Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Nasehat Terbaik


__ADS_3

Keesokan harinya...


Riana langsung memesan tiket untuk terbang ke Jogja. Di sana Bi Minah dan sang putra yang saat itu kecelakaan sudah menunggu di bandara.


Jujur, hati Bi Minah harap-harap cemas. Bagaimna tidak? Beliau sudah lama tidak berhubungan dengan keluarga sang majikan, karena ponselnya keriset dan beberapa kontak hilang. Maklum, Bi Minah sudah tua, gaptek pula. Jadi begitulah, dia pasrah dengan keadaan yang kini sedang ia jalani.


Tepat puluh satu siang waktu setempat, pesawat yang membawa Riana dan banyak Shanshan mendarat sempurna di bandara kota Jogja.


Senyum merekah indah dibarengi dengan lelehan air mata mengiringi pertemuan pertama mereka setelah sekian lama berpisah.


Dengan membawa penuh harapan, Minah bisa mengerti dirinya, Riana pun segera memeluk Minah. Karena hanya wanita paruh baya itulah harapan satu-satunya dirinya untuk bersandar saat ini.


"Non, apa kabar? Serius, Bibi senang, Non datang," ucap Bi Minah sambil memeluk erat mantan majikannya ini.


"Ria baik, Bi. Bibi gimana, sehat juga kah?" tanya Riana sembari menghapus sisa-sisa air mata yang ada di sudut matanya.


"Baik, Non. Oiya, Non. Kenalin ini Opik, anak Bibi," ucap Bi Minah sembari meminta keduanya bersalaman.


Tak mengulur waktu lagi, mereka berdua pun bersalaman.


"Ayo kita ke mobil! Pik, bantu Non kita bawa barang-barangnya ya!" pinta Bi Minah kepada sang putra. Kemudian pemuda tampan itupun segera membawa barang-barang milik Riana ke dalam bagasi mobil yang akan mereka tumpangi.


"Wah, Bibi punya mobil?" tanya Riana.

__ADS_1


"Ah, enggak, Non. Ini punya majikan si Opik. Kami sewa," jawab Bi Minah jujur.


"Ooo, kirain," balas Riana. Mereka diam sejenak, menunggu Opik menyelesaikan tugasnya.


"Non, maaf kalo Bibi nggak sopan, boleh nggak Bibi tanya. Non ini sebenarnya kenapa? Terus ini babynya siapa?" tanya Minah, kali ini merek dalam mode serius.


"Ria kesel ama mas Langit, Bi. Mas Langit keterlaluan," jawab Riana jujur.


Minah mengerutkan kening heran. Bagaimana tidak? Setahu Minah, Riana dan Langit sudah tidak lagi bersama.. Lalu?


"Memangnya Non masih berhubungan dengan keluarga mereka?" Minah yang penasaran, tentu saja harus meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah begitu.


Tak ingin berbelit-belit, akhirnya Riana pun menceritakan dari awal apa dan bagaimana ia bisa kembali bersama dengan Langit. Lalu, terjadilah maslah yang membuatnya marah kepada pria itu.


Riana diam sejenak, lalu ia pun tak menampik ucapan itu. Bisa saja apa yang dikatakan Minah adalah kebenaran dari kasus ini. Namun, namanya hati. Namanya cemburu. Mau gimana?


"Kalo saran, Bibi. Sebaiknya Non telpon aden, kasih tahu kalo Non di rumah, Bibi. Mau nenangin diri gitu! Biar aden nggak nyariin. Kasihan dia Non, kalo seandainya doa difitnah. Kalo pun itu kejadian bener, real aden yang mau, pasti dia bakalan jelasin apa yang sebenarnya terjadi," tambah Bi Minah.


Kali ini Riana bertambah dilema. Ucapan Minah menurutnya sangat benar. Namun, sekali lagi, Riana gengsi. Gengsi mengakui kalo di sini dirinya salah. Karena main kabur aja.


"Biarin dia nyariin, Bi. Ria benci sama dia," jawab Riana.


Dari jawaban tersebut, Bi Minah yakin jika Riana kelewat cemburu. Itu sebabnya ia gengsi untuk mengakui bahwa sebenarnya dia juga tidak percaya dengan video yang telah dikirim seseorang kepadanya itu.

__ADS_1


"Boleh benci, Non. Boleh marah! Karena pada kenyataannya den Langit juga tidak sepenuhnya benar. Tetapi itu tadi, saran Bibi, ya diselesaikan secara dewasa. Nggak boleh lo Non kalo istri sama suami bertengkar atau ada masalah langsung kabur. Itu namanya bukan menyelesaikan masalah tapi malah nambah masalah."


Jujur, Minah sangat kasihan pada Riana, apa lagi Langit. Pasti pria itu saat ini sedang kalang kabut mencari istri dan juga anak angkat mereka.


"Jadi Ria harus gimana, Bi?" tanya Riana bingung.


"Sementara, Non tinggal sama Bibi aja di sini. Tenangin diri. Nanti kalo udah legaan, telpon Den Langit, kasih tahu kali Non ada di tempat Bibi. Biar beliau nggak nyariin," jawab Minah menyarankan.


"Nggak mau, dia jahat. Dia selingkuh, Bi," tolak Riana.


"Kan tadi Bibi bilang, kasusnya tidak sesimpel itu, Non. Pokonya gini aja, Nanti kalo Non malu atau nggak mau telpon Den Langit, biar Bibi saja yang telpon. Kasihan Non, kalo nyariin. Lah, nanti kalo sumber permasalahannya sudah jelas, baru deh Non ngambil keputusan, ya!" tambah Bi Minah lagi.


Riana diam. Mencoba menerima nasehat dari wanita yang telah ia anggap ibu kandungnya sendiri ini. Jujur, dari lubuk hati yang terdalam, Riana sama sekali tidak percaya dengan rekaman video itu. Tetapi bagaimana, semua nyata di depan mata. Langit bercinta dengan wanita lain selain dirinya. Bukankah ini keterlaluan.


***


Di sisi lain, Langit dibantu oleh Tim Dilan masih serius menjalankan misi mereka. Bahkan demi menemukan dalang dibalik jebakan ini, mereka sampai tidak tidur sampai detik ini.


Mereka sungguh brengsek, banyak sekali sandi-sandi dan kode-kode yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.


Membuat Langit dan orang-orang yang kini membantunya dibuat pusing bukan kepalang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2