
Nana terus mengenggam tangan sang suami, berusaha mengatakan pada pria yang sudah hampir dua puluh delapan tahun itu ia dampingi. Bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa tak akan ada yang berubah hanya karena masalah ini. Nana terus berusaha tersenyum agar sang suami tenang.
"It's oke, Pa! Kita masih punya Langit, kita punya Ara. Biarkan mereka bahagia. Percayalah, jika perusahaan ini memang rezeki dan jodoh kita, pasti akan kembali pada kita," bisik Nana tepat di telinga sang suami. Agar suaminya tetap berdiri tegak di tempat. Jangan sampai tawa Yuta dan Vicky meruntuhkan harga diri mereka.
"Mama nggak kecewa kan sama Papa?" tanya Pak Dayat. Terdengar sedih dan menyayat hati.
"Tidak suamiku, dua puluh delapan tahun telah kita lewati bersama. Apakah Papa lupa, jika kita pernah makan cuma pakek garam, sebelum punya perusahaan ini heemm? Tidak masalah Pa, jika kita kembali melewati masa itu. Yang penting, kasih sayang kita tetap ada. Harta itu hanya titipan, Pa. Kalo pun kali ini hilang, itu nggak masalah buat Mama. Anggap saja, harta itu telah kembali pada sang pemberi rezeki. Insya Allah, pasti akan ada pintu rezeki yang lain untuk kita. Heemmm!" ucap Nana kembali mencoba menguatkan sang suami.
Pak Dayat tersenyum. Sang istri begitu mengerti dirinya. Wanita yang memberi satu putra untuknya itu memang selalu lembut. Keibuan dan selalu mengerti akan keadaannya.
Namun, bagi ini memang tidak mudah bagi Pak Dayat. Keadaan ini tak semudah yang diucapkan oleh sang istri. Apa lagi, perusahaan ini bukan hilang karena kesalahannya. Tetapi kesalahan sang putra yang teledor. Rasanya sesak sekali jika mengingat hal ini.
Yuta yang bahagia, langsung mendatangi calon mantan mertuanya itu. Untuk menyapa atau lebih tepatnya meledek mereka. "Hay Ma, hay Pa ... nggak kasih selamat ni ke Yuta, udah berhasil sampai sini. Sekarang, Yuta nggak perlu ngemis-ngemis lagi sama kalian. Nggak perlu acting-acting lagi untuk dapat uang belanja dari kalian. Makasih ya, Pa. Makasih ya, Ma. Udah ngizinin Yuta menikah dengan putra kalian yang bodoh itu," ucap Yuta sambil meneguk minuman berwarna emas itu.
Pak Dayat meremas kuat jari jemarinya. Andai sang istri tidak memegang tangannya. Mungkin wanita ini sudah remuk ia tonjok.
"Uppsss, nggak usah melotot gitu natapnya, Pa. Yuta sehat kok, Yuta baik-baik saja," ucap wanita jahat itu, lagi.
"Jangan senang dulu Yuta. Ingat, segalanya yang ada di dunia ini tidaklah abadi. Apalagi perihal harta dan tahta. Yang abadi dan kekal adalah amal perbuatan. Apa yang kamu tanam pasti akan kamu tuai. Sekarang kamu boleh menang. Sekarang kamu boleh berbahagia karena berhasil mendapatkan apa yang kamu mau. Tapi ingat, bahwa Tuhan tidak tidur Yuta!" ucap Pak Dayat memperingatkan.
Bukannya luluh, Yuta malah tertawa senang. Seakan apa yang Pak Dayat katakan adalah sebuah lelucon belaka. Susah payah ia bersandiwara untuk berada di titik ini. Mana mungkin ia akan melepaskan semuanya begitu saja. Mimpi!
__ADS_1
"Papa, tidak perlu khawatir soal Yuta, Pa! Yuta akan menjaga semua ini dengan baik. Oiya, gimana kabar putra Papa yang bodoh itu, apakah dia baik-baik saja sekarang? Pasti dia senang, Yuta lebih dulu menggugat cerai dirinya. Ahhh, dapat harta gono gini lagi. Uhhh, indahnya jadi Lin Yuta," ucap wanita jahat ini dengan nada meledek.
Pak Dayat dan juga sang istri enggan menjawab pertanyaan bernada ledekan itu. Mereka hanya bisa menahan dan terus menahan amarah yang kian membuncah itu. Berharap, amarah itu tidak meledak di sini. Karena hanya akan mempermalukan diri mereka sendiri.
Setelah puas mempermainkan kedua orang tua Langit, Yuta pun meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Nana dan Pak Dayat hanya bisa menyembunyikan tetesan air mata yang tak mampu mereka bendung lagi. Nana dan Dayat memilih meninggalkan ruang rapat ini. sebelum semuanya menjadi fatal.
***
Surabaya ...
Dunia Langit seakan runtuh. Bagaimana tidak? Ia yang awalnya berniat mempermalukan serta berniat menuntut Yuta tentang perselingkuhan yang wanita itu lakukan, kini semua malah berbanding terbalik.
Langit malu, sangat-sangat malu kepada kedua orang tuanya. Karena apa yang terjadi pada keluarganya saat ini adalah akibat dari kebodohannya.
Begitu percaya pada wanita yang ia cintai itu. Yang ternyata, dia adalah seekor ular yang sangat berbahaya.
Langit shock. Karena bukan hanya harga dirinya yang terinjak. Tetapi juga harta tahta dan juga semua yang ia miliki hilang seketika. Yuta begitu pandai mempermainkan keadaan. Yuta sungguh jenius memainkan peran. Sungguh, andai saat ini wanita itu berada dekat dengannya, Langit tak akan melepaskannya. Langit tak akan mengampuninya.
Cukup sudah ia diam. Langit berjanji akan melenyapkan wanita itu jika ia sampai berani macam-macam.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu wanita sialan! Kamu yang memulai, maka kamu juga yang harus mengakhiri!" ancam Langit geram. Pria tampan ini diam sesaat. Lalu, untuk memenangkan diri, ia pun mengambil segelas air dan meneguknya.
__ADS_1
Langit berusaha menenangkan jiwanya Berusaha menjernihkan pikirannya kembali. Mencoba mencari cara untuk melawan wanita jahanam itu.
Sedetik kemudian, Langit kembali mendapatkan pesan dari pengacara keluarganya. Yang menyatakan mundur dari kasus yang saat ini sedang Langit hadapi atau bisa dikatakan pria itu tak lagi mau bekerja pada keluarganya. Alasannya pasti tak lain, ini karena meluarga Langit sudah tak mampu lagi menggajinya. Ya, keluarga Langit saat ini bangkrut. Harta mereka habis tak tersisa. Termasuk rumah dan juga aset yang lainnya. Semua habis tersapu oleh kelicikan Yuta.
Aset-aset itu telah disita oleh bank. Karena mereka tak mampu lagi membayar hutang perusahaan.
Tak ayal, pria ini pun bertambah kesal. Bagaimana tidak? Dunia seakan memusuhinya. Tak ada seorangpun yang mau membelanya. Bahkan pengacara yang selama ini bekerja pada keluarganya pun mengundurkan diri di saat keluarganya berada di titik terendah.
Sungguh, yang Langit rasakan saat ini seperti jatuh tertimpa tangga. Ternyata, hanya uanglah yang menjadikan kita di dekati oleh para teman dan sahabat. Ini sungguh gila, sangat-sangat gila.
Langit tersenyum licik. Sorot matanya begitu tajam. Amarahnya kian memuncak. Apa yang Yuta lakukan ternyata sanggup membuatnya jatuh tersungkur hingga babak belur.
"Ternyata hanya uang yang jadi tolak ukur kalian. Baik ... mulai detik ini, aku tidak akan percaya pada siapapun. Kalian meninggalkanku di saat aku membutuhkan kalian. Heh, coba saja nanti. Di saat kalian butuh aku, jangan harap aku akan menatap kalian. Brengsek!" ucap Langit sembari berteriak kuat di akhir ucapannya. Langit kesal. Marah. Baginya, orang-orang itu ternyata sangat kejam padanya. Sungguh!
Saat ini, Langit bukan hanya harus menghadapi perceraian. Tetapi tuntutan harta gono gini serta hal asuh anak, Yuta juga mau. Yuta menginginkan harta bersama mereka. Yuta menginginkan hak asuh Ara. Yang menurut Langit ini adalah tuntutan paling gila.
"Coba saja kalo kamu berani menyentuh putriku, akan ku ledakkan kepalamu!" ancam Langit lagi.
Kali ini dia tak main-main. Ia berjanji akan melakukan apapun untuk Ara. Karena Langit tahu jika Yuta sama sekali tidak menyayangi putrinya itu.
Bersambung...
__ADS_1