Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Berhasil


__ADS_3

Minah mulai menjalankan misi. Dia tak mau kalah cepat dengan Yuta. Setelah malam tiba, sebelum sopir keluarga pak Dayat menjemputnya, seperti biasa ia pun menyiapkan dua gelas air putih di kamar Yuta. Karena biasanya memang seperti itu. Namun, kali ini di gelas milik Langit ia taburi garam terlebih dahulu. Agar Langit tak meminum air itu.


Kali ini, keberuntungan berpihak pada Minah. Ia berhasil menggagalkan akal busuk Yuta. Langit tidak meminum air yang telah campur dengan obat tidur oleh Yuta. Pintarnya, Langit membuang air itu tanpa sepengetahuan Yuta. Padahal ia sendiri tidak tahu, bahwa air itu sebenarnya beracun untuknya.


Keberhasilan Minah terbukti, karena sampai saat ini pria tampan itu masih setia dengan laptop di kamarnya.


Sedangkan Minah sendiri, setelah Ara masuk ke kamar Nana dan Dayat, ia pun meminta izin untuk pulang. Dengan alasan mengambil barang Ara yang ketinggalan.


Sekali lagi, keberuntungan berpihak pada Minah. Wanita paruh baya itu berhasil mendapatkan izin dari Nana dan Dayat. Bahkan mereka meminta sopir pribadi mereka untuk mengantar Minah. Jadi Minah tak perlu mengeluarkan ongkos untuk menjalankan misinya.


Dalam perjalanan menuju rumah Langit. Minah berdoa, supaya pria bajingan itu sudah datang. Sudah berada di dalam kamar Yuta. Sehingga, bisa dengan mudah ia menggrebek mereka. Sekaligus membuka lebar mata Langit, siapa pria itu sadar bahwa dia telah dipermainkan selama ini.


Sesampainya di area komplek, Minah meminta sopir yang mengantarnya tidak melewati gang biasanya. Tetap lewat gang belakang. Sebab kamar Yuta bisa terlihat jelas dari sana.


Lalu, Minah pun pura-pura menelpon Langit. Dan meminta pria itu menbukakan pintu untuknya. Namun sebelum itu, terlebih dahulu ia harus mematikan target telah berada di tempat.


Setelah semua dirasa aman, sesuai harapan, Minah tersenyum. Dengan segera ia pun menghubungi Langit. Beruntung saat itu Langit masih online. Maka, dengan cepat, pria itu pun menyambut panggilan telepon darinya.


"Ada apa, Bi?" tanya Langit pelan.


"Mohon maaf, Den. Bibi lupa belum kunci pintu pagar belakang, Den. Bibi nggak sengaja. Maaf ya, Den!" ucap Minah pura-pura gugup. Padahal ia tersenyum karena target sudah ada di tempat dan sedang bercanda gurau. Terlihat jelas dari tempat di mana Minah berada saat ini.


Minah memang sengaja meminta Langit datang ke tempat yang ia tujukkan. Agar pria itu juga melihat bahwa, sedang terjadi adegan yang mungkin akan membuat jiwa Langit akan memanas. Emosinya pasti akan meledak. Dan mungkin, Langit bisa jadi akan mencekik Yuta. Namun itulah yang Minah inginkan. Minah ingin Yuta menerima ganjaran atas semua perbuatan yang telah ia lakukan kepada Langit dan keluarganya.


Minah segera turun dari mobil. Meminta sangat sopir menunggunya di depan gang saja. Lalu ia mengendap-ngendap. Tentu saja mencari tempat yang aman.

__ADS_1


Agar aksinya tidak terbaca oleh Yuta. Tetapi bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Langit. Minah gemas, jiwa keponya tentu meronta. Ia terlanjur ingin membuat Langit sadari. Bahwa apa yang Langit korbankan selama ini tidak bernilai apapun di mata Yuta. Dia tak lebih dari sekedar mesin penghasil uang untuk wanita itu.


Beberapa menit kemudian, Minah melihat Langit berjalan ke arah pintu pagar yang ada di belakang rumah. Lalu memeriksanya. Langit terlihat menggerutu. Minah tertawa.


"Cepat Den, telpon Minah. Lalu omelin, Minah nya. Nanti Minah kasih tahu film keren," ucap Minah berdoa.


Benar saja, sedetik kemudian, setelah ia selesai berucap. Ponselnya berdering. Langit menghubunginya.


"Ya, Den. Gimana?" tanya Minah basa-basi.


"Kamu ini, ngerjain aku ya. Pintu gerbang sudah aman. Dasar!" umpat Langit kesal.


"Oh, bukan pintu gerbang belakang, Den berarti. Tapi pintu balkon yang ada di samping kamar Non Yuta. Maap ya Den, Minah baru ingat," jawab Minah, suaranya dibikin gemetar seolah dia takut pada Langit.


Tak ayal, Langit pun menengadahkan wajahnya menatap kamar Yuta yang terlihat remang-remang. Namun, di sana dia melihat dua bayangan. Seperti laki-laki dan perempuan.


Tak menunggu waktu lagi, Langit pun segera membuka pintu kamar Yuta. Beruntung, Yuta yang ceroboh dan tidak mengunci pintu, membuat Langit dengan mudah masuk ke kamar itu.


Betapa terkejutnya, Langit. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sang istri dengan pakaian yang super seksi sedang berbumbu mesra di sofa kamar itu. Yuta sedang duduk manja di atas pangkuan seorang laki-laki.


Langit menatap tajam pada kedua insan yang juga menatapnya gugup. Sang pria, dengan cepat mendorong Yuta. Lalu bersiap kabur. Namun, kemarahan Langit memberi pria itu kekuatan lebih. Dengan cepat ia pun segera mengejar Sang pria. Menendangnya dengan sekuat tenaga.


Vicky tersungkur. Langit pun langsung mencengkram pria itu dan menghajarnya habis-habisan.


Beberapa kali pukulan dan tendangan Langit layangkan. Sedangkan Yuta berteriak dan meminta Langit untuk menyudahi ini.

__ADS_1


Namun Langit tak peduli. Kemarahannya terlanjur memuncak. Emosinya terlanjur meledak. Tak ada alasan baginya untuk mundur. Bahkan sampai emosinya, ia juga mendorong Yuta hingga tubuh kurus wanita itu tersungkur.


"Katakan sejak kapan kalian main di belakangku?" tanya Langit sembari mencengkram kerah baju Vicky.


Vicky tertawa licik, menatap mengejek pada Langit. Tapi tak menjawab pertanyaan itu. Sebab ia juga tidak rugi dengan ini. Toh dia juga sudah banyak mendapatkan hasil dari perselingkuhan ini. Termasuk mobil dan apartemen yang ia tempati saat ini.


"Katakan, Brengsek!" teriak Langit kembali meluapkan emosinya.


Merasa dilecehkan, Langit pun kembali memghajar Vicky hingga pria itu lemas tak berdaya.


Tak ingin menghabiskan waktu begitu saja, Langit langsung menghubungi pihak berwajib untuk menangkap mereka.


Yuta yang merasa hidupnya dalam bahaya, tentu saja berniat kabur. Langit yang tahu apa yang dipikirkan wanita jahanam itu, tentu saja langsung berlari mengejar wanita itu. Menangkapnya, lalu segera menarik wanita itu dan melemparnya ke lantai.


Kali ini giliran Yuta uang yang akan menerima ledakan emosi yang dimiliki oleh Langit. Jiwa ganas pria ini telah tampak jelas di mata pria itu, membuat Yuta menangis ketakutan.


"Ampun, Pi, ampun!" pinta Yuta ketakutan.


"Heh, ampun kamu bilang. Bukanlah pas bercinta dengan pria jahanam itu, kamu nggak ingat lagi padaku. Kenapa sekarang minta ampun!" ledek Langit sembari berlacak pinggang.


"Maafkan aku, Pi!" ucap Yuta sembari merangkak henda meraih kaki Langit.


Namun, sepertinya pria itu tak sudi di sentuh oleh Yuta. Dengan cepat ia pun menghindar, hingga Yuta tak berhasil meraih kakinya.


***

__ADS_1


Dilain pihak, Minah tertawa bahagia menyaksikan adegan drama yang ia inginkan. Sekarang tinggal menunggu alur cerita selanjutnya. Ia berharap, Langit memberikan hukuman yang setimpal untuk Yuta. Agar wanita itu merasakan apa yang pernah Riana rasakan akibat ulahnya.


Bersambung....


__ADS_2