Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Pak Adi?


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Hoammm".


Entah kenapa mataku pagi ini rasanya ngantuk sekali. Aku mengurungkan niatku beranjak dari kasur, ku peluk kembali gulingku.


"Tidur, bentar lagi deh. Hoammm".


Di saat aku baru saja memejamkan mataku, tiba-tiba ibuku masuk begitu saja.


"Ya ampun anak ini. Mentang-mentang hari Minggu". Celoteh ibuku, aku hanya diam saja dan masih memejamkan mataku.


"Ayo bangun". Ujar ibuku menarik selimut yang menutupi tubuhku.


"Bu, Riri masih ngantuk. Hari ini Riri juga libur. Riri mau tidur sebentar lagi". Ujarku dengan nada yang serak karna baru bangun tidur.


Ku tarik kembali perlahan selimutku.


"Ngga bisa, ayo bangun. Anak gadis itu ngga boleh bangun kesiangan, harus pagi-pagi. Ayo bangun". Ujar ibuku lagi menarik lenganku agar aku terbangun.


Aku duduk dengan malas. Jangan tanya penampilanku, tentu saja sekarang aku sangat berantakan 😪 Dengan rambut yang awut-awutan menutupi seluruh wajahku serta wajah bantal khas orang yang baru bangun tidur.


"Bu, Riri mohon. Sebentaaaarrr saja. Mata Riri berasa berat banget". Rengekku. Aku mencoba merebahkan tubuhku kembali.


"Eits, ngga bisa". Ujar ibuku yang menahan tubuhku agar tidak kembali tidur.


Aku menatap ibuku memelas. Tapi ibuku sama sekali tidak menghiraukan ku.


"Nanti siang kamu boleh lanjutkan tidurnya, tapi sekarang kamu harus bangun dan juga mandi. Ayo!".


"Ayah sudah nunggu". Ujar ibuku lagi.


Aku mengerutkan keningku.


"Ayah udah nunggu?! Emang kita mau kemana Bu?". Tanya ku penasaran.


"Kita mau jenguk teman ayah kamu". Jelas ibuku.


"Om Rusman? Om Rusman sakit Bu? Kok Kania ngga kasih tau Riri ya?!". Ujarku. Om Rusman adalah orangtua Kania, yang juga merupakan teman dari ayahku.


"Bukan, bukan om Rusman. Tapi teman ayah kamu sejak SD".


"Hah? Teman SD? Kok Riri baru tau ya?". Ujarku lagi.


"Udah kamu tuh banyak tanya deh. Kapan kita berangkatnya?! Ayo cepet mandi!". Ujar ibuku lalu berdiri dan meninggalkan aku yang masih bertanya-tanya ditempatku.


"Teman ayah yang mana yah? Ayah ngga pernah cerita sama sekali. Yang aku tau cuma om Rusman". Ujarku yang masih bertanya-tanya, tapi tetap saja aku tidak bisa mendapatkan jawabannya.


"Ah yaudah, mandi dulu ajadeh". Ucapku, lalu bangun beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi.


Ku ambil sikat gigi yang bergantung di sebelah kiriku, ku olesi pasta gigi di atasnya secukupnya. Ku gosok-gosokkan perlahan pada gigiku, di tengah-tengah aktivitas ku ketika aku menatap kaca yang ada di depanku tiba-tiba saja aku mengingat kejadian lucu semalam sewaktu di sekolah.


Flashback, Sabtu kemarin.


Aku tiba di sekolah jam setengah 8 pagi, banyak para murid yang baru berdatangan. Dengan perasaan gembira aku bersiul sapanjang dari gerbang sekolah hingga ada sebuah mobil sedan mewah yang melewati ku dan aku tau betul siapa pemiliknya. Aku mengembangkan senyumku kembali.


"Moodbooster ku". Gumamku, sambil terus menatap mobilnya yang melaju hingga berhenti pada parkiran khusus guru. Tanpa disuruh aku mengehentikan langkahku.


Kupandangi dari kejauhan, hingga pintu pengemudi mobil itu terbuka. Aku dengan antusias melihat ke arahnya.

__ADS_1


Dari kejauhan ku lihat ada kejanggalan.


"Eh, kok masuk lagi?". Ujarku ketika melihat pak Juan yang buru-buru masuk kembali kedalam mobilnya.


Aku masih setia menunggunya keluar.


"Ini sudah 10 menit, kok belum turun juga ya?!". Pikirku.


Perlahan ku lihat kembali pintu itu terbuka. Dan ku dengar samar-samar.


"Shu shu, pergilah. Shu...". Ujarnya yang terdengar pelan ditelinga ku karna jarak ku dengannya lumayan jauh.


"Kok?". Aku menatapnya heran.


Ku sipitkan mataku agar aku bisa melihatnya dengan jelas.


"Kucing?". Gumamku.


"Apa pak Juan takut kucing?!". Ujarku terkekeh pelan.


Masih ku perhatikan dari kejauhan, pak Juan tak beranjak dari tempatnya dan sekarang pintu mobil itu malah di tutupnya kembali. Pak Juan tidak bisa keluar dari mobil karna ada mobil lain yang parkir di sebelah kirinya hingga pintu itu tidak bisa dibuka. Jadi hanya pintu dari sisi kanan yang bisa dibuka tapi karna ada kucing di samping pintu itu, pak Juan tidak bisa keluar. Kucing itu sepertinya menyukai pak Juan, karna ketika pak Juan berusaha keluar lewat pintu belakang kucing itu mendatanginya lagi. Hahaha lucu sekali tingkahnya, di depan orang aja cuek dan dingin sekalinya berhadapan dengan kucing nyalinya menciut.


"Kasihan juga!". Pikirku.


Akhirnya aku memberanikan diriku mendekat pada mobilnya.


Tok tok tok


Ku ketuk kaca mobilnya pelan.


"Ada apa?". Ujarnya ketika kaca mobil itu diturunkan. Ia menatap heran ke arahku.


"Perlu bantuan pak?". Ucapku menahan tawa.


"Tidak ada". Ujarnya.


"Ohh yasudah kalau begitu. Saya permisi dulu pak". Ujarku lalu membalikkan badan.


"Eh.. tu. tunggu". Ujarnya tiba-tiba.


Aku tersenyum geli ketika mendengarnya. Ku atur ekspresi wajahku sebelum ku balikkan badanku kembali ke arahnya


"Iya, ada apa pak?". Ujarku datar.


"B.. bisa kau singkirkan kucing itu?".


"Astaga dia lucu sekali". Batinku, aku berusaha menahan tawaku.


"Oh, kucing ini?!". Ujarku mengangkat kucing itu lalu mengarahkannya pada pak Juan.


"Eh eh, jangan dekat-dekat". Ujarnya sambil menutup hidungnya.


Sekali lagi aku menahan tawaku. Pak Juan menatap ku tajam.


"Cepat singkirkan". Suruhnya lagi.


Tanpa menjawabnya aku membawa kucing itu menjauh darinya.


"Sudah pak". Ujarku.


"Ehm". Jawabnya singkat padat dan jelas.

__ADS_1


Dia membuka pintunya kembali lalu keluar dari mobilnya. Ku lihat dia melirik ku sekilas sebelum berlalu melewatiku yang berdiri di dekat mobilnya.


Flashback off


"Hahaha". Aku kembali tertawa mengingat kejadian itu.


Penampilannya saja yang cool, cuek dan dingin. Aslinya penakut, hahaha.


"Ada-ada saja". Ujarku menggelengkan kepalaku, lalu aku melanjutkan aktivitas ku yang tertunda akibat mengingat pak Juan semalam.


~


Setelah bersiap-siap dan rapi aku segera keluar menemui ayah dan ibuku yang ternyata sudah menunggu ku di ruang tamu.


"Kok lama banget sih mandinya". Protes ibuku.


"Hehehe". Aku terkekeh sendiri.


Tidak mungkin kan aku memberitahu ibuku, gara-gara keasikan memikirkan laki-laki 😅


"Yasudah, ayok kita berangkat sekarang sebelum jalanan tambah macet". Ucap ayahku yang beranjak dari tempat duduknya.


"Eh tapi Riri naik apa kalo ayah sama ibu boncengan?". Tanyaku. Yang mengingat bahwa dirumah kami hanya ada 1 kendaraan.


"Ayah sudah pesan taxi". Tambah ayahku lagi.


Aku berjalan beriringan dengan orangtuaku dan merangkul tangan ibuku sampai di depan gang karna mobil tidak bisa masuk kadalam gang rumah kami.


~


Sekarang sudah jam 10 pagi, untungnya jalanan tidak terlalu macet. Kami tiba dirumah sakit sekitar 40 menit. Kami berjalan menuju meja resepsionis, ayahku menanyakan keberadaan ruang rawat temannya.


"Sus, ruang rawat VIP disebelah mana ya?". Ujar ayahku menanyakan pada salah satu perawat yang berjaga di meja resepsionis itu.


"Sebelah kanan, bapak lurus aja sampai ujung belok kanan lagi". Kata perawat itu tersenyum ramah.


"Oh iya terimakasih".


"Sama-sama pak".


~


Letaknya tidak terlalu jauh, kini kami tiba di depan ruangan itu. Ketika ku lihat nama yang tertera di depan pintu itu.


"Kok namanya ngga asing ya?!". Pikirku.


Krek


"Assalamualaikum". Ujar ibu dan ayahku berbarengan.


"Waalaikumsalam, masuk-masuk". Sahut orang yang ada di dalam.


Tanpa sadar aku menganga dengan cukup lebar.


"Pak Adi?!" Batinku.


❤️❤️❤️


Gimana suka ngga? Hehe


Kalo suka jangan lupa dukung terus novel ini ya, beri like komen vote dan juga jadikan favorit di rak buku kalian agar novel receh ini semakin berkembang 😘

__ADS_1


Xiexie 😚


__ADS_2