
❤️❤️❤️
Aku bersemangat pagi ini karna mengingat hari ini adalah hari terakhir masa hukuman ku. Sama seperti 2 hari sebelumnya, aku tiba di sekolah sangat pagi ketika matahari masih malu-malu untuk menampakkan cahaya indahnya.
Seperti biasa ku letakkan tas berwarna pink kesayangan ku ke dalam kelas sebelum aku melakukan rutinitas ku setiap pagi selama 3 hari ini.
Setelah selesai membersihkan toilet murid aku segera beranjak dari tempatku menuju toilet guru. Kaki ku terhenti di depan ruangan yang tengah terbuka yang tidak asing bagi mataku ini. Ku lihat jam tangan ku sekilas.
"Eh, ini kan baru jam setengah 8. Kok pintunya udah kebuka?" Pikirku.
"Apa pak Juan ada di dalam ya?!" Gumamku dengan senyuman yang mengembang. Ya, ruangan yang tampak tak asing bagiku ini adalah ruangan kepsek baru di sekolahku. Tiba-tiba muncul rasa ke kepoan ku. Dengan berjalan berjingkit dan extra hati-hati ku coba untuk mendekati ruangan itu. Dengan perlahan tapi pasti ku coba mengintip dari balik pintu yang terbuka itu dan sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Mana ya?!" Gumam ku sambil celingukan mencari sesosok manusia tampan ciptaan Tuhan. Ku telusuri di setiap sudut ruangan itu dengan mata mungilku.
"Kok ngga ada?!" Gumamku pelan kala tak mendapati sosok yang ingin ku lihat.
Ku hembuskan napasku pelan, ada rasa sedikit kecewa di hatiku kala tak berhasil melihat sosoknya yang mencuri perhatian ku itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Deg
"Suara ini?" Batinku. Saat mendengar sebuah suara yang tak asing di telingaku. Dengan cepat aku membalikkan badanku.
Bug
"Aww" Pekik ku sambil memegangi hidungku yang sakit karna terbentur.
Ku tengok orang yang sekarang berdiri di hadapanku ini. Aku terperanjat kaget, dengan reflek aku memundurkan langkahku, karna kurangnya keseimbangan aku malah terjatuh.
Brug
"Aduhhh" Pekik ku sambil memegangi bokong ku yang rasanya sakit sekali karna terhempas lumayan keras ke lantai.
Dia mendekat ke arahku ku, jantung ku mulai berdebar tidak karuan.
__ADS_1
"Kenapa dia mendekat ke arahku?" Gumamku, aku semakin gugup di buatnya.
"Apa kaki mu begitu lemah?" Ujarnya dingin. Tapi mencoba membantu ku untuk berdiri.
"Eh, emm.. eng.." Hanya suara itu yang keluar dari mulutku, jujur sekarang aku sangat gugup. Ntah apa pak Juan mendengar suara debaran jantung ku.
"Apa yang kau lakukan disini? Mengintip seperti pencuri?!" Ujarnya ketus, lalu berjalan menuju kursi singgasananya setelah membantu ku bangun.
"Mm..maaf pak. Saya tidak bermaksud seperti itu" Ujarku gugup.
"Lalu?" Kini ia menatapku dengan mata tajamnya.
"Ss... saya mau membersihkan ruangan ini pak. Karna saya lihat ruangan ini sedikit berantakan" Ujar ku berbohong.
"Duh, Riii.. alasan bodoh macam apa ini" Pekik ku dalam hati.
"Tidak perlu, ini bukan tugasmu. Kau disini untuk belajar bukan untuk bersih-bersih" Ucapnya dengan nada dinginnya. Tapi ntah kenapa, aku merasa senang dengan perkataannya barusan.
Aku terlarut dalam khayalanku ketika mendengar perkataannya, aku jadi senyum-senyum sendiri. Tanpa ku sadari pak Juan memperhatikan ku dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya dan menatapku heran.
Aku yang di tatapnya menjadi salah tingkah, pipiku bersemu merah dan rasanya tiba-tiba menjadi sedikit panas.
Dengan secepat kilat aku menghilang dari hadapannya dan berlari kecil menuju toilet. Pipiku terasa panas, sambil berlari-lari kecil aku terus mengibas-ngibaskan tangan pada wajahku agar kiranya rasa panas ini menghilang di iringi dengan senyuman-senyuman malu yang mungkin akan membuat orang geli sendiri ketika melihat tingkahku.
~
"Ahhh, pagiku cerah sekali" Ucapku dengan senyuman sumringah memejamkan mata menghadap pada luar jendela yang terbuka, bahkan sinar matahari yang sedikit mengenai wajahku tak terasa panas sedikitpun.
"Woi, Ri"
"Astaghfirullah" Aku terperanjat kaget kala mendengar suara yang cukup keras di telingaku.
"Ya ampun Kan, untung gue ngga punya riwayat penyakit jantung" Ujarku sambil mengelus dadaku pelan, bahkan sekarang debaran jantung itu masih berpacu karna aku benar-benar terkejut.
"Hahaha, lagian. Lo senyum-senyum sendiri, masih pagi juga"
__ADS_1
"Kesambet baru tau rasa lo?!" Tambahnya lagi.
"Hehhe" Aku terkekeh pelan.
"Ada apa si? Cerita dong?" Ujarnya yang kini merangkul tanganku.
"Hmm.. ntar deh" Ujarku sambil tersenyum malu.
"Ayo dong. Gue penasaran banget nih" Bujuknya.
"Besok gue ceritain, besok kan tanggal merah tuh kita libur. Kan besok kita ada janji mau ke mall, jadi besok deh gue ceritain semuanya. OK?" Balasku yang di akhiri dengan kedipan mata.
"OK. Janji ya?" Ujar Kania sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke hadapan ku.
"Iya, janji!" Ujarku yang memaut kelingkingnya dan kelingking ku menjadi satu.
~
Teng teng
Semua murid mulai berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Hari ini pulang lebih cepat karna para guru akan mengadakan rapat.
"Eh, gue hari ini bawa motor. Kita pulang bareng yah?" Ujarnya sambil menautkan tangannya di lengan ku.
"Kebetulan banget. Tadinya gue bingung mau pulang naik apa. Soalnya pak Udin kan ngga tau kalau gue hari ini pulang cepet. Lo emang penyelamat gue" Ujarku bergelayut manja di tangannya.
"Apa jadinya lo, kalo ngga ada gue.. hahahha" Kelakarnya yang terdengar di buat-buat itu.
Kami berjalan melewati koridor sekolah dengan bersenda gurau sampai tepat di depan lobi sekolah. Ekor mataku mendapati pak Juan yang sedang mengobrol dengan beberapa guru, dengan posisi tangan yang bersidekap itu membuat ketampanan dan kharismanya bertambah menurutku 😍
"Cieee" Ujar Kania memergoki ku.
"Udah mulai falling in love nih yeee" Ledeknya.
"Apasih" Ujar ku mesem-mesem menanggapi ledakannya.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya para readers ku tercinta 😚