
Siang itu juga Langit langsung memesan tiket untuk kembali ke Surabaya. Ia tak mau membiarkan wanita itu menang begitu saja. Ia tahu, pasti wanita itu telah menghasut para pengacara keluarganya untuk mundur. Atau mungkin, dia telah mengancam mereka.
"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini?" tanya Langit pada Pemilik hidupnya. Sungguh, pria bernama lengkap Damar Langit ini serasa dunia memusuhinya sekarang.
Kesalahannya terhadap Riana, belum mendapatkan maaf. Belum mendapatkan jalan keluar. Lalu, sekarang, ada serangan yang sangat tidak ia duga dari dari wanita yang selama ini ia cintai.
Langit tahu, jika Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya yang tidak mampu. Berbekal keyakinan itu, Langit yakin, pasti
ada jalan keluar untuk masalahnya ini. Yang penting dia sabar dan tidak gegabah.
Dalam lamuna, pria tampan ini masih setia mencari cara untuk melawan Yuta. Sedetik kemudian tiba-tiba ia teringat kedua orang tuanya. Jujur ia sangat khawatir dengan keadaan mereka berdua saa ini.
Dengan cepat, ia pun segera menghubungi mereka. Setidaknya ia bisa tenang kalau tahu jika mereka baik-baik saja.
"Ma," ucap Langit ketika sang ibu menerima panggilan telpon darinya.
"Ya, Langit! Gimana?" tanya Nana singkat.
Langit tahu dari pertanyaan singkat itu, bahwa saat ini keadaan kedua orang tuanya tidak baik-baik saja.
"Maafkan, Langit, Ma!" ucap Langit sedih.
"Entahlah, Langit. Mama masih belum bisa mencerna semua ini. Yuta begitu teliti dan hati-hati menjalankan misinya. Mama tidak menyangka, bahwa wanita itu begitu licik dan cerdas," ucap Nana, terdengar ada penyesalan di sana.
"Maafkan, Langit, Ma. Maaf!" saat ini, hanya kata itulah yang ada di pikiran Langit. Sungguh, jika saat ini ada yang memaksanya untuk berdebat. Langit memilih diam dan menangis. Sungguh, rangkaian kata yang ia miliki rasanya hilang ketika ia harus berbicara dengan kedua orang tuanya. Kata-kata yang ia miliki, rasanya telah tertutup rasa malu dan takut. Langit tak tega melihat kedua orang tuanya harus menderita karenanya.
__ADS_1
"Pulanglah, papamu membutuhkanmu!" pinta Nana. Suaranya terdengar serak. Sepertinya habis menangis.
"Iya, Ma. Langit sudah di bandara sekarang. Percayalah, Ma! Langit akan merebut kembali apa yang kita miliki. Langit nggak akan ngebiarin wanita ular itu menikmati kelicikan nya. Langit janji, Ma!" ucap Langit yakin. Sedangkan Nana hanya diam. Tak menjawab sepatah kata pun apa yang putranya ucapkan. Karena saat ini, baginya yang terpenting bukanlah janji. Tetapi bukti. Ya, Nana butuh bukti.
Dari pihak Langit sendiri, pria ini pun mengingat satu persatu kelemahan Yuta. Karena untuk melawan wanita ular itu, ia harus benar-benar teliti dan hati-hati.
Ya... melawan orang-orang licik, harus dengan kelicikan juga. Bukankah begitu? ...Langit bersumpah akan tetap melawan dengan cara halus. Karena Yuta juga bermain dengan cara itu. Langit berjanji akan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak dan milik kedua orang tuanya.
Langkah awal, Langit menghubungi beberapa temannya. Mencoba meminta bantuan. Setidaknya untuk membantunya mencarinan pengacara yang mau membelanya di persidangan nanti.
Langit tak mungkin menghadapinya sendiri. Karena sekarang, dia bukan lagi pelapor melainkan pria yang dilaporkan telah melakukan tidak kekerasan dalam rumah tangga. Langit juga dituduh melakukan penghianatan pernikahan. Dengan menikah tanpa izin darinya.
Yuta memang luar biasa. Pukulan dan tamparan Langit malam itu, ternyata sangat membantunya. Malam itu juga, Yuta langsung meminta tim yang membelanya untuk mengajukan permohonan visum.
Soal pernikahan Langit dengan Riana, dia memang ngotot tidak mau hadir. Dan ini ternyata adalah salah satu rencananya. Agar di sana tidak ada foto dirinya. Agar dirinya bisa memakai acara itu sebagai bukti bahwa Langit lah yang melakukan penghianatan. Perihal tanda tangan izin kawin. Ternyata Yuta juga berhasil mencuri dokumen itu, lewat orang kepercayaannya.
Langit menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya kasar. Hatinya kembali tertampar, karena temannya tak ada satupun yang mau membantu. Ada aja alasan mereka. Dari tak ada uang, lagi diluar negeri, tak ada kenalan pengacara dan lain-lain.
Langit sangat tahu, itu adalah cara halus mereka menolak membantunya. Tetapi Langit tidak bisa memaksa. Langit bukanlah pria pemaksa.
Sakit, sedih, kecewa, itu lah rasa yang saat ini sedang mengepung bapak satu anak ini. Bagaimana tidak? Di saat ia jatuh, tak ada seorangpun yang mau berteman denganya. Tak ada seorangpun yang mau menolongnya. Tak ada satu orang pun yang bersedia mendampinginya.
Andai saat ini dia tidak sedang berada di bandara. Mungkin Langit akan berteriak. Mengungkapkan segala sesak di dada. Agar rasa yang membelenggunya, setidaknya bisa sedikit mereda.
***
__ADS_1
Lain Langit lain pula Yuta. Wanita ini masih belum bisa bernapas lega. Karena masih ada satu tugas lagi yang harus ia kerjakan.
Yuta masih mencurigai satu orang lagi yang mungkin akan memberatkan kesaksiannya nanti di pengadilan. Mungkin orang ini juga akan membuat hancur kehidupannya. Dia adalah Minah. Asisten rumah tangga yang selama ini bekerja di rumahnya.
"Lenyapkan wanita itu, atau terserah. Yang penting dia harus segera pergi dari rumah itu. Jangan sampai dia dengar masalah yang terjadi pada keluarga itu. Biarkan dia terlena. Biarkan dia menganggap bahwa aku masih di penjara. Mengerti!" ucap Yuta kepada salah satu orang kepercayaannya.
"Baik, Bos. Kami akan segera melenyapkan wanita itu," jawab pria bertubuh tinggi tegap itu.
Namun, keinginan Yuta kali ini dilarang oleh Vicky. Sebab, bisa saja, kematian Minah nantinya malah akan menjadikan mala petaka untuk mereka. "Jangan gegabah! Jika kamu melenyapkan wanita tua itu, mereka pasti mencurigai kita. Mending cari cara aja supaya dia pulang kampung. Yang penting dia tidak bertemu dengan keluarga itu lagi," ucap Vicky memberi ide.
Yuta diam sesaat. Memikirkan apa yang kekasihnya sarankan.
"Bolehlah, cepat kalian cari cara supaya wanita sialan itu pergi dari rumah itu. Sebelum dia sadar tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jangan lupa, terus aqasi dia! jangan sampai dia bertemu dengan Langit. Mengerti!" ucap Yuta kembali memberikan perintah kepada orang-orang kepercayaannya.
Tak menunggu waktu lagi, mereka bertiga pun undur diri dan segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh big bos mereka. Sedangkan Yuta dan Vicky kembali menikmati makanan dan juga minuman yang tersedia untuk mereka.
"Em, Honey! Kenapa kamu bisa curiga dengan pembantu tua itu?" tanya Vicky penasaran.
"Tentu saja, dia pernah melihat obat-obatan yang aku simpan di dalam sarung bantal ku. Dia wanita cerdas, aku rasa dia pasti mencurigaiku," jawab Yuta sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Tumben kamu ceroboh?" tanya Vicky heran.
"Namanya juga lupa!" jawab Yuta enteng.
Vicky tak mau mengajak wanita ini berdebat. Sebab ia tahu, semua itu pasti akan memperkeruh suasana. Tujuannya masih panjang, Vicky harus tetap menjaga kepercayaan serta mood wanita yang ia anggap mesin uang ini.
__ADS_1
Bersambung...