Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Penyesalan


__ADS_3

Riana dan Lando tak bisa berpikir lagi. Gugup, sudah pasti. Bagaimana tidak? Tak ada angin tak ada hujan, mereka menerima kabar mengagetkan seperti itu. Padahal, siang tadi, ketika Riana berpamitan hendak menemui sang adik, ayahnya masih baik-baik saja. Pria itu masih terlihat sangat bugar.


Lalu apa ini? Sang ayah terkena serabgan jantung. Memangnya apa ada hal apa yang membuat pria itu terkejut.


Tak menunggu waktu lagi. Lando dan Riana pun langsung tancap gas menuju rumah sakit di mana penelpon tersebut memberi mereka informasi.


"Cepat Lan, kasihan ayah sendirian!" ucap Riana sembari menepuk pundak sang adik.


"Iya Kak, sabar, ini Lando juga udah paling cepet!" jawab pemuda tampan itu. Kembali ia mempercepat laju motornya. Berharap tidak terjadi apa-apa dan segera sampai ke tempat tujuan.


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun sampai di depan UGD salah satu rumah sakit di mana Pak Bayan di rawat.


Lando segera memarkirkan motornya. Sedangkan Riana tak sabar, ia pun segera menerobos masuk dan menemui petugas yang bertugas di ruangan tersebut.


"Sus, saya anak Pak Bayan. Yang belum lama sampai sini!" ucap Riana pada salah satu suster yang sedang bertugas.


"Baik, sebentar," jawab sang suster sembari melihat daftar nama pasien yang masuk hari ini. Sedangkan Riana terlihat harap-harap cemas. Berharap sang ayah tidak ada di ruang ini. Berharap berita yang ia dengar adalah berita bohong. Tetapi, melihat wajah sang perawat, harapan Riana sirna. Karena suster tersebut menunjuk salah satu bangsal yang tertutup tirai tersebut.


"Maaf, Mbak. Atas nama Pak Bayan, beliau di tirai nomer 4, mbak! Silakan!" jawab sang suster sembari menunjuk barisan bangsal yang tertutup tirai itu.


"Oh, baik, Sus. Terima kasih banyak!" jawab Riana sembari menarik tangan Lando dan mengajak sang adik segera menemui sang ayah.


"Yah!" panggil Riana ketika melihat sang ayah hanya berbaring lemah, napasnya terlihat berat. Tersegal-segal, seperti seseorang yang habis lari maraton.


"Yah," panggil Riana lagi. Tangis kedua kakak beradik ini langsung pecah mana kala Pak Bayan hanya menatap penuh tanya pasa mereka berdua.

__ADS_1


Terlihat jelas, pria itu ingin bertanya. Namun, ia kesulitan. Bayan terlihat meneteskan air mata. Sepertinya ia sedang menyesali sesuatu.


"Ayah kenapa? Kenapa ayah menangis?" tanya Riana takut.


Bayan tidak menatap Riana. Ia malah menatap Lando. Seakan ingin meminta sesuatu pada sang putra.


"Iya, Ayah mau ngomong apa? Ini Lando, Yah!" ucap Lando sembari mencium tangan pria yang selama ini selalu menyayanginya.


"Jaga kakakmu, ya!" pinta Bayan lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Lando dan Riana.


"Pasti, Yah! Lando pasti jagain kakak. Percayalah!" jawab Lando dalam isak tangisnya.


"Ria, maafkan ayah putriku. Karena ayah kamu jadi menderita begini!" ucap Bayan ketika menatap wajah sendu sang putri.


"Ria nggak pa-pa, Yah. Sungguh! Ria ikhlas," ucap Riana sembari memeluk tubuh Pak Bayan yang masih terbilabg gagah di usianya itu.


Seketika Riana pun menatap sang ayah dengan penuh pertanyaan. Mungkinkah sang ayah tahu tentang apa yang ia alami selama di rumah sang suami.


"Apakah Ayah mengetahui sesuatu?" tanya Riana serius.


"Ya, Ayah telah terima surat gugatan cerai yang harus kamu tanda tangani, di sana tertulis kamu mengajukan itu karena mengalami kekerasan fisik dan mental kan?" tanya Pak Bayan lagi.


Riana tak mampu menjawab. Sebab itulah kenyatannya. Wanita ayu ini hanya bisa menangis. Menangis karena tak mampu menjelaskan masalah ini kepada keluarganya.


Melihat sang kakak tak mampu menjawab pertanyaan sang ayah, Lando pun mendekati sang kakak dan mencecar wanita yang selalu ia sayangi itu dengan pertanyaan serius.

__ADS_1


"Katakan pada Lando, Kak. Apa yang pria itu lakukan padamu?" tanya Lando kesal.


"Sudah, Lan. Biarkan masalah ini kakak pendam sendiri. Mau bagaimanapun masmu adalah suami kakak. Tak baik membuka aibnya. Sudahlah, jangan diperpanjang lagi," pinta Riana sembari mengelus lengan sang adik. Berharap Lando bisa mengendalikan egonya.


Terlebih saat ini, mereka sedang di ruang gawat darurat. Riana hanya tak ingin menciptakan keributan.


"Tidak, Kak. Pokoknya, Lando mau bikin perhitungan dengan pria itu. Berani sekali dia menjatuhkan tangannya pada Kakak. Dia pikir, siapa dia!" ancam Lando geram.


"Sudah, Lan. Kakak bilang sudah ya sudah. Lagian Kakak sama dia kan udah pisah. Kami udah nggak bareng lagi. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Kakak udah nggak pa-pa. Luka-lukanya juga udah pada sembuh kok!" ucap Riana, tak sengaja wanita ini keceplosan di akhir. Yang artinya dia mengakui ada tidak kekerasan di dalam dirinya.


Lando menatap tajam ke arah Riana. Lalu, ia pun meminta sang kakak untuk menunjukkan padanya, bagian mana saya yang disentuh oleh pria bajingan itu.


"Tunjukkan pada kami, bagian tubuh kakak mana saja yang dia sakiti?" tanya Lando serius.


Riana menghela napas dalam-dalam. Lalu ia pun memeluk Lando. Agar sang adik tenang dan tak memikirkan apa yang telah ia alami.


"Tuhan itu adil, Lando. Kita tak usah pikirkan apa yang telah terjadi. Percayalah, siapa yang salah pasti akan dapat akibatnya. Begitupun yang benar, mereka pasti akan mendapatkan kebaikan dari kebenaran yang ia bawa. Anggap saja, aku dan masmu tidak jodoh. Sudah itu saja, nggak usah dipanjang-panjangin lagi. Yang penting saat ini, kita rawat ayah sampai sembuh. Udah gitu aja, kita mulai kehidupan kita dari awal lagi. Kakak yakin, kita pasti bisa!" ucap Riana panjang lembar. Berharap sang adik mengerti, bahwa dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan menambah masalah. Toh keluarga sang suami juga sudah baik padanya.


Riana bukan lah manusia yang tak tahu balas budi. Kalau dia mempersulit Langit, takutnya orang tua pria itu tak terima. Sedangkan mereka sudah banyak membatu keluarganya.


***


Di sisi lain, Minah langsung mengarahkan kameranya ketika melihat pria itu keluar dari kamar sang majikan.


Wanita paruh baya ini tersenyum. Sebab ia telah memiliki bukti untuk membuat wanita penghianat itu tidak berkutik.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2