
Keesokan harinya...
Minah berusaha bersikap biasa. Bersikap seolah dia tak mengetahui apapun yang terjadi dan itu sangat tidak mudah. Minah adalah manusia biasa, yang memiliki amarah dan rasa kesal ketika hatinya terusik. Dan ini sungguh nyata. Minah benar-benar kesal.
Selepas membantu Yuta mandi dan berganti pakaian, tak terasa Minah meneteskan air matanya. Bagaimana tidak? Tanda merah di dada yang ia lihat itu adalah bukti nyata kenakalan wanita ini. Andai Minah membawa ponsel, pasti udah memfoto bercak merah kebiru-biruan itu.
"Bi, nanti kalo ke pasar tolong mampir apotik ya. Tolong belikan aku obat memar!" pinta Yuta tanpa rasa bersalah.
"Baik, Non. Biasanya yang oles atau yang minum?" tanya Minah pura-pura bodoh.
"Yang cream aja. Ada kok, nanti aku kasih contohnya!" jawab Yuta lagi.
"Baik, Non!" Minah tersenyum. Terlihat patuh. Meskipun ingin rasanya ia meremas wajah Yuta yang sok polos itu.
"Damai ya, Bi, rumah ini! Tanpa wanita ****** itu. Ahhh, coba dari dulu dia nggak usah hadir. Aku kan nggak usah repot-repot bikin ulah sama dia!" ucap Yuta dengan senyum sumringahnya. Seolah dia tidak menyadari, bahwa sebenarnya yang ular adalah dirinya.
Minah tidak menjawab ucapan itu. Ia terus saja melanjutkan pekerjaannya. Merapikan baju-baju Yuta dan mengambil bekas makan wanita itu. Yuta yang teledor seakan lupa kalau minah sangat pandai.
"Mangkok ku biarkan di situ saja, Minah. Nanti kucuci sendiri. Aku malah kalo naik turun tangga, Minah. Maklum kakiku semakin lemah sekarang!" ucap Yuta, ketika Minah sedang merapikan bekas makannya semalam.
"Baik, Non. Kalo gitu Bibi permisi. Mau nyiapin sarapan sama merawat dek Ara," ucap Minah berpamitan.
"Oke! Pergilah," jawab Yuta santai.
Minah pun hendak melangkah meninggalkan kamar Yuta. Namun, langkahnya terhenti oleh tumpukan tisu yang ada di atas nakas ranjang Yuta.
Minah pu bergegas hendak mengambil dan membuang tisu-tisu itu. Sayangnya Yuta langsung mencegah.
"Eeehhhh, jangan sentuh itu Minah. Biar aku yang bersihin sendiri. Kamu tenang saja!" ucap Yuta Kembali melarang.
Sayangnya mata Minah terlanjur menangkap sesuatu. Dia melihat gulungan benda seperti balon. Minah yakin, jika itu pasti ******. Wanita ini pun berjanji akan mendapatkan barang itu. Bagaimanapun caranya. Karena ini adalah bukti real yang tak mungkin bisa Yuta sangkal.
Tak ingin banyak bicara, akhirnya Minah pun memutuskan untuk keluar dari kamar Yuta. Namun, tetap membawa satu tujuan, yaitu mendapatkan barang itu.
Di dapur, pikiran Minah melayang tk karuan. Sampai ia tidak menyadari kedatangan Langit. Sampai dia tak menyadari bahwa pria tampan itu sedang memerhatikannya.
__ADS_1
"Bi Minah! Kenapa dari tadi kamu diam saja? Apakah kamu sedang sakit?" tanya Langit tiba-tiba mengejutkan.
"Eh, Aden. Nggak Den, Bibi baik-baik saja. Mungkin hanya lelah saja, maklum Den Bi Minah kan udah umur!" jawab Minah dengan candaan khasnya. Padahal, andai dia punya bukti yang banyak, real dan tidak takut Yuta akan mengusik keluarganya. Mungkin, saat ini Minah sudah memberi tahu majikannya ini tentang kelakuan bejat istrinya.
"Sabar ya, Bi. Aku juga lagi usaha buat cari temen buat Bibi. Mungkin sore ini dia datang," jawab Langit. Ramah seperti biasa.
"Iya, Den. Bibi akan sabar!" jawab Minah dengan senyum lebarnya. Meskipun jika boleh jujur, hatinya menangis. Menangis karena mendapati kenyataan bahwa Langit yang begitu baik ternyata sedang dalam kubangan kebohongan. Kubangan penghianatan. Sungguh, meskipun Langit pernah berbuat dosa, Minah berharap Tuhan memaafkannya. Dan menunjukkan pria itu kebenaran yang terjadi di dalam rumah tangganya.
"Bi, bolehkah aku tanya sesuatu?" tanya Langit. Namun terlihat ragu.
"Iya, Den. Aden mau tanya apa?" jawab Minah sedikit gugup.
Sayangnya sebelum pertanyaan itu meluncur, Yuta datang dengan kursi rodanya.
"Pagi!" sapa wanita pembohong itu seperti tanpa dosa.
"Pagi, Sayang! Bagaimana tidurmu?" jawab Langit seraya memberikan kecupan di kening dan bibir sang istri.
"Tidurku baik. Minah banyak memberiku makan sekarang. Jadi aku sudah nggak pucat lagi," jawab Yuta berbohong.
"Syukurlah, makan yang banyak biar cepet sembuh. Oiya, besok jadwal Mami ketemu dokter kan. Papi pulang cepet nanti. Do'ain Papi dapat kerja ya, temen Papi nawarin ni, ngajak join!" ucap Langit memberi tahu.
"Tentu, Sayang! Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," jawab Yuta dengan senyum kepalsuan nya.
Mereka berdua pun kembali berciuman mesra seolah rumah tangga mereka paling bahagia. Tentu saja, pemandangan ini membuat Minah muak.
Tanpa Yuta dan Langit sadari, kemesraan mereka memberi sebuah ide pada wanita paruh baya ini. Untuk menerobos masuk ke dalam kamar Yuta. Minah masih tetap mengincar barang itu. Bukti itu. Minah berharap, Yuta menyuruhnya mengambilkan sesuatu. Agar dia bisa masuk ke kamar itu tanpa dicurigai.
***
Di sisi lain, Herman membawa Riana kepada orang yang sedang membutuhkan pekerja. Pekerja tersebut nantinya akan ia percaya untuk mengasuh bayinya.
Di sebuah apartemen yang cukup mewah, wanita cantik itu tinggal seorang diri. Jujur Riana sedikit heran. Perutnya sudah membesar, namun tak ada tanda-tanda seseorang yang menemaninya. Membuat banyak pertanyaan pun hadir dalam benak Riana.
"Non, ini keponakan saya. Semoga cocok dengan kriteria yang Non cari!" ucap Herman kepada wanita yang kini sedang meneguk segelas air putih itu.
__ADS_1
Wanita itu menatap Riana. Dari atas sampai bawah. Lalu kembali lagi, dari bawah sampai ke atas. Lalu ia mengangguk, seperti tidak masalah dengan pekerja yang dibawa oleh Herman.
"Boleh! Silakan duduk!" pinta wanita cantik itu.
Riana dan Herman hendak duduk di bawah, tetapi dengan cepat wanita itu meminta mereka duduk di sofa.
"Duduk di atas saja. Jangan di bawah!" ucap wanita itu. Dingin, tanpa ekpresi. Namun, tak menutupi kebaikan hatinya.
"Terima kasih, Non!" jawab Herman seraya mengajak Riana duduk di atas.
Wanita itu tetap dingin. Tanpa ekpresi.
"Ini keponakanmu, Pak?" tanya wanita itu pada Herman.
"Betul, Non!" jawab Herman sopan.
"Bener mau kerja jaga bayi saya?" Wanita itu kembali meneguk segelas air putih yang masih ia gengam sedari tadi.
"Kalo diizinkan, Non," jawab Riana sopan.
"Boleh! tapi bulan ini aku ada proyek ke Itali, apakah tidak masalah kalo kamu ikut ke sana?" tanya wanita itu lagi.
Herman dan Riana saling menatap. Seperti sedang mendiskusikan sesuatu lewat tatapan mata.
"Kenapa diam? Mau nggak?" tanya wanita itu lagi.
"Emmm, itu jauh sekali, Non. Bolehkah kami mendiskusikan ini dulu?" tanya Herman, sebenarnya dia sendiri terkejut. Karena ia sama sekali tak tahu info itu.
"Oh, boleh! Aku tunggu keputusanmu besok. Soalnya aku nggak bisa lama-lama. Mungkin, akhir bulan ini aku sudah berangkat. Kan kalo kamu ikut aku mesti urus surat-surat buat kamu juga, kan!" jawab wanita itu lagi.
"Baik, Non. Besok kami pasti kabari Non. Kami permisi dulu ya, Non!" pinta Herman.
Tak ada perbincangan lagi, Riana dan Herman pun berpamitan meninggalkan rumah ini.
Bersambung...
__ADS_1
Like n komennya jangan lupa 😍😍