Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Terlanjur Basah


__ADS_3

Meskipun masih gamang dengan keputusannya untuk menemui pria itu, Riana berusaha menguatkan hatinya. Sungguh, Riana juga tak ingin durhaka. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Tak ingin kehilangan restu pria itu. Sebab apa yang dikatakan mertuanya adalah benar. Seburuk apapun Langit, pria itu tetap suaminya.


Apapun keputusan yang akan Langit berikan padanya, dia harus tetap menerima. Sekalipun Langit nantinya akan marah padanya. Sekalipun nantinya Langit akan mengusirnya. Sekalipun nantinya Langit akan menyeprotnya dengan ucapan pedasnya. Mau tak mau Riana harus siap.


Di samping perihal restu dan kejelasan hubungannya dengan sang suami, Riana Tak ingin membuat kedua mertuanya kecewa. Baginya, kedua mertuanya sudah telampau baik padanya.Mereka selalu menganggap dirinya seperti putri sendiri.


Di dalam mobil B-RV warna putih yang dikendarai oleh Riana, Dayat dan Nana hanya diam. Ingin bertanya perihal apa yang dimiliki sang menantu, tapi tak nyaman.


"Ma, tadi aku sempat lihat baby Ara, baru berapa bulan kami nggak ketemu, kok dia udah gede aja ya, Ma!" ucap Riana dengan senyum manisnya.


"Semua sudah banyak berubah, Ri. Jangankan Ara, kamu aja sekarang melesat bak roket. Kami kan nggak tahu kalo kamu setajir ini sekarang. Tapi Mama bangga, kekayaanmu tidak membuatmu sombong. Malah mengingat kami. Malah bantu kami di saat kami kesusahan," ucap Ibu Nana, sedih.


"Jangan gitu, Ma! Terlepas Ria ini masih istri mas Langit atau bukan, Ria masih tetap ingat apa saja yang pernah mama sama papa kasih buat keluarga Ria dulu. Bantu kami ngobatin ibu, bayar sekolah Ria dan Lando. Dan lain-lain.. iya kan?" jawab Riana tak kalah melo.


"Tapi kami tidak meminta balasan soal itu, Ri dan harusnya kamu nggak membalasnya dengan kebaikan seperti itu. Kami saja malah memanfaatkan kebaikan itu untuk menindasmu!" ucap Bu Nana lagi.


Riana tersenyum di balik cadarnya, lalu ia pun kembali menjawab, "Tak apa, Ma. Kalo memang Ria adalah tulang rusuk mas Langit, Ria ikhlas Ma. Ria sendiri juga bingung, dia itu jahat sama Ria, tapi Ria gagal membencinya, Ma! Sungguh!" Riana terlihat menghapus air nama yang mulai nakal. Karena berani menampakkan wajahnya tanpa permisi.


"Maafkan masmu ya, Ri!" pinta Pak Dayat.


"Insya Allah sudah, Pa. Ria bukan pendendam!" jawab Riana dengan senyum manisnya. Sedangkan Bu Nana dan Pak Dayat hanya tersenyum.


"Sungguh, Mama sangat berharap kalian bisa baikan, Ri. Kalian bisa kembali membangun rumah tangga kalian dengan baik. Kalian bisa Menyelesaikan masalah yang menjerat kalian dengan baik!" ucap Bu Nana penuh harap.

__ADS_1


"Kalo soal itu, Ria nggak bisa kasih kepastian, Ma. Mama kan tahu bagaimana bencinya mas Langit ke Ria. Kami berdua berjarak, Ma. Jadi Ria pun nggak berani berharap," jawab Riana serius.


"Oh, baiklah!" jawab Ibu Nana, lemas. Sedangkan Pak Dayat mengelus lengan sang istri untuk menenangkan wanita yang masih setia mendampinginya hingga sekarang. Mencoba menguatkan hati wanita itu. Agar kuat menghadapi kenyataan yang mungkin akan terjadi. Termasuk keputusan Ria dan Langit yang mungkin akan memutuskan berpisah nantinya.


Sesampainya di rumah sakit, gemuruh di dada Riana semakin terasa. Detak jantungnya begitu cepat. Sehingga membuat lututnya gemetar.


Ingin rasanya Riana tidak melanjutkan saja langkahnya. Ingin rasanya Riana lari dari kenyataan yang akan ia hadapi kali ini. Bagaimana tidak? Kenyataan yang akan ia hadapi kali ini adalah kenyataan yang pasti akan membuatnya malu. Sebab dia pencuri, pencuri sesuatu yang memalukan. Pencuri yang tertangkap basah.


"Ma, Ria tunggu di sini saja ya!" pinta Riana sembari mencekal tangan ibu mertuanya.


"Loh, mana ada begitu! Sudah jangan takut, ada papamu. Jika pria jahat itu berani memukulmu, maka papamu yang akan mematahkan kakinya. percayalah!" jawab Ibu Nana menyakinkan.


Masalahnya bukan itu, Ma. Ria seorang pencuri dan saat ini Ria seperti sedang menyerahkan diri pada polisi. Ria takut, Ma. ucap Riana dalam hati.


"Siang Langit!" sapa Pak Dayat kepada pria yang ada di ranjang rawat itu. Yang kini sedang sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Mendengar seseorang menyapanya, Langit pun menatap ketiga orang yang saat ini sedang melangkah menuju kepadanya


"Siang, Pa! Sama si-a .... " Langit tak kuasa melanjutkan ucapannya. Sebab ia tahu, salah satu dari mereka adalah wanita itu. Hanya saja ia masih bersembunyi di belakang papanya.


"Gimana kabarmu Langit? Maaf, mama sama papa nggak ke sini dua hari ini. Semoga kamu mengerti, bahwa kami kerepotan. Restoran lagi banjir orderan! Maaf ya, Nak. Oiya, si Kasim udah kasih tahu kan soal itu. Gimana? Makanan yang kami kirim, kamu makan nggak?" tanya Bu Nana sembari duduk di samping ranjang sang putra.


Sayangnya Langit tak menjawab. Sebab ia terlalu fokus menatap seseorang yang ada di belakang papanya.


"Langit! Dih, mama bicara sama kamu!" ucap Bu Nana mengagetkan.

__ADS_1


"Eh... sorry Ma, apa?" tanya Langit sembari memindahkan pandangannya. Dari seseorang yang masih setia sembunyi itu dengan ibunya.


"Astaga! Sudahlah.... oke mama tanya-tanyanya nanti aja. Kami ke sini mau nganterin seseorang yang mau ketemu sama kamu!" jawab Bu Nana dengan senyum bahagianya. Sedangkan Pak Dayat menenggok ke arah Riana. Namun Riana malah menggeser tubuhnya, agar tetap berada di belakang ayah mertuanya. Agar Langit tetap tidak melihatnya. Agar ia tetap berada di tempat persembunyiannya. Agar dia tetap merasa aman dari mata pria itu.


"Siapa Ma?" tanya Langit pura-pura tidak tahu. Pura-pura bodoh.


"Ri... sini, Nak. Jangan takut, pria ini tidak akan menyakitimu. Kamu lihat saja, kakinya saja diikat-ikat begitu kan!" ucap Bu Nana sambil menarik tangan sang menantu, agar mendekat pada sang putra.


Sedangkan Riana hanya menatap takut pada pria yang kini menatapnya tajam. Sungguh, keringat dingin saat ini mengepung seluruh tubuhnya. Rasa takut dan malu sedang menamparnya. Namun, ia tak bisa menghindar lagi. Sudah terlanjur basah, tak ada gunanya mengelak lagi.


Suasana hening seketika. Apa lagi ketika Riana duduk di sisi ranjang di mana Langit berada. Riana hanya meremas gamis yang ia kenakan. Pertanda ia memang takut bertemu dengan Pria itu dalam keadaan sama-sama sadar seperti ini.


"Ayo, Ma. Sebaiknya kita tunggu di luar. Nggak baik kalo kita nguping pembicaraan suami istri. Mungkin mereka juga mau kangen-kangenan!" ucap Pak Dayat dengan nada sedikit bercanda.


"Papa benar, sebaiknya kita jaga depan pintu saja. Biar Ria juga merasa aman. Biar pria angkuh ini tak berani bertindak anarkis lagi. Ingat Langit, kami ada di depan pintu, jika kamu menyentuh sedikit saja mantu Mama, akan mama pukul kakimu yang luka itu, sampai kamu minta ampun! Mengerti! " ancam Bu Nana sembari menyambut uluran tangan sang suami.


Langit tidak menjawab ancaman itu sebab ia punya rencana yang lebih dasyat dari itu. Langit telah memiliki rencana untuk membuat wanita ini jera, karena pergi tanpa pamit padanya.


Tak ada perbincangan lagi, Bu Nana dan Pak Dayat pun memutuskan untuk keluar ruangan itu. Meninggalkan dua sejoli itu untuk menyelesaikan masalah mereka.


Bersambung...


Jangan Lupa Like komen dan Vote yes😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2