Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Jalan Keluar


__ADS_3

Dorongan moral yang diberikan Azam, sedikit membuat ego Langit sedikit turun. Setelah beberapa saat ia memikirkan baik buruk kemungkinan yang akan terjadi. Langit pun memberanikan diri bertanya kepada sang sahabat.


"Zam, elu bilang nemuin barang-barang itu di Bangkok. Elu yakin?" tanya Langit, sedikit ragu. Tapi siapa tahu, info yang ia dapat dari Azam bisa membantunya menemukan Riana.


"Ya serius lah, Lang. Kayaknya di buku tersebut, dia juga menyebut hendak terbang ke Itali!" jawab Azam yakin, sebab dia sudah membaca hampir semua halaman yang ada di buku tersebut.


"Kamu membacanya?" tanya Langit sedikit tidak suka. Ketidaksukaanya itu terlihat jelas dari tatapannya terhadap Azam.


Azam tahu, jika Langit tidak suka ia memeriksa barang istrinya. Sebab ia sendiri pun sampai saat ini masih belum berani membuka dan memeriksa buku milik sang istri.


"Sorry, Lang. Tidak mengurangi rasa hormat gue ke elu, sumpah, gue nggak ada niat sedikitpun buat sok tahu masalah pemilik buku itu. Habis gue penasaran. Tapi lu tenang aja, nggak penasaran sama orangnya kok. Gue cuma penasaran ama gambar-gambar yang ada di dalam situ. Nggak semua kok gue baca. Soalnya kebanyakkan semua isinya resep masakkan. Hanya beberapa aja yang mengenai hati. Selebihnya gambar-gambar yang gue critain ke elu!" jawab Azam jujur.


Langit diam. Entah mengapa ia masih tidak suka. Meskipun Azam sudah menjelaskan apa yang ia lakukan. Tidak separah dengan apa yang Langit pikirkan.


"Emangnya lu belum baca, Lang?" tanya Azam penasaran.


Langit menggeleng.


"Why?" Azam semakin penasaran dengan hubungan sang sahabat dengan istri keduanya ini.


"Gue takut tahu isi hati dia, Zam. Gue takut tahu apa yang dia rasakan. Gue takut dia nggak bisa nerima perlakuan kasar gue. Gue takut dia nggak mau maafin gue. Kepergian dia sudah cukup menjawab ketakutan gue soal itu. Gue adalah pria paling jahat di dunia ini, Zam. Sungguh!" jawab Langit jujur.


Namun, kejujuran itu malah membuat Azam bingung.


"Tunggu, Lang! Gue masih belum paham. Gue masih belum ngerti. Maksud lu apaan sih Lang?" tanya Azam bingung.


"Maksud? Ya... pokoknya sikap gue ke dia nggak bisa dibilang baik. Itu aja udah. Intinya, gue nyesel udah memperlakukan dia tidak baik. Begitu, Zam." Langit berdehem. Mencoba menghilangkan kegugupannya di depan Azam.

__ADS_1


"Oh, oke. Gue paham. Terus, hubungan elu sama Yuta gimana?" tanya Azam lagi.


"Hancur lah Zam. Dia yang selingkuh, gue yang dituduh menghianati pernikahan. Padahal gue nikah juga atas persetujuan dari dia. Ada waktu itu suratnya, tapi berkat kelicikan dia, surat itu tidak ada. Dia memanipulasi segalanya dan sekarang malah balik menyerang. Entahlah, Zam. Gue udah beberapa minggu ini mencari bukti kebusukan dia, tapi nggak ketemu," jawab Langit jujur.


"Elu udah nyari bukti kebusukan dia selama ini. Tapi nggak ketemu? Dia memanipulasi! Oke tunggu. Izinkan gue berpikir dulu... " Azam diam sesaat, lalu setelah menyeruput es mojitto leci miliknya, Azam pun langsung kembali mengungkapkan hasil pemikirannya.


"Waktu doi tanda tangan, siapa aja yang ada di sana?" tanya Azam.


"Cuma gue doang."


"Ada salinannya nggak?"


"Sebentar! Kalo gue nggak ada. Tapi.... " Langit langsung ingat Riana, sebab wanita itu pernah bilang kalau dia udah memfotokopy dokumen pernikahan mereka.


"Kayaknya, Ria ada deh!" jawab Langit spontan.


"Ria... ya dia yang elu penasaran setengah mati. Istri orang lu penasaranin. Gue cekek tahu rasa lu," jawab Langit kesal, namun ia bercanda.


Azam ketawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak? Baru kali ini dia melihat seorang Langit posesif terhadap perempuan. Dengan Yuta saja, dia santai-santai saja. Padahal Yuta adalah cinta pertamanya.


"Sorry, Lang, sorry, sorry... sumpah lu lucu banget. Seposesif itu lebih ke dia? tapi dia emang cantik sih, wajar kalo elu posesif. Dia keibuan banget. Gue suka lihat wajah dia. Adem aja dipandang," ucap Azam jujur.


Langit diam, menatap sang sahabat dengan tatapan ingin sekali menonjok wajah pria itu. Ya, kejujuran Azam telah berhasil membuat darah Langit mendidih.


"Ya, terus aja lu puji-puji bini gue. Tunggu aja lu, kalo gue udah nggak bisa nahan, gue culek mata elu!" ancam Langit kesal.


"Masya Allah... Astaghfirullah... segitunya. Udah, Pak. Dari pada elu marah-marah nggak jelas. Mending lu cari tu bini. Dari pada diembat orang. Contohnya gue misalnya," canda Azam makin berani.

__ADS_1


"T*i lu, awas aja kalo lu berani. Bakalan gue tembak pala lu," Langit semakin kesal sebab Azam senang sekali memancing emosinya. Hatinya sudah mulai meronta. Mengajaknya untuk mencari di mana wanita itu berada. Karena di samping dia memang menginginkan pertemuan itu, Ria juga bisa membuatnya lepas dari tuntutan Yuta.


Kemarahan Langit, ternyata memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Azam. Sebab Langit begitu menggemaskan ketika cemburu.


"Oke, opsi pertama yang bisa bantu elu adalah Ria, ya kan? Tapi kendalanya adalah doi tidak diketahui keberadaannya. Kira-kira, selain doi... yang bisa ngebebasin elu dari tuduhan palsu itu siapa?" Azam menatap Langit. Mencoba membangkitkan ingatan pria itu perihal orang-orang yang pernah terlibat dengannya dan Yuta.


"Siapa ya? Sebentar?" Langit berusaha mengingat, Kira-kira siapa yang berpotensi mengetahui kebusukan Yuta selain dirinya.


"Satpam mungkin? Pembantu di rumah elu? Atau siapa aja? Perawatnya mungkin?" ucap Azam mengingatkan.


Spontan, pernyataan itu mengingatkan Langit pada Siti, pada Lala, pada Minah.


"Elu serius mereka semua ada kemungkinan tahu?" tanya Langit.


"Aelah, Lang. Ternyata di samping tukang cemburu, elu juga lugu bin oon, tau nggak? Pantesan Yuta manfaatin elu, lah elunya aja kek gituan nggak nyampek mikirnya. Heran gue!" jawab Azam kesal.


"Enggak sesimpel itu, Zam. Gue nggak mau nglibatin mereka, supaya Yuta nggak nyakitin mereka. Eh, tapi tinggu dulu. Saat ini, salah satu pembantu gue pulang kampung karena anaknya kecelakaan Zam! Mungkinkah, ini ulah Yuta. Sengaja bikin seseorang yang mengetahui rahasia tentangnya menjauh dari gue?" ucap Langit serius.


"Bisa jadi tu, Lang. Lu tahu alamatnya nggak? Kalo tahu besok kita samperin!" jawab Azam mendukung pemikiran Langit.


"Astaghfirullah hal azim... jika bener kalo anak asisten gue kecelakaan gara-gara tu perempuan, berarti bener, tu perempuan emang jelamaan iblis." Langit terlihat geram.


"Gue dukung elu buat membela diri lu, Lang. Tapi gue nggak mau menghakimi Yuta. Karena gue nggak tahu alasan dia nglakuin hal gila ini. Tapi menurut gue, dia pasti punya alasan, Lang. Lu nggak penasaran gitu ama alasan dia?"


"Alasan? Alasan apa lagi selain gila harta, Zam? astaga!" Langit kembali merasa kesal. Sebab Azam terkesan membela Yuta.


Namun, terlepas dari semua obrolan mereka. Langit mendapatkan satu poin penting. Yaitu jalan keluar untuk masalah yang kini sedang membelitnya. Langit masih punya kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Asalkan dia bisa menemukan Riana atau Minah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2