Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Terciduk


__ADS_3

Langit memeluk manja pinggang sang istri, lalu menaruh dagunya di pundak wanita ayu itu. Menatapnya mesra. Membiarkan Riana meredakan kemarahannya.


"Sudah belum marahnya?" tanya Langit.


"Mas, tipu. Nggak suka, Ria," jawabnya sembari melirik pria penipu itu, cemberut, kesal saja. Mengapa Langit begitu suka memanfaatkannya.


"Tipu gimana? Kan boleh suami istri ciuman." Langit tersenyum manja.


"Ya kan tapi masnya tipu!" Riana membalikkan tubuhnya, menatap sang suami yang kini menempel bak lintah di tubuhnya.


"Mas nggak tipu, maminya Ara, maminya Shanshan, istriku. Mana ada sih, mau mesra sama istri kok tipu. Mau berbuat lebih sebenarnya juga boleh sih, tapi Mas lagi kek gini!" jawab pria licik ini, santai. Sengaja menyebut kedua putri mereka agar Riana cepat luluh.


"Mesum ih! Modus. Aaaa.... Ria ngerti, Mas lagi modusin Ria ya? Ha... ngaku!" desak wanita cantik ini, lalu ia pun mencubit gemas perut Langit. Sebel saja, Kenapa Langit begitu pandai menipunya.


"Sakit, Mam. Kenapa dicubit. Dicium aja mau!" jawab Langit manja. Lalu menyerang Riana dengan memberikan kecupan paksa di bibir manis itu.


Riana tidak marah, apa lagi menolak. Ia malah tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di tubuh sang suami. Entah mengapa ia suka kemesraan ini. Rasanya, rasa canggung yang ia bawa sebelum sampai di sini telah hilang. Musnah terbawa angin.


Mereka terlihat bahagia dalam keintiman ini. Mata mereka saling menatap. Kemesraan pun kembali terjalin. Lalu, tanpa ragu, mereka pun menyatukan bibir dan kembali menuntaskan hasrat yang ada.


Kali ini, ciuman mereka lebih lembut dan berani. Lebih mesra dan penuh gairah. Langit tak ingin rugi, tak ingin melewatkan masa indah ini begitu saja.


Meski tangannya tak senakal tadi, tapi Langit ingin istrinya tahu, bahwa apa yang ia lakukan bukan karena nafsu belaka. Namun, di dalam hatinya ada cinta yang memang harus mereka wujudkan.

__ADS_1


Sayangnya, kemesraan mereka terganggu mana kala kedua orang tua Langit masuk tanpa mengetuk pintu.


Pak Dayat dan Ibu Nana tertegun tanpa kata melihat aksi anak dan juga menantu mereka. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan melihat adegan tanpa sensor itu.


Hampir dua jam mereka menunggu di luar dengan perasaan ketar ketir. Takut mereka bertengkar dan memutuskan berpisah. Lalu, sekarang, saat ini, kenyataan sebaliknya yang mereka dapatkan. Tentu saja, kenyataan ini sukses membuat Pak Dayat geram. Bagaimana tidak? perasaan takut yang mereka rasakan dibalas dengan suka cita dua sejoli yang tak tahu malu itu. Pak Dayat merasa diledek oleh dua sejoli tak menyadari keberadaannya itu.


Senang, bahagia, kesal, geram, tapi juga malu. Seperti itulah rasa hati yang mereka rasakan saat ini. Tak salah jika Pak Dayat punya niat untuk membuat dua sejoli itu jera. Terlebih, mereka nasib tenggelam dalam kecupan-kecupan itu, tanpa melihat tempat. Tanpa melihat sekeliling. Tanpa sadar, bahwa ada dua pasang mata yang melihat keasikan mereka itu.


Tanpa aba-aba, pria ini langsung menegur dua insan tak tahu malu dan aturan itu.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Pak Dayat, langsung tanpa basa basi.


"Pa... biarin aja, namanya juga suami istri!" cegah Bu Nana, sembari menahan sang suami agar tidak mendekati dua insan yang sedang dimabuk asmara itu.


"Biarkan saja, Ma. Biarkan mereka tahu diri!" Pak Dayat tak mau menghentikan langkahnya. Dia tetap melangkah sembari berkacak pinggang kesal.


Bagaimana tidak? teguran itu seperti menampar mereka bertubi-tubi.


Matapun ikut bereaksi, saling menatap, melotot, takut dan juga malu yang menggunung.


Pelan namun pasti, Riana dan Langit langsung beringsut mundur, menjauh dari masing-masing pasangan. Cepat-cepat, Riana langsung memakai cadarnya kembali. Sedangkan Langit melirik sambil menahan tawa.


"Kamu nggak usah ketawa-tawa Langit. Dasar anak kurang ajar. Hobi sekali kamu bikin orang tua khawatir. Kamu tahu nggak, kami di luar hampir dua jam. Kering tenggorokan kami nungguin kalian diskusi, mengambil keputusan terbaik. Eee.... di sini malah asik asikan kecup sana kecup sini. Astaga!" Pak Dayat menatap kesal pada kedua sejoli menyebalkan ini.

__ADS_1


Langit dan Riana saling lirik, menutup rapat mulut mereka. Sebab mereka tahu kalau mereka salah. Telah menggantung kedua orang tua tersebut di luar ruangan.


"Maaf, Pa," ucap Langit lirih.


"Maaf, maaf.... ahh, terserah kalian aja. Ayo, Ma. Papa malas melihat wajah mereka. Biarkan mereka mau bagaimana, ngurusin mereka kek nggak punya kerjaan. Mending kita ke restoran. Ayo Ma!" ucap Pak Dayat, sembari melangkah meninggalkan kamar Langit. Sedangkan Riana dan Langit masih saling melirik. Tak tahu harus berbuat apa.


Ibu Nana tersenyum melihat dua sejoli itu. Lalu ia pun melangkah mendekati Riana. Dan memeluk penuh kasih sayang menantu baik hatinya itu.


"Makasih banyak putriku! Makasih udah memaafkan putraku. Makasih udah memberi cahaya dan harapan untuk keluarga kami. Makasih untuk semuanya!" ucap Ibu Nana sembari mengelus pipi sang menantu. Sedangkan Riana hanya menunduk, tak tahu harus menjawab apa.


Melihat sang istri hanya diam, Langit pun tersenyum menahan tawa. Dan tingkah konyolnya itu tertangkap basah oleh sang ibunda.


"Sudah jangan ambil hati ucapan papamu. Dia sedang sensi. Tensinya naik. Makanya ngawur begitu ngomongnya. Nanti Mama bilangin pelan-pelan bahwa apa yang kalian lakukan tidak salah. Kalian suami istri sah, jadi terserah kalian mau melakukan apa, ya!" ucap Bu Nana lagi, mencoba meredakan rasa tak nyaman dalam hati menantunya ini.


"Tapi Ria malu, Ma," jawabnya lirih.


"Yang salah bukan kalian, tapi mama sama papa yang masuk tanpa permisi. Sudah lanjutkan saja, mama kerja dulu ya." Bu Nana kembali memeluk sang menantu. Lalu ia pun melepaskan pelukan itu dan mendekati sang putra.


"Langit.... mana tahu akal licikmu, jangan diteruskan!" ucap Bu Nana memperingatkan.


"Langit nggak ngapa-ngapain, Ma! Sungguh, tanya aja sama korbannya!" jawab Langit konyol.


Tentu saja, celetukan konyol itu sukses membuat Ibu Nana ingin menjewer telinga anak semata wayangnya ini. Namun, tetap saja, bahagia yang mereka rasakan kali ini, tak lepas dari cinta kasih dan ketulusan hati yang dibawa oleh wanita cantik ini.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like komen dan votenya ya🥰🥰🥰


__ADS_2