Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Pertolongan Tuhan


__ADS_3

Nana dengan sabar menyuapi baby cantik itu makan. Sambil melantunkan doa-doa, agar makanan yang masuk ke tubuh bocah cantik ini, menjadi berkah. Bisa menjadikan anak ini sehat, pinter, sholehah dan baik hati. Seperti ayahnya. Jangan seperti ibunya.


Beberapa menit berlalu, selesai ia menyuapi baby cantik itu. Ponselnya berdering. Diraihnya ponsel itu. Tak ada nama yang tertera di sana. Nana pun enggan menjawab. Ia meletakkan kembali ponselnya. Berdecak kesal, ia seperti memiliki trauma tersendiri dengan nomer-nomer baru yang menghubungi. Karena nomer-nomer baru itu biasanya hanya menagih hutang padanya. Padahal bukan dirinya yang berhutang.


Sebenarnya, bukan tidak mau membayar. Tetapi untuk saat ini, untuk hidup saja susah. Bagaimana membayar? Benarkan?


Nana tak menggubris panggilan itu. Ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya membersihkan mulut gadis cilik yang sedang ia suapi itu.


Namun, sepertinya si penelepon tak putus asa. Ia terus melakukan panggilan berkali-kali, sehingga membuat Nana terpaksa mengangkatnya.


"Hallo!" sambut Nana. Jantungnya berdetak sangat kencang. Sebab ia masih berpikir, bahwa yang menghubungi kali ini pasti adalah penagih hutang.


"Hallo, Ma. Ini Ria!" ucap Riana langsung menyebut namanya tanpa basa-basi.


"Hah, Ria," pekik Nana tak percaya.


"Iya, Ma. Ini Ria. Mama apa kabar?" tanya Riana di seberang sana. Dengan suara lembut seperti biasa. Sedangkan Nana langsung menangis lemas. Tak tahu harus berkata apa. Wanita paruh baya ini sungguh tak menyangka, jika wanita yang masih jadi menantunya itu mau kembali menghubunginya.


"Mama kenapa, Ma? Mama kenapa nangis? Apakah terjadi sesuatu pada Mama?" cecar Riana, seperti tak sabar, ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Mama.... Mama... Mama nggak tahu mesti mulai cerita dari mana, Ria. Mama bingung. Oiya, Mama turut berduka dengan kepergian ayahmu. Mama Minta maaf, baru tahu beberapa hari yang lalu. Masmu juga udah ke sana, tapi kamu nggak ada," jawab Nana dengan suara terbata-bata, sebab ia sedang melawan tangisnya.

__ADS_1


Mendengar Langit mencarinya, tentu saja Riana merinding. Wanita ini sudah menduga pasti Langit akan mencarinya. Karena saat ini mereka sedang dalam proses cerai. Langit pasti mencarinya karena ingin menalaknya dan Riana sudah tidak peduli dengan itu.


"Iya, Ma. Makasih. Ria nggak pa-pa kok. Ria sehat. Oiya, Ma... bolehkah Ria nitip sesuatu buat Ara?" tanya Riana kepada Nana yang saat ini masih menangis pilu.


"Nitip sesuatu, buat Ara, apa itu?" tanya Nana penasaran.


"Ria pernah mendesain baju khusus buat Ara. Tapi sebelum Ria sempat membuatnya, Ria diharuskan pergi. Lalu, kemarin ada lomba desain baju, Ma. Dan desain itu menang. Ria ingin, hadiahnya ini buat Ara. Karena awalnya, baju itu memang Ria niatkan buat dia," jawab Riana antusis. Tawa sempat terdengar di sela-sela ucapan Riana.


"Alhamdulillah.. barakallah... Masya Allah, mulia sekali hatimu, Nak. Mama nggak tahu mesti ngomong apa. Pokoknya Terima kasih banyak, kamu begitu menyayangi Ara. Kapan kamu pulang? Ara sangat merindukanmu. Dia sering nanyain mama iya kesayangannya," ucap Nana ikut senang.


Hati wanita mana yang tak tertusuk. Di lain pihak, dia dan putri sambungnya saling mencintai. Tetapi, orang tua gadis itu tidak mengizinkan. Bahkan menolak Riana secara kasar. Sebenarnya, jika boleh jujur, dalam hati kecil wanita ini, ia ingin sekali datang ke tempat di mana gadis itu berada. Menjaganya. Merawatnya. Namun, masalah yang menjadi sandungannya juga tak bisa Riana abaikan. Jujur Riana takut pada Langit.


"Mama jangan tanya kapan Ria pulang? Mama kan tahu, apa yang sebenarnya terjadi." Riana menghentikan ucapannya karena Raras mencoleknya dan memberi tahu, bahwa mereka harus masuk ke dalam pesawat sekarang juga.


Bukan sengaja, tapi Raras terlihat tak sabar. Maklum, dia kan hamil besar, tidak bisa berdesak-desakan. Makanya beliau meminta Riana untuk menggantri di awal.


"Gimana?" tanya Raras ketika Riana sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Mereka semua baik, Non. Alhamdulillah... Oiya Non, nomer rekeningnya bener kan. Udah berhasil kan?" tanya Riana penasaran.


"Iya udah, bener kok. Laporannya juga udah aku kirim ke kamu. Lima puluh juta, kan?" tanya Raras memastikan.

__ADS_1


"He em, bismillah, semoga berkah," jawab Riana dengan senyum bahagianya. Karena niatnya sudah ia laksakan.


"Aamiin, indahnya punya ibu sambung kek kamu, Ri. Eh, ngomong-ngomong, bayiku juga beruntung bisa ketemu kamu. Bisa punya ibu sambung sepertimu. Eh, ngomong-ngomong jangan bedain mereka. Nanti kalo punya duit, adiknya Ara ini juga di kasih ya. Di samain, jangan pilih kasih kamu," ucap Raras sembari tertawa senang.


"Ya Allah, Non. Apa sih? Please, kalo babynya Non kan udah tajir sejak di dalam kandungan. Lihat aja, masih belum lahir aja naiknya pesawat gede gini


Kurang Sultan apa coba?" balas Riana dengan canda tawa seperti biasa.


Ya, begitulah Riana dan Raras. Mereka memang asisten dan bos. Tapi terlihat jelas tak ada jarak di antara mereka. Raras menganggap Riana bukan asisten. Tebih ke teman. Lebih ke sahabat. Lebih ke adik. Meskipun Riana sering memperlakukan dia seperti putrinya. Tetap saja, usia Riana ada di bawahnya.


***


Nana masih bergeming di tempatnya berpijak, setelah menerima telepon sekaligus SMS m-bangking dari bank tempat ia biasa bertransaksi perihal keuangan.


Ternyata menantunya itu tidak bicara omong kosong. Setelah ia memutuskan panggilan telepon mereka. Ponsel Nana menerima pesan teks, dari salah satu bank miliknya. Yang bertuliskan ada nominal uang masuk. Dan itu jumlahnya sangat banyak, untuk ukuran Nana saat ini. Mengingat saat ini, sepeserpun ia tak memiliki uang. Uang yang diberikan oleh Langit beberapa hari yang lalu juga sudah habis untuk membeli kebutuhan Ara. Sekaligus untuk biaya makan sehari-hari.


Nana menangis dalam diam. Sungguh ia tak menyangka, bahwa pertolongan Tuhan, datang secepat ini. Nana menangis karena Tuhan benar-benar tidak melupakannya. Tuhan sangat menyayangi bayi mungil yang tak berdosa ini. Sampai tidak membiarkan bayi ini menangis kelaparan. Bagi Nana ini adalah mukjizat yang luar biasa.


Bukan hanya itu, yang membuat Nana menangis. Wanita ini hanya tidak menyangka, bahwa pertolongan itu datang dari tangan gadis yang dulu pernah ia tindas. Bahkan pernah ia paksa menikah dengan putranya dan ia menggunakan uang untuk memaksa gadis malang itu.


Sungguh, Nana menyesal pernah melakukan hal itu pada Riana. Ia malu dengan perbuatannya. Sangat-sangat malu.

__ADS_1


Bersambung...


jangan lupa like komen dan vote yes... 😘😘😘


__ADS_2