
Langit tak ingin sang istri terjerumus ke dalam dilema dan rasa takut yang semakin hari semakin menganggu perasaan sang istri. Untuk menghindari hal tersebut, Langit pun meminta kelonggaran pada Dilan agar mengizinkan sang istri kembali ke Indonesia.
Setidaknya Riana akan merasa aman jika ada dirinya di samping nya.
"Maafkan aku, Pak! Yang membuat peraturan ini bukan saya pribadi. Tapi ibu Raras, dan keputusan itu lah disetujui oleh istri, Bapak!" jawab Dilan kekeh tak mau mengizinkan Riana kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini.
"Percayalah, istriku dan bayi kami pasti akan aman di dalam lingkungan keluargaku. Terlebih ada mama dan papa yang akan membantu kita menjaga mereka," ucap Langit berusaha menyakinkan.
Lagi-lagi, Dilan menolak. Namun, Langit sendiri tak putus asa.
Dengan kegigihannya akhirnya Dilan pun mengizinkan sang istri kembali ke Indonesia. Tak ada yang membahagiakan di banding ini. Bagai mana tidak? Ia mendapatkan istri sekaligus seorang anak. Bukankah itu slah rezeki yang diimpikan oleh seorang laki-laki.
"Tapi aku mohon, Pak. tolong jaga mereka!" ucap Dilan meminta.
Langit pun menyanggupi syarat itu. Sebab Langit sendiri sangat yakin kalo Riana dan Shanshan akan lebih aman bersamanya di banding Riana dan Shanshan terpisah jarak dengannya.
Perihal bisnis, Langit sudah menyanggupi, bahwa ia akan membantu sang istri untuk mengawasi bisnis yang kini digeluti oleh sang istri.
***
Dua hari kemudian, akhirnya setelah mengurus beberapa surat yang telah di sepakati, Langit pun menjemput Riana dan Shanshan ke Italia.
Pria tampan ini memang tak ingin sang istri berpikir keras akan masalah yang tercipta. Langit menyadari bahwa masalah yang kini mereka hadapi bak bom waktu yang siap meledak kapan saja.
__ADS_1
Namun, Langit juga tak ingin terlena. Tak mungkin baginya untuk membiarkan sang istri menghadapi masalah ini sendiri.
Langit sengaja tak memberi tahu sang istri, bahwa ia sekarang sedang berada di dalam pesawat untuk menjemputnya. Pria tampan ini memang berniat memberikan surprise kepada sang istri. Langit ingin tahu reaksi wanita manja itu jika diam-diam bertemu dengannya. Ya, kapan lagi dia bisa memberikan surprise pada sang istri jika tidak sekarang.
Langit sampai di tempat Riana siang hari. Di mana wanita itu masih berada di kantor. Sedangkan di rumah hanya ada dua asisten rumah tangga dan satu babysitter untuk Shanshan.
Ia tahu, bahwa sang istri tak akan berada seharian di kantor. Wanita itu tak akan mungkin membiarkan bayinya lama-lama. Ia pergi ke kantor karena ada meeting penting. Beruntung Langit punya informan sekelas Dilan. Dan ini sungguh memudahkan langkahnya untuk memberikan kejutan untuk sang istri.
Para pekerja di sana juga sudah tahu, bahwa Langit adalah suami majikan mereka. Dengan penuh hormat, mereka pun melayani pria itu. Tetapi, Langit bukanlah orang yang mau diperlakukan seperti itu. Ia hanya bilang lelah, dan ingin istirahat. Oleh sebab itu, ia pun meminta di antar ke kamar sang istri dan ingin membersihkan diri di sana.
Kesan pertama masuk ke dalam kamar sang istri, Langit tersenyum, sebab mau semewah apapun kehidupan yang Riana miliki. Kesan sederhana tetap melekat di dalam jiwa wanita cantik itu.
Dekorasi kamar berwarna putih kombinasi biru itu begitu indah di pandang mata. Aroma khas Riana juga ada ketika ia memasuki kamar ini. Aroma yang sangat Langit rindukan.
Sembari menunggu sang kekasih hati, Langit pun merebahkan tubuhnya di ranjang, memeriksa pesan yang masuk di ponselnya. Barang kali ada pesan penting untuknya.
Merasa kesepian, ia pun meminta Shanshan dari pengasuhnya untuk bermain bersama. Sayangnya Shanshan sudah telelap. Tak ingin sendirian, Langit pun meminta pengasuh baby tersebut untuk membaringkan gadis cilik itu di sampingnya.
Beberapa menit berlalu, Langit merasakan kenyaman hakiki, hingga kantuk pun menyerangnya. Tak ada alasan baginya untuk menahan rasa kantuk itu. Tanpa rasa berdosa, akhirnya Langit pun memejamkan matanya di kasur empuk itu. Sambil memeluk baby cantik yang terpejam menggemaskan baginya dan rasanya sangat-sangat nyaman. Karena ternyata Langit juga telah jatuh cinta pada baby yang Tuhan amanahkan kepadanya itu.
***
Apa yang dipikirkan Langit benar. Tak berapa lama, Riana pun datang.
__ADS_1
Ketiga pegawainya hanya senyum-senyum kepadanya. Membuat Riana curiga.
Namun, ketika ia bertanya, tak ada satupun dari mereka yang jujur. Bahkan ketika Riana menanyakan Shanshan, mereka hanya menjawab Shanshan tidur di kamar.
Keanehan terjadi di sini, sebab pengasuh Shanshan malah asik memasak. Tidak menjaga Shanshan di kamar. Namun, pengasuh itu pun cerdas, dia mengatakan lapar dan ingin makan sebentar. Tak ingin memperpanjang masalah, akhirnya Riana pun memintanya meneruskan acara makan. Dan dia sendiri langsung masuk ke dalam kamar.
Betapa terkejutnya dia ketika masuk ke dalam kamar tersebut.
"Masya Allah!" pekiknya pelan. Netranya terbelalak tak percaya. Hatinya teremas seketika. Teremas oleh kebahagiaan yang sama sekali tidak Riana sangka.
Di atas ranjang itu, terlihat seorang pria telah terlelap dalam mimpi. Sembari memeluk baby mungil mereka.
Entahlah, Riana tidak mampu berucap apapun. Ingin rasanya ia langsung memeluk dan mencium pria yang sangat ia cintai itu.
Namun, ia juga tak tega membangunkannya. Sebab ia yakin, jika suaminya saat ini pasti lelah setelah perjalanan jauh.
Tak ingin mengecewakan sang suami, Riana pun segera meminta asistennya untuk menyiapkan bahan makanan. Riana ingin memberikan jamuan terbaik untuk kekasih hatinya tersebut. Bukan hanya segi batin, lahir pun ia ingin selalu yang terbaik untuk suaminya.
***
Di sisi lain, Lando tak mau kalah dengan Penolakan-penolakan wanita cantik yang ia ketahui bernama Karenina Almira. Yang biasa dipanggil Ibu Karen oleh para karyawannya.
Lando tetap bersikeras untuk meluluhkan hati wanita itu. Sebab menurut Lando, wanita cantik itu memiliki daya tarik yang tidak di miliki oleh wanita-wanita lain yang ia kenal.
__ADS_1
Bersambung...