
Riana sudah sampai di apartemen mewah milik Raras. Wanita cantik yang kini sedang hamil tua itu, sepertinya dia sedang senang. Raras terlihat asik dengan tontonan yang ada di layar monitor laptopnya.
Dengan penuh sopan santun, Ria pun menyapa wanita yang kini telah resmi menjadi majikannya itu.
"Selamat malam, Non!" sapa Riana kepada Raras yang saat ini sedang duduk di sofa sembari menonton televisi dan menikmati secangkir susu yang ia buat sendiri itu.
"Selamat malam, Ria. Mari masuk!" jawab Raras sembari berusaha bangun dari tempat duduknya. Dengan cepat, Riana pun membantu wanita itu untuk bangun.
"Terima kasih, Ria!" ucap Raras.
"Sama-sama, Non!" jawab Riana.
"Siapa yang jemput kamu tadi, Pak Hen ya?" tanya Raras dengan senyum ramahnya.
"Iya, Non. Beliau yang jemput saya. Surat-surat yang dibutuhkan juga sudah saya kasih ke beliau. Oiya Non, tadi Bude saya, bawain sea food. Apa Non mau?" tanya Riana pada sang majikan.
"Sea food, aku suka sekali itu Ria. Sayangnya di sini nggak ada yang pandai masak. Kamu bisa nggak masaknya?" Raras kembali tersenyum.
"Bisa, Non. Mau saya masak untuk Non, sekarang?" tanya Riana.
"Boleh Ria, pas banget aku lagi laper. Dari tadi bingung mau pesen makan apa. Sepertinya bayiku lagi malas makan. Nungguin pengasuhnya kasih makan ini," ucap Raras sembari tertawa dan mengelus perut buncitnya.
Riana hanya tersenyum. Sungguh, ia merasa tersanjung, belum apa-apa sudah dipercaya untuk mengasuh bayi yang belum lahir. Padahal, ini baru pertemuan kedua mereka, tapi Raras seperti tak menciptakan jarak di antara mereka. Mereka malah terlihat seperti teman yang akrab. Seperti seseorang yang sudah kami kenal.
Riana segera membatu Raras menyiapkan tempat duduk untuk wanita cantik itu. "Makasih, Ria. Kamu baik sekali!" puji Raras sembari tersenyum manis.
__ADS_1
"Sama-sama, Non. Jangan sungkan!" jawab Riana dengan senyum super iklhasnya.
"Kamu asli Jakarta ya, kok bisa kenal Pak Herman?" tanya Raras. Wajar jika ia ingin tahu asal usul seseorang yang kini bekerja padanya.
"Iya, Non. Saya lahir dan besar di Jakarta. Ayah saya asli Lamongan. Ibu saya orang Bogor. Pak Herman itu kakak kandung ayah saya," jawab Riana jujur.
"Oh, pantesan. Terus ayah sama ibu kamu masih ada?" tanya Raras lagi.
"Ibu sudah berpulang saat saya umur sepuluh tahun, Non. Kalo ayah baru beberapa hari yang lalu," jawab Riana sembari meminta izin untuk membuka kulkas milik sang majikan.
"Kita berdua sama, Ria. Udah yatim piatu," jawab Raras sembari tersenyum.
"Iya, Non. Jika Allah sudah berkehendak kita bisa apa selain ikhlas menjalani. Semua pasti ada waktunya." Riana juga ikut tersenyum.
"Sabar, Non. Tuhan tidak tidur. Percayalah Non pasti bisa jagain dan gedein dia sendiri. Non kan wanita hebat," jawab Riana mencoba menguatkan.
Raras tersenyum kecut. Sebab, pada kenyataannya dia memang harus kuat demi bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Kamu benar Ria, demi bayi ini aku harus kuat. Tapi aku sudah berjanji, tidak akan mengizinkan pria jahat itu melihat apa lagi menyentuh bayiku. Dia sudah menolaknya, maka jangan pernah berharap untuk mendapatkannya," ucap Raras serius.
Riana tak bisa menjawab apapun jika begini. Sebab itu adalah hak Raras. Sebagai orang lain, apa lagi pekerja, Riana hanya punya kewajiban mendengarkan. Bukan menghakimi.
"Yang penting Non ikhlas dan jaga kesehatan buat bayi itu," jawab Riana. Hanya kalimat itu yang bisa ia keluarkan untuk menguatkan hato wanita yang kini terlihat rapuh itu.
"Ya, hatiku memang harus ku setting demikian, Ria. Kamu berapa bersaudara?" tanya Raras lagi.
__ADS_1
"Saya berdua dengan adik saya, Non. Adik saya cowok. Masih kuliah. Tapi pas ayah meninggal, malah dia nggak mau lanjut kuliah. Maunya malah kerja. Ya udah lah suka-suka dia aja." Riana mulai mencuci ikan-ikan yang hendak ia masak.
"Oh, ya nggak pa-pa, kalo dia ada skill. Emang adikmu kerja apaan?" Sepertinya Raras sangat nyaman bercengkrama dengan Riana. Mungkin karena mereka seumuran.
"Dia sekrang jadi model salah satu brand di Indo, Non. Saya juga nggak begitu ngerti dengan dunia permodelan. Jadi nggak bisa jawab banyak," jawab Riana jujur.
"Ohhh, adikmu model. Boleh lah kapan-kapan kenalin ke aku. Siapa tahu dia mau jadi model di perusahaan milikku," ucap Raras.
"Oh, Non usahanya di bidang fashion juga. Kebetulan sekali, saya juga hobi desain baju sama jahit Non. Kali aja Non mau pakai desain saya," ucap Riana sembari bercanda.
"Hah, kok bisa kebetulan gini sih hobi kita. Baiklah, nanti kapan-kapan aku lihat desain kamu deh. Oiya, kamu siap kan tinggal di Italia selama lima bulan bersamaku. Habis itu kita balik ke sini, lalu kita bakalan banyak jadwal ke luar negeri, Ra. Kamu siap kan, jangan ngeluh, aku pecat kamu kalo sampai ngeluh," ucap Raras. Terdengar bercanda, tapi Riana tahu jika Raras serius.
"Tenang Non, saya udah tahan banting kalo soal itu," jawab Riana, dengan senyum manisnya tentunya. Sedangkan Raras hanya tersenyum, tapi dia percaya bahwa Riana bisa diandalkan.
***
Minah tersenyum riang ketika ia dan Ara di suruh menginap di rumah Nana dan Dayat. Di sana ia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Langit menyadari bahwa saat ini dia sedang ditipu habis-habisan oleh Yuta.
Minah berjanji, kali ini ia benar-benar akan membuat mata pria itu terbuka lebar untuk mengetahui fakta yang terjadi pada rumah tangganya.
Minah sengaja meninggalkan beberapa barang Ara. Agar nantinya ada yang mengantarkannya pulang di jam biasanya kekasih Yuta datang.
Di situ, ia akan mematikan kalau Langit harus membukakan pintu untuknya. Agar Minah dengan mudah menunjukkan kebusukan Yuta. Namun, sebelum itu. Minah harus memastikan Langit tidak meminum obat tidur yang diberikan oleh Yuta.
Bersambung.....
__ADS_1