Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Terlambat


__ADS_3

Berbekal tekat yang kuat untuk memperbaiki diri, Langit pun akhirnya terbang ke Surabaya untuk mencari wanita yang saat ini masih menjadi tangung jawabnya. Wanita yang ia pernah tolak, namun nyatanya wanita itulah yang ternyata tulus padanya.


Sebenarnya Langit sangat paham, jika apapun yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, itu adalah kehendak Illahi. Semua tak bisa luput dari campur tangan dan kuasa-Nya. Tetapi, manusia memang tempatnya lalai. Tak terkecuali Langit.


Wanita yang ia perjuangkan dengan segenap hati. Ternyata malah menghianatinya. Meracuninya. Memporak-porandakan kehidupannya.


Langit ingat benar drama pertemuannya dengan Yuta di club itu. Cinta yang mendapat pertentangan dari kedua orang tuanya. Karena, menurut mereka, Yuta tidak diketahui asal-usulnya saat itu. Lantar pendidikan dan juga pekerjaan Yuta yang dinilai tidak patut masuk ke dalam ranah keluarga mereka.


Belum lagi, Yuta juga mengaku yatim piatu. Hanya seorang laki-laki yang ia akui sebagai kakak kandungnya.


Drama pernikahan yang sempat tidak mendapatkan restu juga terjadi. Lalu, berkat kegigihan Langit mendekati kedua orang tuanya, akhirnya restu itupun mereka dapatkan.


Tak lama berselang, Yuta pun hamil. Gelagat Yuta, mulai aneh ketika mengandung Ara. Banyak sekali permintaan wanita itu, yang sebenarnya menurut kedua orang tua Langit itu sangat tidak masuk akal.


Namun, karena anaknya terlanjur cinta, mereka bisa apa? Mereka hanya bisa menuruti keinginan mantu mereka.


Langit hanya bisa tersenyum kecut. Ternyata feeling orang tua tidak bisa di anggap remeh. Pada kenyataannya mereka memiliki alasan kenapa berbuat demikian dan Langit sedikit menyesali itu.


Malam semakin larut, namun sama sekali tak menyurutkan niat seorang Langit untuk mendatangi tempat di mana sang istri berada. Dengan penuh harap, pria ini pun turun dari mobil dan segera mendatangi rumah yang terlihat tampak gelap itu.

__ADS_1


Tak menunggu waktu lagi, Langit pun segera mengetuk pintu rumah yang disinyalir sebagai tempat tinggal Riana tersebut. "Assalamu'alaikum!" ucap peia degan tinggi seratus delapan puluh lima ini.


Berkali-kali Langit mengetuk daun pintu itu. Namun tak ada jawaban. Bahkan salam yang ia ucapkan juga tak ada jawaban.


Langit mengintip di balik jendela kaca. Suasana rumah terlihat sangat sepi. Seperti tidak berpenghuni.


Tak ingin pulang dengan tangan hampa, Langit pun melihat sekeliling. Masih ada warung kopi yang masih buka. Ia pun segera melangkah ke sana. Untuk bertanya pada pemilik warung itu tentunya. Siapa tahu, beliau tahu di mana penghuni rumah tersebut.


"Assalamu'alaikum, Pak! Bolehkah saya bertanya?" tanya Langit sopan.


Sang pemilik warung pun menghentikan aktivitasnya. Lalu ia pun berjalan mendekati Langit.


"Emmm, Bapak kenal nggak sama penghuni rumah bercat putih itu?" tanya Langit tanpa basa-basi.


"Oh, pemilik sepenuhnya apa yang ngontrak, Pak?" balas pria itu, memperjelas pertanyaan Langit. Agar dia sendiri pun tak salah jika memberikan jawaban.


"Kalo yang punya asli siapa ya, Pak?" Langit sendiri bingung, itu rumah milik Riana atau istrinya itu hanya mengontrak di sana.


"Oh, kalo pemilik asli, rumahnya ada di belakang rumah itu, Pak. Namanya Pak Haji Mahmud," jawab pemilik warung kopi tersebut.

__ADS_1


"Oh, berarti yang saya cari yang ngontrak, Pak. Apakah ini orang yang tinggal di rumah itu, Pak?" Langit menunjukkan foto Riana yang sedang menggendong baby Ara. Ada juga foto pak Bayan yang sedang menjadi wali nikah Riana saat itu.


"Iya, betul, Pak. Ini yang mengontrak rumah itu," jawab pria itu sembari memeriksa foto-foto yang ada di galeri ponsel milik Langit.


Mendengar jawaban pria pemilik warung kopi itu, Langit pun tersenyum senang. Karena tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan wanita yang beberapa hari ini selalu menganggu pikirannya itu.


"Apakah mereka masih tinggal di situ, Pak? Kenapa sepi ya? Mungkinkah mereka sudah tidur?" tanya Langit tak sabar.


"Maaf, Pak. Mereka sudah nggak tinggal di situ lagi. Yang ngontrak juga sudah meninggal kayaknya. Kena serangan jantung, kalau nggak salah," jawab pria itu jujur, tanpa mau menutupi apapun.


Tentu saja, mendengar jawaban yang menurutnya tak masuk akal itu, Langit shock. Lalu ia pun kembali bertanya.


"Siapa yang meninggal, Pak? Siapa yang kena serangan jantung. Tolong katakan pada saya, jangan setengah-setengah, Pak!" pinta Langit gugup. Kakinya serasa lemas seketika. Jantungnya berdetak lebih kencang. Gemetar. Rasanya, tulang -tulangnya menggigil, sanggup lagi berdiri. Langit ketakutan.


"Bapak yang ada di poto ini, Pak. Beliau sudah berpulang beberapa hari yang lalu. Ya itu, katanya kena serangan jantung," jawab pria itu memperjelas kabar yang ia dengar beberapa hari yang lalu itu.


Langit tak sanggup lagi berkata-kata. Apa lagi bertanya. Hatinya bergemuruh gak karuan. Pikirannya kacau. Tak sanggup lagi berpikir apa yang seharusnya ia lakukan. Langit hanya bisa diam termenung menyesali keterlambatannya. Menyesali kenapa hari itu dia tidak langsung mencegah Riana pergi. Sekarang di mana wanita itu berada. Siapa yang menjaganya sekarang? Terang saja kekhawatiran kini berbalik menyerang Langit. Beberapa hari yang lalu ia tenang, karena ia pikir masih ada sang ayah mertua yang menjaga sang istri.


Langit shock, sangat sangat shock. Pria tampan ini hanya bisa menatap rumah bercat putih itu dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2