
Meski kesal, Langit tetap mau membantu Yuta mencari bukti-bukti itu. Keputusannya itu di sampaikan langsung oleh Langit kepada kedua orang tuanya.
Tetapi, Langit tetap meminta syarat pada wanita itu. Agar ia bersedia mencabut tuntunan sekaligus mengakui bahwa pernikahan yang terjadi antara dirinya dan istri keduanya adalah dengan persetujuannya. Bukan atas dasar perzinahan. Seperti yang telah ia tuduhkan.
Langit tidak menuntut semua harta yang telah hilang itu kembali. Sebab ia tahu, bahwa seluruh harta yang hilang itu tidak mungkin kembali. Mau direbut seperti apapun, tidak akan bisa.
Jadi percuma, meskipun dia menuntut sampai ke ujung dunia, semua harta itu telah lenyap. Tetap bukan haknya lagi.
"Gimana, Ma? Apakah perempuan itu mau mencabut semua laporan tentangku?" tanya Langit pada mamanya.
"Bukankah sudah dicabut kemarin?" jawab Ibu Nana.
"Belum," jawab Langit singkat.
"Benarkah? Jadi?"
"Besok Langit masih wajib lapor," jawab bapak satu anak ini. Sedikit kesal. Terlihat jelas dari wajah tampan itu, jika dia memang kesal.
"Coba besok Mama ke tempat Yuta lagi dan tanyakan soal itu. Untuk sekarang sudah malam, kasihan dia. Dia butuh istirahat," ucap Nana.
Langit diam. Entahlah, cinta yang pernah pria itu rasakan, nyatanya tidak mampu menumbuhkan sedikitpun rasa empati dalam hatinya untuk Yuta. Langit seakan sudah menutup rapat mata hatinya. Bukan hanya sakit hati. Bukan hanya perihal patah hati. Tapi apa yang Yuta lakukan padanya sangat keterlaluan. Langit merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah habis dibabat oleh wanita itu. Lalu, sekarang dia minta dikasihani. Rasanya itu berat untuk pria ini.
Sedangkan, istri keduanya, Riana yang ia anggap tidak baik itu, masih memikirkan putrinya. Masih ada ketika keluarganya berada di fase terendah.
Lalu bagaiamana dengan Yuta? Wanita yang ia cintai itu. Dia.... dia malah menghancurkan segalanya. Menghancurkan kepercayaannya. Menghancurkan cintanya. Bahkan memporak-porandakan dinding cinta mereka. Jadi menurut Langit, wajar jika rasa yang pernah ada itu mati. Wajar jika cinta yang selama ini ia jaga, ia lepaskan. Makan selesailah semuanya.
Namun, belajar dari apa yang Riana perbuat. Langit mencoba memahami arti sebuah pengorbanan. Langit mencoba memahami arti ikhlas. Itu sebabnya tidak ingin menyimpan dendam pada Yuta. Meskipun kalo boleh jujur ini sangat berat untuknya baik secara jiwa maupun raga. Sungguh, ini sangat berat.
Malamm semakin larut, namun mata pria ini masih tak bisa terpejam. Lalu ia teringat sebuah tas yang selama ini belum berani ia bongkar.
Tas itu adalah milik Riana. Wanita yang ia benci namun juga ia cintai.
Kali ini, ia menepis segala rasa khawatir yang menghinggapi sanubarinya. Langit pun memberanikan diri membongkar tas tersebut. Penasaran.... ingin tahu, di mana sebenarnya wanita itu berada saat ini.
Pelan namun pasti, Langit pun meraih buku yang ada di dalam tas tersebut. Lalu membukanya...
Di halaman pertama, sama seperti yang pernah sahabatnya katakan, bahwa isinya hanya resep masakan. Lalu di lembar kedua, masih sama... di lembar ketiga, masih sama.
__ADS_1
Di lembar selanjutnya ada curhatan Riana tetang seseorang, Langit yakin jika itu bukan untuknya. Tapi untuk pria lain... Sebab, di situ tertulis Riana sedang menggambarkan perasaan bahagianya. Karena seseorang itu mengirimkan hadiah ulang tahun. Dan Riana menyukainya.
"Brengsek! Berarti bener kan? Kalau kamu sukak sama pria jahanam itu! Dasar ganjen!" umpat Langit kesal. Mengingat malam di mana ia melihat Riana sedang dipeluk oleh seorang pria dan menyebabkan dirinya naik pitam.
Tak ingin terbakar rasa penasaran, Langit pun kembali membuka lembar demi lembar coretan Riana.
Sampai pada akhirnya dia berhenti pada sebuah tulisan yang menggambarkan betapa dia tidak menyukai situasi ini. Situasi di mana ia dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia kenal. Dipaksa menerima perjodohan dengan seorang pria yang telah beristri.
Di sana tergambar jelas, bahwa saat itu hati Riana begitu sakit. Sampai dia sendiri bingung, bagaimana harus menenangkan hatinya.
Di sana Riana menulis demikian...
*Hati jangan menangis..
ikhlaskan inginmu
lupakan pintamu
jalani ini dengan mata terpejam
jalani ini tanpa berangan
Karena tak bisa buatmu indah
karena tak mampu buatmu melayang
Hati, aku tahu ini sulit
Tapi mengertilah, bahwa aku pun tak ingin
Aku pun tak menyangka jika ini harus kita lewati.
Entah fase apa ini
Yang jelas sangat sangat menyebalkan*...
Langit tak mau melanjutkan membaca barisan kata yang Riana tulis untuknya. Sebab coretan coretan yang Riana tulis di buku itu, sejatinya hanya tidak bisa menerima dirinya sebagai suami. Riana mencintai pria lain. Pokoknya Riana tidak menyukainya titik. Riana kesal dan jengkel dengan pernikahan ini. Itu saja intinya. Membuat emosi Langit meluap saja.
__ADS_1
"Buku sialan! Bikin jengkel aja! Andai ku tahu buku ini isinya hanya hal-hal menjengkelkan, lebih baik aku buang saja kamu," ucap Langit sembari membanting buku tersebut.
Mengumpat kesal, entah apa sebenarnya yang membuatnya kesal setengah mati seperti itu.
Seharusnya jika ia tak ada rasa dengan Riana, untuk apa marah. Aneh!
***
Berbeda dengan Langit yang tidak terima, bahwa pada kenyataannya Riana lebih tidak menyukainya.
Kini, Riana sendiri sangat enjoy menjadi ibu tunggal untuk baby Shanshan. Entah mengapa, gairahnya menjadi seorang ibu jadi lebih menggebu. Lebih bersemangat.
Dilan, yang saat ini menjadi pengawas Riana, ikutan senang melihat wanita itu begitu telaten dan apa adanya saat menjaga dan merawat baby Shanshan.
Tak pernah sekalipun Dilan mendengar Riana mengeluh. Ya, Riana benar-benar enjoy dengan perannya.
Seperti hari ini, Dilan berpamitan pada wanita itu, untuk kembali ke Indonesia. Karena ada kasus yang harus ia tangani. Dan ini sangat penting.
"Apakah kamu akan melepaskan aku sekarang?" tanya Riana sembari menciutkan matanya.
"Melepaskan apa nih? Maksudnya?" tanya Dilan santai.
"Ya melepaskan, membiarkan aku sendiri di Itali. Merawat baby Shanshan sendiri, sampai kapan kami akan disembunyikan di sini, Bapak Dilan?" tanya Riana, tanpa senyuman. Sebab ia memang serius.
"Santai dong, aku nggak mungkin di sini terus. Kan aku mesti kerja. Cari duit. Aku kan mau kawin juga. Enak aja, emangnya kamu doang yang mau punya baby. Aku pun pengen lah!" jawab Dilan, kali ini dia semangat bercanda.
"Bapak nggak usah ngeles. Bapak merem juga banyak cewek yang ngantri. Secara Bapak tampan, tajir, baik... Eh, baik tidak, Bapak tidak baik! Cuma sedikit sopan! Yahhh... lumayan lah kalo buat dijadiin pacar!" jawab Riana sembari merapikan bantal- batal sofa di ruang tamunya.
"Sial! Kamu masih dendam padaku, Ri?" tanya Dilan dengan nada meledek.
"Tentu saja, anda seperti sengaja menjebak saya!" jawab Riana sungguh-sungguh.
"Astaga Ri, itu lagi di bahas. Kan udah lewat. Harusnya kamu udah bisa ikhlas. Kan Raras udah tenang di sana. Kamu udah punya baby, tanpa susah-susah mengandung. Lalu apa lagi yang kamu inginkan Riana?" Dilan tersenyum senang. Karena sebenarnya, apa yang Riana katakan adalah benar. Dirinya dan Raras memang telah menjebaknya.
"Hah... Entahlah, aku seperti sedang dipeluk oleh tugas yang tak akan pernah usai. Aku tidak menyesal mengenal Almarhum non Raras. Aku tidak menyesal dititipi bayinya. Hanya saja aku menyesal karena caranya ini bikin aku masih merasa seperti mimpi!" jawab Riana jujur.
"Ya, aku paham dengan apa yang kamu pikirkan. Tapi yakinlah Riana, bahwa semua yang terjadi pada kita, itu semua rencana Illahi. Itu semua rencana Tuhan. Kamu nggak akan bisa mengelak, iya kan!" balas Dilan.
__ADS_1
Dan itu adalah benar.. bahwa semua yang terjadi pada kita adalah kehendak yang Maha Kuasa. Sekuat apapun kita berlari, kalau itu adalah hal yang Tuhan inginkan. Maka terjadilah...
Bersambung...