Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Ingin Lebih Baik


__ADS_3

Menerima kabar yang dibawa sama putra, tentu saja membuat Nana dan Dayat terkejut. Bagaimana tidak? Akting Yuta benar-benar sempurna menurut mereka. Sampai mereka tidak bisa membaca bahwa apa yang terjadi pada Yuta itu hanyalah sebuah rekayasa. Hanya sebuah tipuan yang sengaja diciptakan oleh wanita jahat tersebut.


"Bagaimana langkahmu selanjutnya, Langit?" tanya Dayat pada sang putra.


"Sekarang dia mungkin sedang menjalani BAP, Pa. Langit nggak akan tinggal diam. Lihat saja, Langit bakal kasih perhitungan sama wanita itu. Langit juga sudah meminta pak Krisna untuk mengurus surat perceraian Langit dengan Yuta, " jawab Langit dengan tatapan kesal. Terlihat jelas saat ini Langit begitu membenci Yuta.


Dayat langsung tersenyum, sebab ia senang dengan sikap tegas sang putra. Dayat suka, bahwa Langit ternyata bukan pria melo yang suka bertele-tele.


"Papa suka dengan keputusanmu kali ini. Tapi bagaimana dengan gugatan Riana terhadapmu, apakah kamu juga akan menyetujui permohonan Riana?" tanya Dayat lagi.


"Sepertinya, Langit mau fokus pada masalah Langit dan Yuta dulu, Pa. Baru nanti Langit cari Riana. Emmm, bolehkah Langit minta alamat Ria, Ma. Langit mohon!" pinta bapak satu anak ini sungguh-sungguh.


Dayat dan Nama saling menatap. Tentu saja ia mereka ragu dengan permintaan Langit. Mau bagaimana pun, mereka harus tetap menghormati keputusan Riana untuk berpisah dengan putra mereka.


Namun, ketika mereka melihat masalah yang memebelit putra mereka, tentu saja rasa tak tega itu langsung hadir. Rasa kasihan akan nasib yang menimpa sangat putra membuat kedua sepasang suami istri itu ingin membantu mencarikan obat pelipur lara. Mereka pun berharap pada Riana, siapa tahu kebaikan hati wanita itu mampu membuat luka hati sang putra terobati.

__ADS_1


"Papa memang tidak berjanji untuk tidak memberi tahu kamu soal keberadaan Riana. Tapi Papa berjanji tidak akan menggusik kehidupan pribadinya lagi. Kalo kamu meminta kami untuk memberi tahu alamatnya, sebaiknya mana sama papa tanyakan dulu ke dia, apakah dia mau bertemu denganmu apa tidak. Kamu paham kan maksud kami?" jawab Dayat memperjelas.


"Baik, Pa. Langit akan menunggu kabar dari kalian. Tapi Langit berharap, Langit bisa secepatnya bertemu dengan, Ria. Agar rasa bersalah ini segera berkurang. Setidaknya, Langit bisa berusaha meminta maaf dan memperbaiki kesalahan Langit pada Ria," jawab Langit sungguh-sungguh.


Dayat dan Nana kembali diam, karena mereka juga sedang berada di dalam dilema. Mereka tak mungkin mengingkari janji untuk tidak mengusik anak mantu mereka itu. Namun, mau bagaimana lagi, Langit adalah putra mereka. Tentu saja, rasa bersalah itu akan hadir jika sampai mereka tidak bisa mempertemukan sang putra dengan istri keduanya. Mau bagaimanapun saat ini, Riana juga masih istri sah, Langit.


"Sebaiknya kamu fokus satu-satu saja, Langit. Setelah itu barulah kamu temui Ria. Syukur-syukur dia masih mau kembali sama kamu. Karena aku lihat dia juga lebih telalen ngadepi Ara. Lebih sabar dan lebih sayang dari pada ibunya sendiri, bener kan Ma penilaian, Papa?" Jawab Dayat tak kalah sungguh-sungguh.


"Papa benar, Mama melihat, Ria jauh lebih keibuan dibanding Yuta. Semoga saja Ria mau berbaik hati kembali untuk menjadi ibu untuk Ara," ucap Nana berharap.


Menyinggung soal Ara, Langit ingin mengutarakan kecurigaannya. Namun ia juga ragu. Kasihan sekali bayi itu jika sampai terbukti bukan putrinya. Langit hanya tak tega saja.


Suasana menjadi hening, namun tiba-tiba ia teringat dengan kakak dari menantu mereka yang berprofesi sebagai pengacara itu.


"Lalu, bagaimana dengan abang dari istrimu. Kamu nggak takut padanya?" tanya Nana sedikit tak tenang dengan keputusan sang putra yang ingin menjebloskan Yuta ke dalam penjara.

__ADS_1


"Tentu saja Langit nggak akan mundur, Ma. Biarpun abangnya seorang pengacara sekalipun!" jawab Langit tegas.


Sekali lagi, Langit sudah berniat. Maka gak ada lagi alasan baginya untuk mundur. Langit hanya yakin, jika kebaikan pasti akan di balas kebaikan pula.


***


Di sisi lain, Riana dan Raras sudah memantapkan hati mereka untuk berangkat ke negara tujuan, dini hari ini. Mereka tak ingin mundur lagi. Terlebih Raras juga berjanji pada Riana untuk mendapatkan salah satu karyanya untuk mengikuti salah satu Event bergengsi tersebut. Dengan senyum yang menawan, Riana pun bertanya pada sang majikan.


"Apakah, Non Raras yakin mau mengikutkan karya recehan saya ke ajang itu?" tanya Riana pada Raras.


"Iya, Ri. Astaga! Tapi kalo kamu menang harus siap ikut pelatihan lagi ya!" jawab Raras tegas.


"Asalkan Non izinkan, saya ma mau aja, Non!" jawab Riana dengan senyuman penuh harapan.


"Oke, kita lihat nanti enaknya gimana, ya. Kan prioritas kamu baby ini," jawab Raras lagi sambil mengelus perut buncitnya.

__ADS_1


Raras tak memaksa, sebab ia juga membutuhkan Riana untuk menjaga bayinya.


Bersambung...


__ADS_2