
Vicky sunguh jenius. Ia telah berhasil menggoyahkan perusahaan keluarga besar Langit. Vicky behasil mempengaruhi para investor untuk mundur dari proyek besar ini.
Otomatis sebagai pemilik perusahaan, Dayat pun kalang kabut dan mulai mencari cara untuk menyakinkan para investor untuk kembali mendukung perusahaan yang telah ia dirikan kurang lebih dua puluh tahun lamanya.
Mendengar sang ayah mendapatkan masalah, Langit pun segera meluncur ke perusahaan untuk membantu sang ayah menyelesaikan masalah rumit ini.
"Maafkan Langit, Pa! Langit sungguh tidak tahu masalahku dan Yuta bisa berakibat fatal bagi perusahaan ini, Pa. Sungguh Langit minta maaf, Pa!" ucap Langit menyesal.
"Tidak apa-apa! Anggap saja kita sedang diuji. Kamu tidak udah takut kehilangan harta. Kalo pun ini semua harus terlepas dari tangan kita, Papa tak apa-apa, asalkan kita tetap berada di atas posisi yang terhormat. Percuma kita mempertahankan bisnis ini tapi ujung- ujungnya kita di setir oleh mereka. Tidak, Langit, Papa tidak mau seperti itu!" jawab pak Dayat tegas.
"Tapi, Pa! Langit akan sangat merasa bersalah jika apa yang selama ini papa bangun, hilang begitu saja. Langit janji, Pa. Langit akan bujuk para investor itu untuk kembali bergabung dengan perusahaan kita. Jika perlu, Langit akan jual seluruh aset milik Langit. Setidaknya kita masih bisa memegang kendali atas perusahaan ini, Pa!" ucap Langit sungguh-sungguh.
Pak Dayat malah tersenyum dengan kesungguhan dan ketegasan Langit akan masalah yang telah terjadi terhadap keluarga dan juga perusahaan di mana ia mencari rezeki untuk keluarganya.
"Kamu tenang, Langit. Papa tidak apa-apa. Percayalah, semua baik-baik saja," ucap Pak Dayat berusaha menenangkan sang putra.
"Bagaimana Langit bisa tenang, Pa? aini semua terjadi karena Langit berseteru dengan wanita murahan itu. Andai dia tak membuat onar, mungkin perusahaan ini pasti akan baik-baik saja, Pa. Awas saja dia!" jawab Langit kesal.
"Langit, jangan terlalu emosi. Pikirkan semuanya dengan kepala dingin. Coba kamu ingat lagi, siapa tahu Yuta punya alasan melakukan itu? Kamu terlalu sibuk mungkin!" ucap pak Dayat memperingatkan.
__ADS_1
"Pa, sesibuk-sibuknya suami, pasti menyisihkan waktu kok untuk istrinya. Memang dia nggak ada niat menjadi baik, mau bagaimana lagi? Sudahlah, Pa! Jangan membela seseorang yang tak patut di bela. Kalo dia sayang sama rumah tangga ini, pasti dia nggak akan teha melakukan itu pada Langit, Pa. Setidaknya dia ingat putrinya," jawab Langit tegas. Masih manapik apapun alasan Yuta melakukan itu.
Baginya, perselingkuhan adalah kesalahan yang tidak bisa di maafkanlah begitu saja. Perselingkuhan adalah kesalahan paling fatal bagi Langit. Itu adalah kesalahan paling kotor menurut bapak satu anak ini.
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan, Langit?" tanya pak Dayat. Meskipun dia berusaha untuk pasrah dan ya sudahlah.. tetap saja, usaha yang dia bangun dengan susah payah, kini sedang diujung tanduk. Bohong jika Pak Dayat tidak khawatir. Bohong jika Pak Dayat tidak gugup. Bohong jika pak Dayat tidak takut. Tentu saja dia takut, dia gemetar, dia gugup, dia stres. Mengingat banyaknya nasib para keluarga dengan perusahaan ini.
Bagaimana dengan mereka? Apakah mereka sanggup bertahan jika sampai di lakukan pemutusan hubungan kerja masal. Bagaimana nasib anak-anak mereka? Bagaimana dengan masa depan mereka?
Diam-diam, Pak Dayat sendiri juga memikirkan mereka. Mau bagaimanapun, banyak karyawan yang bekerja lama dengan perusahaannya. Menggantungkan nasib mereka pada perusahaan ini.
"Kamu tenangkan dirimu, Langit. Jangan sampai terbawa emosi. Percayalah semua pasti akan baik-baik saja," ucap pak Dayat berusaha menenangkan sang putra. Tentu saja dia tidak mau jika Langot bertindak gegabah dan menambah masalah.
***
Seperti ikut merasakan apa yang sedang suaminya rasakan, Tiba-tiba saja, tanpa sebab, Riana merasakan kegelisahan yang luar biasa.
Padahal, saat ini, dia tidak sedang dalam masalah. Hati wanita ini bergemuruh tak karuan.
"Aku ini kenapa?" tanya Riana pada dirinya sendiri, bingung. Bukan hanya gelisah, mata Riana juga dipenuhi oleh senyuman pria itu. Pria yang dibenci oleh pikirannya tetapi dirindukan oleh hatinya.
__ADS_1
"Tidak tidak tidak, sepertinya aku sudah mulai gila. Kenapa aku mesti kebayang pria jahat itu? Ini tidak boleh terjadi. Lupakan dia Riana, lupakan! Kamu mau dia datang lalu mencekikmu karena berani memikirkannya, ha! Kamu mau dia melakukan itu lagi padamu, karena berani membayangkan senyumnya. Tidak tidak, jangan jangan jangan!" ucap Riana ketakutan sendiri. Dielusnya dada yang kini sedang bergemuruh tak menentu.
Untuk melupakan rasa yang saat ini sedang menyerangnya, Riana pun membuat secangkir teh hangat untuk merilekskan pikirannya.
Tak disangka, apa yang ia lakukan tak luput dari perhatian sang majikan. Raras tersenyum lucu kala melihat Riana gelisah aneh seperti itu.
"Kamu kenapa, Ri?" tanya Raras sembari merlirik lucu pasa Riana.
"Eh, Non. Mau teh Non?" Riana balik bertanya, bermaksud agar Raras tidak menlanjutkan pertanyaannya. Karena jujur, ia bingung menjawab pertanyaan itu.
"Nggak, makasih. Aku tanya, kami kenapa kok kayaknya gelisah gitu. Sedang merindukan seseorang? Atau sedang terbayang seseorang?" ledek Raras karena ia tahu, pasti saat ini Riana sedang merasakan sesuatu yang menyangkut cinta.
"Nggak Non, saya biasa saja. Saya hanya kagen dengan ayah. Itu saja!" jawab Riana gugup.
Dari nada jawaban itu, Raras yakin jika Riana berbohong padanya. Raras yakin Riana sedang menutupi sesuatu darinya. Tapi, ia juga tak ingin memaksa Riana untuk jujur padanya. Mau bagaimanapun, Riana memiliki privasi. Yang tak bisa ia masukki tanpa izin dari sang pemilik. Raras paham, bahwa saat ini Riana sedang mencoba tegas pada dirinya sendiri.
Bersambung...
Makasih atas like n komennya, jangan lupa Vote yes🥰🥰🥰
__ADS_1