Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV VI


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Dasar gadis bodoh, bisa-bisanya dia meringkuk di dalam selimut sampai selama ini. Memangnya kenapa jika aku melihatnya? Toh, aku kan suaminya. Jadi, sah-sah saja jika aku melihatnya." Batinku, aku terus memperhatikannya dari balik selimut.


"Apa kau akan terus menutupi dirimu seperti itu?" Ujarku membuka suara.


"Kau akan sesak napas kalau seperti itu terus?!" Sambungku, kala melihatnya tak bergeser barang sedikitpun dari selimut yang menutupi tubuhnya.


"Cepatlah keluar dan makan. Kau tidak perlu khawatir, aku sudah melupakan kejadian tadi, dan aku juga tidak melihat seluruh tubuhmu." Ujarku berbohong, aku khawatir jika aku tidak membohonginya soal tadi, bisa-bisa dia akan terus meringkuk seperti itu sepanjang malam.


"Bapak serius?" Tanya nya yang mengintip di balik selimut.


"Iya, sekarang keluarlah. Apa kau mau mati kelaparan?"


Perlahan-lahan dia mulai membuka selimutnya dan memperlihatkan tubuhnya yang kulihat sudah basah akibat keringat.


"Lihatlah keringatmu itu!" Ujarku kemudian mendekat dan menyeka keringatnga dengan tanganku.


"Apa yang Bapak lakukan?" Ucapnya menepis tanganku.


"Aku hanya membantumu untuk menyeka keringatmu." Sahutku.


"Riri bisa sendiri Pak!" Ujarnya. Lalu setelah itu kulihat dia hendak beranjak dari tempat tidur.


"Kau mau kemana?" Tanyaku, ketika melihatnya yang turun dari ranjang.


"Mau kebawah Pak, cari makan." Jawabnya sambil terus berjalan dengan kaki pincangnya itu.


"Kau tunggu disini, biar ku ambilkan." Ujarku sebelum berjalan melewatinya.


"Tidak perlu Pak, biar Riri ambil sendiri saja." Tolaknya, sambil terus berjalan tanpa menghiraukan perkataan ku.


"Apa kau selalu keras kepala seperti ini?" Ujarku meninggikan suara.


"Riri tidak mau di sebut anak manja, hanya karna kaki terkilir." Ucapnya, yang kemudian masih mencoba untuk melangkahkan kakinya kembali.


"Siapa yang akan menyebutmu sebagai anak manja!" Ujarku, tanpa menunggu lagi aku langsung berjalan menghampirinya dan menggendongnya.


"A..apa yang bapak lakukan? Turunkan Riri!?" Pekiknya, meronta meminta di lepaskan.


"Karna kau tidak bisa di beritahu dengan kata-kata, aku terpaksa harus melakukannya dengan perbuatan." Ujarku lalu mendudukkan nya di bibir ranjang.


"Jangan membantah! Tunggu disini, aku akan mengambilkan makanan untuk mu." Perintahku, sebelum aku kembali berjalan menuju dapur.


Hingga di ambang pintu, aku berbalik menoleh padanya.


"Ah iya, kau jangan salah sangka. Aku melakukan ini hanya agar kau cepat sembuh, dengan begitu kau tidak akan merepotkan ku lagi". Ujarku di iringi senyuman tipis di ujung bibirku sebelum turun kebawah untuk mengambilkan makanan untuknya.


"Dasar gadis keras kepala! Sulit sekali untuk di beritahu!" Gumamku ketika sudah berjalan menjauh dan tidak terlihat lagi olehnya.


-


Siang ini aku berjanji untuk mengantarnya pergi ke dokter untuk memeriksakan kakinya itu. Selama di sekolah pikiran ku kalut memikirkannya, entah kenapa aku menjadi sangat tidak fokus.


"Apa yang di lakukannya sekarang sendirian dirumah? Pasti bosan sekali. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku agar bisa menemaninya." Batinku bermonolog.


Setelah aku menyelesaikan pekerjaan, aku segera pulang kerumah. Yang ku pikirkan selama dijalan hanyalah ingin cepat pulang agar bisa bertemu dan menemaninya.


Sesampainya dirumah aku malah di suguhkan dengan pemandangan yang sama sekali tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Bisa-bisanya Dennis menggendong istriku, bukannya menggendong di belakang tetapi malah di depan. Apa mereka pikir mereka itu pengantin baru? Rasanya ada yang bergemuruh di dalam hatiku melihat posisi mereka seperti itu.


"Apa yang kalian lakukan?" Ujarku lantang, mereka menatap terkejut oleh kedatangan ku yang tiba-tiba.


"Pa..Pak Juan"


Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung mengambil alih Riri dari gendongan Dennis.


Lo jangan mikir yang aneh-aneh kak, gue cuma mau bantuin istri lo ke atas!". Ujar Dennis.


"Kalo lo mau bantu istri gue, apa perlu lo gendong seperti tadi?".


"Ya gue cuma ngga tega li...


"Gue bisa urus istri gue sendiri Den". Potongku, lalu tanpa menunggu jawaban Dennis lagi, aku langsung membawa Riri ke kamar.


Brug


Aku menghempaskan tubuhnya cukup keras ke atas ranjang.


"Awww" Pekiknya.


"Bapak apa-apaan sih?" Ujarnya, menatap tak suka padaku.


"Apa-apaan gadis ini? Bukannya minta maaf malah menatap ku seperti itu?" Batinku, aku semakin emosi setelah melihat sikapnya.


"Kau yang apa-apaan? Baru ku tinggal sebentar, sudah main gendong-gendongan dengan adik sepupu ku sendiri. Bagaimana jika aku tidak memergoki kalian tadi, hah? Mungkin kalian sekarang sudah bermesraan di atas ranjang ku".


Plakkk


"Riri memang bodoh, tapi Riri bukanlah wanita rendahan seperti yang bapak tuduhkan."Ujarnya meninggikan suara. Ku lihat matanya yang mulai berkaca-kaca setelah menamparku sebelum dia membelakangi ku.


"Apa yang baru saja ku katakan? Arghhh" Sesal batinku, aku mengacak rambutku kasar. Lalu setelah itu aku keluar dari kamar meninggalkannya sendirian.


Saat menuruni anak tangga aku bertemu dengan Dennis yang ternyata sudah menungguku disana.


"Kak, Lo mau kemana?"


"Minggir!"


"Kak, Lo percaya gue kan? Gue ngga ada maksud apa-apa sama istri Lo, gue cuma mau bantuin dia. Please kak, percaya sama omongan gue!" Ujarnya yang sudah terdengar putus asa.


Tanpa mendengarkan omongannya lagi aku segera pergi keluar meninggalkannya. Ku lajukan mobilku tanpa arah tujuan. Hingga akhirnya aku berhenti di pinggir jalanan yang sepi.


"Arghhhhhh, Lo benar-benar sudah gila Ju!" Ujarku sambil beberapa kali memukul setir kemudi. Hal yang paling ku sesali sekarang adalah perkataan yang ku lontarkan padanya, bisa-bisanya aku melontarkan perkataan seperti itu padanya, aku kembali menyakiti hatinya. Bisa ku pastikan dia sekarang pasti sedang menangis sendirian di dalam kamar.


"Juan, Lo benar-benar pecundang!"

__ADS_1


Setelah pertengkaran kami hari itu, kami menjadi sama-sama pendiam, dia selalu mengabaikan ku. Aku tidak berani mengajaknya bicara sekalipun. Dia berhak melakukan ini padaku, dan aku pantas mendapatkan ganjaran ini karna sudah menyakiti hatinya dengan perkataan ku.


Hingga suatu hari, aku ingin berbaikan dengannya, aku ingin dia cerewet seperti biasanya. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya, dengan bodohnya aku malah berpura-pura dekat dengan Bu Tania di hadapannya, untuk menarik perhatiannya berharap dia cemburu dan tidak lagi mengabaikan ku. Tapi ternyata aku salah, gara-gara cara bodoh itu aku malah melihat kedekatannya dengan salah satu temannya di sekolah, bahkan ku rasa mereka terlalu dekat. Aku kembali panas setelah melihat kedekatan mereka. Bukannya dia yang cemburu, tapi malah aku sendiri yang dibuat cemburu. Ah, gadis ini benar-benar.


_______________


Ku lihat gadis itu turun setelah berpakaian rapi menggunakan seragamnya, polesan bedak yang tipis serta liptint pada bibirnya membuat dia tampak sangat manis bila di pandang. Hanya di poles sedikit saja gadis ini sudah sangat cantik dan semanis ini, bagaimana kalau di make over sedemikian rupa. Sungguh indah ciptaan-Mu ini ya Allah.


Pagi ini kami semua sarapan bersama, kecuali Dennis. Anak itu berlibur ke puncak bersama teman lamanya.


"Bu!" Panggilnya pelan, memecah keheningan di meja makan saat ini.


"Iya sayang, ada apa?" Sahut Ibu ku yang menoleh ke arahnya.


"Hm..." Dia menggantung ucapannya, seakan ragu dengan kata-katanya.


"Ada apa sayang? Katakan saja?" Ujar Ibu ku lagi.


"Riri boleh izin menginap dirumah Ayah sama Ibu ngga, 2 atau 3 hari?" Tanyanya penuh harap menatap intens mata Ibu ku.


"Kenapa dia tiba-tiba mau menginap dirumah orangtuanya? Apa dia benar-benar ingin menghindar dariku?" Batinku.


"Ya boleh dong sayang, masa ngga boleh. Ibu sebenarnya juga mau tanya itu dari kemarin tapi lupa terus. Kamu kan sudah lama tidak menginap disana." Jawab Ibu ku memperbolehkan.


"Kenapa Ibu malah memperbolehkannya?" Ujarku dalam hati.


"Terimakasih Bu" Ucapnya dengan mata yang berbinar.


"Apa dia sesenang itu berpisah dariku?" Batinku lagi.


"Oiya, sekalian ajak Juan ya. Juan kan juga belum pernah menginap disana?" Lanjut Ibu ku tiba-tiba.


"Uhuk uhuk"


"Apa? Apa yang Ibu ku bilang? Mengajakku juga?" Batinku girang. aku menjadi sangat senang mendengarnya, hingga aku harus menutupi senyumanku yang mengembang di ujung bibirku.


Terimakasih Bu, kau memang Ibu terbaik. 😚


-


Malam ini pertama kalinya aku menginap dirumah mertuaku sejak aku menikah. Saat aku masuk ke kamarnya, dan kulihat tempat tidurnya. Benar-benar sempit, entah kenapa aku menjadi sangat senang melihat tempat tidurnya sesempit itu. Awalnya aku menggodanya berharap dia benar-benar akan tidur di sampingku malam ini, tetapi sialnya dia malah memilih untuk tidur di lantai daripada ditempat tidurnya yang sempit bersamaku.


Saat hari kedua ketika kami benar-benar hanya berduaan di dalam rumah, aku berpikir mungkin ini adalah kesempatan yang bagus untukku. Tapi lagi-lagi semuanya gagal. Gadis bodoh itu malah menguasai tempat tidurnya sendirian.


Dengan kesal aku keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.


"Arghhhh, gadis ini. Aku tidak tau bagaimana cara menghadapinya. Apa dia tidak mengerti maksudku? Arghhhh" Aku benar-benar menjadi kesal di buatnya.


Cukup lama aku berada di ruang tamu, meringkuk di atas sova yang agak kecil menurutku, bertemankan nyamuk.


"Berani sekali dia memperlakukan ku seperti ini?"


Setelah aku merasa tidak tahan karna gigitan nyamuk yang pedas pada kulitku, aku memutuskan untuk masuk kembali kedalam kamarnya. Saat aku masuk, ternyata dia sudah tertidur pulas.


Dengan perlahan aku berjalan mendekat padanya, duduk di bibir ranjang sembari memperhatikan wajahnya di bawah pancaran cahaya redup lampu di sisi ranjangnya.


"Awalnya aku membencimu, benar-benar membencimu. Tapi dengan waktu yang singkat kau bisa membuat rasa benciku menjadi rasa yang seperti ini? Rasa yang tidak pernah ku sangka-sangka akan merasakannya, terlebih perasaan itu untukmu? Apa yang sudah kau lakukan padaku, heh.. gadis kecil."


Flashback off


Gara-gara gadis itu menendang ku tadi malam sehingga aku terjatuh ke lantai, sekarang rasanya tulang ekorku serasa tidak berada ditempatnya, sakit sekali.


Bisa-bisanya dia menendangku, hanya gara-gara aku tidur di sebelahnya. Apa sebegitu tidak sudinya dia tidur di sampingku.


"Haduh, mau duduk saja sulit rasanya." Ucapku sambil berjalan menuju mejaku, sesekali aku memijat bagian belakang ku yang sakit. Belum sampai ke meja kerjaku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang masuk begitu saja tanpa permisi.


Krek


"Apa yang kau lakukan?" Pekik ku yang terkejut melihatnya tiba-tiba masuk.


"Gimana kondisi Bapak?" Tanya nya tanpa basa basi. Iya, siapa lagi kalau bukan istri kecilku yang berani masuk tanpa izin.


"Kenapa dia membahasnya lagi?" Gumamku, sambil menatap tak suka atas pertanyaannya.


"Masih sakit?" Tanya nya lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dariku.


"Keluar sekarang!" Perintah ku.


"Aku akan bertambah malu jika kau terus disini dan melihat kondisiku yang seperti ini." Ujarku bermonolog dalam hati.


Tanpa menghiraukan perkataan ku, dia langsung mengangkat kemeja bagian belakangku lalu dengan cepat dia menempelkan koyok di bagian belakang ku.


"Apa-apaan kau?" Pekik ku terkejut melihat tingkahnya yang tiba-tiba seperti ini.


"Selesai" Ucapnya, setelah berhasil menempelkan benda hangat itu di bagian belakang ku.


"Ini sisanya, kalau panasnya sudah hilang tinggal tempel aja." Ujarnya sambil meletakkan sisa koyok di atas meja kerjaku.


Saat aku hendak membalas perkataannya, dengan cepat dia memotong ucapanku.


"Oiya, Bapak jangan salah sangka. Riri melakukan ini karna Riri merasa bersalah bukan karna ingin menggoda Bapak." Ucapnya tersenyum polos padaku.


"Kalau gitu Riri balik ke kelas dulu ya Pak." Ujarnya lagi, lalu berlalu meninggalkan ku tanpa mendengarkan apa yang ingin ku katakan.


"Bagaimana bisa aku tidak salah sangka atas sikapmu barusan." Ucapku tersenyum simpul setelah kepergiannya.


-


Hari ini kami kembali ke rumahku setelah bermalam dirumah orangtuanya. Ketika baru saja kami memasuki rumah. Kami di kejutkan oleh kedatangan Dennis yang seminggu ini sibuk liburan ke puncak bersama temannya.


"Denniiiiiiissss" Teriak Riri, dia sangat terlihat senang melihat kedatangan Dennis. Bahkan dia tidak pernah sesenang ini ketika melihatku. Menyebalkan!


"Woah woah woah, kayaknya ada yang kangen gue nih." Ujar Dennis.


"Iyalah, Riri kangen tau." Sahutnya girang, dia bahkan langsung duduk di sebelahnya tanpa memperdulikan ku yang sedari menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Oiya, kalian sudah makan belum? Kebetulan tadi di jalan pulang gue beli lontong sayur, enak banget loh!" Kata Dennis lagi.


"Woah, kebetulan Riri pengen banget lontong sayur." Ucapnya dengan mata yang berbinar.


"Apa-apaan dia? Beraninya dia mengabaikan ku dan mesra-mesraan dengan lelaki lain di hadapanku." Batinku, tak suka.


"Udah kenyang gue Den!" Ujarku datar, lalu tanpa permisi aku langsung naik ke atas meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.


Saat aku masuk ke dalam kamar, rasa penasaran ku tiba-tiba muncul. Apa yang mereka bicarakan ketika aku tidak ada. Dengan perlahan aku membuka pintu kamarku, berjalan berjingkit untuk mengintip mereka dari atas. Tapi, saat ku lihat ke bawah, ternyata mereka sudah tidak ada.


"Kemana mereka?" Batinku.


Dengan cepat aku turun kebawah karna tidak mendapati mereka di sana.


Kebetulan ketika aku turun kebawah di sana ada bi Ningrum yang sedang berjalan menuju dapur.


"Bi, Bibi lihat Riri bersama Dennis?" Tanyaku to the point.


"Oh, Non Riri sama Tuan Dennis. Tadi Bibi lihat, mereka berjalan menuju taman belakang Tuan." Sahut Bi Ningrum.


"Terimakasih Bi" Ujarku kemudian dengan cepat berjalan menyusul mereka ke taman belakang.


-


"Hahahahhahahaah, ya ampun Ju. Bini Lo itu benar-benar ngga bisa di tebak tingkahnya" Kelakar Septian, sahabatku.


Setelah aku menguping pembicaraan Dennis dan Riri tadi siang, aku langsung pergi menemui Septian dirumahnya.


"Bener-bener ngga habis pikir gue Sep." Ujarku geleng-geleng mengingat tingkah istri nakalku itu.


Flashback on


Beberapa jam yang lalu


"Untuk apa mereka jauh-jauh ketaman belakang?" Gumamku, sambil terus berjalan menyusul mereka.


-


"Bisa ngga kita bersikap manis di hadapan Pak Juan, seperti seseorang yang saling menyukai?".


Deg


"Apa yang ku dengar barusan?" Batinku, aku seperti mendengar suara Riri meminta Dennis untuk berpura-pura saling menyukai di depan ku. Apa aku tidak salah dengar?.


"Hah, Lo jangan gila deh Ri. Kemaren aja kak Juan marah sama gue beberapa hari gara-gara gendong Lo karna gue cuman mau bantuin Lo. Sekarang Lo minta gue buat akting saling suka di depan dia? Ngga, Ngga. Gue ngga mau mati muda Ri." Tolak Dennis cepat.


Aku masih mendengarkan percakapan mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ayodong Den, bantuin Riri, Please!" Ujarnya memelas.


"Ngga, ngga. Lagian Lo kenapa si mau akting begitu di depan kak Juan? Ada-ada aja si." Ujar Dennis yang heran dengan ide yang di usulkan oleh Riri.


"Riri cuma pengen tau isi hati Pak Juan Den."


"Isi hatiku?" Pikirku.


"Bukannya udah bisa di liat ya, dengan reaksi marahnya ketika gue gendong Lo hari itu menandakan dia punya perasaan sama Lo? Kalo ngga mana mungkin dia marah?" Ujar Dennis.


"Iya sih, tapi aku masih ragu Den. Melihat sikap Pak Juan yang terkadang baik, perhatian, tapi kadang cuek dan dingin. Malahan lebih banyak cueknya. Ditambah kamu dulu juga pernah bilang kan, kalau Pak Juan sudah memiliki wanita yang di cintainya sebelum menikah denganku. Aku takut Pak Juan masih mencintainya. Sebelum semuanya terlambat dan rasa cintaku ini semakin dalam, aku ingin mengakhirinya Den. Aku tidak ingin menjadi luka di antara kebahagiaan mereka. Aku ingin dia mengakui perasaannya sendiri, sehingga aku juga bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku selama ini, sebelum terlambat dan kami sama-sama terluka."


"Apa Lo bisa menghadapi konsekuensinya? Kalau benar mereka saling mencintai, dan kak Juan ninggalin Lo?" Tanya Dennis lagi.


"Kenapa ngga bisa?" Ujarku tersenyum ketir membalas tatapan Dennis. Jujur aku juga takut akan akhir cerita antara aku dan Pak Juan, seketika aku merasakan perih di ulu hatiku, memikirkan kemungkinan hubungan kami akan berakhir. Dan usaha kedua orangtua untuk mendekatkan kami selama ini akan berakhir sia-sia yang pada akhirnya hanya akan meninggalkan bekas luka mendalam bagi mereka.


Flashback off


Drt drt


"Angkat dong Ju, kesian tu bini Lo udah nelponin Lo dari tadi." Ujar Septian.


Setelah panggilannya yang ketiga aku langsung mengangkatnya.


"Halo Pak!" Panggilnya beberapa kali.


"Ada apa sih, berisik sekali!" Pekik ku.


"Bapak dimana? Baik-baik aja kan?" Tanyanya yang terdengar panik, aku menyunggingkan senyum mendengarnya yang khawatir seperti itu padaku.


"Hm" Jawabku singkat.


"Syukurlah, Riri kira Bapak marah gara-gara melihat Riri bersama Dennis tadi terus Bapak jadi pergi bawa mobil kebut-kebutan terus kecelakaan" Cerocosnya.


"Hah? Kau itu bicara apa? Mimpi? Dan 1 lagi, aku tidak akan melakukan hal gila karna kau. Karna apa? Karna kau bukan siapa-siapa bagiku. Apa peduli ku jika kalian semakin dekat?" Ujarku kemudian memutuskan sambungan telpon.


Tut tut


"Dasar gadis bodoh, bisa-bisanya dia meminta bantuan Dennis untuk mengetahui isi hatiku. Apa dia tidak bisa merasakannya, meskipun aku bersikap keras padanya, apa dia tidak bisa merasakan betapa aku memperdulikannya. Tapi, baiklah gadis kecil. Aku akan mengikuti permainan mu." Batinku bermonolog sambil menyunggingkan senyum, lalu di akhiri dengan seringai licik di ujung bibirku.


"So, gimana perasaan Lo sama Reina?" Tanya Septian.


Sesaat aku terdiam memikirkan pertanyaan Dennis, bukan karna aku bingung, tapi karna.. ku rasa sekarang aku biasa saja ketika mendengar nama Reina di sebut.


"Apa gue laki-laki gampangan kalo gue bilang sekarang gue udah ngga ada rasa selain rasa peduli sebagai teman terhadap Reina?" Ujarku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.


"Menurut gue ya Ju, dari awal perasaan Lo itu bukan perasaan cinta melainkan obsesi. Karna Lo dari dulu cuma deket sama 1 wanita, yaitu Reina. Lo mengira itu adalah perasaan cinta, tapi sebenarnya bukan. Itu hanya karna Lo sudah terbiasa dengan Reina karna kalian bersahabat dari kecil. Saat bersama Riri, gue lihat aura Lo beda, Lo jadi lebih bersemangat saat Lo cerita soal Riri ke gue. Gue lihat, awalnya Lo emang benci, tapi kemudian Lo jadi penasaran, Lo jadi terbiasa dengan sikap nyelenehnya itu, bahkan gue lihat setelah Lo cerita soal dia, tanpa Lo sadari, Lo selalu menyunggingkan senyum bahagia di bibir Lo."


"Jadi menurut Lo, gue udah benar-benar jatuh cinta sama dia?"


"Lo yang paling tau bro, jawaban atas pertanyaan Lo barusan" Ucap Septian tersenyum sambil menepuk pelan pundak ku.


Benar, saat aku mendengar nama Reina, aku tidak merasakan apapun lagi. Namun berbeda halnya saat ini, ketika aku mendengar nama Riri, entah kenapa rasanya hatiku sangat bahagia dan selalu ingin cepat-cepat pulang untuk menemuinya.


Riri, istri kecil nakalku.. Apa yang sudah kau lakukan padaku?


❤️❤️❤️

__ADS_1


Happy reading guys 😘


Jgn lupa tinggalkan like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉🙏🤗😚


__ADS_2