Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Teledor


__ADS_3

Yuta tidak hanya menyerang mental Nana dan juga Pak Dayat. Wanita ini juga berniat menyerah mental pria yang telah membuatnya malu. Demi menjalankan niatnya, ia pun datang ke tempat kerja Langit yang baru. Mengawasi pria itu dari kejauhan. Yuta tertawa melihat Langit dengan kehidupan barunya. Bekerja di tempat kotor menurut Yuta, sebagai supir pabrik tepung di salah satu gudang di Jakarta.


Yuta sengaja mengikuti mobil yang Langit kendarai. Ia memang sengaja ingin membuat malu Langit di depan umum. Seperti apa yang pernah pria itu lakukan padanya.


"Langit, Langit... dasar pria bodoh! lihat pembalasanku, bodoh!" umpat Yuta, ketika melihat Langit sedang mengoperasikan trucknya.


Hampir tiga puluh menit ia mengikuti monil yang di kendarai oleh calon matan suaminya itu. Akhirnya mobil tersebut berhenti tepat di depan toko yang menjual bahan-bahan kue. Dengan wajah meledek, Yuta pun turun dari mobil dan langsung menyapa Langit dengan gayanya yang setinggi langit itu.


"Hay calon mantan suami, wahhh... sekarang kerja jadi sopir. Duh kasihannya. Mending kerja sama aku aja sini, jadi simpenan aku. Mau?" ledek Yuta dengan wajah sok polosnya.


Langit yang tahu bahwa yang saat ini ada di belakang dan berucap macam-macam itu, pasti tak lain dan tak bukan, pasti wanita ular itu. Pria tampan ini hanya menoleh sekilas. Lalu ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kasihan amat sih sekarang, dari Sultan jadi pengemis. Duh, Langit, Langit. Namamu saja Langit, tapi miskin," ucap Yuta berusaha membuat malu Langit.


"Kaya tapi harta boleh nyuri buat apa? Bukankah itu lebih memalukan!" balas Langit.


Seperti kalah telak, akhirnya Yuta pun memutuskan untuk meninggalkan Langit. Kesal saja rasanya. Niatnya untuk membuat pria itu marah dan malu, gagal. Justru dia yang malah dipermalukan.


***


Di dalam pesawat, sepertinya Riana tidak menyadari, bahwa barang berharganya tertinggal di bandara.


Sebuah paperbag warna merah, yang berisikan make up, skincare dan juga buku diarynya, dan beberapa cemilan Raras ada di dalam tas tersebut.


"Non, sebentar!" ucap Riana ketika menyadari bahwa tas tentengnya tidak ia bawa.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Raras heran.


"Non lihat tas merah saya nggak? Yang merah tadi itu loh Non. Yang isinya make up, jajanan Non. Sama buku penting saya?" tanya Riana takut.


"Astaga, ya nggak lah Ri. Kan dari tadi kamu yang nenteng. Yang bawa-bawa," jawab Raras sesuai dengan apa yang ia tahu.


"Baiklah.... lalu di mana ya, jangan jangan!" Riana mencoba mengingat di aman dia meletakkan tas itu. Dan sedetik kemudian, ia pun ingat bahwa tas itu ia sudah bawa ke bandara. Ia juga ingat, bahwa tas tersebut sempat ia bawa masuk ke ruang tunggu. Lalu, pas Raras mengajaknya mengantri, Riana lupa.


"Udah ingat narohnya di mana?" tanya Raras.


"Udah, Non. Ketinggalan di bandara," jawab Riana sedih.


Raras hanya mencebikkan bibirnya, sebab itu adalah penyakit Riana yang susah untuk sembuh.


****


"Ini seperti Langit, tapi kok istrinya lain. Ini lebih cantik," gumam pria itu. Lalu untuk memastikan foto itu adalah Langit, ia pun segera menghubungi pria yang ia kenal itu by phone. Beruntung, pria yang ia hubungi langsung menjawab panggilan yang ia lakukan.


"Hay, Zam. Tumben telpon, ada apa nih?" tanya Langit di seberang sana.


"Eh, iya ni, Lang. Apa kabar kamu, bokap, nyokap, Yuta, gimana? Semua sehat?" tanya pria bernama Azam itu.


"Kalo bicara fisik, kami semua baik, Zam. Tapi kalo perihal hati, perihal materi, kami hancur," jawab Langit jujur.


"Hah! Maksud elu apa sih, Bro? Nggak ngerti gue!" jawab Azam bingung, sebab ia memang bingung.

__ADS_1


"Ya... begitulah, Zam. Yuta ternyata bukan wanita yang baik. Dia memanipulasi semuanya dan berhasil menguasai harta keluargaku. Dan sekarang aku miskin, Zam. Gue berasa di titik yang benar-benar ada di bawah," jawab Langit. Terdengar melo, tetapi pada kenyataannya, dia memang sedih.


"Astaga, Langit. Sorry, gue nggak tahu apa yang sebenernya terjadi sama elu. Ini kalo bukan gue yang nelpon duluan, kenapa lu nggak pernah telpon gur sih. Kasih tahu gue tetang keadaan elu. Kan gue bisa bantu elu, Langit, " jawab Azam sedikit kesal dengan sahabatnya ini.


"Gue nggak mau ngrepotin elu, Zam. Cukup lu bantu doa aja, agar gue bisa kuat melewati semua ini," ucap Langit lagi.


"Pasti Lang, gue selalu do'ain elu. Eh, ngomong-ngomong, gue sekarang lagi di Bangkok. Gue lagi di bandara. Terus, gue nemuin satu buah tas, yang isinya sangat unik. Sebab ada foto mirip banget sama elu. Foto manten tapi," ucap Azam sembari terkekeh. Karena menurutnya ini sangat aneh.


"Ngaco ah, mana ada!" jawab Langit tak percaya.


"Ye, nggak percaya. Ni, gue fotoin ya. Lihat baik-baik. Mirip elu kagak? Tapi ni ya, gue rasa yang punya tas ini pasti kenal ama elu. Di sini ada sebuah buku. macam buku harian gitu. Dia ada tulis resep masakan, suara hati, eh tunggu, ada juga nomer telpon nyokap elu. Nyokap elu namanya Nana kan? di sini dia tulis mama Nana, gitu" ucap Azam panjang lembar. Ia pun tak menunggu waktu, langsung menjepret foto itu dan mengirimkannya kepada Langit.


Di seberang sana, Langit masih belum bisa menjawab setiap kata yang di ucapkan oleh sang sahabat. Karena ucapan tersebut seperti mengarah pada Riana.


Riana, ada di Bangkok. Mana mungkin. Mana mungkin di sana. Dia kan nggak punya uang. Ngaco aja di Azam. batin Langit tak percaya.


"Emm, menurut ciri-ciri yang elu sebut, sepertinya gue kenal sama pemilik tas itu. Tapi entalah gue nggak yakin," jawab Langit tak percaya.


"Ya udah, lu kirim aja alamat lu, besok gue kirim ke elu. Siapa tahu ini memang milik seseorang yang elu kenal. Jadi tas ini bisa balik. Lumayan loh, di sini isinya make up, snack dan juga buku harian ini." Azam tersenyum.


"Bolehlah, kirim aja, nanti gue kirim alamat. Ngomong-ngomong makasih udah mau telpon gue. Kirain udah nggak ada yang mau. Kenyataannya sekarang gue bener-bener dibawah, Bro!" ucap Langit masih dengan tawa lirihnya.


"Siap, Bro. Kalo elu butuh sesuatu, Lu hubungi gue aja. Ni nomer lu save ya, jangan lupa," ucap Azam mengingatkan.


"Siap, Bro. Makasih banyak ya. Semoga lu tambah sukses," ucap Langit mendoakan.

__ADS_1


Lalu tak ada perbincangan lagi karena Azam juga harus segera masuk ke pesawat. Sedangkan Langit kembali meneruskan perjuangannya. Berselancar di dunia maya untuk mencari bukti kebusukan Yuta.


Bersambung...


__ADS_2