
Suasana canggung kembali terjadi di sini. Rania hanya berdiri mematung sambil menundukkan kepala. Sedangkan Langit menatap malu-malu pada wanita itu. Lalu untuk menghilangkan rasa canggung itu, Langit pun memfokuskan pikirannya pada cinta mereka. Cinta yang mereka miliki. Bahwa cinta itu ada dan harus diwujudkan.
"Mam, sini!" panggil Langit.
Riana mengangkat wajahnya, lalu berjalan menghampiri pria yang ia cintai itu. Langit tersenyum lalu Riana pun membalasnya.
Pria tampan itu mengulurkan tangan. Lalu Riana pun menyambutnya. Entahlah, sepertinya mereka memang benar-benar dimabuk asmara. Sampai hati pun takpa menginginkan berjauhan.
"Sini, Mam. Jangan takut. Kan kita nggak nglakuin kesalahan, Mam!" ucap Langit lagi.
"Iya, Mas. Tapi Ria malu sekali tadi!" jawab Riana serius.
"Iya, Mas juga. Tapi ya sudahlah, kan kita nggak nglakuin salah ini. Oiya, kapan berangkat ke Itali?" tanya Langit.
"Harusnya malam ini, Mas. Tapi Ria belum tahu, udah dapet tiketnya apa belum. Soalnya yang nyariin tiket pengacaranya non Raras. Maksudnya yang bantu Ria ngurus semunya."
"Oh! Boleh nggak baliknya dua atau tiga hari lagi. Mas masih kangen, Sayang!" pinta Langit sambil meraih pinggang sang istri dan mengelus lembut kening wanita cantik ini.
Diperlakukan begitu manis, tentu saja membuat hati sang wanita berbunga-bunga.
__ADS_1
"Ria maunya juga merawat masnya sendiri. Merawat Mas sampai sembuh, tapi Ria nggak bisa, Sayang. Ria liburnya nggak bisa lama-lama. Mas tahu kan Ria nggak bisa ninggalin Shanshan lama-lama. Maafin aku ya suamiku. Tapi kamu jangan takut, aku udah nyariin kamu dokter ortopedi terbaik di kota ini. Insya Allah, besok dia mau nemuin masnya di sini." Riana meraih tangan sang suami dan menciumnya penuh cinta.
"Kok dokter ortopedi, nggak mau Mas!" jawab Langit merajuk.
"Loh kok nggak mau, kenapa?"
"Maunya aku, dokternya ya kamu," bisik Langit manja.
"Ih!" pekik Riana, lalu mereka pun kembali tersenyum.
"Nggak pa-pa kan kalo misalnya Ria balik dulu? Kasihan Shanshannya," ucap Riana
"Baiklah kalo kamu nggak bisa lama-lama. Tapi boleh nggak, Mas minta malam ini kamu nemenin Mas di sini. Semalam aja, Honey. Mas mohon!" pinta Langit lembut.
Langit pun memberikan ponsel itu, kemudian Riana langsung menghubungi pria yang ia percaya untuk mengurusi perjalananya.
Tak ingin menunda waktu lagi, Riana pun langsung menghubungi pria itu. Beberapa saat kemudian, senyum pun mengembang di bibir wanita cantik ini karena ia tidak mendapatkan tiket hari ini.
"Ria bisa tinggal di sini malam ini, Mas. Ria seneng!" ucap Riana sembari memeluk pria yang sangat ia cintai itu.
__ADS_1
Langit hanya tersenyum. Namun, hatinya tak lupa bersyukur, sebab Tuhan begitu baik padanya. Apa yang ia inginkan selalu tercapai tepat waktu. Entahlah, tapi itulah yang selama ini Langit rasakan.
Riana melepaskan pelukannya, Lalu mereka saling melempar senyum. pertanda mereka sama-sama merasakan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Makasih banyak, Mam. Kamu selalu memberikan ku kebahagiaan!" ucap Langit sedih.
"Jangan sedih-sedihan, Mas. Aku mau kita menjalani pernikahan ini dengan ikhlas, santai dan jangan pernah ada rasa bersalah atau canggung di antara kita. Apa yang Ria miliki adalah milik Mas, Pun sebaliknya. Ria selalu ingin yang terbaik untuk pernikahan ini," ucap Riana serius.
"RI... maafkan aku yang karena baru menyadari bahwa kamu adalah wanita luar biasa yang di kirim Tuhan untukku. Maafkan aku karena baru menyadari bahwa kamulah tulang rusuk ku. Bahwa kamu adalah wanita terbaik untukku. Ibu terbaik untuk putriku," ucap Langit tak kalah serius.
"Semoga aku bisa jadi seperti yang kamu harapkan ya, Mas. Oiya, Mas... aku turut berduka cita atas kepergianmbak Yuta ya, Mas. Semoga beliau husnul khotimah!" ucap Riana lembut.
"Ya, walau pun kepergiannya meninggalkan segenggam luka dan segudang masalah, aku juga tetap mendoakan semoga jalannya terang, Mam." Langit menatap lepas pada arah mata memandang, namun pandangan kosong itu malah membuktikan bahwa pria tampan ini sebenarnya juga sangat terluka.
"Sabar, Mas. Mari kita hadapi sama-sama masalah ini. Semoga ada jalan terbaik untuk masalah yang Mas hadapi. Kalo Mas butuhin Ria, Ria siap bantu!" ucap Riana serius.
"Makasih, Mam. Oiya, mau tahu nggak selingkuhan tu perempuan. Barang kali Mami pernah ketemu," ucap Langit sambil mengotak atik ponselnya, Beruntung di ponsel milik ayahnya ada foto pria jahanam itu.
Ria yang penasaran tentu saja tidak menolak tentang informasi itu. Namun, ketika ia menatap foto tersebut. Hati Riana serasa teremas gemas. Sebab ternyata, seseorang yang di maksud sebagai selingkuh Yuta ternyata adalah pria yang mirip dengan seseorang yang ia ketahui sebagai seseorang yang harus Riana hindari.
__ADS_1
Rahasia yang Riana rengkuh ternyata seperti bom waktu. Tinggal tunggu waktu kapan bom itu akan meledak. Membuka seluruh tabir kepalsuan yang membelenggu mereka.
Bersambung...