Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Ternyata


__ADS_3

Ternyata tidak mudah untuk melumpuhkan seorang Vicky, ia begitu banyak akal dan cerdik. Dengan sisa uang yang ia miliki, ia pun meminta pengacaranya untuk mencuci kasus ini.


Bukan hanya meminta pengacaranya untuk mencuci kasus ini, ia juga mau kakaknya yang saat ini berada di Australia di hubungi. ia ingin kakaknya tersebut membantunya. Setidaknya untuk kebebasannya.


"Jika dia tak mau membantu adiknya ini, habisi saja," bisik Vicky di telinga pengacaranya.


Pengacara setianya itu pun tersenyum dan menyetujui perintah gila tersebut.


Ya, Vicky dan sang kakak memang tidak pernah sepaham. Bagi Vicky kakaknya itu sangat munafik. Tidak mau mengikuti jejek kedua orang tuanya.


Sang kakak memilih kabur keluar negeri di banding mengikuti apa yang ia dan kedua orang tuanya kerjakan.


"Kabarnya sekarang dia sedang mencari wanita itu, Bos'" ucap sang pengacara.


"Dasar pria bodoh, bayi yang dikandung wanita sialan itu belum tentu anaknya. Ngapain capek-capek nyariin. Dia itu buta atau dungu sih sebenarnya. Nggak bisa mikir, heran aku, dia itu dipisahkan dari wanita itu karena mama dan papa sangsi bahwa itu adalah cucu mereka. Gitu aja nggak tahu," jawab Vicky kesal.


"Namanya juga cinta, Bos."


"Cinta bodoh itu namanya."


***


Satu bulan kemudian...


Seperti biasa, jika Lando sedang free dan Riana free juga, mereka biasanya menyempatkan diri untuk bercengkrama walaupun hanya melalui panggilan video. Itu sudah cukup membangun kedekatan mereka.

__ADS_1


"Kak, Lando lagi ngincer cewek ni," ucap Lando di tengah-tengah obrolan mereka.


"Cewek? ya di deketinlah, cuma kakak pesen sama kamu, cewek jangan cuma di mainin, diseriusin. Ingat karma itu berlaku," ucap Riana mengingatkan.


"Siap, Kak. Nggak usah khawatir," jawab Lando senang.


"Orang mana yang kamu taksir?" tanya Riana.


"Orang sini sih kelihatannya." terdengar suara Lando sedang mengunyah cemilan.


"Ohhh, kok kayaknya kamu ragu begitu? Emang kalian nggak sering ketemu?" tanya Riana lagi.


"Cuma ketemu dua kali doang dan itu pun sebulan yang lalu. Tapi anehnya Lando nggak bisa nglupain dia, Kak. Mau Lando telpon, takut. Ahhhh ... entahlah, Lando bingung mesti gimana?" ucap Lando memelas.


"Kalau menurut kakak, sebaiknya kamu cari dulu tentang dia. Dia anak siapa, tinggal di mana. Terus masih sendiri apa nggak. Pekerjaannya apa. Dan kamu tahu sendiri lah maksud kakak," ucap Riana mengingatkan.


"Ya, doa terbaik selalu untukmu."


Tak ada perbincangan lagi, mereka pun memutuskan panggilan video tersebut dan saling berjanji akan saling memberi kabar ketika nanti mereka mulai free nanti.


***


Di sisi lain, di sebuah ruangan yang cukup mewah duduklah seorang wanita cantik dengan anggun dan penuh wibawa. Menunggu seseorang yang ia yakini bisa ia gunakan sebagai senjata untuk meruntuhkan hati seorang. Yang tak lain adalah adik kandungnya.


Menurut informasi, pemuda ini adalah pria yang dicintai oleh adik tirinya itu.

__ADS_1


Wanita cantik ini ingin ibu tirinya dan adik tirinya ini merasakan apa yang pernah ia rasakan. Dipisahkan dengan pria yang ia cintai dengan hasutan yang sangat mengerikan.


Bagaimana tidak mengerikan? Karena hasutan tersebut ia diusir dari rumah. Ia kehilangan kepercayaan ayah kandungnya, ia kehilangan perusahaan yang dengan susah payah dibangun oleh kedua orang tuanya. Bukan hanya itu, karena kelicikan mereka, putri kecilnya juga terpaksa kehilangan kasih sayang pria yang seharusnya bertanggung jawab atas perbuatannya.


Andai ibu tiri dan adik tirinya tidak licik, dengan sekongkol dengan orang tua sang pria, mungkin saat ini ia dan putrinya serta pria iru pasti sudah hidup bahagia dan tidak berpisah seperti ini.


Dendam yang ia bawa bukanlah dendam biasa. Sasarannya kali ini bukan hanya ibu tiri dan adik tiri nya saja. Tapi juga pria itu, pria bodoh yang buta mata hatinya. Yang tuli batinnya. Yang begitu mudah tertipu dan termakan oleh hasutan orang-orang jahat itu.


Hal pertama yang ia lakukan saat ini adalah merebut para pekerja yang bekerja pada perusahaan ibu tirinya. Termasuk para model-model itu. Ia tak masalah membayarnya lebih tinggi. Asalkan mereka mau meninggalkan perusahaan ibu tirinya itu dengan suka rela.


"Para model yang kita rekrut sudah datang, Bu. Silakan, anda ditunggu di ruang rapat," ucap wanita yang tak lain adalah sekertaris wanita cantik itu.


"Bagaimana dengan pria yang kamu infokan itu? Apakah dia juga datang?" tanya wanita cantik itu.


"Datang, Bu," jawab sang sekertaris singkat.


"Bagus, aku mau suruh dia ke sini,dan yang lain serahkan pada Pak Kurnia saja. Untuk gaji tetap tawarkan dengan angkat yang kita sepakti di rapat, oke. Pastikan mereka meninggalkan perusahaan lama mereka." Wanita itu meraih tasnya dan mulai merapikan make up yang menghiasi wajah mulusnya.


"Baik, Bu. Kami akan menjalankan perintah ibu," jawab sang sekertaris tersebut.


"Jangan lupa, suruh pria itu ke sini. Aku pengen lihat, setampan apa pria itu sampai bisa membuat Mayang melawan ibunya!" ucap wanita cantik itu.


"Baik, Bu. Saya akan meminta pemuda itu ke sini," jawab sekertaris itu. Lalu ia pun berpamitan untuk memanggil model yang diinginkan big bosnya.


Lima menit berlalu, pria yang wanita itu inginkan pun akhirnya masuk ke dalam ruangan di mana ia berada.

__ADS_1


Namun, pertemuan yang ia inginkan sedari tadi itu seketika berubah. Sebab, pria yang masuk ke dalam ruangannya ini ternyata adalah musuh bebuyutannya.


Bersambung...


__ADS_2