Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Main Insting


__ADS_3

Janji adalah hutang. Seperti itulah yang rasakan oleh seorang Riana saat ini. Mau tak mau, ia harus tetap memperjuangkan janji yang telah ia sepakati dengan seseorang. Apa lagi seseorang tersebut telah berpulang.


Hari menjelang magrib, Riana pun merapikan laptop dan juga peralatan tempurnya. Dia harus kembali ke kamar sang suami. Sebab ia juga telah berjanji pada pria tersebut akan kembali saat azan magrib berkumandang.


Pelan namun pasti, Riana pun masuk ke dalam kamar di mana sang suami berada. Setelah memberikan salam, Riana juga memberikan senyum termanisnya untuk pria yang ia cintai itu.


"Dari mana, Mam?" tanya Langit saat sang istri menaruh tas dan juga semua peralatan kerjanya.


"Dari kantin kan, cari inspirasi. Udah mau Helloween di sana. Butik lagi kebanjiran order nih." Riana mendekati sang suami, lalu ia pun menarik kursi dan duduk di kursi tersebut.


"Ya udah, sholat dulu sana. Nanti ngobrol lagi!" suruh Langit.


"Mas sudah sholat?" tanya Riana mengingatkan.


"Sudah, tadi sama Dilan. Dia juga belum lama balik. Nungguin kamu lama, Mam. Ya udah dia pamit," jawab Langit jujur.


Riana mengangguk pelan, lalu ia pun meminta izin pada sang suami untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, terdengar suara ponsel Riana berdering. Langit mau membantu mengangkat panggilan tersebut, namun tidak bisa. Akhirnya ia pun membiarkan ponsel itu tetap berdering. Sedangkan Riana sendiri tetap melanjutkan ibadahnya dengan khusus. Membuat Sang suami merasa bangga padanya.


Selepas shalat dan melangitkan doanya, Riana pun melipat sajadah dan mukena miliknya. Lalu memakai hijabnya lagi dan mengambil ponsel tersebut. Lalu memeriksa pesan yang di tinggalkan sang penelpon.


Riana terlihat serius membaca baris demi baris kata yang dikirim untuk nya. Lalu, ia pun langsung membuka kembali dan mencocokan info yang ia dapat kan sendiri sekaligus info yang di dapatkan oleh orang suruhannya.


"Mam, kenapa tegang?" tanya Langit.


Riana pun segera menunjukkan hasil penyelidikannya itu kepada sang suami.


Langit sedikit terheran-heran dengan keseriusan Riana, karena sejak ia mengenal wanita itu, baru kali ini Riana terlihat tegang dan serius.


"Jadi?" tanya Langit.


"Mereka kakak adik, Mas. Cuma nggak tinggal satu rumah. Abangnya sejak SMP tinggal di Australia, sedangkan adiknya dibesarkan olen emak bapak mereka sendiri di sini. Mereka berdua juga punya dua saudara asuh, Lin Yuta dan siapa ini yang satunya, Ferdinan Hasan. Saat ini anak angkat mereka yang satu pengacara dan yang satu nggak tahu ke mana!" jawab Riana sesuai dengan data yang ia dapatkan dari seseorang yang ia percaya.


"Siapa nama anak angkat mereka?" tanya Langit, bukan kurang jelas, hanya saja dua nama itu serasa tak asing di telinganya.

__ADS_1


"Lin Yuta sama Ferdinan Hasan," jawab Riana sembari menunjukkan pada Langit baris nama yang ditulis oleh informannya.


Langit diam sesaat, lalu... ia pun kembali mem-flasback lagi ingatannya. Mencari jawaban atas alur cerita tentang percintaannya sekaligus pernikahannya dengan Yuta. Langit baru menyadari bahwa pernikahan itu telah di setting sedemikian rupa. Dan benar kata Pak Dayat, bahwa otak Yuta memang sengaja didoktrin oleh keluarga itu. Sebab mereka memiliki dendam kepada kedua orang tuanya. Pada dasarnya bukan pada dirinya.


Mungkin, alasan itulah yang membuat kedua orang tua Langit tidak begitu meributkan masalah kehilangan semua harta mereka. Karena mereka tahu, bahwa Yuta sendiri di sini juga korban.


"Mas memikirkan sesuatu?" tanya Riana.


"Oh, tidak? Aku baik-baik saja. Kamu istirahatlah... jangan terlalu keras bekerja. Nanti kita cari jalan sama-sama buat masalah yang kita hadapi. Sebenarnya, surat pernyataan dari bosmu itu sudah cukup kuat untuk kita mempertahankan Shanshan. Hanya saja kita tidak boleh lengah, Mas takut kalo pria jahat itu mengambilnya secara paksa. Kalo soal hukum, Mas yakin dia nggak akan bisa. Sebab dia dalam posisi salah. Bisa-bisa dia malah kena denda, karena menelantarkan seorang anak," ucap Langit, berusaha memberikan dukungan pada sang istri.


Sedangkan Riana hanya bisa mengangguk. Pura-pura menuruti. Padahal, masih banyak yang ia pikirkan.


Di samping masalah Shanshan dan juga bapak kandungnya. Diam-diam Riana mencurigai sesuatu yang tak kalah penting, yaitu kematian Raras. Dia curiga bahwa kematian itu palsu. Entah dari mana Riana mendapatkan pemikiran itu. Tapi, Hati Riana yakin bahwa wanita yang melahirkan bayi itu masih hidup.


Dilihat dari gelagat Dilan yang sedikit santai. Para orang kepercayaan Raras juga terlihat masih biasa-biasa saja. Hanya dirinya yang kelewatan sedih. Padahal Raras juga belum lama mengenal dirinya. Jika dipikir secara logika, mana mungkin orang yang baru kenal diserahin anak dan juga harta yang segitu banyak. Sungguh rasanya sangat mustahil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2