
Yuta melenggangkan langkahnya keluar rumah ketika Pak Dayat keluar dari kamar. Baginya membuat satu-satunya orang yang kuat di rumah itu ambruk, itu adalah tujuan utamanya. Dan Yuta berhasil, kedatangannya di rumah ini telah sukses membuat Nana tertekan dan Yuta sangat menyukai ini.
Pak Dayat hanya menatap tajam ke arah mantu kurang ajarnya itu. Sebenarnya, dalam hati ingin rasanya ia menjambak dan menghajar wanita sialan itu.
"Pa!" ucap Nana ketika melihat sang suami telihat marah.
Sayangnya Pak Dayat tidak menghiraukan panggilan itu. Ia malah fokus menatap langkah Yuta yang terkesan meledeknya. Pak Dayat meremas kuat jari jemarinya. Jiwa penyerang yang ada di dalam tibuhnya seketika bangkit. Ia pun ingin mewujudkan apa yang ada di dalam otaknya. Namun, ketika ia hendak melakukannya dengan cepat Bu Nana menghadangnya.
"Jangan, Pa! Mama mohon! Tolong jangan tambah masalah lagi!" pinta Bu Nana berusaha mencegah sang suami.
"Lepaskan Papa, Ma! Wanita itu harus mati!" teriak Pak Dayat kesal. Napasnya ngos-ngosan, amarah Pak Dayat benar-benar telah sampai di puncak.
Sayangnya, teriakkan itu sama sekali tidak mempan memancing kepedulian Yuta. Wanita ini hanya menghentikan langkahnya sejenak, lalu menengok ke arah dia sejoli itu, sambil tersenyum meledek tentunya. Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mobil mewah miliknya.
"Lepaskan Ma, Lepaskan!" teriak Pak Dayat lagi. Kali ini pria ini meronta. Kesal saja, karena sang istri tidak mengizinkannya membunuh wanita jahanam itu.
"Papa berjanji, jika dia datang lagi, Papa nggak akan segan-segan mencekik lehernya. Karena dia telah membuat keluargaku jadi seperti ini," ancam Pak Dayat penuh amarah.
Nana lemas seketika. Bagaimana tidak? Tadi, dalam pikirannya ia ingin bertanya tentang Okta dan Frans pada sang suami jika Yuta pulang. Tetapi, melihat amarah Pak Dayat, Nana jadi bertambah shock. Ibu satu anak ini sampai tidak tahu harus berbuat apa. Sebab semua tanya, semua masalah seperti Merubungnya. Nana benar-benar terpuruk.
"Lihat saja, jika Papa tidak bisa mengremukkan tulang-tulangnya, maka jangan panggil aku Dayat Wijatmiko. Sampai mati aku tidak akan pernah memaafkan wanita ****** itu!" ancam Pak Dayat lagi.
Nana hanya bisa terduduk lesu ketika sang suami kembali mengucapkan ancaman dan juga sumpah serapahnya. Hatinya bertambah kalut. Karena ia tahu, Dayat bukanlah orang yang bisa bermain dengan kata-kata. Dan Nana takut jika ucapan itu benar-benar Dayat lakukan.
Sebenarnya, wanita paruh baya ini tak bisa melarang sang suami marah, karena sejatinya dia sendiri juga marah. Dia sendiri juga emosi. Bahkan kata-kata yang ia susun untuk menjelaskan perkara yang di bawa Yuta tadi, seketika hilang. Nana shock sangat-sangat shock.
__ADS_1
Pak Dayat tak ingin berdebat. Ia memilih pergi meninggalkan rumah. Nana hanya bisa menatap punggung pria itu, tanpa berani mencegahnya. Wanita paruh baya ini sangat hafal dengan sifat pria itu. Tidak bisa diajak bicara jika emosinya masih tinggi. Maka ia pun memilih diam dan masuk ke dalam kamar.
Pikiran kalut dan beban hidup yang terasa semakin berat. Memunculkan niat di kepala Nana untuk menghilang dari dunia ini. Setidaknya, jika dia mati, maka beban hidup yang di tanggung sang putra dan juga sang suami berkurang satu.
Namun, ketika ia melihat sang cucu yang saat ini sedang mengeliat menggemaskan di atas ranjang, pikiran wanita ini langsung berubah. Hatinya tersentuh oleh nasib bayi cantik itu.
Apa lagi ketika mata bening gadis cilik itu terbuka. Hati Nana serasa tertampar. Ya Tuhan seperti menamparnya dengan nasib gadis cilik itu jika sampai dia pergi. Siapa yang akan menjaga bayi cantik itu. Siapa yang akan merawatnya.
"Ya Allah, maafkan aku!" ucap Nana ketika Ara melemparkan senyum termanis nya pada sang nenek yang saat ini sedang kalut oleh masalah-masalah yang sedang ia hadapi.
"Sayang, udah bangun?" tanya Nana sembari menghapus air matanya. Diciuminya berkali-kali gadis cilik ini. Seakan Nana sangat-sangat menyesal dengan pikiran bodoh yang sempat menghinggapi otaknya.
"Oma.. oma.. mam," ucap Ara, meminta makan.
"Oh, bangun bobo langsung minta makan. Astaga! Dasar Langit kecil!" umpat Nana dengan senyum bahagianya. Sebab sifat Ara sangat mirip dengan Langit. Setiap bagun tidur selalu minta makan. Selalu seperti itu. Membuat Nana gemas.
***
Di sisi lain, Riana dan Raras sudah berada di bandara untuk terbang ke Itali. Mereka sedang duduk di ruang tunggu untuk menunggu pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
Tanpa sengaja, di depan tempat duduknya, terlihat seorang wanita sedang menggendong seorang bayi perempuan. Bayi itu terlihat begitu menggemaskan. Seketika Riana pun teringat bayi mungil yang sangat ia cintai. Yaitu baby Ara. Kekasih hatinya.
"Hey, ngapa senyum-senyum sendiri?" tanya Raras heran.
"Putriku seumuran itu, Non. Tingkahnya mirip sekali.Dia suka makan. Dia suka tidur di dadaku. Dia suka sekali aku peluk. Aku jadi rindu dia, Non," ucap Riana, tak terasa air matanya keluar ketika mengucapkan kata-kata yang keluar dari hatinya itu.
__ADS_1
"Emmm, kasihan sekali kamu. Seandainya papanya memintamu kembali untuk menjaga bayi itu apakah kamu mau?" tanya Raras tiba-tiba.
"Hah? Mana mungkin. Non ini ada-ada saja," jawab Riana, enggan berangan terlalu tinggi.
"Ya, namanya jodoh. Kita nggak pernah tahu." Raras melirik Riana. Sedangkan Riana hanya menatap jari jemarinya yang saat ini sedang asik memainkan kuku-kukunya.
"Jodoh? Apa lagi jodoh! Itu sangat-sangat mustahil Non. Saya dan keluarga mereka itu ibarat langit dan bumi. Mana mungkin bisa bersatu. Kalo bersatu dunia ma kiamat, Non," ucap Riana asal.
"Husst, kamu ini. Ngawur. Mereka memang tidak bisa bersatu, tetapi apakah kamu tahu, apakah yang akan terjadi jika Langit tanpa Bumi, atau Bumi tanpa Langit. Mereka memang berpisah tetapi mereka saling melengkapi. Aku yakin itu," sindir Raras. Karena dia tahu, meskipun Riana sudah tak bersama suaminya lagi, tetapi wanita itu selalu melangitkan doanya untuk pria itu. Bahkan Raras sering melihat Riana menangis ketika mendoakan pria yang pernah menikahinya itu.
"Ah, Non bisa aja. Udahlah, Lagi-lagi bahas dia. Nanti dia bisa... " Riana tersenyum.
"Bisa kegigit, karena kita omongin. Astaga, pemikiran bodoh dari mana itu," balas Raras sedikit kesal. Sedangkan Riana hanya terkekeh.
"Eh, katanya mau telpon emak mertua. Kapan? Udah belum?" tanya Raras mengingatkan.
"Eh, belum. Sekarang aja kali ya, masih lama nggak pesawatnya Non?" tanya Riana.
"Masih, telpon aja sekarang," jawab Raras.
"Tapi aku mesti ngomong piye, Non?" tanya Riana bingung.
"Ya Allah, kenapa nanya lagi. Emangnya belum jadi ngelist pertanyaan? Katanya hari itu lagi nulis kata-kata yang mau di sampaikan ke emak mertua. Bagaimana sih?" gerutu Raras kesal.
"Lali, Non, lali (lupa, Non, lupa)," Riana terkekeh.
__ADS_1
"Hilih, alasan!" umpat Raras sembari melirik kesal pada sang asisten baik hatinya ini.
Bersambung...