
Sesusai surat wasiat yang ditulis langsung oleh Raras dan disahkan oleh Notaris. Di sana tertera nama Riana Ekaristi yang mendapatkan harta warisan sebesar 30 persen. Hania Shanza yang tak lain adalah baby Shanshan mendapatkan 50 persen dari hari peninggalan ibunya, termasuk apartemen yang ada di kota Surabaya dan Jakarta. Serta satu yang ada di Singapura. Sedangkan 20 persennya, Raras sengaja sisihkan itu untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Termasuk untuk pembangunan masjid dan panti asuhan.
"Kamu baca semua dengan teliti sebelum tanda tangan dan satu lagi yang harus kamu ingat. Aku dan semua orang-orang kepercayaan Raras, kami mengawasi gerak-gerikmu. Mungkin Raras memang percaya penuh padamu. Tapi kami tidak! Kami harus memastikan bahwa babynya Raras benar-benar aman bersamamu!" ucap Dilan tegas.
Rania tak menjawab ucapan itu, sebab tanpa mereka mengawasi, Riana sendiri telah memiliki CCTV yang jauh lebih canggih dari mereka. Ya itu Tuhan, iman dan segala ketulusan yang ia miliki.
"Aku tidak tahu, apakah ini benar atau salah. Perihal harta aku bingung harus menerimanya atau tidak. Sedangkan aku baru pekerjaan pada nonku dua bulan. Dan beliau sudah menggaji ku. Ini tidak benar jika aku mengambil lagi. Sungguh aku tidak bisa!" jawab Riana dalam isak tangisnya. Entahlah, surat wasiat yang Raras tinggalkan untuknya seperti menyakitinya. Seperti mempermainkannya.
"Aku tahu, Nona. Tapi percayalah, kamu bisa menghadapi dunia jika kamu punya power. Dan power yang harus kamu miliki selain ketulusan adalah kekayaan. Karena tanpa kekayaan kamu akan susah melangkah. Apalagi di negri orang seperti ini," ucap Dilan mengingatkan.
Riana tahu, apa yang dikatakan pria itu adalah sebuah kebenaran. Karena pada kenyataannya dia selalu kalah dengan perihal yang berhubungan dengan materi.
"Silakan anda tanda tangani surat ini dan besok saya akan menunjukkan tempat usaha yang telah Raras persiapkan untukmu. Agar anda punya penghasilan dari keringat anda sendiri. Tidak perlu takut perihal Shanshan. Kami sudah menyiapkan satu pengasuh untuk membantumu!" ucap Dilan lagi.
"Tidak! Perihal pengasuh aku tidak butuh. Aku akan menjaga putriku sendiri. Mungkin aku hanya butuh guru untuk mengajariku bahasa sini saja . Anda tahu kan, saya butuh itu!" jawab Riana tegas.
Dilan tersenyum. Lagi-lagi apa yang pernah Raras katakan padanya terbukti. Bahwa Riana memang tulus pada Shanshan. Sampai dia rela mengasuh sendiri bayi itu. Tanpa bantuan pengasuh.
"Baik, jika itu yang kamu butuhkan, aku akan segera menyediakannya. Selebihnya, apakah ada yang anda butuhkan?" tanya Dilan sebelum undur diri.
"Tidak, terima kasih." Riana pun beranjak dari tempat duduknya.
"Oke, kamu bisa telpon aku jika ada apa-apa. Aku siap dua puluh empat jam untuk bantu kamu. Sebab aku pun punya tanggung jawab menjaga Shanshan."
Riana tersenyum, setidaknya masih ada satu orang yang bisa membantunya merawat Shanshan. Ini memang bukan pertama kali ia merawat bayi. Tetapi bagi Riana bayi ini lain. Dia memiliki keistimewaannya sendiri.
Dilan berpamitan, sedangkan Riana langsung menuju ruang bayi untuk membawa bayi yang kini menjadi putrinya itu pulang ke rumah yang telah Raras persiapkan untuk mereka.
***
__ADS_1
Yuta senang karena mertuanya masih mau datang menjenguknya di rumah sakit di mana ia di tahan.
Dengan terbata-bata, Yuta pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentu saja, Yuta juga meminta maaf atas segala kekhilafan yang telah ia lakukan selama ini.
"Maafin Yuta ya Ma, Maafin Yuta ya, Pa!" punta Yuta dengan air mata yang terus mengucur deras.
"Maaf, Yuta. Kami belum tahu apakah kami harus memaafkanmu atau tidak. Tapi kami turut prihatin dengan kondisimu sekarang. Kami juga turut prihatin atas kasus yang menimpamu," jawab Nana sedikit sedih, melihat Yuta yang notabene tidak memiliki siapa pun, kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Pelan-pelan saja, Ma. Yuta juga tidak memaksa. Yuta cuma mau minta tolong sama Mas Langit. Tolong buka semua file yang ada di laptop milik Yuta. Di sana ada banyak bukti kejahatan Vicky dan keluarganya, Ma." Yuta terlihat ngos-ngosan.
"Di mana laptop itu?" tanya Pak Dayat.
"Ada di apartemen Yuta. Di dalam lemari baju dalam!" jawab Yuta lagi. Sesekali wanita ini mengeguk salivanya, seperti sedang haus.
"Yuta mau minum?" tanya Nana lembut.
Melihat sang menantu terbaring lemah seperti itu, tentu saja membuat Nana trenyuh. Terlebih saat ini Langit sama sekali tidak ingin bertemu wanita itu. Intinya dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada wanita itu.
Masalah menjaga, Langit sudah menjaganya selama ini. Tapi ketulusannya dijadikan candaan oleh Yuta. Langit pun menyerah dan memilih mundur. Ia tak ingin menjadi pungguk yang merindukan bulan.
"Yuta beneran minta tolong ya, Ma!" ucap Yuta lagi, mengulang permintaannya perihal laptop yang berisi bukti bukti kejahatan Vicky dan keluarganya.
"Kalau kami bongkar semua kejahatan kekasihmu itu, bukankah ini juga akan memberatkan kasus hukummu?" tanya Dayat.
"Yuta tahu, Pa. Yuta akan tanggung jawab atas apa yang telah Yuta lakukan!" jawab wanita ini yakin.
"Baik jika kamu sudah mantap dan ikhlas ngejalani ini. Papa akan bantu kamu. Tapi Papa nggak janji Langit mau. Paling Papa minta teman Papa untuk kerja, nggak apa-apa kan?" tanya Pak Dayat.
Sungguh, pernyataan Dayat kali ini sangat menyakiti Yuta. Sebab pada kenyataannya Langit memang benar-6 membencinya.
__ADS_1
"Tak apa, Pa!" jawab Yuta serius.
Suasana hening sejenak. Tak ada perbincangan lagi. Napas Yuta juga telihat makin berat. Mau tak mau Dayat pun memanggil kan tim dokter untuk memeriksa kondisi wanita ini.
"Ma!
" Ya!" Bu Nana lebih mendekat.
"Ara gimana?"
"Ara baik, dia sehat!"
"Apakah putriku pernah nanyain aku, Ma?" terlihat butiran bening keluar dari sudut mata wanita pesakitan ini.
"Tentu saja, kamu ibunya!" jawab Nana berbohong.
"Yuta kangen, Ma. Bolehkah besok bawa Ara datang ke sini?"
"Tentu saja, kenapa tidak?" Nana menatap Yuta, seakan memiliki firasat yang buruk akan wanita ini. Itu sebabnya Nana mengikuti alur yang ada.
"Ria apa kabar ya, Ma?" tanya Yuta, Tiba-tiba ingat dengan rivalnya itu.
"Emm, Ria... sekarang ada di LN. Dia kerja!" jawab Nana jujur.
"Tolong bilang sama Ria ya, Ma. Tolong minta sama Ria, untuk pulang. Kasihan Ara, Kasihan Mas Langit, Ma. Nggak ada yang urus!" ucapnya lagi.
Kali ini firasat Nana semakin kuat sebab yang ia lihat saat ini seperti bukan Yuta. Auranya terlihat lain. Yang Nana lihat saat ini hanya kebaikan yang terpancar dari wajah pucat itu. Bukan aura kebencian yang selama ini Yuta tunjukkan.
Bersambung...
__ADS_1