
Minah bukanlah wanita bodoh. Ia tahu di dalam rumah ini ada beberapa titik CCTV. Lalu kenapa Yuta begitu berani memasukkan pria lain selain sang suami. Mungkinkah dia mematikan dulu para mata-mata dulu. Minah tak tinggal diam. Ia pun segera mencari tahu apa yang terjadi.
Wanita paruh baya ini kembali mengendap-endap untuk meloloskan diri dari lingkaran kuasa milik Yuta. Karena Minah tahu, rumah bagian atas ini adalah daerah kekuasaan wanita penyihir itu. Minah harus super hati-hati untuk ini.
Benar dugaan Minah. Bahwa CCTV itu dimatikan sebelum selingkuhan wanita itu masuk. Pantas saja, tuan muda di rumah ini tak mengetahui aksi bejat sang istri. Ternyata wanita rumah itu telah mengatur segalanya. Minah hanya bisa berkacak pinggang kesal.
Wanita paruh baya ini, sungguh mengakui kecerdikkan plus kelicikkan wanita itu.
Minah duduk termenung di kamar miliknya. Memikirkan cara untuk mendobrak kebusukan Yuta. Wanita ini sungguh kasihan terhadap Langit. Langit begitu mati-matian membelanya. Mencintainya sampai berani melawan orang tuanya. Membelanya sampai mau melepaskan wanita yang baik seperti Riana. Dan masih banyak lagi pengorbanan Langit yang nyatanya dibalas dengan air tuba. Yuta memang biadab.
Malam hampir lewat. Namun kantuk sama sekali tak menghinggapi wanita paruh baya ini. Dibukanya lagi galeri ponsel miliknya. Dilihatnya dengan seksama foto-foto yang ia ambil. Lalu, wanita ini pun harus berpikir ektra pintar untuk melawan wanita licin seperti Yuta. Bisa jadi saat ini sasaran wanita itu adalah dirinya.
"Ya Tuhan, aku mesti gimana?" gumam Minah bingung.
Sekelebat gambaran memberikan ide di dalam pikiran Minah. Bagaimana jika ia mengirimkan foto-foto tersebut ke ponsel Langit menggunakan nomer ponsel lain. Atau ia cetak lalu mengirimkannya ke tempat kerja sang majikan.
"Ah, aku harus memikirkan ini matang-matang. Jangan gegabah! Minah, kamu tahu wanita itu adalah rubah. Jangan sampai kamu masuk ke dalam, perangkapnya. Bisa bahaya Minah!" ucap Minah pada dirinya sendiri.
Tak ingin terlalu pusing dengan hal bodoh ini, Minah pun memutuskan untuk memulai pekerjaannya.
Merapikan tempat tidurnya dan mulai mengambil peralatan untuk membersihkan rumah ini. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat Yuta sedang sibuk di dapur. Sepertinya wanita itu sedang mencari sesuatu. Mungkin makanan.
Benar saja, Yuta sedang mencari sesuatu untuk di makan. Tapi dia terlihat sehat. Sangat-sangat sehat. Tidak tampan sakit pun. Ini kembali memperkuat dugaan Minah, bahwa wanita itu pasti sedang berpura-pura selama ini.
Tak ingin membuat masalah dengan wanita itu. Minah pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
***
Di sisi lain, tangisan menyayangi hati terdengar di sebuah rumah kontrakan milik Bayan dan Riana.
Dua anak muda itu sedang menangis tersedu-sedu di samping jenazah seseorang. Yang tak lain itu adalah jenazah Bayan.
Pria tersebut tak mampu melawan sesak yang ia rasakan. Jiwanya tak mampu menahan kabar yang ia terima. Rasa bersalah itu, nyatanya terlalu berat baginya.
Rasa malu yang Bayan rasakan kepada mendiang sang istri terlalu berat. Janji untuk menjaga dan melindungi putri mereka satu-satunya, gagal. Bayan malah mendorong yang putri ke dalam neraka yang ia sangka surga. Sungguh, Bayan sangat menyesali hal itu.
Hingga mendekati ajalnya, dia berkali-kali meminta maaf pada sang putri. Berkali-kali meminta pada sang putra untuk senantiasa menjaga dan membahagiakan Riana. Jangan sampai anak perempuannya itu menangis lagi.
Bayan juga meminta Lando untuk membawa pergi jauh sang kakak. Agar keluarga Langit tidak menemukannya lagi. Karena Bayan yakin, keluarga itu pasti akan kembali mencari Riana. Bayan tak mau sang putri kembali ke dalam neraka itu lagi.
Lando dan Riana sepakat untuk membawa jenazah sang ayah kembali ke kampung halaman. Bude dan pakde yang tak lain adalah kakak kandung Bayan bersedia mengurus pemakaman pria tersebut.
Riana dan Lando sangat bahagia. Setidaknya mereka masih punya keluarga yang mau peduli. Bukan hanya itu, mereka juga mau membantu biaya kepulangan jenazah Bayan dari Surabaya ke Lamongan. Dan mereka terlihat sangat ikhlas dengan membantu kedua keponakannya yang kini yatim piatu itu.
Selepas pemakaman, pakde dan bude meminta Riana dan Lando untuk istirahat terlebih dahulu. Setidaknya menginap beberapa hari di rumah mereka. Agar mereka paham, sejatinya mereka masih memiliki keluarga.
"Maaf, Bude, Ria nggak tahu kalo ayah masih punya kakak," ucap Riana kepada wanita berkerudung hitam itu.
"Ya gimana mau tahu, orang ayahmu nggak pernah bawa kalian pulang. Untung beberapa hari yang lalu, ayahmu ketemu Reza, masmu yang kerja di pemakaman juga. Dia bilang, 'Buk, aku ketemu orang mirip bapak.' terus pakdemu minta difotoin, ternyata itu Bayan, adiknya yang udah lama nggak pulang," jawab Wanita paruh baya itu.
"Maaf, Bude. Maafkan kami. Kami sungguh tidak tahu!" jawab Lando dengan senyum yang masih terbungkua kesedihan.
__ADS_1
"Iya, Le, nggak pa-pa. Jadi kalian sekarang tinggal di mana? Di rumah kontrakan itu?" tanya wanita itu lagi.
"Iya, Bude. Ria juga lagi nyari kerja ini. Tapi belum dapet. Malah keduluan ayah pergi. Ria belum bisa nyenengin ayah, Bude!" ucap Riana sembari menangis sedih. Tak ayal wanita itu pun ikutan menangis.
"Sudah ndak pa-pa. Jangan ditangisi ayahnya. Didoakan, semoga dikasih jalan yang terang. Ingat, amal yang tidak putus pagi mereka yang sudah berpulang adalah doa anak-anak sholeh. Seperti kalian!" ucap wanita paruh baya itu, sembari memeluk keponakan yang baru pertama kalinya mereka bertemu.
"Ria mau kerja jaga bayi?" tanya Herman tiba-tiba. Herman adalah kakak kandung Bayan.
Riana mengangkat wajahnya. Menatap sekilas pada pria yang mirip dengan ayahnya tersebut. Lalu ia pun menatap Lando. Seperti meminta pertimbangan.
"Mau Pakde, Ria mau kerja apa aja. Yang penting halal," jawab Riana mantap.
"Jaga bayi? Bayinya siapa, Pak?" tanya Warni, istri Herman.
"Bayinya non Raras, Bu," jawab Herman singkat.
"Tapi kan belum lahir, Pak!" jawab Warni sedikit terdengar ketus. Seperti tak setuju jika keponakannya bekerja pada wanita itu.
"Iya, tapi beliau berpesan pada Bapak, siapa tahu ada yang mau kerja sama dia. Kasihan juga lo, Bu. Udah dimusuhin keluarganya. Masak kita musuhin juga," jawab Herman tenang.
Warni tidak meneruskan perdebatan mereka. Sebab ia memang tak suka jika sang suami mengajaknya membahas wanita itu. Entah apa masalahnya. Riana dan Lando tak mau terlalu dalam mengorek keterangan tetang wanita yang kini sedang mereka bahas.
Bagi Riana, setiap orang memiliki masalah. Setiap orang memiliki masa lalu. Kita sebagai manusia tak boleh menghakimi seseorang yang kita tidak tahu dalamnya seperti apa. Cukup baginya melangkah dengan prinsip seperti itu. Orang baik, Insya Allah akan bertemu dengan orang baik. Dan sekarang, saat ini dia membuktikan pemikirannya itu. Bahwa prinsipnya tidak salah.
Bersambung...
__ADS_1