Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Terjerat Jaring Cinta


__ADS_3

"Jadi menurut Mas, Ria salah?" tanyanya lugu.


"Bukan sih, cuma kurang berpikir panjang saja. Sudah gitu diam-diam pula nglakuinnya. Ria... Ria, please... kalo apa-apa itu diskusi dulu sama orang yang mungkin ada sangkutannya dengan resiko masalah yang akan kamu ambil. Misalnya sekarang, tanpa ada angin tanpa ada hujan, Tiba-tiba kamu memasukkanmu ke dalam situasi yang aku sendiri nggak tahu asal muasalnya. Bukan apa, memalsukan dokumen itu, hukumannya nggak main- main, Ri. Mungkin warisan yang kamu dapet, nggak akan cukup buat bayar denda!" jawab Langit menakut-nakuti.


Terang saja, apa yang Langit ucapkan itu sukses membuatnya gemetar


Bagaimana tidak? Ria yang tak paham hukum tiba-tiba saja harus berhadapan dengan situasi seperti itu. Bukankah itu sangat mengerikan.


"Jadi, Ria harus gimana?" tanya Riana lugu.


"Ya udah, kita jalani aja. Kapan baby itu mau dibawa pulang. Nanti Mas siapin tempat yang agak gedean. Biar tempat yang sekarang mama sama papa aja yang nempati. Kita rawat dia sama-sama dengan kakaknya sekali. Pasti Ara senang punya teman," jawab Langit, tak


menolak.


"Eh, kok rawat sama-sama. Kan kita mau cerai," celetuk Ria, spontan.


"Cerai... cerai... sembarangan. Siapa yang mau cerai memangnya? Kamu ...." Langit melotot kesal pada Riana.


"Ya kan memang seperti itu alurnya, Mas," jawab Riana, tak mau disalahkan.


"Memang seperti itu, memang seperti itu. Niat kamu menikah apa memangnya? Mau ibadah atau mau apa? Aneh!" gerutu Langit, kesal.


"Ya kan masnya nggak cinta sama Ria. Nggak mau juga. Masak mau paksa-paksa. Nggak mau Ria!" balas Riana tak mau kalah.


"Nggak mau apa?" pancing Langit.


"Nggak mau kalo di dalam pernikahan nggak ada cinta. Adanya marah-marah. Bertengkar. Ogah Ria!" jawab Riana jujur.


Sebenarnya Langit ingin tertawa mendengar keluguan sang istri sekali lagi. Namun ia masih memiliki misi. Langit tak akan menyerah begitu saja dengan tujuannya kali ini.


"Jadi maumu apa Riana Ekaristi?"

__ADS_1


"Ya maunya di dalam rumah tangga itu ada cinta, ada kasih sayang, ada kepercayaan, pokoknya ada faktor yang bisa bikin rumah tangga itu damai. Nggak mau Ria kalo dimarahin terus," jawab Riana jujur.


"Mana ada rumah tangga seperti itu. Semua rumah tangga itu yang penting bisa menghasilkan anak. Kan kita udah punya dua, kalo kita cerai, gimana nasib mereka!" jawab Langit asal.


"Ih, baby Shanshan ma punya aku sendiri. Beda!" jawab Riana.


"Lalu Ara? tega sekali kamu! Kamu pilih kasih Ria, sadar nggak kamu, kalo saat ini kamu sedang membedakan mereka," serang Langit.


Riana diam sejenak, lalu ia pun membalas serangan Langit. "Ya udah, kasih semua ke Ria. Ria mau kok!" jawab Riana.


"Terus, aku gimana? aku harus menghabiskan hari-hariku sendirian begitu? Dengan tiduran aja di ranjang, begini. Jahat kamu Ri, sumpah! Tega kamu sama aku, " balas Langit sok memelas.


Riana kembali diam. Lalu menatap Langit yang saat itu sedang berakting sedih.


"Ya sudah, Masnya ngumpul sama kami aja," ucap Riana lirih, "Tapi janji nggak main tangan. Janji nggak marah-marah, janji nggak kawin lagi. Gimana?" tambah Riana, spontan. Tanpa memikirkan apa yang suaminya pikirkan.


"Oke! Siap! tapi janji juga jangan bahas cerai, cerai, cerai lagi. Terus kamu juga nggak boleh lirik-lirik cowok lain selain papinyanya Ara dan Shanshan. Gimana, setuju?" Langit mengulurkan tangannya, pertanda ia mengajak Riana membuat kesepakatan.


Mereka berdua berjabat tangan dan saling berjanji sesuai permintaan masing-masing. Langit tertawa senang dalam hati, karena dia berhasil membuat Riana takluk dengan tipuan cintanya. Sedangkan Riana, masih belum menyadari bahwa ia telah terjerat jaring cinta milik Langit.


"Oke, keputusan telah kita ambil. Sekarang aku mau tahu rencana kamu soal Shanshan! Haruskah dua tahun kalian sembunyi?" tanya Langit, jujur berpisah kembali dengan Riana selama dua tahun, rasanya pasti sangat berat. Membayangkan saja rasanya berat. Apa lagi menjalani. Terlebih, posisi sang istri sangatlah jauh.


Namun, bukan hanya itu alasan pria ini merasa berat berpisah kembali dengan sang istri. Melainkan bunga cinta yang ia rasakan telah merekah sempurna. Langit hanya takut tak mampu membendung rindu yang pasti akan menyerangnya bertubi-tubi.


"Maafkan Ria, Mas! Ria udah teken kontrak," ucapnya, karena kali ini dia memang benar-benar salah. Tidak meminta persetujuan tentang apa yang telah ia sepakati.


"Mas ngerti. Tapi lain kali diskusikan dulu dengan Mas, jangan main ambil aja. Nanti kamu disangka pencuri. Eh, kamu memang pencuri sih, nggak salah juga kalo dituduh tukang curi!" jawab Langit, jahil.


"Pencuri? Nggak Ria nggak curi-curi! Ria boleh dikasih!" Riana menatap kesal ke arah Langit. Sebab yang ia pikirkan adalah Shanshan, bukan perihal lain.


"Hilih, dikasih apa? Kalo tukang mencuri ya mencuri aja. Udah nggak usah sok-sokan suci kamu!" tuduh Langit ketus.

__ADS_1


"Tu kan, belum apa-apa udah marah-marah. Ria nggak curi, Mas.... demi Tuhan, sungguh. Emang Ria curi apaan?" tanya Riana, kali ini ia menangis karena ia kesal dan tak terima dengan tuduhan itu.


"Heh, sudah kubilang, kamu itu wanita cengeng, ditambah lagi tukang curi. Pakek nggak ngaku segala lagi." Langit semakin suka dengan tangisan sang istri.


"Mas jahat, selalu tuduh tanpa bukti!" jawab Riana semakin kencang dengan tangisannya.


"Tanpa bukti kamu bilang? coba kamu lihat ini!" Langit menyerahkan ponselnya yang berisi rekaman CCTV di mana Riana keluar masuk kamarnya tanpa izin. Udah gitu mengendap-endap seperti pencuri.


Spontan, Riana pun menghapus air matanya. Sebab ia paham dengan maksud pencuri yang dituduhkan sang suami. Lalu ia pun tersenyum malu.


"Sudah jangan senyum-senyum kamu, sekarang kembalikan apa yang kamu curi dariku. Aku nggak suka ada orang yang berani curi sesuatu dariku," ucap Langit, serius.


Seketika Riana pun menatap kesal pada Langit. Lalu ia pun menjawab, "Mas berbuat jahat sama Ria, Ria nggak balas. Mas ambil paksa kesucian Ria, Ria juga nggak minta dikembaliin. Masak Ria cuma ambil kecupan dikit aja, Mas minta balikin sih. Nggak adil banget!" jawab Riana berani.


"Lah, itu salah kamu sendiri. Kenapa nggak mau balas, kan aku udah suruh. Tadi kamu jawab, kamu bukan pendendam. Terus soal kesucian kamu, kan itu hakku. Boleh-boleh aja aku ambil. Nggak ada yang bakalan nglarang. Baik itu dari segi agama, maupun hukum. Itu halal untukku. Masalahnya di mana," balas Langit tegas. Tak mau kalah.


"Kalo masalahnya begitu, Ria, juga nggak nyuri dong! Kan masnya juga hak Ria. Terserah Ria mau apain!" balas Riana tak mau kalah.


"Iya kalo kamu ngambilnya pas aku sadar. Ini kamu ngambilnya pas aku tidur. Udah jangan mengelak kamu, cepat lepas cadar kamu. Lalu kembalikan apa yang kamu curi, atau aku sebar video kamu yang ngendap-ngendap seperti pencuri ini," ancam Langit.


"Tu kan! ngancam lagi!" Riana mulai kesal, terlihat jelas matanya berkaca-kaca. Namun, Langit tak mau peduli, intinya ia harus dapat apa yang ia kehendaki. Yaitu bibir manis wanita yang ia rindukan ini.


"Ya terserah dong! Aku kan nggak mau rugi. Enak aja, ini soal harga diri. Aku paling tidak suka kalo harga diriku dilukai seseorang!" Langit semakin serius dengan ancamannya.


"Masak curi cium aja melukai harga diri sih, Mas? kan aku istri kamu." Riana menatap memelas.


"Istri itu nggak curi. Kalo mau ambil ya ambil aja. Perhatikan, orangnya tidur atau nggak. Sadar atau nggak. Kamu kan ngambilnya pas orangnya nggak sadar. Orangnya lagi tidur. Sudah, aku nggak mau banyak debat. Cepat, lepas cadar kamu dan kembalikan ciuman yang kamu curi dariku!" ucap Langit serius.


Gemetar, gugup, seperti itulah rasa yang dirasakan oleh Riana ketika membuka cadarnya di depan sang suami. Sedangkan Langit, pria ini tersenyum licik dalam hati. Karena sedetik lagi, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Apa yang ia mau dan apa yang jadi tujuannya mendebat sang kekasih hatinya ini.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen n votenya ya geng🥰🥰🥰


__ADS_2