
Yuta ingin menghubungi Langit. Ingin meminta tolong pada pria itu untuk membantunya menyerahkan bukti-bukti yang ia miliki perihal kecurangan yang dilakukan Vicky dan keluarganya.
Namun, saat ini nomer ponsel yang ia miliki telah di sadab oleh keluarga yang telah mengawasinya.
Yuta sungguh tidak berkutik. Tak ada seorangpun yang mau menolongnya menghadapi kasus ini. Hatinya terasa sangat perih. Lidahnya kelu. Perasaannya remuk redam. Kesedihan yang Yuta rasakan tak sampai di situ. Saat ini, ia pun sudah tak memiliki sepeser uangpun. Semua asetnya telah dibekuka oleh bank, akibat laporan salah satu klient yang merasa ditipu olehnya.
Kini ia hanya bisa menangis sembari merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Aroma tak sedap sudah mulai tercium dari tubunnya, sehingga tak ada seorang pun yang mau mendekatinya. Termasuk orang yang menolongnya kala itu.
Beberapa jam kemudian... Yuta mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
Yuta tak punya pilihan lain selain meminta tolong pada salah satu warga untuk melaporkannya ke polisi. Setidaknya, jika dia berada di kantor polisi, dia bisa meminta tolong pada mereka untuk menghubungi keluarga Langit untuknya.
Ya, Yuta tak punya pilihan lain selain menjemput maut. Dia tahu hidupnya tidak lama lagi, apa salahnya jika dia mengakui kesalahannya. Ia tak peduli seberapa besar hukuman yang akan ia terima. Yang jelas ia tak ingin biarkan keluarga Vicky tertawa di atas penderitaannya. Di atas penderitaan keluarga sang suami. Dan di atas penderitaan orang-orang yang telah mereke tipu.
Yuta pasrah jika di dalam penjara nanti, dia akan menderita dibanding ini. Yang penting baginya saat ini adalah membalas perbuatan tak manusiawi keluarga Vicky kepadanya. Pada Keluarga suaminya dan juga pada mereka, Orang-orang yang telah ditipu oleh keluarga Vicky.
***
Di sudut ruang yang lain, Riana menangis di atas pusara teman, majikan sekaligus sahabat yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Sungguh ia tak menyangka jika ia akan melewati ini. Riana pikir, setelah Raras melahirkan bayinya, mereka akan bekerja sama. Mereka akan berdikari untuk memasarkan brand-brand mereka dikancah internasional. Terlebih saat ini, Riana juga telah memiliki pengalaman.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit, babymu sudah menunggumu!" ucap Dilan mengingatkan.
"Apakah kita harus meninggalkan nonku di sini sendirian? Nanti dia kesepian bagaimana?" tanya Riana masih dalam suasana duka yang begitu dalam.
"Kamu punya tanggung jawab yang jauh lebih besar di banding ini, Nona. Aku juga sedih. Tapi aku tetap berusaha realistis. Raras sudah tenang, karena bayinya telah menemukan ibu yang baik untuknya. Kamu... Raras percaya padamu. Tolong jangan kecewakan dia!" ucap Dilan.
Riana tak menjawab sepatah katapun ucapan itu. Sebab ia tak tahu harus menjawab apa. Rasanya berat saja beban yang ia bawa saat ini. Rasanya sakit saja semua rasa yang kini membelenggu jiwanya.
Bagaimana tidak? Riana belum siap. Riana belum yakin mampu mengemban amanah ini. Namun, ia dipaksa untuk mampu. Ia dipaksa untuk menerima. Riana merasa, saat ini dia telah masuk ke dalam jerat ketidaknyamanannya. Riana merasa seperti mimpi.
"Maaf jika aku tidak memberi tahu perihal rencana Raras kepadamu di awal," ucap Dilan membuka percakapannya mereka.
"Kenapa?" tanya Riana ketus.
"Karena Raras ingin menguji ketulusanmu. Karena Raras ingin tahu, sepantas apa kamu untuk bayinya. Karena Raras ingin, bayinya memiliki ibu yang baik dan sayang padanya seperti putrinya sendiri," jawab Dilan sesuai dengan apa yang selalu ia dengar dari setiap obrolannya dengan wanita itu.
"Boleh aku tahu, sebenarnya nonku sakit apa?" tanya Riana tegas.
__ADS_1
"Maaf, soal itu aku nggak bisa kasih tahu. Raras nggak mengizinkan aku untuk cerita perihal penyakitnya pada orang lain. Yang jelas, kenapa dia memilih di makamkan di Belanda, karena ibunya juga ada di situ. Sebelah makam Raras itu adalah makam ibunya," ucap Dilan, pelan, seakan dia sedang menahan kesedihan yang teramat sangat.
"Kenapa kamu nggak kasih tahu, kalau itu adalah makam ibu kandung nona?" tanya Riana marah.
"Kamu bisa nggak sih nggak usah nyolot kalo ngomong. Aku tahu kamu kesel sama aku. Tapi aku juga sedih. Bukan cuma kamu. Aku tu benci tahu nggak sama kamu. Aku yang kenal duluan sama Raras, tapi soal bayinya dia lebih percaya sama kamu. Dia bilang aku nggak akan becus jaga bayi. Aku nggak akan bisa jagain Shanshan.. padahal kalo dia mau, aku juga mau jadi ayahnya Shanshan!" ucap Dilan, benar- benar kesal pada Riana. Karena menurutnya wanita di sampingnya ini sama sekali tak mengerti akan perasaan.
"Mana saya tahu," gumam Riana. Lalu ia pun membuang pandangannya keluar jendela. Sebab menurutnya ini jauh lebih baik dari pada meladeni kekesalan pria yang belum lama dikenalnya ini.
"Lalu apa yang harus aku lakukan. Bolehkan aku membawa pulang Shanshan nanti?" tanya Riana berterus terang.
"Untuk sementara tidak boleh. Karena Vico kini sedang mencari Raras dan bayinya. Entah apa yang diinginkan boleh pria jahanam itu. Dia kan sudah tidak menginginkan Raras dan bayinya lagi. Untuk apa dia mencarinya. Andai Raras menandatangani surat tuntutan itu, pria jahanam itu udah aku pastikan bakalan membusuk di penjara," jawab Dilan kesal.
"Vico? Siapa Vico?" tanya Riana lugu, karena dia memang tidak tahu apa-apa soal Raras dan pria yang telah menghamilinya.
"Dia adalah ayah dari baby Shanshan. Tapi kamu sudah berjanji untuk merawat anak itu seperti putrimu sendiri. Bahkan akte Shanshan juga telah tertulis namamu dan nama suamimu. Aku harap, kamu nggak akan pernah berpikir untuk mencari apa lagi menyerahkan bayi itu kepada ayahnya. Karena Raras tidak akan memaafkanmu jika kamu sampai melakukan itu. Kamu paham kan?" Dilan menatap Riana sekilas. Begitupun dengan Riana.
Wanita cantik dengan segala kelembutannya hanya bisa terdiam pasrah. Bagaimana tidak? Semua yang Dilan sampaikan adalah permintaan Raras. Wasiat Raras untuknya.
Raras sendiri pernah membicarakan ini dengannya ketika mereka berada di Bangkok kala itu. Wanita itu mengatakan bahwa dia tak akan mempertemukan pria jahat itu dengan putri semata wayang mereka. Karena pria itu telah dengan tega membiarkan dirinya menjaga bayinya sendiri. Karena pria itu telah tega tidak mau mengakui bahwa bayi yang ada di dalam kandungannya adalah putrinya. Dan ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuk Raras. Jadi wajar, jika Raras menolak mempertemukan putrinya dengan pria itu.
__ADS_1
Bersambung...