Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Bantuan


__ADS_3

Sesampainya di apartemen milik Dilan, Langit langsung memarkirkan mobilnya di sana. Tak lupa, sebelum turun dari mobil, ia celingukan ke segala arah terlebih dahulu. Memastikan bahwa tak ada yang mengikutinya.


Kali ini, Langit harus benar-benar waspada. Karena tidak dipungkiri bahwa hidupnya dalam bahaya.


Merasa aman, ia pun langsung menghubungi Dilan bahwa dia udah sampai di apartemennya.


"Naik aja, Bang!" jawab Dilan dalam pesan teksnya.


Langit tak menunggu waktu lagi. Ia pun segera berlari kecil untuk menuju tlat di mana sahabatnya itu berada.


Tak lupa, ia pun memakai jaket hoodie nya, kaca mata dan juga masker untuk menutupi separo wajahnya. Agar tidak terlalu terdeteksi oleh CCTV.


Sesampainya di apartemen Dilan, Langit langsung memencet Bel yang tersedia di depan pintu tersebut.


Dari dalam, terdengar seseorang membuka pintu mobil dengan tombol yang bisa memonitor pintu itu.


"Masuk, Bang!" sambut Dilan dengan senyum tampannya.


"Makasih, Lan." Langit langsung masuk dan duduk di sofa milik sahabatnya ini.


"Mau minum apa, Bang?" tanya Dilan sopan.


"Nggak usah, Lan. Ini udah malam. Sebaiknya kita langsung aja bahas masalah kita," ajak Langit serius.


Dilan mengerutkan kening. Aneh saja dengan sikap Langit yang tiba-tiba terlihat tegang itu.


"Ada apa, Bang?" tanya Dilan.


Langit menatap sekilas lawan bicaranya. Mencoba menetralkan perasaannya. Mencoba percaya dengan seseorang yang saat ini ada di hadapannya.


"Cerita aja, Bang. Ada apa?" Dilan jadi ikut resah.


"Oke, semoga pilihanku percaya padamu nggak salah ya, Lan." Langit terlihat masih ragu.

__ADS_1


"Ya... saya nggak mungkin menghianati kalian, Bang. Ria udah banyak membantu saya. Membatu Non Raras. Mana mungkin kami menghianati kalian," jawab Dilan jujur.


Langit diam sesaat. Lalu ia pun kembali berucap, "Aku ada masalah dengan Ria, Lan." Langit menunduk sedih.


"Masalah? masalah apa, Bang. Ria nggak ada cerita tu?" tanya Dilan.


"Dia pergi lagi, Lan. Entahlah, aku bingung dengan istriku satu itu. Kebiasaan buruk. Tukang kabur," jawab Langit. Meskipun dalam ucapannya itu bernada marah, tapi tak menutupi bahwasannya saat ini dia terlihat sangat sedih.


"Kok bisa sih, Bang? Bukankah kalian lagi bucin- bucin nya?" Dilan menatap heran pada pria yang terlihat gelisah itu.


"Mungkin kami terlalu bucin, jadi diuji seperti ini." Langit mengeluarkan dia ponsel yang ada di kantong jaketnya.


Dilan diam sesaat. Karena tak ingin mati penasaran, ia pun memperjelas apa yang sebenarnya terjadi.


"Bisa jelaskan pada saya, Bang! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dilan lagi.


Langit menatap sekilas sahabatnya. Lalu ia pun memutar Video yang merekam adegan tidak senonoh itu. Bukan berniat pamer, hanya saja ingin tahu pendapat orang lain tentang ini.


"Matamu!" Langit mengumpat kesal. Lalu ia pun segera mematikan adegan tersebut.


Dilan terkekeh, menurutnya Langit memang menyeramkan ketika marah. Namun tetap terlihat cute. Patesan saja Riana tergila-gila.


"Kamu yakin aku minum obat waktu melakukan itu?" pancing Langit.


"Menurutku sih begitu, terlihat butiran-butiran peluh yang nggak biasa. Itu sering kita lihat di kasus-kasus peminum obat perangsang, Bang!" jawab Dilan, sesuai dengan apa yang ia tahu tentang obat-obatan gila tersebut.


"Makasih kalo kamu percaya bahwa aku meminum sesuatu yang beres. Di situ aku dijebak, Lan. Kamu percaya nggak sama aku?" Langit menatap Dilan.


"Ye, why not?" Dilan membalas tatapan itu.


"Oke! ini adalah ponsel milik pria biadap yang menjebak ku. Tapi di sini aku curiga, dia melakukannya karena suruhan seseorang. Boleh aku minta tolong timmu untuk menyelidiki orang dibalik tindakan kurang ajar ini!" pinta Langit langsung pada pokok permasalahan yang sedang ia hadapi.


"Wait, Bang! Kira-kira selain mantan istri abang dan juga kekasihnya, Abang punya musuh siapa lagi?" tanya Dilan, hanya ingin memastikan, siapa tahu Langit memang memiliki musuh selain mereka berdua.

__ADS_1


"Eemmmm... rasanya nggak ada!" jawab pria tampan itu.


"Ini sedikit janggal, Bang. Tapi memang harus kita usut. Coba sini kita periksa," pinta Dilan. Lalu pria ini pun mulai mengecek satu persatu kontak yang ada di dalam ponsel tersebut.


Namun, di dalam ponsel tersebut mereka tidak menemukan satupun nomer kontak yang mereka curigai.


"Nggak ada yang mencurigakan, Bang!" Dilan meletakkan ponsel tersebut.


"Pesan teks mungkin?" jawab Langit.


Tanpa disuruh, Dilan kembali mengambil ponsel tersebut dan mulai memeriksa satu persatu pesan teks yang ada di dalam ponsel tersebut. Sayangnya lagi-lagi mereka gagal. Tak ada satupun pesan teks yang tersimpan. Alias sudah dihapus setelah pemakaian.


"Brengsek! Si pemilik cerdas bener! Dia hapus semua chatingan dia," umpat Dilan kesal.


"Minta aja temenmu yang ahli di bidang ini. Bukankah kamu punya?" ucap Langit.


"Wah Oke, Bang siap," jawab Dilan. Lalu ia pun segera menghubungi seseorang yang di maksud oleh Langit.


Sambil menunggu seseorang itu mau bekerja sama, Langit pun kembali menceritakan detail masalahnya dengan Riana. Siapa tahu Dilan punya solusi untuk menghadapi wanita tukang kabur itu.


"Selain adiknya, kira-kira dia punya keluarga lagi nggak?" tanya Dilan.


"Ada sih, di Lamongan sana! Tapi sebaiknya aku ke Surabaya dulu. Sebaiknya adiknya tahu dariku. Aku harus jelaskan mengapa kakaknya kabur. Aku nggak mau adiknya tahu dari orang lain. Bukankah begitu?" ucap Langit, yakin.


Ya, Langit memang tak ingin kembali di anggap pecundang oleh keluarga Riana. Apapun yang terjadi, ia harus tetap bertanggung jawab atas wanita itu. Atas apa yang telah terjadi. Atas apa yang telah ia sepakati.


"Abang benar, sebaiknya abang memang pergi menemui adiknya. Mau bagaimanapun masalah ini harus segera diluruskan," dukung Dilan.


Mereka berdua pun tersenyum sekilas. Meskipun hatinya serasa getir, Langit tetap berusaha menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya.


Langit menganggu ini adalah fase di mana dia memang harus melewatinya. Sebelum kebahagiaan abadi akan datang memeluknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2