Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Mustajabnya Doa Seorang istri


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Malam semakin larut. Riana terbangun dari tidurnya. Terkejut, dengan mimpi yang baru ia alami.


"Masya Allah, Mas Langit tadi kenapa ya? Kenapa ia menatap Ria seperti itu? Kenapa dia terlihat sedih?" gumam Riana. Ia pun langsung mengusap kasar keringat yang membasahi keningnya. Lalu mengingat rambut panjangnya.


Duduk termenung sambil mengingat kembali mimpi yang baru saja ia alami. Di sana, Langit terlihat lelah, sedih, seperti membutuhkan seseorang untuk bersandar.


"Ada apa denganmu, Mas? Kenapa kamu tadi menatap aku seperti itu?" gumam Riana lagi. Merasa sangat sebabLangit hanya menatapnya. Tidak berucap sepatah katapun. Tidak terlihat marah juga. Tatapan mata itu sangat berbeda dengan tatapan yang biasa Langit berikan padanya.


Tak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran. Riana pun kembali membaringkan tubuhnya. Mencoba memejamkan matanya kembali. Namun sayang, rasa gelisah kembali menderanya.


Bagaimana tidak? tidak biasanya seorang yang coba ia lupakan, masuk ke dalam mimpinya. Apa lagi seorang Langit. Sungguh, Riana tidak pernah membayangkan itu. Terlebih raut wajah kesedihan pria itu, seakan mengisyaratkan bahwa saat ini pria itu membutuhkannya.


Riana tak putus asa. Ia pun kembali mencoba menutup mata. Berusaha kembali mengistirahatkan raganya. Namun, usaha itu tak membuahkan hasil, bayangan wajah Langit masih saja menghantuinya.


Tentu saja, keadaan itu sukses membuat Riana bingung, aneh, sedikit kesal.


Untuk menghilangkan semua rasa yang menyerangnya, Riana pun memutuskan mengadu kepada Sang Pemilik Hidup. Agar hatinya tenang.


Ia segera mengambil air wudhu. Memakai mukena dan mulai menjalankan niatnya. Mengadu pada sang Khaliq.


Ya Tuhan, aku sudah mengikhlaskan apa yang terjadi padaku. Aku sudah memaafkan apa yang Mas Langit lakukan, Tuhan. Tolong jaga dia, beri dia kebahagiaan. Mudahkankah setiap urusannya. Agar dia juga bisa membahagiakan Ara. Pinta Riana dalam doa sujud terakhirnya.


Entahlah, sebenarnya Riana tak ingin lagi mengingat pria itu. Namun, tanpa di sadari, ia malah selalu melantunkan doa untuk pria itu. Meminta sang Maha Kuasa untuk melindungi pria itu. Padahal, jika diingat bukanlah itu bodoh.


Namun, Riana adalah Riana. Wanita tangguh dengan segala kebaikan hatinya, keikhlasan menjalani kehidupan ini, menjadikan Riana menjadi pribadi yang baik hati. Terbukti dia selalu melangitkan doa untuk orang-orang yang pernah terlibat dengannya. Ia ingin, Tuhan memberikan kebaikan selalu untuk mereka.

__ADS_1


***


Di sudut ruang yang lain. Langit dan Azam kembali bertemu janji. Setelah kemarin Langit harus kembali bekerja.


Langit merasa kurang nyaman dengan teman-teman di tempat kerjanya. Kalau dia terlalu lama mengobrol.


Kini, Azam telah berada di depan kontrakan Langit. Hendak menjemput pria itu tentunya.


"Masuk, Bro!" pinta Azam ketika melihat Langit sudah menunggunya di depan rumah.


"Oke, thank," jawab Langit. Lalu ia pun duduk di samping Azam dan memakai seatbelt nya dengan tenang.


"Gue mau pengen ketemu tante sama om, tapi susah bener cari parkiran," ucap Azam jujur.


"Elu kalo mau ketemu mereka, naik gojeg aja." Langit terkekeh.


"Sialan! Elu sekarang yang Sultan. Kenapa jadi masih mau makan makanan emak gue, lu?" canda Langit. Azam terkekeh.


"Nggak perlu rendang, Bro. Telur ceplok juga boleh. Asal masakan emak elu," jawab Azam tanpa rasa berdosa.


"Dih, dasar pria kaya pelit. Serah elu dah!" Langit berdecak kesal. Sedangkan Azam masih tertawa.


Tiga puluh menit berkendara, mereka akhirnya sampai di restoran milik Azam. Di sana, mereka pun diistimewakan karena ini adalah milik Azam, jadi suka-suka dia aja.


"Ahhhh, duduk, Bro!" ucap Azam mempersilakan.


"Oke makasih," jawab Langit sopan.

__ADS_1


"Bro, gue ngajak lu ke sini, gue pengen konsultasi perihal restoran ini. Apa yang salah dengan restoran ini. Kok sepi begini?" pancing Azam, dia sengaja menggunakan cara ini, agar Langit tidak curiga dan menyinggung perasaan sang sahabat. Karena Azam sangat tahu bagaimana Langit. Azam sangat paham, seberapa tinggi harga diri Langit.


"Mungkin konsepnya kali, Bro. Jujur Gue nggak suka desainnya. Terlalu kuno. Lu kan bos interior, kenapa nggak coba modal dikit sih. Biar pelanggan elu nyaman. Betah, terus balik lagi, balik lagi," jawab Langit. Pria ini masih bersikap biasa, ia masih belum bisa menangkap maksud dan tujuan sang sahabat membawanya ke tempat ini.


"Lu bener juga, Bro. Jadi menurut elu, gue mesti gimane?" tanya Azam lagi.


"Ya diubah dikit aja, chatnya diganti. Terus menunya cari yang kekinian. Sasaran kita jangan cuma orang kantoran doang. Tapi anak-anak muda juga penting. Jangan terlalu mahal bikin menu. Yang terjangkau. Untung dikit-dikit nggak pa-pa yang penting rame dulu. Kan untung dikit kalo rame, lumayan, Bro. Dari pada begini, sepi kan?" jawab Langit lagi.


"Ohhh, oke! Kamu bener. Eh, Bro... Lu mau nggak bantuin gue?" pancing Azam lagi.


"Bantuin apaan?" tanya Langit bingung.


"Gue mau elu bantu gue kelola ni restoran. Serah elu deh mau di isi apaan! Yang penting bisa jalan aja," ucap Azam pasrah. Padahal sejak awal dia sudah berniat untuk memberi Langit pekerjaan, sebab ia tak tega melihat Langit kerja ?sekasar itu.


Langit tersenyum. Melirik kesal pada sang sahabat. Sebab menurutnya, Azam keterlaluan.


"Weh, napa ngeliriknya begitu. Gue serius, Bro!" ucap Azam sembari menonjok pelan lengan Langit.


"Ck, elu ngledek gue. Serius lu ngledek." Langit masih tak percaya dengan tawaran yang ia dengar.


"Gue serius, Bro. Gue mau kerja sama ama elu pasal restoran ini. Ayolah, Bro bantu gue," pinta Azam memohon.


Langit diam sesaat. Bingung harus bagaimana. Langit masih belum tahu, apakah dia harus senang atau sedih. Yang jelas ia sangat terharu. Serta bersyukur, sebab masih ada sahabat yang masih berbaik hati padanya. Mau memberinya pekerjaan meskipun dengan cara yang bisa dibilang unik.


Kini Langit bisa menduga, apa maksud dan tujuan Azam membawanya ke restoran ini.


Doa yang Riana panjatnya, ternyata tidak sia-sia. Setelah melewati berbagai proses, akhirnya doa itu diijabah. Masalah yang Langit hadapi, satu persatu terselesaikan. Tinggal sekarang, bagaimana nasib akan membawa pernikahannya dengan Yuta.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2