
Selepas membaca pesan teks dari Dilan, Riana pun langsung minta pendapat Langit.
"Mas ..."
"Ya, kenapa?"
"Seandainya bapaknya Shanshan tahu kalo bayinya sudah lahir, Kira-kira gimana ya, Mas?" tanya Riana pada sang suami.
"Ya, kalo dia pria bener, bapak yang bertanggung-jawab pasti bakalan nyariin. Pasti bakalan sangat berterima kasih sama kamu. Karena kamu kamu jagain putrinya," jawab Langit menurut versi pemikirannya.
"Begitu ya, Mas. Kalo misalnya dia orang baik kan. Sayangnya, yang kita adepin ini bukan dianya langsung, Mas. Tapi keluarganya. Menurut cerita yang Ria denger, keluarganya serakah dan semaunya sendiri. Masak dia yang menanam benih, masak non Raras yang disuruh kasih uang bulanan ke putranya, kan jahat itu namanya. Emangnya ngurus baby gampang. Biayanya kan nggak dikit ya Mas. Ehh, masak mereka begitu, mereka bilang, kan udah dikasih benih. kan aneh begitu!" Riana terlihat kesal.
Langit terseyum. Ternyata Riana biasa juga banyak ngomong kalau lagi kesel.
"Ya begitulah! setiap manusia kan punya pemikiran beda-beda, Mam. Tapi sebaiknya kita mesti punya pengacara sendiri buat mengback-up kita, Mam. Kamu, aku dan juga Shanshan. Coba nanti Mas tanya sama Azam. Barang kali dia ada kenalan yang bisa bantu kita. Tapi jujur, Mam. Saat ini Mas belum banyak uang. Tahu, kan Mas baru merintis usaha!" ucap Langit, jujur dan apa adanya soal keadaan perekonomian keluarganya.
__ADS_1
"Iya, Mas. Ria udah tahu semua yang terjadi sama Mas. Kalo soal pengacara pribadi, Non Raras sudah mempersiapkan itu buat kita. Mas nggak perlu khawatir!" jawab Riana serius.
"Tunggu! kamu tahu semua yang terjadi sama aku. Kamu kepoin hidupku ya?" tanya Langit, serius tapi menggoda.
"Kepoin hidup, Mas. Dih, PeDe amat. Ya nggak lah. Ngapain?" jawab Riana jujur.
"Nggak kepoin kok tahu semua tentang, Mas. Nggak mungkin kan kalo tahu tanpa cari tahu!" balas Langit tak mau kalah.
"Mas.... jadi gini. Entah mengapa? Pas Ria ninggalin rumah itu, Ria ngerasa seperti ninggalin seorang anak. Ria merasa seperti meninggalkan tanggung jawab yang sangat besar. Jangan tanya kenapa Ria merasa seperti itu. Ria memang merasa seperti itu," jawab Riana jujur.
"Ih, dibilang enggak! Ria tahu diri lagi, Mas!" Riana menundukkan kepalanya.
Memahami apa yang sang istri rasakan, Langit pun mengangkat dagu sang istri dan memberikan satu kecupan manis di sana. Berharap, bahwa apa yang dipikirkan Riana selama ini adalah salah. Sebab pada kenyataannya dia juga menyimpan harap untuk hubungan ini.
"Jadi cuma soal Ara saja, kamu cari tahu kehidupan kami?" tanya Langit.
__ADS_1
"Nggak juga sih, Mas. Disamping perihal Ara, mama sama papa juga jadi alasan Ria mencari tahu kabar mereka. Mas tahu kan, mereka baik sama Ria. Dulu... waktu Ria masih kecil, mama sama papanya, Mas, itu sering bantu perekonomian keluarga Ria. Banyak yang mereka lakuin buat keluarga Ria, terutama ibu. Itu yang bikin Ria ingin selalu tahu kabar mereka. Kepo soal mereka. Bukan putra mereka yang galak ini!" jawab Riana sambil memukul manja paha sang suami.
"Baiklah, apapun alasan kamu, Mas nggak akan mempermasalahkan itu. Yang penting kamu kembali, Mam. Mau menolak seperti apa, nyatanya kita berdua punya hubungan, Mam. Kita berdua punya kewajiban untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah kita sepakati. Ijab qobul bukanlah perjanjian biasa, Mam. Itu perjanjian kita antara hidup dan mati. Perjanjian kita pada sang Pemilik Hidup. Perjanjian yang harus kita jaga sampai ujung napas. Mas juga minta maaf karena baru menyadari ini. Maaf, ya Mam. Karena aku pernah menyakitimu. Maaf rasa cemburuku terlalu tinggi. Sehingga mudah dihasut oleh orang lain," ucap Langit.
Riana diam, Sungguh ia juga merasa tertampar oleh ucapan sang suami perihal perjanjian dalam ijab qobul itu. Harusnya dia tetap bertahan di samping sang suami. Seharusnya ia menunggu sampai masalah yang mereka hadapi selesai. Seharusnya, Riana tidak main pergi.
"Mas, Ria minta maaf ya, besok pagi, Ria udah harus berangkat. Soalnya, Ria takut bapaknya si Shanshan udah sampai sana duluan!" ucap Riana.
"Ya nggak pa-pa, Mam. Kalo seandainya aku lagi nggak kayak gini, aku pasti nemenin kamu ke sana. Biar kamu merasa aman!" ucap Langit.
"Mas do'ain aja, supaya Ria bisa jagain amanah Non Raras dengan baik." Riana menundukkan kepala, seperti menyimpan kesedihan yang mendalam.
Bagaimana tidak? saat ini yang menjadi bebannya bukan hanya harus meninggalkan sang suami yang sedang sakit, putri yang terus menanyakannya. Tetapi dia juga harus siap dengan tuduhan hukum yang mungkin akan dilayangkan oleh Vico kepadanya. Sebab kabarnya, saat ini pria itu sedang mencari keberadaan wanita yang kabur membawa benihnya.
Bersambung...
__ADS_1