Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Keputusan Terbaik


__ADS_3

Keesokan harinya...


Semalam utuh Riana memikirkan tawaran kerja itu. Sepertinya ia memang harus move on dari sini. Mengingat tak ada lagi sesorang yang menjadi pemberat hati. Dulu, ketika ia hendak melangkah, ada Bayan yang tidak rela ia tinggal jauh. Lalu Lando masih butuh perhatiannya. Mengingat ibu mereka sudah tidak ada. Mau tak mau Riana harus menjadi ibu pengganti untuk Lando. Mengasuh adik kesayangannya itu. Memasak untuknya dan menyiapkan segala perlengkapan sekolahnya.


Kini keluarga intinya hanya tinggal Lando. Lando sendiri sudah besar dan tak terlalu membutuhkannya untuk hidup. Lando sudah bisa menghidupi dirinya sendiri. Bahkan penghasilan pemuda tampan itu juga bisa di bilang lumayan.


Riana bukan hanya memikirkan penawaran ini. Ia juga mengajak sang adik untuk berdiskusi. Siapa tahu, Lando bisa memberikan masukan terbaik.


"Nggak pa-pa kak? Lando terserah Kakak saja. Yang penting kita jangan sampai putus komunikasi. Itu saja! Kemarin Lando juga udah diterima jadi model. Udah tanda tangan kontrak juga, besok Lando mulai pemotretan pertama. Do'ain lancar ya, Kak," jawab Lando sembari menyerahkan surat kontrak yang telah ia tanda tangani bersama perusahaan di mana dia bernaung.


"Alhamdulillah, adikku kaya raya sekarang!" ucap Riana sembari terkekeh.


"Aamiin, berkat doamu Kak. Berkat doa kalian. Nanti separonya Lando kirim ke Kakak ya, buat pegangan, ya Kak!" ucap Lando sembari merangkul pundak sang kakak.


"Nggak usah, kamu tabung aja. Katanya mau lanjut lagi kuliahnya," jawab Riana sembari melirik bahagia pada sang adik tampannya itu.


"Kuliahnya nanti-nanti aja, Kak. Kayaknya enakan kerja. Sama-sama pusing, tapi dapet duit!" jawab Lando, pemuda tampan ini juga tertawa senang. Sedangkan Riana memukul gemas pada paha Lando.


Kesepakatan antara dirinya dan sang adik telah diambil. Riana diizinkan berangkat ke Itali oleh Lando. Yang penting, Riana harus tetap jaga diri dan tidak putus komunikasi dengannya.


Dengan keyakinan penuh, akhirnya Riana pun menerima tawaran kerja untuk menjaga baby seorang wanita muda yang belum dikenalnya itu.

__ADS_1


Riana pasrah, ia percaya bahwa niat yang baik pasti akan dapat kebaikan. Riana yakin itu.


Herman juga tampan bahagia ketika Riana memutuskan untuk menerima tawaran itu. Yang artinya, Riana bisa ia lepas mandiri. Mau bagaimanapun, saat ini, Riana dan Lando adalah tanggung jawabnya. Dialah pengganti Bayan dimulai ketika Bayan telah berpulang.


"Baiklah kalo Ria udah mantap untuk kerja dengan Non Raras. Nanti Pakde kabari beliau," ucap Herman sembari tersenyum.


"Iya, Pakde. Do'ain Ria betah ya kerja dengan beliau," jawab Riana sopan.


"Intinya kalo kerja sama dia jangan banyak tanya, Ria. Iyain aja apa yang dia mau. Kalo dia nggak cerita masalah pribadinya, kamu juga nggak usah tanya-tanya. Kecuali dia sendiri yang membuka suara hatinya. Baru kamu boleh nanggepin. Ria ngerti kan maksud Pakde?" tanya Herman denan suara tenang.


"Iya, Pakde. Ria paham," jawab Riana mengerti.


Tak menunda waktu lagi, Riana pun segera bersiap untuk bertemu dengan majikan barunya itu.


***


Selepas pertemuannya dengan kedua orang tuanya, Langit pun berinisiatif terbang ke Surabaya untuk meminta maaf pada Riana. Mau bagaimanapun Riana sampai saat ini, wanita itu masih istrinya. Masih tanggung jawabnya, lahir dan batin.


Masalah perceraian, jika memang Riana menghendaki itu, Langit tak akan mencegah. Setidaknya dalam perpisahan tidak ada lagi masalah di antara mereka.


Beruntung, kedua Nana dan Dayat mengerti posisinya. Ternyata berada di antara dua cinta itu tidak mudah. Apa lagi, istri pertama Langit tidak bisa bersikap legowo. Tidak bisa bersikap dewasa dan menerima segala kekurangan yang ia miliki. Yuta begitu angkuh dan sering membuat keributan dengan Langit.

__ADS_1


Tanpa Dayat dan Nama ketahui, fitnah yang dilakukan wanita itu, nyatanya sanggup membuat Riana keluar dari rumah sang suami.


Hari semakin sore, Ara terlihat rewel di gendongan Minah. Minah sendiri tidak tahu, kenapa Ara begitu rewel. Maunya di ajak baring-baring di kamar bekas pakai Riana. Gadis cilik ini ternyata sangat suka dengan bantal bekas pakai wanita itu. Entahlah mungkin aroma Riana yang tertinggal di sana, yang membuat bocah ini bentar berlama-lama di kamar ini.


Langit yang mendengar tangisan Ara, tentu saja penasaran. Apa sebenarnya yang diinginkan bayinya.


"Dia minta apa, Bi?" tanya Langit pada Minah.


"Maunya tiduran di kamar Mbak Ria terus, Den. Bibi kan mesti nyiapin dia makan. Diajak keluar kamar nggak mau," jawab Minah sesuai apa yang Ara mau.


"Ya udah, Bibi siapin. Sini, biar Ara aku yang temenin," ucap Langit.


Tak ada alasan bagi Minah untuk menolak. Wanita paruh baya ini pun langsung memberikan Ara kepada ayahnya. Lalu ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Kini, tinggallah Langit termenung, tertegun, pikirannya melayang entah ke mana. Rasa rindu yang tak ia sangka, nyatanya kini telah mengorek relung hatinya ketika ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang biasa di gunakan oleh wanita itu. Wanita yang ia nikahi, namun pada akhirnya hanya ia sakiti.


Sesal itu tiba-tiba muncul kembali dalam benak Langit, saat ia merebahkan tubuhnya di kasur single bekas pakai Riana. Langit mengutuk dirinya sendiri karena begitu jahatnya pada istri mudanya itu.


Andai ia tak termakan oleh hasutan Yuta, mungkin wanita itu masih ada di sini. Membantunya. Setidaknya ia masih bisa melihat senyuman manis wanita itu. Entahlah, mengapa ketika Ria pergi meninggalkannya ia malah tergila-gila dengan senyuman manis wanita itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2