Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Menembus Wajah Dengan Sebuah Tatapan


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Kenapa mata Lo Ri? Serem banget, kayak mata panda gitu." Ujar Kania menunjuk pada bagian kantung mataku yang menghitam.


"Ini semua gara-gara macan killer itu, bisa-bisanya dia nyuruh gue ngisi jawaban 3 lembar penuh. Alhasil gue harus begadang semalaman suntuk." Ujarku lesu sambil merebahkan kepalaku ke atas meja, rasanya kepalaku sangat berat karna rasa kantuk yang kian menuntut.


"Hahahaha, gila. Hebat banget Lo. Gue aja cuma dapet jawaban 2 lembar, gitu aja gue udah ngap-ngapan."


"Kayaknya dia emang benar-benar benci sama gue Kan" Ujarku pelan. Hingga sepersekian menit berlalu, jiwaku terbang entah kemana. Iya, tanpa ku sadari aku tertidur dengan pulasnya.


"Ri, Riri..." Terdengar samar-samar suara seseorang memanggil ku.


"Kenapa sih Kan? Biarin gue tidur dulu bentar." Sahutku dengan suara yang serak. Mataku benar-benar mengantuk sekali rasanya.


Brak


Suara gebrakan meja yang keras, sontak membuatku langsung terbangun. Seketika rasanya sekarang mataku sudah benar-benar berada pada posisi standby.


"Apa kamu pikir kelas ini hotel?" Bentak Pak Juan, suaranya jelas terdengar sangat mengerikan di telingaku.


"Ma.. maaf Pak. Ri.. Riri ngga sengaja" Sahutku tertunduk takut.


"Setelah kelas berakhir, kamu ikut ke ruangan saya!" Perintahnya lagi.


"I..iya Pak" Sahutku, masih dengan posisi menunduk takut.


"Baru kali ini Pak Juan menegurku dengan suara sekeras itu di hadapan anak-anak. 😣" Batinku.


Segera setelah jam istirahat tiba, aku langsung pergi ke ruangannya.


Tok tok tok


Aku mengetuk pintu dengan takut-takut, bahkan kakiku ikut gemetaran saking takutnya.


"Apa yang akan dia lakukan padaku?" Gumamku pelan.


"Masuk!" Suruhnya.


Setelah aku menarik napasku panjang, aku segera memegang gagang pintu dan masuk secara perlahan ke dalam ruangannya.


Baru saja aku melangkahkan satu langkah kaki dari ambang pintu, ku lihat Pak Juan langsung berjalan mendekat ke arahku.


"A..apa yang mau dia lakukan?" Gumamku panik. Kemudian tanpa sadar aku melangkahkan kaki ku mundur hingga pintu di belakangku tertutup dengan sempurna karna dorongan tubuhku.


Brak


Ku lihat dia berjalan semakin mendekat, dan..


"Pak, Riri minta maaf. Riri mohon Pak, Riri benar-benar minta maaf. Riri ngga sengaja ketiduran. Pak, Riri mohon..." Ujarku berjongkok memohon padanya, sambil mengusap-usap kedua tanganku ke atas.


"Riri benar-ben...


Greb

__ADS_1


Ku rasakan, tubuhku sepertinya terangkat.


"Ada apa ini?" Batinku, aku langsung membuka mataku dengan cepat.


"A..apa yang Bapak lakukan?" Pekik ku panik.


"Sekalian saja kau umumkan menggunakan toak." Ucapnya datar.


"Pak, Riri mohon. Jangan apa-apa kan Ri....


"Tidurlah disini sebentar, nanti aku akan membangunkan mu" Ucapnya, sambil merebahkan tubuhku ke atas sova yang ada di ruangan nya dengan perlahan sebelum berlalu duduk di kursi kerjanya.


"A..apa yang dia lakukan barusan?" Batinku, aku melongo melihat sikap tidak terduganya barusan. Bukannya memarahiku, tapi dia malah menyuruhku tidur di ruangannya. "Apa ini mimpi?" Ujarku lagi sambil menepuk kedua pipiku secara bergantian.


"Tidurlah sekarang! Apa kau ingin ku beri hukuman sebagai gantinya?" Ujarnya menatap tajam ke arahku.


"I..iya pak" Sahutku terbata.


"Bagaimana jika aku tidur sekarang, nanti dia malah mengikat kakiku, dan meninggalkan ku disini sendirian? Dan mengurungku ke ruangan itu (Tunjukku pada ruangan yang terkunci yang ada di belakang Pak Juan), sehingga Kania dan teman-teman ku tidak bisa menemukan ku. Dan aku ditemukan tidak bernyawa setelah 3 hari kemudian" Ujarku bermonolog dalam hati dengan lebaynya.


"Ah, Riri.. kamu ini lebay banget sih. Mana mungkin Pak Juan seperti itu, dia bukan psikopat. Dia hanyalah seorang macan jantan 😑. Lebih baik aku tidur sekarang, hihihi.. kapan lagi kan bisa tidur di ruangannya Pak Kepsek" Pikirku kemudian, lalu seperdetik kemudian aku sudah terjun bebas kedalam mimpi indah ku.


____________


"Ri, Riri... " Panggil sebuah suara yang terdengar lembut di telingaku.


"Hm" Sahutku dengan keadaan yang masih setengah sadar.


"Bangunlah sekarang!"


Saat aku membuka mataku, keberadaan Pak Juan yang persis di depan mataku, sontak membuatku terkejut.


"Pa.. Pak Juan?" Ujarku membelalak kaget.


"Makanlah ini, lalu segera kembali ke kelasmu." Ujarnya yang langsung pergi keluar meninggalkan ku yang masih mematung di posisiku.


"A..ada apa dengannya? Setelah tadi membentak ku dikelas, sekarang dia malah memperlakukan ku dengan istimewa begini." Gumamku heran.


"Apa setelah memberiku makan dia akan membunuhku? Persis seperti memberi ayam makan sebelum di sembelih?" Ujarku dengan pemikiran-pemikiran anehku.


"Ahhh, ya ampun Riri. Gini ni efeknya, gara-gara kebanyakan nonton drakor tentang pembunuhan" Ujarku menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Mie ayam?" Ujarku dengan mata yang berbinar melihat semangkok mie ayam beserta minumannya di atas meja yang ada di depanku. Tanpa ba bi bu lagi aku langsung melahapnya hingga tak tersisa, yummy 🤤


______________


"Hah? Serius?" Pekik Kania, yang terkejut mendengar cerita ku.


"Iya, tadi sumpah gue takut banget. Gue kira tuh Pak Juan bakalan apa-apain gue, ternyata dia malah gendong gue sampai ke sova terus nyuruh gue tidur." Ujarku dengan raut wajah yang sudah blushing mengingat kejadian diruangan Pak Juan tadi.


"Aaaaaaaaaa" Teriak Kania sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Cukup Kan, cukup. Kepala gue pusing ini."

__ADS_1


"Ehehehe sorry sorry. Abisnya gue seneng bangeeeeetttt" Ujar Kania girang.


"Heeh" Sahutku cengengesan.


"Tapi, tunggu tunggu.. kenapa sikapnya jadi berubah drastis begini. Bukannya kemaren Lo bilang pas Lo nelpon, Pak Juan bilang ngga ada perasaan apa-apa sama Lo? Tapi kok sekarang dia jadi perhatian sama Lo gini?" Ujar Kania.


"Apa ini tanda-tanda...." Ucap Kania menggantung.


"Tanda-tanda apa Kan?" Tanyaku penasaran.


"Tanda-tanda gue harus ke toilet sekarang Ri, gue udah ngga tahan" Ujarnya langsung berlari.


"Ah elah Kan, gue udah nyimak serius juga."


"Tapi kalo di pikir-pikir emang aneh banget sih. Yang awalnya kayak macan ngamuk terus tiba-tiba jadi kucing peliharaan, aneh banget sih emang. Patut di pertanyakan!" Gumamku pelan.


_______________


Hari ini kembali seperti biasa, berangkat dan pulang bersama dengan Pak Juan. Dari dalam mobil sampai sekarang kami pulang kerumah, aku sering curi-curi pandang padanya. Bukan karna takjub melihat ketampanan nya tapi karna bingung mengingat perhatiannya yang tiba-tiba di sekolah tadi.


"Apa kau mau menembus wajahku dengan tatapan mu itu?" Katanya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


"Eh, eng.. ngga. Lagian mana bisa sebuah tatapan menembus wajah, hahaha..." Ujarku tertawa garing.


"Siapa bilang tidak bisa?" Ucapnya sambil berjalan mendekat padaku.


"Ba..Bapak mau apa?" Ujarku gelagapan kala Pak Juan kian mendekat padaku.


"Menurut mu apa mauku?" Tanyanya dengan tatapannya yang mengintimidasi.


Bug


Kini tubuhku benar-benar terpojok ke dinding.


Glek


Kini tubuh kami hanya berjarak sebatas baju yang kami kenakan saja, dia mendongak kan daguku ke atas secara perlahan, menatap intens pada netra pekatku.


Dug dug dug dug


"A..apa yang mau Bapak lakukan?" Tanyaku tergagap, ketika tatapan mata kami saling beradu.


"Bukankah kau ingin tau bagaimana sebuah tatapan bisa menembus wajah?" Ucapnya yang terdengar sangat lembut di telingaku, deru napasnya begitu terasa menyapu area wajah mungilku.


"Tttt..tapi Pak..."


Dia semakin memajukan wajahnya hingga dahi dan hidung kami saling bersentuhan lembut.


"Ppp..Pak Ju.. Juan.."


❤️❤️❤️


Awww 🙈

__ADS_1


Happy reading gengs 😚 jgn lupakan like, komen, vote dan favoritnya ya 😘


Xiexie 😚


__ADS_2