
Semalam utuh Langit kesal sendiri dengan apa yang ia temukan di buku diary milik Riana. Sebab di sana, tak ada satupun kalimat yang menggambarkan kesukaan Riana pada dirinya.
Semua yang Riana tulis hanya rasa tak suka yang dia rasakan padanya. Membuat Langit kesal dan tidak terima.
"Memangnya dia nggak suka senyumku apa? Semua orang menyukai senyum tampan ku ini Riana! Apa kau tahu, aku banyak dipuji perihal senyum ini! Dasar!" umpatnya kesal.
Sepertinya Langit tidak menyadari bahwa dia tak pernah tersenyum pada istri mudanya itu. Sepertinya pria ini juga lupa, bahwa dia tak pernah berbuat baik pada wanita itu.
Lalu, bagaimana Riana akan memiliki kenangan yang baik terhadapnya. Langit sungguh aneh.
Namun, bapak satu anak ini tak melulu mendapatkan kekesalan dalam buku diary itu. Foto pengantin bersama wanita cantik itu adalah satu-satunya alasan kenapa dia jadi menyukai tingkah menggemaskan wanita itu.
Menurut Langit, tingkah Riana yang satu ini cukup memberinya harapan bahwa sebenarnya wanita itu juga mengharapkan kebaikan dari pernikahan ini. Setidaknya, Riana pasti tidak melulu membencinya. Namun, yang Langit inginkan adalah dia ingin tahu alasan kenapa Riana menyimpan fotonya. Bukankah ini lucu.
"Awas saja kalo sampai ketemu! Lihat saja, aku akan menghamilimu. Biar kamu nggak bisa kemana-mana lagi!" ancam Langit gemas. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya, berharap... esok hari adalah hari yang baik untuknya. Hari di mana ia akan bertemu dengan wanita yang diam-diam Telah membuatnya merindu itu.
***
Keesokan harinya..
__ADS_1
Sesuai kesepakatan antara dirinya dan kedua orang tuanya, Langit ditemani oleh tim penyidik datang ke apartemen milik Yuta. Tentu saja, untuk membantu wanita itu menghadapi kasusnya. Mencari bukti-bukti yang Yuta bicarakan beberapa hari yang lalu.
"Pak Langit yakin jika bukti itu ada di sana?" tanya salah satu penyidik.
"Insya Allah, bukankah Bapak Penyidik juga mendengar sendiri kesaksian dari wanita itu. Saya sebagai mantan suami, hanya mendukung niat baik wanita itu. Selebihnya, saya tidak ikut campur!" jawab Langit tegas.
Beberapa penyidik itu pun tak menjawab apa yang Langit sampaikan. Sebab, mungkin mereka juga menyimpan kecurigaan terhadap pria yang kini berniat membantu mereka.
Namun, Langit tidak peduli. Sebab ia merasa tidak bersalah. Adapun indikasi bahwa dia terlibat, mungkin itu hanya dugaan mereka saja. Dan Langit sungguh-sungguh tidak perduli.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung menuju ke tempat Yuta menginformasikan di mana benda itu berada.
Tak banyak bicara, mereka pun langsung membobol lemari itu. Sebab kuncinya tidak di ketahui.
"Laptopnya yang mana?" tanya salah satu penyidik, karena di sana ada dua laptop yang mereka temukan.
"Tidak tahu, kita periksa semua saja!" jawab Langit enteng.
Tak menunggu waktu lagi, mereka pun mulai melakukan pencarian. Beruntung tidak ada drama password di sana. Ternyata Yuta adalah termasuk wanita yang sedikit teledor. Ia tidak mengunci barang-barang pribadi miliknya. Atau mungkin dia memang sengaja, entahlah. Yang jelas, saat ini Langit dan juga beberapa penyidik tersebut telah sukses membuka laptop tersebut. Dan mulai mencari bukti-bukti yang mereka inginkan.
__ADS_1
***
Di lain pihak, Vicky merasa kecolongan dengan aksi berani Yuta. Ia dan keluarganya tidak menyangka bahwa ternyata Yuta masih menyimpan bukti penyelewengan dana dan juga aksi penipuan yang mereka lakukan dua tahun silam.
Rasa takut pun mulai menyerang pria ini, sebab jika bukti itu berhasil di dapat oleh pihak berwajib, maka tak menutup kemungkinan bahwa dialah yang akan dijebloskan ke dalam penjara. Bukan Yuta... apa lagi Langit. itu sangat mustahil.
Keresahan pria ini, ternyata juga menjadi keresahan kedua orang tuanya. Karena, otak dari semua kejadian ini adalah mereka berdua. Mereka yang mengendalikan Vicky. Mereka yang mendorong dan mencuci otak Vicky agar mau melakukan hal tersebut.
"Bagaimana ini, Ma, Pa? Wanita sialan itu ternyata sangat berani!" ucap Vicky ketakutan. Terlihat jelas bahwa dia takut di penjara.
"Ini semua karena keteledoran mu sendiri Vicky. Mama sama papa bukanlah udah ngingetin kamu. Jangan terlalu percaya dengan hewan peliharaanmu. Gigit kan sekarang?" Jawab wanita paruh baya itu.
"Wanita gila itu memang sialan. Aku pikir dia udan mati. Brengsek!" umpat Vicky kesal
Emosinya kian meledak mana kalau kedua orang tuanya malah terus menyalahkan dan memojokkan dirinya. Bukan membantunya mencari solusi.
"Pokoknya Mama sama papa nggak mau tahu ya. Awas kalo kamu sampai menyeret nama kami. Ini adalah ulahmu. Ini adalah keteledoran mu. Jadi, pertanggung jawabkan sendiri. Mengerti Vicky!" ucap Sang ibu lagi.
Terang saja, ucapan itu semakin membuat Vicky tersudut. Sebab mereka berdua berlaku curang padanya. Mencuci tangan mereka. Dan bagi Vicky adalah perbuatan brengsek. Sangat-sangat tidak manusiawi, terlebih Vicky adalah anak kandung mereka.
__ADS_1
Tak ingin lebih sakit hati, Vicky pun memilih pergi dari kediaman orang tuanya dan mencoba mencari solusi untuk masalah yang saat ini sedang ia hadapi.
Bersambung....