Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Ikatan Batin


__ADS_3

Entah mengapa, sejak menginjakkan kakinya di Bangkok, hati Riana seakan merasakan kerinduan yang luar biasa terhadap bocah cilik yang beberapa bulan ini mengisi hari-harinya.


Riana merasa amat sangat berdosa meninggalkan bocah cilik itu sendirian. Ia tahu, meskipun masih ada Minah, ada ayahnya sekaligus oma opanya, tetap saja, selama ia diizinkan menjaga bayi cantik itu, Riana tak pernah sedetikpun tanpanya. Riana selalu menemani baby Ara, bahwa kan tidur pun bersamanya.


"Kamu kenapa, Ri?" tanya Raras ketika melihat asisten pribadinya itu melamun.


"Nggak ada apa-apa, Non! Saya hanya merasa lucu saja dengan alur kehidupan saya," jawab Riana penuh teka-teki.


"Alur kehidupan? Maksudmu?" tanya Raras sedikit heran. Memang, dalam pikiran wanita ayu ini, tak ada masalah yang lebih berat dari masalah yang ia rasakan. Padahal, jika ia tahu masalah Riana, mungkin Raras akan lebih merasa tidak sendiri.


"Cita-cita saya hanya ingin menjadi guru TK, Non. Menjadi seorang istri yang menunggu suaminya pulang kerja. Merapikan rumah, menjaga anak-anak saya. Sederhana kan? Tapi entah mengapa, itu seperti jauh dari jangkauan. Tuhan menuliskan jalan hidup lain untukku. Menikahkanku dengan pria yang tidak menginginkanku. Menjadikanku yang ketiga di antara pasangan yang saling mencintai. Mengenalkan aku pada seorang bocah cantik yang luar biasa. Namun, dalam sekejap semuanya harus aku tinggalkan karena suamiku tidak menginginkanku berbakti padanya. Tapi ya sudahlah, mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kami," ucap Riana. Air mata yang awalnya tidak ingin ia perlihatkan, akhirnya keluar juga. Membuat Raras diam terpaku karena bingung harus menjawab apa.


Suasana hening sejenak. Raras masih berusaha menebak apa yang diinginkan oleh hati wanita cantik ini.


"Apa kamu menyesal meninggalkan mereka?" pancing Raras lembut.


Riana mengusap air matanya. Menatap langit yang saat itu dipenuhi banyak bintang. Entah kenapa, melihat langit yang saat indah itu hatinya merindu. Merindukan seseorang yang ia sendiri tidak sangka, mengapa rasa itu hadir di saat pria itu menunjukkan rasa benci kepadanya.


"Tentu saja tidak, Non. Aku malah senang bisa pergi dari mereka. Jujur, sebarnya aku sungguh tidak ingin berada di antara hati yang saling mencintai. Aku tidak ingin menjadi yang ketiga. Namun, sekali lagi aku tak berdaya." Riana kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


Raras menatap asisten pribadinya itu. Menatap wanita itu dengan kaca mata hari seorang wanita tentunya.


"Apakah kamu mencintai suamimu?" pancing Raras lagi.


"Tidak, Non, tidak. Mana mungkin saya berani jatuh cinta padanya. Dia itu terlalu tinggi untuk saya. Lagian saya juga punya laki-laki yang saya cintai. Mana mungkin saya cinta sama pria jahat seperti dia," jawab Riana dengan nada bicara tidak seperti biasa.


Raras malah tersenyum. Sebab dari nada bicara yang mengandung penolakan itu, Raras yakin, jika Riana pasti telah jatuh cinta pada pria yang menikahinya itu.


"Ohhh, nggak cinta ya. Ya udah kalo nggak. Tapi kamu belum pernah diapa-apain kan ama dia?" pancing Raras lagi, berharap kali ini Riana kembali menunjukkan apa yang sebenarnya dia rasakan.


Kali ini, reaksi Riana diluar dugaan. Dia tidak menjawab tetapi malah menangis. Sebab kejadian tragis malam itu yang melunturkan kesuciannya kembali terlintas. Kejadian itu kembali terlintas dibenaknya hingga membuat wanita berhijab ini tak sanggup lagi menahan tangisnya.


"Dia itu pria jahat, Non. Malam itu dia ... dia menghajarku, lalu memaksaku. Pria jahat itu telah mengambil paksa apa yang aku punya. Dia pria paling jahat. Aku membencinya," jawab Riana dengan tangisan yang tak sanggup lagi ia kendalikan.


Raras masih belum menemukan sebab mengapa suami Riana melakukan itu. Karena Raras yakin, semua pasti ada sebab dan akibatnya.


"Menangislah, Ri. Aku siap mendengarkan keluhanmu. Keluarkan apa yang ingin kamu keluarkan. Ungkapkan apa yang ingin kamu ungkapkan. Siapa tahu lebih lega," ucap Raras sembari mengelus pundak Riana.


"Dia itu jahat, Non. Aku nggak mau sama dia lagi. Tapi aku rindu putrinya, entahlah ...." Riana kembali tenggelam dalam isak tangis yang dia sendiri tidak tahu mengapa ia jadi seperti ini.

__ADS_1


Mungkinkah ikatan batin antara dirinya dan Ara telah terjalin. Sebab di sana, bocah cantik yang biasa ia jaga juga tengah rewel. Membuat oma dan opanya menjadi bingung sendiri.


"Dia ini kenapa ya, Bi?" tanya Nana pada Bi Minah.


"Nggak tahu, Nyonya. Seharian ini dia nanyain mama Iya-nya terus. Beruntung Bibi masih punya satu kaos bekas pakai Non Ria. Ya udah ini Bibi pakai, biar ada bau-bau mbak Ria," jawab Minah sembari menunjukkan baju Riana yang ia pakai.


"Aduh, bagaimana ini? Masalah Yuta baru saja di proses. Masak kita mau nambah soal Riana lagi. Kasihan Langit, Bi. Soalnya Ria juga belum tentu mau balik jadi istri Langit. Langit memang keterlaluan," ucap Nana kesal dengan sang putra.


"Ya kita jangan pesimis gitu, Nya. Siapa tahu dengan tahu Ara terus mencarinya, Non Ria mau balik ke sini," jawab Minah, mencoba membesarkan hati majikannya.


Nana diam sesaat, mencoba memahami apa yang Minah sampaikan.


"Kalo masalah Non Ria dengan Den Langit memang kita nggak bisa mencampuri, Nya. Mau bagaimanapun itu adalah urusan suami istri. Tapi kalo perihal hati seorang ibu, siapa tahu hati Non Ria tergerak, melihat putri sambungnya merindu begini!" jawab Minah lagi.


Sekali lagi, Nana tak kuasa berkata-kata, sebab ia juga berharap Riana mau kembali ke keluarganya setidaknya untuk Ara, bukan untuk yang lain.


Bersambung....


Yuk ah kepoin karya kak Warnyi.. semoga sukak... makasih atas like komen dan Vote nya yes😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2