Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Dennis?


__ADS_3

❤️❤️❤️


Sekarang waktu sudah menunjukkan jam setengah 6 sore, semua kegiatan untuk gladi resik hari ini sudah selesai, dan semua orang sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Hp Lo geter terus dari tadi." Ujar Kania menyerahkan hp ku yang sebelumnya memang ku titipkan padanya.


Drt drt


Hpku kembali bergetar.


Ku lihat beberapa pesan yang belum terbaca dari si Ubin Dingin.


"15? Banyak banget!" Batinku, terkejut melihat sederet pesan darinya.


Ubin Dingin :


"Setelah selesai, datangi aku di parkiran!"


"Kau belum selesai?"


"Apa masih belum selesai?"


"Kenapa lama sekali?"


"Apa saja yang kalian lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali?"


"Kau sudah selesai apa belum?"


"Balas pesanku!"


"Apa kau saling menggoda di dalam sana?"


"Apa terjadi sesuatu lagi dengan mu? Cepat balas pesanku!"


"Aku sangat tidak suka menunggu! Cepat balas pesanku!"


"Apa jarimu patah sehingga tidak bisa membalas pesanku?"


"Atau kau sengaja tidak membalas pesanku?"


"Cepatlah! Aku sudah sangat lapar."


"Berapa lama lagi? Ini sudah hampir jam setengah 6!"


"Berani sekali kau membuatku menunggu seperti ini. Cepatlah! Apa kau mau membuatku mati kelaparan disini?"


Begitulah rentetan pesan yang dikirimkannya padaku.


"Cih, siapa yang minta tungguin? Jelas-jelas aku tadi bilangnya mau pulang bareng Kania." Gumamku pelan.


"Hah? Kenapa Ri?" Tanya Jaka.


"Ehehehe, ngga papa kok."


"Thank you ya guys udah nemenin gue disini." Ujarku senang.


"Santuy aja kali, ternyata asik juga ya nontonin beginian. Apalagi besok, pasti seru banget." Sahut Gandhi.


"Iyalah pasti seru banget. Mana besok ngga ada pelajaran, jadi kita bisa nonton sepuasnya sama anak-anak lainnya." Timpal Sherly.


"Sekali lagi thanks ya guys." Ujarku sambil memeluk Kania dan Sherly.


"Gue ngga dipeluk nih?" Ujar Gandhi merentangkan tangannya.


"Sini, Lo pelukan sama gue." Balas Jaka yang juga ikut merentangkan tangannya.


"Ogah gue!" Ucap Gandhi menepis tangannya Jaka.


Aku, Kania dan Sherly tergelak melihat tingkah mereka berdua.


Setelah puas bercanda, aku baru mengingatnya.

__ADS_1


"Pak Juan?" Batinku.


"Aku harus buru-buru kesana nih, kalau ngga.. bisa-bisa macan itu ngamuk lagi." Sambungku.


"Guys, gue balik duluan yah. Udah di tungguin soalnya." Ujarku sebelum berlari meninggalkan Kania, Jaka, Gandhi dan juga Sherly.


"Oh yaudah, hati-hati" Ucap mereka berbarengan.


"OK!" Teriak ku ketika sudah berlari cukup jauh.


-


"Heh.. heh.. heh.." Aku terengah setelah berlari lumayan jauh dari aula sampai ke tempat parkir.


Ku lihat, mobilnya masih terparkir dengan sempurna disana.


"Masih nungguin ternyata." Gumamku, tersenyum.


Segera aku berjalan menghampirinya, dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya Pak, nunggunya kelamaan. Baru aja selesai." Ucapku sambil mengenakan seatbelt.


"Kau hampir saja membuatku mati kelaparan disini." Ujarnya yang kemudian melajukan mobilnya.


"Ya maaf, kan itu juga bukan maunya Riri." Gumamku.


Ku lihat dia mendelik tak suka ke arah ku sebentar sebelum kembali sibuk dengan setir kemudinya.


"Apa Bapak mau mampir sebentar, kita cari makan?" Ujarku memberanikan diri untuk bertanya.


"Kau mau mentraktirku?"


"Boleh, kita mampir di warung kaki lima yang ada di depan sana ya pak?" Tunjuk ku, karna aku melihat pedagang kaki lima yang biasanya ku kunjungi bersama Kania.


Tanpa menjawabku, Pak Juan segera melajukan mobilnya ke tempat yang ku tunjuk tadi.


"Apa kau yakin mau makan disini?" Ujarnya sambil memperhatikan tempat warung kaki lima yang ada di depan kami sekarang.


"Iya, ayo turun Pak. Disini makanannya enak-enak loh, mana murah lagi." Ujarku bersemangat.


"Ayo duduk disini Pak." Ucapku sambil menepuk tempat kosong di sebelah ku.


Dengan ragu-ragu dia duduk di sebelahku sambil terus memperhatikan setiap sudut yang ada di warung ini. Lagi-lagi aku tersenyum geli melihat tingkahnya.


"Bapak baru pertama kali datang ketempat kayak gini?" Tanyaku pelan.


"Iya, apa kau yakin makanan di tempat ini aman dan higienis?"


"Tentu saja aman dan higienis mas, wong mbok selalu cuci tangan 30 menit sekali." Ujar mbok Idah selaku pemilik warung kaki lima ini, yang tiba-tiba muncul dari arah belakang kami untuk mengantarkan makanan yang sebelumnya sudah ku pesan.


Tiba-tiba Pak Juan jadi salah tingkah setelah mendengar ucapan dari mbok Idah.


"Hehhe, makasih ya mbok." Ujarku tersenyum.


"Wah si eneng sekarang udah berani bawa pacarnya ya kesini, biasanya juga selalu bareng sama neng Kania" Ujar mbok Idah. Aku dan Kania memang sering kesini, jadi aku aku sudah sangat akrab dengan mbok Idah.


"Hehe.." Aku hanya bisa tersenyum kikuk menanggapi ucapan dari mbok Idah, kalau ku bilang Pak Juan adalah suamiku, pasti beliau sangat terkejut.


"Yaudah dilanjut neng, mas makannya. Mbok mau kedapur dulu." Ujar mbok Idah.


"Iya mbok." Sahutku tersenyum.


"Yaudah, cobain Pak. Riri jamin Pak Juan pasti ngga akan nyesel."


Dengan sangat hati-hati Pak Juan membuka mulutnya, lalu mulai mencicipi nasi campur yang ku pesankan untuknya. Ku lihat dia terdiam sesaat.


"Gimana Pak? Enak ngga?" Tanyaku penasaran.


"Kenapa rasanya bisa seperti ini?" Ujarnya yang kemudian kembali melahap makanannya.


"Riri bilang juga apa? Enak kan?" Ujarku tersenyum.

__ADS_1


Aku tersenyum gemas melihatnya yang menikmati makanan yang ku pesankan di warung kaki lima ini. Setelah selesai menyantap makanan, dan hari juga sudah semakin gelap. Aku dan Pak Juan segera pulang setelah membayar tagihan. Ini adalah pertama kalinya aku mentraktir Pak Juan, meskipun sebenarnya uang jajan ku juga di berikan olehnya sih, hehe.. 😄


-


Kenapa rasanya hari berganti begitu cepat ya? Perasaan aku baru saja memejamkan mata beberapa waktu lalu, dan ternyata saat membuka mata, harinya sudah terang benderang. Jujur saja aku agak takut untuk kesekolah hari ini, ada perasaan antara siap dan tidak siap untuk tampil di atas panggung nanti, saat membayangkan banyaknya orang yang akan menonton, aku tiba-tiba menjadi gugup kembali, dan ini baru dari ruang lingkup sekolah ku, bagaimana jika nanti aku yang terpilih dan harus tampil di hadapan orang yang membludak, arghh.. hanya membayangkannya saja aku menjadi sangat gugup 😣.


____________


Setibanya di kelas, aku menjadi semakin gugup.


"Ri, ayo! Lo udah di tungguin di ruang ganti." Ujar Kania menarik tanganku, kami berlari hingga sampai ke dalam aula.


Kini aku dan Kania sudah sampai di ruang ganti, tepat di belakang panggung. Banyak anak-anak yang sibuk berwara-wiri mempersiapkan keperluannya.


"Rik, mulai eksekusi!" Ujar Kania pada Rika teman sekelasku yang bertugas untuk mendandani ku, karna dia yang paling jago dalam hal make-up dan fashion dalam kelas kami.


Setelah kurang lebih 50 menit, sekarang aku sudah selesai dengan urusan make-up dan bajuku. Hari ini aku ingin menampilkan sisiku yang terlihat cantik dan juga manis tanpa menghilangkan image ku sebagai seorang pelajar SMA.


"Waaahhh, cantik banget Lo Ri?!" Ujar Gandhi memandang takjub ke arahku.


"Ya ngga Jak?" Senggolnya pada Jaka yang ada di sampingnya.


Sedangkan aku hanya bisa tersenyum malu dan kikuk.


"Udah-udah, berisik Lo. Keluar dulu, Riri mau siap-siap." Ujar Kania yang mendorong Jaka dan Gandhi keluar dari ruang ganti.


"Tau, berisik banget tau ngga sih Lo." Ujar Rika yang juga ikut mendorong mereka pergi.


Saat ini hanya aku yang tersisa di ruang ganti, entah kemana perginya beberapa kontestan lainnya yang tadi berdandan diruangan ini bersamaku.


Aku jadi semakin gemetaran dan cemas.


"Sudah ku duga kau akan seperti ini." Ujar sebuah suara mengagetkanku.


"Pak Juan? Bapak ngapain kesini?" Tanyaku, terkejut.


"Apa aku tidak boleh kesini?"


"Ngga, bukan gitu. Maksud Riri kalau anak-anak lain liat gimana? Mereka pasti mikir yang ngga-ngga." Ujarku sambil celingukan, takut kalau tiba-tiba ada orang yang masuk.


"Kau tenang saja, aku kesini hanya ingin memberikan ini." Ujarnya menyodorkan satu pil lengkap dengan sebotol mineral.


"Ini apa Pak?" Tanyaku bingung.


"Obat ini akan membuat mu lebih tenang."


"Terimakasih Pak." Ujarku tersenyum, lalu ku ambil pil itu dan langsung meminumnya.


Setelah 5 menit, perasaan ku jadi sedikit lebih tenang. "Manjur juga obatnya." Batinku.


"Kau tau kan aku menentang keputusan mu ini? Tapi karna kau bersikeras ingin melakukannya, lakukan sampai akhir, jangan membuatku kecewa karna aku sudah membiarkan mu melakukannya." Ucap Pak Juan sembari memegangi kedua pundak ku.


"Iya Pak, Riri janji. Riri ngga akan ngecewain Pak Juan." Ujarku mantap lalu tersenyum lebar ke arahnya.


Kreeeekkk


Tiba-tiba saja pintu terbuka, beberapa anak terpaku menatapku dan Pak Juan dari ambang pintu, begitu juga denganku dan Pak Juan yang tak kalah terkejutnya.


Murid-murid mulai berdatangan, dan berbisik di depan sana ku dengar.


"A..apa yang harus ku lakukan? Apa aku dan Pak Juan harus mengakui hubungan kami sekarang?" Batinku, tiba-tiba rasanya kaki ku lemas.


"Riri, maaf sayang. Aku datangnya kelamaan ya?" Ujar sebuah suara tiba-tiba yang membuatku membelalak kaget.


"De..Dennis?"


❤️❤️❤️


Seperti inilah kira-kira visualnya Riri kali ini ya, semoga suka 😚


__ADS_1


Dan kali ini utur akan membongkar visualnya Dennis 😁



__ADS_2