
❤️❤️❤️
"Awww". Pekik ku.
"Apa kau tidak bisa diam?". Ujarnya menatap tajam padaku.
"Namanya juga sakit". Gumamku pelan.
Dia kembali menatap tajam ke arahku. Sebelum kembali mengolesi kakiku dengan salep pereda nyeri lalu membungkusnya dengan perban.
"Apa hobimu itu selalu terjatuh?". Ujarnya lagi sambil fokus membalut kakiku dengan perban.
"Terjatuh itu sebuah kecelakaan pak, mana bisa di sebut sebagai hobi". Sungutku.
Lagi-lagi dia menatap ku dengan tatapannya yang tajam dan dingin itu.
"Lalu, apa kau tidak punya teman perempuan yang bisa membantu memapahmu, sehingga kau di gendong oleh seorang laki-laki? Apa kau tidak malu di lihat orang banyak? Terlebih kau itu sudah menikah?". Cerocosnya.
"Ya kan keadaan darurat pak. Lagian orang-orang di sekolah ini kan tidak ada yang tau kalau Riri sudah menikah. Jadi tidak masalah kan?". Sahutku enteng.
Saat balutan perban terakhir, dia seperti sengaja membalutnya terlalu kencang sehingga aku mengaduh kesakitan akibat ulahnya itu. Lalu seolah tanpa dosa bukannya meminta maaf dia langsung berdiri hendak meninggalkan ku.
"Aduh pak, sakit". Pekik ku, sambil menyentuh mata kakiku yang bertambah sakit karna ulahnya.
"Kau pantas mendapatkannya!". Ujarnya sebelum keluar dari UKS.
"Dia kenapa sih?". Gumamku pelan sambil menatap kepergiannya.
"Pak Juan, ada perlu apa kesini pak? Ada yang bisa saya bantu?". Tanya Bu Ratih kala mereka berpapasan di ambang pintu.
"Tidak ada, saya hanya mengembalikan minyak kayu putih yang tidak sengaja terbawa oleh saya kemarin". Sahutnya sebelum benar-benar pergi dari UKS.
"Aneh sekali". Gumam bu Ratih yang nyatanya masih bisa di dengar olehku.
"Iya, aneh sekali". Batinku yang ikut menimpali sambil menatap ke arah luar pintu.
"Loh Ri, kamu kenapa?". Tanya Bu Ratih yang baru menyadari bahwa ada aku di ruangan UKS saat ini.
"Kaki Riri terkilir Bu". Sahutku.
"Loh, tapi ini sudah di obati?". Ujarnya menunjuk pada kakiku yang sudah di perban.
"Eh, i..iya Bu". Sahutku sambil menggaruk-garuk tengkuk ku yang tidak gatal.
"Siapa yang melakukannya? Balutannya rapi sekali loh?". Kata bu Ratih lagi yang memperhatikan balutan perban pada kaki ku.
"Ta..tadi Kania yang balutin Bu, hehhe". Ujarku berbohong.
" Oiya, maaf ya bu kami langsung main ambil aja, ngga minta izin ibu dulu?!". Tambahku lagi.
"Ngga papa. Lagian kan tadi ibu lagi ngga ada. Dan cidera kamu juga harus segera di obati". Ujarnya tersenyum padaku.
________________
Teng teng teng
Akhirnya jam istirahat tiba, hanya berselang beberapa menit ku lihat Kania sudah muncul di ambang pintu dengan suara bisingnya.
"Ririiiiii... gimana kaki lo? Udah baikan?". Tanya nya yang terlihat khawatir, sambil menyentuh kakiku yang di perban.
"Yakali bisa langsung baikan, masih sakit ini". Sahutku.
"Hehehe, supaya lo cepet sembuh.. tarraaaaaa, gue bawain hotdog buat lo". Ujarnya menyodorkan hotdog berukuran besar ke hadapanku.
"Waaahhh, sahabat gue emang paling the best". Ucapku dengan mata yang berbinar-binar.
"Eh eh, tadi gue ada liat sekilas. Pak Juan nyamperin lo?". Tanya Kania dengan suara seperti berbisik.
"Hm". Sahutku mengangguk sambil asik mengunyah hotdog yang dibelikan oleh Kania.
"Trus trus?". Mode keponya bangkit lagi.
"Dia perbanin kaki gue". Ujarku santai sambil menunjuk ke arah kaki ku yang di perban.
Kania membuka mulutnya lebar-lebar, terkejut mendengar ucapan ku barusan.
"Serius?". Ujarnya yang seolah tak percaya.
"Iya". Sahutku enteng.
"Tuhkan gue bilang juga apa, pak Juan pasti ada rasa sama lo?!". Katanya dengan nada yang cukup keras.
__ADS_1
"Sekalian aja Kan, lo umumin pake toak". Ujarku sambil menutup mulutnya yang suka kebablasan itu.
"Ehehehe, iya iya sorry".
Aku tiba-tiba jadi memikirkan kata-kata Kania tadi pagi dan juga barusan mengenai pak Juan, seperti ada secercah harapan yang kembali muncul dalam hatiku yang ternyata belum hilang sepenuhnya.
"Apa mungkin pak Juan mulai menyukaiku? Tapi bagaimana dengan gadis itu? Kalau nyatanya bukan hanya pak Juan yang mencintainya, tetapi malah saling mencintai. Aku akan jadi orang ketiga dong yang akan merusak hubungan orang lain? Ngga, ngga. Se cinta-cintanya aku dengan pak Juan, aku tetap tidak boleh menyakiti perasaan wanita lain. Tapi bagaimana dengan perasaan ku sendiri? 😣 Arghhhhh perkara ini benar-benar membuat kepalaku pusing". Ujarku bermonolog panjang lebar dalam hatiku, memikirkan kisah cintaku yang rumit bak dalam cerita novel saja.
_____________
Karena kaki ku yang terkilir aku di perbolehkan untuk pulang setelah mata pelajaran kedua, saat ini aku sedang menunggu tukang ojek yang lewat di depan sekolah. Cuaca hari ini cukup terik, membuat bajuku basah akibat kucuran keringat ku sendiri. Sudah 10 menit aku menunggu, tapi tak ada satupun tukang ojek yang lewat, kakiku mulai lelah berdiri, ditambah gara-gara kaki ku yang terkilir, rasanya mulai nyeri kembali. Saat aku hendak duduk di atas rerumputan di depan gerbang sekolah, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang ku lihat berhenti tepat di depanku. Dan mobil ini tampak sangat familiar di indera penglihatan ku.
"Kenapa jam segini dia sudah pulang?". Gumamku pelan sambil melihat ke arah pria yang turun dari mobilnya itu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, kalau akan pulang lebih cepat?". Ujarnya dengan nada tegasnya.
"Cih, apa aku harus selalu laporan padanya". Batinku.
"Memangnya kalau Riri bilang sama pak Juan, bapak akan bersedia mengantar Riri pulang?". Ujarku dengan ekspresi malas, yang tanpa sadar melontarkan kata-kata itu, ini adalah pertama kalinya aku berani berucap seperti ini padanya.
"Kenapa aku tidak bersedia? Kau kan istriku!". Sahutnya enteng sambil memapahku masuk kedalam mobil.
"Ada apa ini?". Batinku, aku mengerutkan kedua alisku menatapnya heran.
"Apa bapak sedang tidak enak badan?". Ujarku tiba-tiba menyentuh dahinya.
"Apa yang kau lakukan?". Ujarnya menatap tajam ke arahku, karna aku menyentuh dahinya tiba-tiba.
"Ini aneh". Gumam ku pelan.
"Badan bapak tidak panas, yang artinya bapak sekarang sedang baik-baik saja. Tapi kenapa bapak tiba-tiba bersikap baik pada Riri?". Ujarku menatapnya intens meminta jawaban atas pertanyaan yang membuat ku bingung.
"Ehm.. a..aku hanya merasa lelah hari ini. Karna ku lihat kau berdiri di depan pagar, daripada naik ojek, boros. Lebih baik ku angkut kau sekalian". Sahutnya yang semakin terdengar aneh di telingaku.
"Ta....
"Apa kau tidak bisa diam?". Ujarnya lagi, yang membuatku otomatis mengatupkan bibirku kembali.
"Kenapa tiba-tiba berubah menjadi sinis kembali. Apa pak Juan kerasukan jin plin plan?". Batinku bergidik ngeri membayangkannya.
______________
"Waalaikumsalam". Sahut kedua mertuaku dan juga Dennis yang sedang menonton tv di ruang tengah.
"Loh, sayang. Kaki mu kenapa nak?". Tanya Bu Nala khawatir yang langsung menghampiri ku dan pak Juan yang berada di ambang pintu dan membantu memapahku sampai duduk di sova.
"Iya kaki lo kenapa Ri?". Ujar Dennis menimpali.
"Kaki Riri hanya terkilir sedikit, hehhe".
"Kok bisa?". Tanya Ayah Adi.
"Ini gara-gara Riri keasyikan jingkrak-jingkrak karna menang tanding bulu tangkis Yah, ke injek kerikil eh malah kepeleset". Jelasku menerangkan kejadian yang ku alami.
"Oalah, kamu tuh ada-ada aja sih sayang". Ujar Bu Nala.
"Hehee". Aku hanya bisa tersenyum malu karna ulah cerobohku sendiri.
"Yasudah, kamu istirahat dulu nak". Kata Ayah Adi.
"Iya, istirahat dulu sayang". Sambung Bu Nala.
"Bantu Riri ke atas Ju?!". Ujar Bu Nala.
"Hm". Sahutnya singkat.
"Oiya Ri, lo mau makan sesuatu ngga? Biar gue buatin, itung-itung biar kaki lo cepat sembuh?!". Ujarnya ketika aku dan pak Juan sudah menginjak anak tangga pertama.
Baru saja aku membuka mulutku ingin menjawabnya minta di buatkan nasi goreng, tiba-tiba pak Juan malah memotong ucapanku.
"Ngga usah Den, Riri tadi udah makan sama gue". Ujarnya yang membuatku mengerutkan kedua alisku.
"Sudah makan apanya?". Batinku heran mendengar perkataannya.
_____________
"Kenapa bapak bilang seperti itu? Nyatanya kan Riri belum makan. Dan sekarang cacing yang ada dalam perut Riri meronta-ronta minta jatah". Ujarku tertunduk lesu.
"Hm". Ujarnya sambil menyodorkan plastik hitam tampak berat, seperti ada sesuatu di dalamnya.
Tanpa menunggu lagi aku langsung meraihnya dan membukanya.
__ADS_1
"Mie ayam?!". Ucapku senang.
"Kapan bapak belinya?". Tanyaku tersenyum cerah ke arahnya.
"Tidak usah banyak tanya, cepat makan!". Perintahnya yang tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Tapi, mangkoknya mana?".
"Merepotkan sekali, tunggu sebentar". Sahutnya.
"Cih, gimana mau makan kalau ngga pake wadah". Gumamku setelah kepergiannya.
____________
Hari menunjukkan jam 5 sore, aku baru bangun dari tidur siangku yang ke bablasan. Ku lihat pak Juan sedang membaca koran di sova tempat biasaku tidur. Oiya, sekarang aku sedang berada di atas ranjangnya hehhe. Ntah karna angin apa dia mengijinkan ku untuk tidur disini. Saat memikirkannya tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mengerjainya. Kapan lagi bisa melihatnya bersikap seperti ini pada ku? Batinku dengan seringai tipis di ujung bibirku.
Aku beranjak dari tempat tidur hendak ke kamar mandi.
"Aduh". Pekik ku. Dan benar saja aku berhasil.
"Kau mau kemana?". Tanyanya yang langsung menghampiriku, terlihat sedikit ke khawatiran pada ekspresi wajahnya.
"Mau mandi pak". Sahutku dengan polosnya.
"Biar ku bantu". Ujarnya lalu membantuku berjalan sampai kedalam kamar mandi lalu mendudukkan ku di ujung bath tub.
"Apa kau bisa melakukannya sendiri?" Tanya nya lagi sambil memperhatikan kaki ku.
"Bisa kok pak, lagian kan cuman kaki Riri yang sakit". Sahutku.
"Ingat! Perbanmu jangan sampai terkena air". Ujarnya mengingatkan.
"Ini, pakai selang ini". Tambahnya lagi yang menyodorkan selang padaku.
"Kenapa masih diam saja?". Ujarnya menatap heran padaku.
"Hmm, Bapak akan terus berdiri disini?". Tanyaku ragu.
"Memangnya kenapa? Aku tidak akan mengganggumu!". Jawabnya cepat, ntah sekarang dia sadar atau tidak dengan ucapannya itu.
"Tapi, gimana Riri mau mandi. Kalau bapak berdiri sambil mengawasi Riri seperti ini?". Ujarku sambil menatap intens padanya.
"A...em. Kalau ada apa-apa teriak saja". Ujarnya yang terlihat kebingungan lalu keluar meninggalkan ku.
"Kenapa tingkahnya hari ini lucu sekali". Ucapku sambil mengulum senyum.
_______________
Cukup lama aku berada di dalam kamar mandi, karna keadaan kakiku yang seperti ini, aku jadi sulit berjalan untuk menggapai sesuatu.
"Apa kau sudah selesai?". Teriaknya.
"Sebentar lagi". Ujarku yang juga berteriak menjawabnya.
Segera setelah selesai mandi aku berdiri dan berjalan hendak mengambil baju mandiku. Tapi saat aku hendak mengambilnya, ku lihat baju itu tidak ada.
"Kemana perginya?". Ujarku celingukan mencari baju mandiku itu.
Namun yang ku lihat hanyalah sehelai handuk yang tergantung di sisi kiriku. Mau tidak mau aku harus memakainya karna tidak ada pilihan lain. Daripada aku harus berjalan keluar dengan tubuh polosku.
Lalu ku lilitkan handuk itu pada tubuhku.
"A..apa tidak apa-apa aku keluar hanya menggunakan handuk seperti ini?". Gumamku sambil memperhatikan keadaan ku sekarang yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh polosku.
"Ah sudahlah, toh pak Juan juga pasti tidak akan mempermasalahkan nya. Karna dia bilang dia tertarik denganku". Ujarku kemudian meyakinkan diriku.
Saat aku hendak berjalan menuju pintu,
Brug
"Aaaaaaaa". Teriakku.
"Kenapa? Ada apa?". Tanyanya yang terlihat panik, pak Juan tiba-tiba masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu, ya karna memang aku tidak mengunci pintunya tadi.
"Aaaaaaaaa".
❤️❤️❤️
🙈🙈🙈
Happy reading and enjoy 😚
__ADS_1