
Nana menghapus air matanya ketika sang suami membuka pintu kamar mereka. Ia pun mendekati sang suami dan membantu pria itu membuka jaketnya.
"Papa dari mana?" tanya Nana lembut. Tentu saja agar suaminya tidak marah.
"Papa coba cari kerja, Ma. Nggak enak nganggur gini terus. Sakit semua badan, Papa. Tapi nggak ada yang mau nerima. Papa udah ketuaan," jawab Pak Dayat, sedih.
"Nggak pa-pa, Pa. Kita jalani dulu, pelan-pelan. Sing ikhlas, Mama yakin semua pasti ada jalannya. Rezeki nggak akan ketuker, Pa. Rezeki nggak akan salah rumah," ucap Nana sembari memberikan senyum termanis nya pada sang suami.
"Makasih atas pengertianmu, Istriku. Maafkan, Papa ya, Ma. Sering marah-marah nggak jelas. Sering diemin Mama. Papa tu sebenernya mikir, gimana cara bisa dapetin uang buat Mama, buat Ara. Maaf ya Ma. Maafkan Papa," ucap Pak Dayat sembari memeluk sang istri.
"Iya, Pa. Mama ngerti. Mama paham Papa itu orangnya kek gimana. Sudah, yuk istirahat. Papa udah makan belum? Udah sholat belum?" tanya Nana lagi.
"Sholat udah, Ma. Tapi makan belum. Belum enak aja rasanya. Papa masih kepikiran gimana caranya supaya Papa bisa menghidupi Mama sama cucu kita ini." Pak Dayat melepaskan celana panjangnya dan menggantinya dengan celana pendek, seperti yang ia biasa gunakan ketika tidur.
"Iya, Mama ngerti. Mama juga pengen jualan, Pa. Tapi jualan apa enaknya?" tanya Nana langsung dengan apa yang dia pikirkan. Sebab ia sendiri juga ingin membantu meringankan beban sang suami.
"Andai punya modal, Papa pengen jualan martabak lagi, kayak dulu, waktu masih muda. Seperti Pas pertama kali ketemu, Mama," jawab Pak Dayat sembari merebahkan tubuhnya ke kasur lantai lantai miliknya.
"Mama ada Pa, modal. Tapi itu punya Ara," jawab Nana mulai mau terbuka soal Riana.
Dayat menatap sang istri heran. Seperti tidak percaya dengan apa yang istrinya ucapkan.
"Kenapa Papa ngliat Mama sampai seperti itu? Ada yang salah, Pa?" tanya Nana sembari membalas tatapan mata sang suami.
"Bukan? Papa heran aja. Dari semua orang yang ada di rumah ini, kenapa Ara yang punya duit Ma. Sedangkan Langit yang kerja sampai jam segini aja, satu minggu baru dia punya duit!" jawab Dayat makin merasa aneh. Makin merasa bahwa sang istri halu. Ngaco.
__ADS_1
"Ye.... Papa meremehkan bayi cantik ini. Dia tajir sekarang, Pa. Cucumu Sultan sekarang. Gantiin posisi kita," Jawab Nana sembari terkekeh. Sebab wajah sang suami, menurutnya sangat mengemaskan.
"Hah, dah ah... Papa mau tidur. Mama makin ngawur aja. Mama udah konslet." Pak Dayat memiringkan tubuhnya. Memunggungi sang istri. Lalu memejamkan matanya.
Sedetik kemudian, Nana memeluknya dari belakang dan menganggu nya.
"Papa nggak percaya sama Mama, kalo cucu kita tajir sekarang?" canda Nana sembari menggoda sang suami.
"Udahlah, Ma. Mama jangan halu," jawab Dayat mulai kesal.
Nana tersenyum, Lalu untuk membuktikan bahwa dirinya tidak halu, Nana pun mengambil ponselnya dan menunjukkan bukti transaksi pengiriman uang yang ada di ponselnya.
"Ni, Pa. Kalo Papa nggak percaya," ucap Nana.
Dayat melirik sekilas barisan kata yang ada di ponsel sang istri. Dayat sedikit tercengang dengan nominal angka yang tertera di antara barisan kata tersebut.
"Ini bukan dari maminya. Tapi dari mamanya," jawab Nana santai tapi serius.
"Bukan dari maminya tapi dari mamanya, piye to Ma. Papa nggak paham," jawab Dayat bingung. Untuk menyamankan perbincangan mereka, Dayat pun memilih bangun dan duduk di kasur lantai miliknya. Sedangkan Nana sendiri juga memilih duduk bersanding menemani sang suami.
"Iya, Pa. Ini uang Ara, dari mama Iya," jawab Nana jujur.
Dayat semakin tidak percaya. Mana mungkin Riana mengirimkan uang utik Ara dengan nominal yang tak masuk akal menurutnya.
Hari itu ketika mereka mengantarkan Riana ke Surabaya, Sayat hanya memberi Riana uang saku sebanyak sepuluh juta. Lalu, tak berapa lama ayahnya meninggal. Sudah pasti uang itu digunakan oleh Riana untuk mengurus pemakanan sang ayah. Dan sekarang, sang istri memberi tahu dirinya, bahwa Riana mengirim uang untuk Ara, senilai lima puluh juta. Bukankah ini mustahil.
__ADS_1
"Nggak, nggak, nggak. Papa nggak percaya dengan apa yang mama ucapkan. Papa yakin mama Halu. Mama halu, Mama halu," ucap Dayat meremehkan. Tak ingin terlalu ambil pusing dengan kabar itu, Dayat pun memilih berbaring dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Pa, Mama nggak bohong. Ini seriusan, uang ini dari Ria. Jadi ceritanya, Riana itu udah desain baju, mau dia bikin baju itu buat Ara. Ehhh, belum sempat dia buat, Langit bikin ulah. Akhirnya dia nggak sempet, Kan. Lalu, desain itu dia ikutkan lomba. Ehhhh, menang. Terus dia nelpon Mama katanya desain itu untuk Ara, jadi hadiahnya juga buat Ara. Begitu. Sumpah Pa, Mama nggak bohong," ucap Nana menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Dayat hanya diam. Mencerna setiap kata yang diucapkan oleh sang istri. "Mama serius?" tanya Dayat pada Nana.
"Serius, Pa. Ni coba Papa lihat piagam sama hadiah yang Ria terima. Mama ada buktinya, Ni kalo Papa nggak percaya sama Mama." Nana pun menunjukkan semua bukti-bukti yang ia miliki, agar sang suami tidak mencurigainya.
Dayat mengambil ponsel itu dan mens roll pesan yang di kirimkan Riana untuk sang istri. Di sana juga ada chat dari Riana perihal reward yang ia persembahkan untuk Baby Ara.
Dayat tertegun, tak percaya. Atau lebih tepatnya malu. Bagaimana tidak? Sang putra sudah menolak gadis itu mentah-mentah. Namun ketika ia mendapatkan rezeki lebih, dia langsung ingat pada putri sambungnya. Bukankah ini sebuah ketulusan yang luar biasa.
"Kenapa Papa diam? Papa percaya kan sekarang sama Mama?" tanya Nana lagi.
"Percaya, Ma. Tapi Papa malu. Jika apa yang Mama katakan ini adalah sebuah kebenaran, sungguh Papa malu, Ma!" ucap Dayat sembari menangis haru.
"Mama serius, Pa. Mama mana berani berbohong sama, Papa. Tapi Riana berpesan, jangan kasih tahu Langit.Dia nggak mau Langit tahu. Dia takut Kangit tersinggung dan marah padanya. Papa mau kan berjanji perihal ini?" Nana menatap sang suami serius.
Dayat mengangguk menyetujui. Meskipun jujur dia masih belum percaya ini. Dayat penasaran dengan kebenaran kabar tentang Riana ini.
***
Di dalam pesawat yang membawanya ke Belanda. Riana menangis. Karena bukan hanya buku penting itu yang tertinggal, tetapi juga ponselnya.
Riana terlalu buru-buru hingga ia memasukkan ponsel itu ke tas tenteng nya. Bukan tas slempang nya.
__ADS_1
Bersambung.....