gue bakalan selalu dukung keputusan Lo Ri." Kata Dennis.


"Thanks ya." Ujarku tersenyum ke arahnya.


"Oiya.. kalian ada kenalan fotografer ngga?"


"Oiya, Lo harus serahin 5 foto yang aesthetic ya Senin lusa ke panitia?"


"Iya, bingung banget gue."


"Kenapa ngga bilang?" Ucap Dennis tiba-tiba.


"Hm, maksudnya?" Tanyaku bingung.


"Gue kan pernah mendalami dunia fotografi dan videografi selama setahun di negara L."


"Hah, serius Den?" Ujarku berbinar-binar.


"Iya, kalo Lo perlu bantuan gue soal fotografi Lo bilang aja. Gue ahlinya." Ujar Dennis menaik turunkan alisnya.


"Denniiiisssssss" Ujarku menatapnya haru.


"Hahahahahhah, udah ah.. ngga usah lebay gitu."


"Jadi, kapan kita mulainya?"


"Besok pagi gimana?" Ujarku antusias.


"Ok, siapa takut."


"Thanks ya Den.. Kamu itu bener-bener penyelamat aku tau ngga sih?! 🤧"


❤️❤️❤️


Jgn lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favoritnya juga ya sayang 😚


Terimakasih 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2