
Ketika Riana hendak keluar rumah, ia berpas-pasan dengan Dayat, yang tak lain adalah ayah mertua Riana.
Mereka berdua sama-sama terkejut. Tidak hanya Riana, Dayat sendiri juga tertegun. Tidak menyangka, bahwa mereka akan bertemu hari ini.
"Riana?" tanya Pak Dayat, spontan.
Riana tak mau menutupi jati dirinya dari pria yang masih menjadi mertuanya ini. Dengan penuh kesopanan, ia pun menjawab pertanyaan itu.
"Iya, Pa. Ini Ria!" jawab Riana jujur.
Dengan cepat, Dayat pun memeluk wanita yang sudah ia anggap anak sendiri itu.
"Ya Tuhan, Riana, kamu dari mana aja?" tanya Dayat senang.
"Ria kerja, Pa!" Riana tersenyum di balik cadar nya.
"Kerja? Kerja di mana?" tanya Pak Dayat.
"Sedikit jauh, Pa. Maaf kalo Ria nggak pamit." Riana menundukkan kepala, karena mau bagaimanapun ia tetap merasa bersalah perihal ini.
"Oke, tak masalah. Yang penting kamu sekarang udah pulang. Ara nanyain kamu terus! Sampai panas segala, Ria. Papa jadi bingung. Tapi nggak apalah, jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang kamu udah pulang. Kamu udah tahu belum kalau masmu kecelakaan?" tanya Pak Dayat serius.
"Tahu, Pa! Tapi maaf, Ria nggak bisa lama-lama. Ria harus kembali kerja. Ria udan teken kontrak!" jawab Riana jujur.
__ADS_1
"Oh, oke... tapi sebaiknya kamu izin suamimu dulu. Mau sejelek apapun dia, dia tetap imam kamu, Nduk. Nggak boleh pergi tanpa pamit begitu. Riana ngerti kan maksud Papa?" nasehat Pak Dayat.
Riana diam, sebab ia gamang dengan nasehat itu. Ia takut pada pria itu, lalu bagaimana dia berani melihatnya secara sadar. Semalam saja, rasanya ia seperti berada dalam hidup dan mati.
Mengetahui bagaimana perasaan sang menantu, Pak Dayat pun bertanya, "Kamu masih takut sama suamimu?" tanya Pak Dayat.
Riana tidak menjawab dengan ucapan, tapi dia mengangguk pertanda ia memang takut dengan suami arogan nya itu.
"Ya udah, biar papa sama mama temenin kamu ketemu sama pria galak itu. Kamu nggak usah takut. Dia nggak bakalan bisa ngapa-ngapain. Bangun saja dia nggak bisa, bagaimana dia akan memukulmu," ucap Pak Dayat sembari tertawa lirih. Sedangkan Riana malah meneteskan air mata. Karena ia sedih. Sebagai seorang istri dia tak bisa merawat suaminya yang saat ini membutuhkan perawatannya.
"Mamamu sebentar lagi datang, dia lagi ngobrol sama yang punya kontrakan. Habis ini mama sama papa anter kamu ke rumah sakit ya. Kasih suamimu semangat, biar dia cepat pulih!" ucap Pak Dayat menasehati.
Di balik cadar, Riana tersenyum. Namun hatinya takut. Karena tanpa mertuanya ketahui dia telah melakukan sesuatu yang pastinya akan membuatnya malu setengah mati jika bertemu pria itu.
Riana tidak siap Langit akan menangkap alasan dibalik kenekatannya itu. Wanita ini belum siap menahan malu. Belum siap Langit akan meledek tingkah konyolnya. Atau mungkin bisa saja, Langit akan marah padanya.
Entahlah, rasanya Riana sangat takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
"Papa yakin nggak pa-pa kalo misalnya Ria menjenguk mas Langit?" tanya Riana ragu.
"Papa yakin! seratus persen yakin. Kalau seandainya dia marah, Ria dengerin aja. Kan kenyataannya Ria memang salah kan? Pergi kerja, ke tempat yang jauh, nggak izin, tanpa kasih tahu kami. Tanpa pamitan sama suami. Mau bagaimanapun kalian masih suami istri, baik di mata hukum maupun agama. Jadi Ria tetap harus legowo, bahwa mas Langit adalah imamnya Riana. Kemanapun Ria melangkah, harusnya Ria tetap meminta restu darinya. Benerkan apa yang Papa bilang?" ucap Pak Dayat memperjelas status suami istri itu.
"Iya, Pa. Ria paham!" jawab Riana pasrah.
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Lalu tak berapa lama, Ibu Nana datang. Wanita paruh baya ini tak kalah terkejut. Sebab ia juga tak menyangka bahwa ia bisa bertemu dengan wanita yang beberapa bulan ini menghilang tanpa kabar.
"Ria?" ucap Bu Nana, spontan. Sangking senangnya, wanita paruh baya ini pun langsung memeluk menantu kesayangannya itu. Bu Nana langsung menangis dipelukan menantunya itu. Sebab saat ini, yang ia rasakan adalah antara senang dan sedih. Antara luka dan tanya . Antara kecewa dan bahagia. Sungguh.... Ibu Nana sedang merasakan itu saat ini.
"Sudah, Ma. Jangan nangis. Ria baik-baik saja. Mas Langit juga pasti sembuh. Oiya, gimana Mbak Yuta, apakah beliau sudah mencabut tuntunan untuk Mas Langit?" tanya Riana penasaran.
"Yuta? dia sudah berpulang, Putriku. Sekarang pengacaranya sedang mengurus peninggalan serta surat wasiatnya. Masalah hukum yang menjerat masmu, semua masih berjalan!" jawab Ibu Nana.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kok Ria nggak tahu, Ma. Bukankah mbak Yuta baik-baik saja?" tanya Riana kaget. Karena dia sama sekali tidak mendapatkan info apapun soal wanita itu. Sebab ia memang fokus pada masalah sang suami dan kedua mertuanya saja.
"Dia ditipu oleh selingkuhannya, Ri. Tapi beruntung, si pria jahat itu sudah tertangkap ya, Pa. Hanya kedua orang tuanya saat ini masih buron. Kasus terakhir yang menjerat Yuta sepertinya juga menyeret masmu. Belum lagi laporan Yuta perihal pernikahan kalian, Masmu lagi banyak pikiran, Ri. Cuma.. masmu itu nggak mau terbuka sama mama sama papa. Jadi dipikir sendiri gitu Ri," ucap Bu Nana, sedikit mau mengeluarkan keluh kesahnya perihal anak semata wayangnya itu.
Riana diam sesaat, lalu ia pun bertanya, "Kasus yang menjerat, mas? Emang mas didakwa apa, Ma?" Riana penasaran.
"Dari Yuta waktu itu, masmu dituduh menikah tanpa izin dari dia. Tidak memberi nafkah, sama apa lagi ya, Pa?" Ibu Nana menatap sang suami, berharap sang suami bisa membantunya menjelaskan pada sang menantu tentang masalah yang menjeratnya.
"Ya, Mama bener. Kayaknya seperti itu tuduhan Yuta pada Langit, Ma. Cuma Papa nggak begitu jelas. Mama kan tahu Langit tertutup begitu!" jawab Pak Dayat.
"Iya, Ri. Masmu itu sekarang lebih pendiem. Lebih tertutup. Coba Ria nanti tanya, apa saja masalahnya. Kok sampai nggak mau terbuka dan cerita sama orang tuanya lagi!" ucap Ibu Nana.
"Nanti kalo Ria berani, Ria tanya ya, Ma!" jawab Riana.
Nana dan Dayat tersenyum, hubungan antara Riana dan sang putra memang lucu. Sebab mereka saling berusaha menjauh, tetapi keadaan selalu berusaha mendekatkan mereka. Kali ini, kedua orang tua Langit berharap, Riana mau menemui putra mereka. Setidaknya mereka mau memperjelas hubungan mereka.
__ADS_1
Bersambung....