Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Bayangan Pengganggu


__ADS_3

Nasib baik kembali memeluk Yuta. Kerja keras anak buah wanita jahat ini, telah membuahkan hasil. Mereka berhasil membuat salah satu anak kesayangan Minah, kecelakaan. Sehingga mau tak mau, wanita paruh baya itu pun harus izin pulang kampung untuk merawat anaknya tersebut.


"Maafkan saya, Nya, Tuan. Sungguh sebenarnya Minah juga nggak tega ninggalin dek Ara, tapi mau bagaimana lagi. Anak Bibi butuh Bibi, Nya, Tuan. Bibi nggak bohong!" ucap Minah ketika meminta izin.


"Iya, Bi. Kami mengerti kok. Sudah Bibi nggak usah khawatir. Ada kami yang jaga Ara, kok," jawab Nana dengan senyum keibuannya.


"Makasih, Nya. Makasih banyak atas pengertiannya," balas Bi Minah lagi.


"Ini kami ada sedikit rezeki untuk Bibi. Semoga bermanfaat ya, Bi. Semoga anaknya cepet sembuh," ucap Nana sembari menyerahkan amplop berwana putih itu. Tak lupa, ia pun tetap tersenyum. Padahal, jika ditelusuri kembali, tidak memungkinkan baginya untuk sekedar tersenyum. Saat ini keluarganya sendiri berada dalam ambang kehancuran. Namun, tetap saja, jiwa dermawan wanita ini masih ada hingga detik ini.


"Terima kasih banyak, Nya. Maaf, saya nggak bisa nunggu Den Langit datang. Tolong sampaikan maaf saya pada beliau," ucap Minah lagi sembari menenteng tas yang berisi baju-baju miliknya.


"Iya, Bi. Nanti kami sampaikan," jawab Nana. Sebelum pergi, Nana pun memeluk Minah. Seperti ingin bercerita tentang kesedihannya. Seperti ingin meluapkan apa yang saat ini sedang ia rasakan.


Namun, mulut Nana tak bisa berucap. Karena Minah sendiri juga berada di dalam duka. Sedangkan Minah sendiri, pada dasarnya menang belum mengetahui apa apa. Itu sebabnya dia tenang, tak mempunyai pikiran macam-macam. Merasa keluarga majikannya aman, ia pun langsung melangkah meninggalkan rumah mewah itu.


***


Satu jam berselang setelah kepergian Minah, Langit pun datang.


Pria ini hanya bisa berdiri mematung di depan rumah di mana ia dibesarkan. Rumah bernuansa putih tulang itu terlihat sepi. Hati Langit semakin teriris perih, ketika ia mengingat, bahwa sebentar lagi, kedua orang tuanya harus angkat kaki dari rumah perjuangan mereka ini.


Rasanya, sebagai seorang anak, Langit seperti sebuah bencana untuk kedua orang tuanya. Langit sedih. Langit malu.

__ADS_1


Tak sabar ingin segera mengetahui keadaan kedua orang tuanya, Langit pun segera melangkahkan kakinya kembali. Namun, di rumah terlihat sangat sepi. Terlihat tak ada aktivitas di sana. Membuat Langit semakin curiga.


Tak ingin prasangka buruk merasukinya, Langit pun segera masuk ke dalam rumah.Memang benar, di dalam rumah memang sepi. Seperti tak berpenghuni.


Langit yang penasaran, akhirnya langsung berlari menuju kamar kedua orang tuanya.


"Ma! Pa!" panggil Langit kepada kedua orang tuanya.


Nana yang mendengar suara sang putra telah datang, tentu saja langung bersemangat. Ia pun segera berlari untuk membukakan pintu untuk sang putra.


"Langit!" Nana langsung menghambur kepelukan putra kesayangannya ini. Menumpahkan segala tangis di sana. Melepaskan sesak yang kian memuncak. Nana sangat-sangat sedih. Apa lagi melihat sang suami hanya diam saja. Tidak mau bicara, meskipun hanya untuk menjawab ucapannya.


"Maafkan, Langit ya, Ma," ucap Langit lagi.


"Kita tinggal di rumah Langit aja, Ma," ajak Langit.


"Rumah kamu? Kamu emangnya nggak baca. Yang di sita bukan hanya rumah ini, Langit. Rumah kamu juga. Rumahmu malah digadaikan langsung oleh Yuta. Mobilmu juga sudah dijual oleh wanita biadap itu. Dia benar-benar bangsat," jawab Nana, tak kuasa lagi menahan emosi yang kian lama kian meninggi gara-gara ulah mantunya itu.


"Oh, jadi ini tujuannya menikah denganku. Baik, mari kita ikuti permainan, Ma. Mari kita pura-pura kalah. Kita lihat, siapa yang akan benar-benar hancur!" ancam Langit serius.


Nana melirik kesal pada sang putra. Nyatanya, putra yang ia gadang-gadang bisa membesarkan bisnis mereka. Nyatanya tanpa sengaja malah membuat keadaan keluarganya hancur.


Nana tidak sepenuhnya menyalahkan Langit. Tetapi ia hanya menyadal, sebab Langit memelihara rubah betina yang angat berbahaya. Dan kini, rubah betina tersebut telah beraksi. Mengigit seluruh anggota keluarganya. Merongrong seluruh harta yang mereka miliki. Sampai habis tak tersisa.

__ADS_1


***


Seperti merasakan apa yang sangat suami rasakan. Riana tak bisa memejamkan matanya. Wanita ini gelisah tak karuan. Sebab, bayangan pria tampan itu terus terlintas di pelupuk mata. Senyuman pria itu juga terus menganggunya. Seakan meledeknya. Memintanya untuk mengingat dan mengingat pernikahan mereka yang belum usai ini.


"Kita sudah cerai Damar Langit, ha. Aku sudah meninggalkanmu. Jadi untuk apa kamu selalu ada di mataku. Senyummu jelek kamu tahu. Aku membencimu. Kesal sekali aku padamu. Dasar pria jahat, egois!" Riana jadi kesal sendiri dengan ganguan-ganguan yang terjadi padanya kali ini. Menurutnya banyangan Langit sangat keterlaluan. Seperti orangnya. Lalu untuk melupakan itu, ia pun mengambil buku diary. Tempatnya biasa mencurahkan segala keluh kesah.


Perlahan ia buka buku tersebut. Tak sengaja, sebuah foto terjatuh. Dan .... ternyata, yang terjatuh saat itu adalah foto pernikahannya dengan pria itu. Pria yang sedari tadi mengganggunya. Pria yang sedari tadi terus terbayang di pikirannya.


"Wahhhh ... Riana sudah gila. Ngapain juga mikirin suami orang. Gila Riana .... Riana sudah gila. Nggak waras!" umpat Riana pada dirinya sendiri. Sangking kesalnya, karena tak mampu melupakan pria yang pernah menikahinya itu.


"Dengar, Riana! Mungkin sekarang, dia udah nyerein kamu. Dia itu jahat Riana. Ayolah jangan ingat-ingat dia terus. Dia udah bukan suamimu lagi. Jadi, please... jangan mikirin dia. Jangan bodoh Riana! Ayolah!" gerutu wanita ayu ini lagi. Rasanya kesal sendiri dengan kebodohannya terus membayangkan pria jahat itu.


Tak ingin terbenam dalam bayangan Langit. Riana pun menyimpan kembali foto itu di koper miliknya. Berharap dia melupakan keberadaan foto itu. Sebenarnya ia ingin merobek atau membakar saja foto itu. Tetapi sayang, di dalam foto itu dia terlihat sangat cantik dan Langit, juga terlihat begitu tampan.


"Baiklah Riana, kamu memang sudah gila. Jadi teruskan saja, biar kamu puas... Ha!"


Sangking kesalnya dengan kelakuannya sendiri, akhirnya Riana pun memutuskan untuk menyimpan kembali buku diary yang niatnya memang ingin menulis.


"Lebih baik aku mencari kesibukan saja, tapi apa ya? Ah, gimana kalo bikin kue saja," ucapnya sembari meraih ponsel yang di belikan oleh sang majikan beberapa hari yang lalu.


Tak ingin membuang waktu percuma. Ia pun memutuskan keluar kamar dan merealisasikan apa yang ia pikirkan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2