Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Aku dan Kamu, Apa Boleh?


__ADS_3

Bukan karena salah ia mencinta. Bukan pula salah tentang alur cerita kehidupan seorang Raras. Hanya saja, Raras terlanjur terbenam dalam cinta yang salah. Raras terlalu percaya pada Vico, sehingga ia tidak menyadari bahwa pria itu ternyata hanya memanfaatkan dirinya.


Raras menangis di ujung ruang kamarnya. Hingga tidak menyadari kedatangan Lando, Riana dan juga Langit.


Riana yang sudah tahu bahwa Raras masih hidup merasa sangat senang. Namun ada di sisi sedihnya juga. Entahlah, melihat sang majikan dirundung suka seperti ini, membuat seorang Riana yang berhati lembut menjadi tak tega.


"Non," panggil Riana lembut.


Raras mengangkat wajahnya. Menatap mantan pengasuh bayinya itu. Tangis langsung pecah di antara keduanya. Raras langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghambur ke pelukan wanita yang ia nggap sebagai keluarganya sendiri itu.


"Semua akan baik-baik saja, Non. Pria jahat itu tak akan berani lagi menganggumu. Kami semua bersamamu," ucap Riana sembari mengelus punggung Sang mantan bosnya itu.


"Aku membencinya, Ri. Sungguh!" ucap Raras, masih dalam isak tangis yang dalam.


"Aku tahu, Non. Sudah jangan nangis lagi. Tadi sebelum saya berangkat ke sini, Pak Dilan telpon suami saya bahwa akte dedek Shanshan bisa diubah. Ternyata yang pakai nama saya dan suami belum di sahkan secara hukum. Jadi aman. Dedek Shanshan bisa kembali lagi sama, Non. Dan saya juga sudah mengembalikan semua aset yang Non titipin ke saya, atas nama Non lagi. Jadi semua udah beres Non. Tolong jangan menangis lagi. Bangkitlah menjadi wanita yang kuat. Ada Dedek Shanshan yang menunggumu," ucap Riana sembari mengelus punggung Raras lagi. Mencoba menenangkan wanita itu.


"Makasih banyak ya, Ri. Aku nggak tahu kalo nggak ada kamu. Aku nggak tahu nasib Shanshan kalo nggak ada kamu. Kamu adalah malaikat kami, Ri. Maksih banyak ya," ucap Raras dengan senyum bahagianya.


"Iya, Non. Sama-sama. Saya pun berhutanh budi padamu. Jika seandainya nggak ada Non, saya nggak tahu, apa yang akan terjadi pada rumah tanggaku dengan mas Langit. Makasih banyak ya, Non. Udah bantu kami menelusuri kasus ini," balas Riana.


"Kasusmu dengan Langit juga terjadi karena aku, Ri. Apa kamu nggak marah padaku?" tanya Raras, sedikit tak nyaman.


"Apapun itu, Non. Yang penting sekarang, anda selamat. Shanshan sehat. Dan aku sama mas Langit bisa bersama lagi," jawab Riana senang.


"Makasih banyak, Ri. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu," ucap Raras. Kebahagiaan tampak jelas di antara keduanya. Mereka saling memeluk dan menenangkan. Sampai tidak menyadari bahwa ada tiga pasang mata yang terus memerhatikan tingkah mereka berdua.


"Di mana Shanshan, Ri? Aku merindukannya," tanya Raras.


"Tu, sama calon papa sambungnya!" jawab Riana, asal. Tapi jujur, Riana sangat sayang pada Raras, sehingga dia rela jika Lando bisa bersama dengan mantan bosnya itu.

__ADS_1


"Hist, sembarangan. Jangan gitu, Ri. Aku sama dia cuma temenan." Raras tersipu malu.


"Hilih... aku tahu kalian saling lope," canda Riana.


"Ih nggak ya. Jangan gitu lah, Ri. Aku malu. Eh ngomong-ngomong, kok dia bisa sampe kalian?" tanya Raras penasaran.


"Kamu mau tahu siapa dia?" tanya Riana.


"Siapa dia? Emang dia siapa?" balas Raras.


"Dia itu adikku tahu!" Riana tersenyum.


Raras melongo. Antara terkejut dan senang. Antara malu dan entahlah. Yang jelas saat ini Raras bahagia. Begitupun Riana.


Masalah yang mereka hadapi, satu persatu telah usai. Dengan ketulusan dan kekompakan mereka, akhirnya mereka bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.


Senyum mengembang di antara mereka. Riana kembali melangkah mendekati Sang suami. Memeluknya dengan cinta. Mereka bahagia.


Langit mencolek hidung mancung sang istri dan menyetujui ajakan sang istri. Karena dari kaca matanya, ia juga bisa melihat dengan jelas bahwa Lando dan Raras memang saling mencintai.


"Ambil Shanshan nya dulu, Bun. Biar nggak ganguin mereka. Biar ngobrolnya enak," ucap Langit.


Riana mengangguk setuju. Lalu ia pun mengambil Shanshan dari gendongan Sang adik. Kemudian berbisik, "Selesaikan masalah perasaan yang ada antara kalian, Kakak merestui." Riana tersenyum.


"Makasih banyak, Kak. Do'ain Lando ya!" ucap Lando sembari tersenyum bahagia.


"Selalu, Lan. Kamu adalah adik terbaikku. Tolong, jangan sakiti dia. Dia sudah rapuh!" pesan Riana.


"Insya Allah, Kak." Lando kembali tersenyum. Namun tatapannya tidak lagi kepada Riana maupun Shanshan. Tapi pada wanita yang terus terunduk malu di hadapannya.

__ADS_1


"Sudah sana! Kakak sama abangmu keluar dulu. Ingat jangan kebawa emosi. Mungkin dia memang belum jujur sam kamu. Tapi percayalah, dia punya alasan dibalik itu semua!" ucap Riana lagi.


"Siap, Kak!"


Kali ini Riana dan Langit pun berpamitan keluar kamar Raras. Membiarkan kedua sejoli yang sedang jatuh cinta tapi masih memiliki ganjalan untuk mengungkapkan rasa itu, agar mau saling terbuka.


Lima menit berlalu, Lando masih berdiri tepat di depan Raras. Sedangkan Raras sendiri masih tertunduk takut dengan bermacak kemelut yang ada di kepalanya.


"Boleh aku memelukmu?" izin Lando.


Raras mengangguk, tanda ia menyetujui.


Selepas mendapatkan izin, Lando pun langsung memeluk penuh kasih sayang wanita yang ia cintai. Mencium mesra kening Raras, seolah menyampaikan sesuatu. Jika hatinya saat ini telah berhasil Raras miliki.


Raras merasa sangat terharu dengan kebaikan Riana dan juga Lando padanya.


"Jangan menagis lagi! Semua akan baik-baik saja. Aku janji akan jaga kamu dan dedek. Jadi jangan sedih lagi, oke!" ucap Lando.


"Terima kasih kamu sudah berbaik hati mau jagain aku sama babyku. Aku nggak amu ngrepotin kamu, Lan. Aku nggak pentes buat kamu!" balas Raras.


"Apanya yang nggak pantes, Ras. Aku nggak terima alasan apapun. Aku sudah jatuh cinta sama kamu dan kini gadis cilik itu juga membuatku tak jatuh cinta. Apakah aku salah jika aku ingin menjaga kalian dengan cintaku!" ucap Lando. Kali ini dia serius.


"Aku dan kamu? apa boleh?" tanya Raras ragu.


"Tentu saja boleh, Yang. Kenapa tidak. Aku mencintaimu dan kamu pun cinta sama kamu. Nggak ada yang salah dengan hubungan ini, Yang. Percayalah!" ucap Lando, semangat.


"Aku nggak bisa menolakmu, Lan. Tapi aku minta kamu pikirkan masak-nasak dulu. Aku sisa orang, Lan! Aku nggak mau bikin kamu kecewa!" ucap Raras sedih.


Lando tak membalas ucapan itu, dia membuktikan keseriusannya dengan memeluk mesra wanita yang sangat ia cintai itu.

__ADS_1


Percuma berucap. Yang dibutuhkan seorang Raras saat ini adalah bukti. Buka sekedar janji. Bukankah begitu?


Bersambung...


__ADS_2