Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Tanpa Sadar Telah Terikat


__ADS_3

Gelapnya malam telah berganti dengan indahnya sinar mentari. Angin pun berembus lembut menyapa dedaunan. Namun, suasana syahdu itu tak berpengaruh sedikitpun untuk pria bernama Langit ini.


Harapannya hancur ketika mendengar kabar terakhir wanita yang sedang ia cari. Riana sudah tidak ada di rumah itu lagi. Wanita itu tidak kembali lagi setelah orang tuanya meninggal. Para tetangga pun tidak tahu ke mana gerangan wanita itu pergi.


Langkah awal yang Langit tempuh saat ini hanya bisa kembali meminta bantuan pada kedua orang tuanya, selaku orang yang membantu Riana keluar dari rumahnya.


"Pa! Ini Langit," ucap bapak satu anak ini. Suaranya tersengar serak, karena kekhawatiran kini sedang merasuk ke dalam jiwanya.


"Iya, Langit. Bagaimana? Apakah Riana mau memaafkanmu?" tanya Pak Dayat langsung pada inti pembicaraan mereka.


Langit diam sejenak. Mencoba menahan air mata yang kini mulai muncul di pelupuk matanya.


"Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan Papa, Langit. Gimana? Apakah Ria mau kembali bersamamu?" ulang Pak Dayat.


"Ria sudah nggak tinggal di situ lagi, Pa. Ria sudah pergi." Kali ini air mata pria ini tak dapat ia bendung lagi. Lagi-lagi penyesalan dan hanya penyesalan yang tertancap di dalam otaknya. Hati dan jiwanya teremas kalut. Langit goncang.


"Astaghfirullah hal azim!" pekik pak Dayat, terkejut. Bagaimanapun tidak? Ia begitu tenang. Karena ia yakin, Riana tak akan pergi ke mana-mana tanpa izin terlebih dahulu darinya. Sedangkan kenyatannya, Riana malah meninggalkan keluarganya tanpa kata.


"Maafkan, Papa, Langit! Sungguh, Papa tidak tahu soal kepergian istrimu. Padahal, Papa berpesan padanya, jangan ke mana-mana sebelum akte cerai kamu terima. Karena sebelum akte itu keluar, kamu masih istri sah, Langit. Itu yang Papa katakan ketika papa dan mama meninggalkannya di rumah itu. Tapi.... tapi... sungguh, ini diluar dugaan, Papa, Langit. Maafkan Papa," ucap Dayat seperti merasa bersalah kepada sang putra.


Niatnya untuk membuat Langit jera, sepertinya malah salah. Sang putra, yang saat ini sedang berada di dalam dilema yang luar biasa. Tiba-tiba harus menanggung derita untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Istri pertamanya begitu kurang ajar sampai berani menginjak harga diri sang putra. Lalu istri keduanya, proses perceraian belum berakhir, tapi juga sudah berani melangkah meninggalkannya. Ibarat jatuh, Langit juga tertimpa tangga. Dayat hanya bisa meneguk kasar salivanya. Sebab ia sendiri juga tak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Pa!" ucap Langit lagi. Dayat tersentak dalam lamunan yang tergenang di dalam rasa bersalah.


"Ya, Putraku," jawab Dayat, terdengar lemah. Karena dia masih belum menguatkan hatinya perihal kenyataan ini.


"Kira-kira, Papa kenal nggak orang yang bisa kita tanya soal mereka. Barang kali keluarganya yang ada di kampung?" tanya Langit penuh harap.


Pak Dayat dia sesaat. Mencoba mengingat, barang kali Bayan pernah bercerita tentang asal usulnya. Namun sayang, Pak Dayat tidak mengingat apapun tentang mantan sopir pribadinya itu. Sebab setahu dirinya, Bayan memang asli Jakarta.


"Kamu kan tahu Langit, Bayan memang orang Jakarta, Kan. Soal yang lain, Papa nggak tahu," jawab Pak Dayat jujur.


"Maafkan, Papa, Langit. Sungguh, Papa tidak tahu jika keadaanya akan menjadi serumit ini," ucap Pak Dayat lagi. Menyesal pastinya.


"Papa nggak perlu semenyesal itu, Pa! Ini semua tak luput dari kesalahan Langit sendiri. Seandainya Langit tidak terbakar oleh permainan Yuta, Mungkin Ria masih bersama kita." Langit menutup mulutnya sedih.


"Astaga, Langit. Sebentar, bos tempat terakhir Bayan bekerja kan teman, Papa. Coba Papa tanyakan. Barang kali beliau tahu di mana Bayan dikebumikan," ucap Pak Dayat sembari mengutak atik satu ponsel lagi yang ada di depannya.


"Terima kasih, Pa. Langit menunggu kabar dari, Papa!" ucap Langit penuh harap.


Sambungan telpon pun mereka putus. Karena Pak Dayat harus menghubungi teman dekatnya itu. Barangkali beliau tahu di mana Bayan dimakamkan.

__ADS_1


***


Di sudut ruang yang lain, ada Riana yang terus berusaha sekuat tenaga melawan gejolak hati yang ia rasakan.


Beberapa hari ini ia merasa bersalah karena meninggalkan Indonesia tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang suami.


Mau bagaimanapun, saat ini dia masih dah istri pria itu. Walaupun, bisa dikatakan bahwa hubungan mereka telah retak. Tetapi tetap saja, ridho dari sang suami, bagi Riana adalah yang utama.


Riana tahu, sangat-sangat posisinya di hati Langit. Namun, ijab qobul yang berarti perjanjian sehidup semati dirinya dengan pria itu telah diikrarkan. Maka salah, jika dia melangkah tanpa meminta izin terlebih dahulu pada pria itu.


"Ya Tuhan! Ampuni aku!" pinta Riana dalam sujudnya. Ia memang benci sang suami. Ia memang tidak menginginkan pria itu. Namun, sekali lagi, pada kenyataannya kepatuhanya kepada pria itu telah menjadikan kebiasaan yang menghadirkan rasa ikhlas di dalam hati wanita itu.


Terlebih akan tugas dan tanggung jawab yang Langit percayakan kepadanya.


Andaikan saat itu ia tidak cepat mengambil keputusan. Mungkin penyesalan tidak akan menghinggapi nya saat ini. Ya, Riana menyesal karena tidak menunggu keputusan yang akan Langit berikan pada hidupnya.


"Tuhan! Jika dia memang jodohku, tolong jaga dia untukku. Namun, jika tidak, maka tolong! Jauhkanlah dirinya dariku. Berilah aku petunjukMu. Agar hati ini tenang, Tuhan. Aku mohon!" pinta Riana sekali lagi.


Ya, begitulah Riana dengan segala kelembutan hatinya. Meskipun ia tidak mencintai Langit, tetapi ia sangat tahu bagaimana kewajiban seorang istri. Andai Langit bisa menerima kehadirannya. Mungkin Riana juga tak mungkin melangkah sejauh ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2