
Meski rasa takut menggerogoti sanubarinya, Riana tetap menuruti perintah pria itu. Menggeser tubuhnya, mendekat pada pria galak itu. Pria yang ia takuti tapi juga tidak ia takuti. Bagaimana menjelaskannya, hanya Riana yang tahu.
"Terus... terus... lebih dekat! lebih dekat!" ucap Langit memerintahkan.
"Sudah!" jawab Riana.
"Ini masih berjarak, lagi... ke sini dikit lagi!" ucap Langit sembari memberi kode pada wanita cantik itu.
Terang saja, perintah menyebalkan itu sukses membuat seorang Riana geram. Namun, anehnya dia tetap saja menurut.
"Dah, stop! Awas berani geser menjauh lagi!" ancam Langit lagi.
Riana merajuk kesal. Namun mulutnya diam.
"Tu kan sama suaminya berani merajuk. Manyun-manyun menantang begitu." Langit menatap sang istri, masih pura-pura marah.
"Nggak, Mas. Ria nggak gitu!" jawab Riana masih saja menuduk takut.
"Nggak...nggak... apa nggak? Bibirnya saja ditekuk macam rambutan kisut begitu. Kamu pikir nggak dosa, sama suami berani merajuk. Berani-berani kesal begitu!" sanggah Langit.
Sungguh, jika boleh jujur, Riana ingin sekali menangis. Tapi takut, takut kalau Langit semakin kesal padanya. Sebab ia merasa tidak seperti itu. Tidak seperti yang Langit tuduhkan padanya.
"Pembahasan kita belum sampai di titik yang aku mau. Kamu belum cerita siapa pria itu. Lalu, kenapa kamu kerja jauh nggak bilang-bilang. Jadi jangan merajuk, untuk menghindar dari masalah ya ha? Dasar wanita cengeng!" tuduh Langit lagu, sengaja membakar amarah Riana. Sebab, menurutnya, Riana terlihat cantik dan menggemaskan jika marah kesal merajuk begitu.
"Ria nggak merajuk, Mas, Ih! Ria juga nggak cengeng," Riana menanyunkan bibirnya.
"Oke, kalo kamu memang nggak merajuk, nggak cengeng, sekarang katakan.... siapa pria yang memelukmu waktu itu?" Langit melipat kedua tangannya. Sengaja bersikap demikian karena niatnya memang mengintrogasi wanita yang selalu ada dalam aamiinnya itu.
__ADS_1
"Dia... dia... " Riana menatap takut pada sang suami.
"Iya, dia! dia itu siapa? siapanya kamu, kok berani peluk-peluk kamu. Aku, suamimu saja belum ngapa-ngapain kamu. Lalu berani sekali pria itu peluk-peluk kamu seenaknya!" jawab Langit kesal.
"Tu kan, galak. Belum juga dijawab. Dah ah, Ria nggak mau jawab." Riana kembali merajuk. Bahkan ia hendak beranjak dari tempat itu.
"Ooo, jadi gitu! diajak diskusi malah mau kabur. Dasar wanita tukang kabur? Coba aja kalau kamu berani beranjak dari tempat ini, maka jangan salahkan aku, kalo aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan kamu sangka!" ancam Langit serius.
"Tu kan, lagi-lagi ngancam. Dah ah, Ria mau pulang aja!"
"Oke! Aku nggak ngancam lagi, sekarang cerita. Siapa dia dan apa hubungan kalian?" Langit meraih tangan Riana dan menggenggamnya lembut. Namun, Riana malah gemetar.
"Mas!" Riana berusaha menarik tangannya. Namun, Langit tetap menggenggam tangan itu. Bukan apa, Langit hanya ingin wanitanya ini tetap berada di sampingnya. Tetap berada di sini, tetap menemaninya. Berdebat dengannya seperti ini.
Entah mengapa? kedatangan Riana, berdebat dengan wanita cantik itu, sukses membuat hati pria tampan ini sedikit melupakan keluh kesah yang ada di dalam hatinya.
"Iya, aku janji nggak kabur. Nah pegang tas Ria, pegang ponsel Ria. Biar Mas tahu, kalo Ria bukan tukang kabur!" jawab Riana sembari memberikan tas dan juga ponsel miliknya pada sang suami.
Seperti mendapatkan durian runtuh, Langit pun dengan senang hati menerima Barang-barang itu. Terutama ponsel milik wanita cantik ini.
"Oke, sekarang aku mau kamu cerita!" pinta Langit. Sembari memeriksa ponsel milik sang istri. Namun tangan satunya masih menggengam lembut tangan wanita cantik itu.
"Dia itu pacar Ria, sebelum Ria nikah sama masnya!" jawab Riana jujur.
"Tu kan, kamu pasti ada niat kan buat balikan sama dia, atau niat selingkuh!" tuduh Langit asal.
"Nggak, Mas! Ria udah nggak berhubungan lagi sama dia. Sejak kita nikah, itu pertemuan pertama dan terakhir kami. Itupun untuk menyelesaikan kesalahpahaman antara kami. Itu saja, demi Tuhan. Kan Mas juga lihat, dia yang peluk Ria, bukan Ria yang peluk dia!" bantah Riana kesal.
__ADS_1
Langit mencebikkan bibirnya sekilas, lalu ia pun menjawab, "Oke, aku percaya! Aku memaafkanmu untuk itu. Lalu, sekarang aku mau tahu alasanmu kabur ke Bangkok?" tanya Langit, langsung pada poin yang ia ketahui.
"Bangkok? Kok Mas tahu Ria pernah ke Bangkok. Ria aja nggak bilang sama mama sama papa. Mas, tahu dari mana?" tanya Riana penuh selidik.
"Kamu meremehkanku?" tanya Langit sembari menatap mesra.
"Emmm, nggak sih! Tapi aneh aja, dari mana Mas tahu kalo Ria pernah ke sana. Itu saja sih? Kan Ria penasaran!" jawab Wanita cantik ini.
"Ah, dari mana aku tahu, itu nggak penting. Yang penting sekarang, aku mau kamu tahu kerjaan serta dari mana kamu dapat duit sebanyak itu, bisa kasih Ara segala!" Langit meremas lembut tangan Ria, begitupun Ria. Tanpa sadar ia juga membalas meremasan itu. Membalas memainkan jari jemari suaminya.
"Awalnya Ria kerja jaga baby, Mas. Tapi sekarang Ria malah nerusin usaha ibu baby itu. Bahkan baby itu udah jadi putri Ria!" jawab Riana jujur.
Langit mengerutkan kening. Merasa aneh dengan jawaban yang Ria berikan padanya. "Maksudnya?" tanya Langit penasaran.
Tak punya pilihan lain, akhirnya dengan polosnya ia pun menceritakan apa yang terjadi padanya sejak pertama kali mertuanya mengantarnya untuk tinggal di Surabaya. Sedangkan Langit, tetap setia menjadi pendengar wanita cantik ini.
"Mas marah nggak?" tanya Riana di akhir cerita yang ia bawa. Sebab mau bagaimanapun Langit ikut masuk ke dalam alur cerita yang ia bawa perihal baby Shanshan.
Langit diam sesaat, lalu ia pun membalas pertanyaan itu, "Menurutmu, aku harus marah atau tidak?"
"Harusnya sih nggak, Mas. Kan kita dapat rezeki. Kita dapat anak tanpa harus susah-susah membuat, mengandung, melahirkan juga," jawab Riana, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Astaga Riana! Mau sampai kapan kamu jadi wanita super lugu dan oon seperti ini. Ini masalahnya bukan itu, Ri. Ini masalah hukum, bayangin kalo misalnya bapaknya tu bocah orang ada. Lalu kamu dituduh pemalsuan data! Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Langit serius.
Riana menatap memelas pada Langit. Karena ia tak memikirkan hal itu sejauh apa yang di pikirkan sang suami. Yang ada di bayangan Riana hanyalah menolong gadis cilik itu, menjaganya, merawatnya lalu membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang yang ia miliki.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan Lupa Like komen n Vote ya... 🥰🥰🥰